Oyi

August 20th, 2008 by jejakmungil

Ada satu kisah tentang mimpi seorang Oyi, gadis remaja paras sejuk. Hati teduh. Tingkah meluluhkan jengah. Semua bahagia ciptaan bumi dan taman2 diatas langit Oyi dapat. Dari menikmati semangkuk es cendol sampai merindu runtutan kata untuk Tuhannya, gampang Oyi dapatkan. Namun ada satu kekurangan Oyi.
Oyi lumpuh dipendengarannya, tuli.
Suatu saat ketika Oyi bercanda dengan cicak pohon ditaman yang biasa menggumulinya dengan canda. Tiba-

tiba seorang lelaki muda berteriak lantang kepada Oyi.
"Haruskah seribu pasukan lebah ku kerahkan untuk membuatmu lenyap dari taman ini!!!
Ini peraduanku!
Ini ladang lamunku, tempatku memilin mata sekali, untuk sepanjang hari yang melelahkan ini!
Diamlah selagi kamu bisa!
Atau seruling ini menghardik keras dirimu!".
Oyi terdiam. Sembari memungut boneka kertasnya oyi melangkah pergi.
"Dasar orang gila…" keluh Oyi.
"Apa kamu bilang!" Lelaki muda itu bangun dari rebahannya dan matanya melotot kearah oyi berdiri.

Mencoba melarikan diri dari apa yang telah lepas dari mulutnya Oyipun berusaha menyembunyikan wajah bersalahnya.
"Tidak aku tidak berkata apapun.."
Oyi berlari menjauh ke arah gerbang taman. Lelaki muda itu kembali ke rebahannya.
"Dasar lelaki gila, dia pikir dialah pemilik taman ini.. dasar orang gi..". Tiba-tiba mata Oyi terbelalak. mulutnya menggigil. Kerongkongan kering. Hatinya berdegup keras. pelan jemari Oyi menyentuh bibirnya. dibelai, lalu turun ke leher. dibelainya pula. Bola mata Oyi tak henti2nya berlari kekiri dan ke kanan. mencoba menarik kembali sekilas laku yang telah terjadi barusan. Apa yang telah dilakukan oleh mulutku? Kenapa aku begitu marah dengan umpatan lelaki itu? Jari telunjuk Oyi menyibak rambut yang tergerai menutupi telinganya. Oyi berusaha meyakinkan apa yang telah terjadi padanya.
"Hei kenapa kamu belum pergi juga!" Teriak lelaki muda dari kejauhan.
"Apa kamu bilang!" teriak oyi dari ujung gerbang taman. Bangun dengan kesal, lelaki muda itu berkacak pinggang dan lantang menyambung amarahnya.
"Ku bilang kenapa kamu belum juga pergi dari tempatmu berdiri!". Sembari membuka lebar telinganya.
"Apa kamu bilang!" teriak Oyi.
"Ku bilang pergi kamu, pulang lah sebelum ku lempar serulingku ini!". Sontak Oyipun melompat girang.

Tertawa selantang letupan hati. menatap awan dan berputar merumitkan waktu.
"Aku dengar itu!" teriak Oyi.
"aku dengar itu!". Oyi tertawa dan berkali menyibakkan sisa rambut tergerai yang menutup telinganya.
"Aku dengar itu kataku, aku dengar!".
Dan setitik embun melinang dikelopak matanya. meleleh jauh ke akar leher. berkali-kali. Senang hati Oyi tak terluapkan hanya dengan puisi para pujangga perindu. ataupun putri-putri kayangan yang bahagia diselasar kerajaannya. Tidak juga gerai pipit yang berebut sepotong ulat mungil. Tak tertandingi apa yang bergemuruh dalam hati Oyi, sebuah kebahagiaan yang tak mudah diluapkan. Keajaiban datang tanpa cela. sempurna layaknya ciptaan2Nya. Begitu adilnya langit, kepada kaumNya yang dibumi. memberinya apa yang seharusnya dinikmati dari semula saat Oyi belajar bicara. Oyi tak lagi tuli.
pendengaran ini tak lagi secacat tadi.

Dan..

kosong.

Taman itu kosong.

lelaki muda itu tak lagi berkcak pinggang seperti tadi dengan mukanya yang memerah marah. Bangku taman itu sepi tanpa penghuni. Dan Oyi berdiri jauh di ujung gerbang taman, bingung.

Suatu waktu yang berbeda. Disebuah kerumunan pusat perbelanjaan. Orang berjejal berebut akal. Berebut jengkal-jengkal kesempatan meraih sesuatu yang dibutuhkan. Berlalu-lalang. Meringsek dari sela kerumunan seorang gadis. Tersenyum sekilas dari kerumunan yang berdesakkan. Matahari bernaung dari balik tembok-tembok kota. Hari mulai jatuh ke pelukkan malam. Sinar mentari satu persatu berbaur dengan kerlip lampu kota. Ada pengemis yang berlari dengan tangan terjuntai palsu. Pengamen berdendang merebut hati pelanggan perkotaan. Diseblah lain ada copet yang berhasil menyita hak seorang perempuan tua. Lari dan mati terlindas bis kota. Kerumunan tetap kerumunan. Tidak ada niat beralih dari perebutan kesempatan
penghabisan gaji bulan ini. Disudut lain si lelaki pedagang rokok dan tisu bertukar bahasa keras dengan si perempuan muda pekerja kebersihan kota. Yah, masih ada si kecil berempat bahkan dengan kain dekil, mencoba berbisnis belas kasihan. Dan Oyi mencoba menulis kembali cerita tadi pagi. Cerita yang luar biasa. Pengakuan atas nama keajaiban. Entah itu perbuatan Tuhan atau mahkluk lain, yang pasti hari ini mulut ini tak lagi mati. Ada lafal-lafal kata yang harus diteriakkan, entah saat ini atau kah lain kesempatan waktu.

"AKU BISA TERIAKKKKKKKKKKK!!!"

Sekejap orang-orang yang berjubel, bergerak cepat, bertanding dengan waktu. Ribut dengan cuap kanan kira. Mengujar keagungan jagad konsumtif. Dan berbicara sebagai layaknya manusia. Terhenti. Bergerak lamban dan dengung yang kian membesar. Oyi tertawa senang. "Dunia ini mendengarku, iya sudah waktunya,
banyak yang aku ingin bicarakan. Entah sekarang atau lain kesempatan waktu."
Dan kerumunan itu kembali seperti sedia kala. Bergerak cepat. Tanpa batas. Sebuah lukisan menjelang malam. Kisah tentang keramaian sebuah perkotaan dan orang-orang yang betah bernafas didalamnya.
Oyi melangkah pergi.

Tak beberapa jengkal langkah. Dentum ketipung kampungan. Dan petikkan gitar. Berbaur dengan kocak penyanyi jalanan. Menautkan perhatian Oyi. Didekatinya serombongan pengamen itu. Dengan senyum lebar Oyi ikut berdendang. Sedikit tarian kecil dipinggul, mewarnai suka cita Oyi tentang cerita pagi tadi.
Pengamen pun tersenyum. Tiba-tiba runtunan lagu itu terpecah oleh teriak seorang perempuan muda. Si pekerja kebersihan. Seoarang lelaki pedagang rokok tersungkur. Dan batok kepalanya berdarah terhujam kotak rokok yang biasa dipeluknya saat berdagang.

"Mampus! Dasar kontol gak tau diri!"

Silelaki pedagang rokok bersimpuh, tersudut disalah satu pot taman kota. Tangan kirinya berusaha menahan kucuran darah yang kian deras dari luka robek itu. Dan tangan kanannya berusaha menepis hujaman bertubi-tubi si perempuan muda pekerja kebersihan. Orang-orang berhenti kemudian lari. ini bukan urusan mereka. Hanya dari mata orang-orang itu dipanjatkan doa semoga kota tempat mereka biasa bernafas tidak ditemukan lagi bangkai manusia tak bernama. Orang-orang itu tetap memutuskan berdalih ini bukan urusan mereka. Pergi dan masuk ke arus waktu yang menggiling mereka menjadi bagian-bagian sampah kemanusiaan.
Oyipun berlari mendekat. Rombongan pengamen menyusul. Sebagian orang ikut. Dan wajah silelaki sekarang merah. Kumisnya terpotong oleh bibir yang robek menganga. Mungkin sebentar lagi si lelaki menemui ajalnya kalau seorang lelaki muda melerai. Umpatan tak hentinya keluar dari mulut si perempuan muda. Berkali-kali kutukan keluar. Dan dipukulnya berkali-kali juga perut buntingnya. Sembari meruntun doa-doa pengumpat segala iblis di surga.

"Bajingan ku bunuh kamu!" Dilempar sepatu kerjanya.

"Dasar kontol tidak tau diuntung!!!" Dipukulnya lagi perutnya yang bunting.

"Aku tidak rela!!!"

si perempuan muda itu bersimpuh mengumbar air mata. Wajahnya bersimpuh ke jalan. Diusapnya pelataran itu dan meratapi nasib anak perempuannya yang di gagahi dan djual ke tengkulak kelamin.

Bak seribu panah beracun terlontar ke udara dan menghujam relung hati. Oyi memilih melepaskan diri dari drama si perempuan muda pekerja kebersihan kota. Keinginan untuk membantu, menolong si perempuan urung diniatkan. Tak terasa buih-buih air meluncur dari kelopak mata. Membasahi semua yang semula kering dan kaku oleh canda hati. cerita pagi seakan buyar bubar sebegitu keinginan hati untuk berlari dari drama sore ini. Lantunan rombongan pengamen tidak lagi berdengung indah mengiringi keajaiban cerita pagi tadi. Luntur oleh rintih perih si perempuan muda pekerja kebersihan kota.

"apakah itu yang ingin ku bicarakan dengan dunia?" Gumam Oyi.

"Ataukah itu yang harus aku dengar saat pendengaranku terlahir kembali".

"Apa mungkin itu hanya sekilas saja, tidak lebih, tidak akan ada lagi, atau selamanya ada tanpa aku pinta?".

"Apa yang harus aku bicarakan kepadamu dunia, jika topik itu yang kamu berikan". Oyi melangkah pergi. Disakukan kembali boneka kertasnya.

Awalnya aku hanya ingin bermimpi. Mimpi tanpa pamrih apapun. Hanya sekedar mimpi. Karena mimpi itu indah. Taman yang biasa tempat aku bermain adalah mimpi. Mimpi yang begitu nyata. Nyata ku temukan cerita-cerita pagiku sepulang sekolah. Ibuku pernah bercerita. Begitu dahsyatnya aku dengan kekuranganku. Ya, walopun saat itu aku tidak terlalu mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Ibu. Tapi bisa aku baca dari matanya yang indah nan tulus itu. Sampai sekarang pun aku belum mengerti dengan kedahsyatan yang ibu pernah ceritakan kepadaku. Ku pikir itu hanya sekedar buaian sebelum aku bergegas tidur. semacam dongeng gitu. Tapi sejak aku biasakan melawan kecacatanku. Sedikit demi sedikit aku mampu memahami apa yang pernah ibu ceritakan. Dulu waktu aku baru menginjak umur 14 tahun pernah seorang teman menulis di buku bicaraku. "kau hebat". Ku tanyakan maksud dari tulisan itu. Dan dia menulis. "karena kau temanku". Di umurku saat itu aku kurang mengerti dengan perkataan Mas Darto, temanku. Ya, mungkin karena aku terlambat belajar tentang dunia mas darto. Oh iya mas darto ini lebih tua 8 tahun dari aku. Dia seorang mahasiswa. AKu ketemu saat sekolahanku diundang untuk sebuah pertemuan di kampusnya. Orangnya baik, lucu bahkan. Yang jelas saat itu dia termasuk orang yang mampu membuatku tertawa. Dan yang tidak terlupakan adalah boneka kertas orang-orangan yang dirangkainya khusus untukku. Tulisnya: "Ini buat teman ngobrol kamu"

Namun..

Jogja Aug 08
Best Regard Tembel

Saat Yang Ku tunggu dan Ku Ingat

December 18th, 2007 by jejakmungil

Saat

Saat aku tahu aku
jatuh cinta. Aku akui aku punya seonggok hati.

Saat pikiranku
tersesat di rimbanya, waktu-waktu bersama dia. Ku belah batok kepalaku, kulihat
ada segumpal otak disana.

Saat langkahku
gontai dihantam ribuan kotoran jaman, dan dia ada disisi memunguti serpihan itu
dan menyulamnya kembali. Ku cabik kelopak mataku. Lalu ketemui kasih sayang
yang terbijak dibalik butanya mataku. 

Saat diri bersimbah
nista, berbasuh duka, merintihi kodrat yang ditinggal pergi keyakinan. Ku jebol
niatku, rubuh. Dan ada dia yang menggandeng tanganku. Menepi mencari jalan
sendiri. Menuntunku menemui keagungan-Nya. Dibalik durjanya busuk dan dekilnya
doa-doaku.

Dia dan hanya
dia, wanitaku, sekecil pendar cahaya lilin di gelapnya separuh perjalan
hidupku.

 

Yang Ku tunggu 

Waktu untuk
membuatmu bahagia
Bahagia untuk
memberimu cinta


Ku ingat

Apa yang kamu
takutkan?
Apa yang meludahi
kamu?
Apa yang memberi
luka?
Apa yang
mereka-reka ketulusanmu?
Apa yang
mengakhiri secuil kebahagiaanmu?
Apa yang lupa
mengingat namamu?
Apa yang mengiris
dan mencincang hatimu?
Apa yang
memperkosa kebaikkanmu?
Apa yang
menerkammu dan mencabik keikhlasamu?
Apa yang…

Karena mereka
adalah “Apa” manisku bukan “Siapa?” Mereka benda manisku bukan segumpal daging
dengan nyawa dan darah manusia yang mengalirinya. Dan suatu saat ada dendam
yang harus terus dibalaskan. Entah bagaimana caranya. Entah bagaimana
bentuknya. Hanya untuk mereka “Apa”

senoaji

Titip Salam Kepada Angin

November 28th, 2007 by jejakmungil

Seandainya

 Kapan aku merasa paling lelaki, saat kamu bersimpuh mengerat
nasib.
Kapan aku merasa paling lelaki, saat kamu berdarah, karena
keringatmu mengering mengejar nasib
Kapan aku merasa bisa paling lelaki, saat kamu merintih,
perih ini, sakit itu, umpat dari sini, amarah dari sana. Hanya karena ingin berdiri tegap saat
mencincang nasib

 Apakah bisa aku mengaku sangat lelaki, saat kamu usap air
mata semalam, hanya karena pinggangmu remuk diremas nasib.

Dan inikah lelakimu, saat kamu muntahkan semua lelah,
sendiri, disana dikota ladang-ladang nasib dan segala baik dan bejatnya masih
dipertanyakan.

 Tunggu aku sayangku, lelaki ini belajar memetik setangkai
mimpi, harap, cita, ingin, dan cinta. Belajar menjadi lelaki, untuk memegang
janji, membuatmu lama tersenyum bahagia.

 Tidurlah sayangku…

 

Yang ingin aku punyai

 Mati sebelum usai mencintaimu
Hidup sebelum kehilangan cintamu

Usai

Seusai hidup carut semrawut ini
Seusai mati disela maut dan keranda ini
Seusai menitih letih, lalu perih kemudian sepi ini
Seusai meronta, berontak, lalu lantang bersorak
Seusai runtuhnya beribu-ribu gelak
Seusai muara terus beriak

Aku ingin selalu menepi ditepian jingga di pantai kemarian
dulu
Aku ingin merajam alur cerita burukmu tak kembali lagi
dijamu
Aku ingin seusai bumi ini tak hadir lagi usai untuk satu
lagi cerita tentang aku dan kamu

 

Sakit itu Indah

November 6th, 2007 by jejakmungil

Gelombang radio sekarang aku pikir susah dicari mana yang
pas. Ketika ada senandung lagu yang aku suka. Selalu diselingi celoteh penyiar
radio lain yang mengumandangkan trend celana dalam masa kini. Atau kalo nggak
koar-koar perkara hedon kawula muda. Padahal tujuanku beli radio kelas teri
ini, cuma satu. Dengar lagu yang di nyanyikan mas-nya yang dari ibu kota.

Katanya mas-nya ini bikin solo album, yah menyalurkan hasrat yang ke buang di tong sampah semenjak diculik
sama band yang terlanjur besar, menyuplik nama penghuni kayangan. Kata temanku,
aku mempersulit diri, jelas-jelas ada Mp3, ada CD, banyak yang jualan banyak
yang menyewakan. Kenapa aku sibuk mencari gelombang radio, atau berharap salah
satu station radio memutar lagu itu. Ya kalo ada yang muter, kalo nggak.
Padahal kalo lagu itu tidak nge-pop lagi, bakalan kesingkir oleh lagu-lagu dari
band-band dadakkan. Yang notabene nggak jualan apa-apa. Tampang nggak lagu juga
ngepas. Itu kata temanku. Tapi jawabanku singkat. Romantisme. Ya ku pikir akan
seromantis bait-bait lagu ‘Apel’ ciptaan Gombloh almarhum. “..di radio aku
dengar lagu.. bla.. bla.. bla..”. atau memang aku-nya sendiri yang cenderung
miskin masukkan dari teman. Yah, mungkin itu juga bisa jadi alasan, kenapa aku
bersikukuh lagu itu akan lebih romantis di dengar, jika keluar dari congor
speker radioku ini. Kembali ke persoalan romantisme. Aku sedang jatuh cinta.
Tepatnya sedang mencinta. Berusaha untuk dicinta. Dan mencinta kembali. Sebesar
mungkin, sehebat yang aku mampu. Cinta memang selalu indah, mukadimahnya.
Penutupnya? Jangan Tanya. Bisa saja diakhiri dengan kehilangan nyawa. Mati
secara bodoh. Mampus! Celaka 7 turunan! Minimal gila!

Tapi untuk cintaku yang satu ini. Aku ingin penutup dengan
kata sumpah, ke nerakapun selalu ada cinta.

Maaf apa yang dinamakan cinta ku penggal dan kepalanya aku
buang di selokan. Alias cinta yang pernah aku jalani. Adalah cinta yang belajar
menyakiti sebaik mungkin. Sehebat mungkin. Dan sesempurna mungkin. Sarinya
adalah cinta mengkudeta aku. Yang terjadi saat itu. Cinta dan separuh
pasukkannya terang-terangan ingin bertindak makar. Ingin pergi dari rumah hati
yang ku bangun dengan mimpi dan imajinasi dan ya sedikit nafsu ke kiri-kirian.
Satu demi satu cinta itu pergi. Aku bukan Tuhan. Atau peranakan cupid. Yang
bisa seenaknya menahan hak-hak cinta memilih hati mana untuk disinggahi
selamanya. Cinta punya otak, dia berpikir sendiri dan bertindak sesuka hati.
Gobloknya aku yang mau di beri sisa-sisa kotoran yang ditinggalkan cinta. Kotoran
yang baunya begitu menyengat otak. Bergerombol. Nggak mau beranjak pergi dan
hilang walo sebotol kasturi aku semprotkan. Kenangan. Benar kenangan adalah
kotoran cinta. Akan bertumpuk menggunung. Melekat erat. Baunya susah hilang
jika cinta dipelihara terlalu lama. seandainya aku memang Tuhan, aku pingin
cinta yang ku pelihara, selalu bercokol di rumah hatiku. Ku pikir lelaki itu
sudah mati dari kemarin dulu. Perempuanku pergi. Bilang jika memang berjodoh
tidak akan kemana. Melodrama pesimistis!

Untuk cintaku yang satu ini. Aku ingin penutup dengan kata
sumpah, ke nerakapun selalu ada cinta untukmu betinaku.

Kapan aku jatuh cinta? Sekarang buatku tidak ada melodrama,
romantisme, atau jatuh cinta pada padangan pertama setelah menilai. Nggak ada!
Butuh waktu lama ngebersihin kotorannya. Repot, buang-buang waktu. Dan nggak
penting. Saat bertemu dia. Yang ku lihat dia adalah seekor betina. Berkelamin
dan berkemampuan untuk dititipkan benih memperpanjang keturunan. Nggak ada hati
disana. Nggak ada kisah cinta disana. Yang ada hanyalah dua ekor binatang, yang
satu berkelamin jantan dan yang satu betina. Jantan sendiri, butuh betina
disisi. Ku tanyakan.

Pernah jatuh cinta?

Dia jawab cinta hanya bisa memperkosa hargadiriku. Sisa
harta untuk lelaki pengakhir sumpah, di ambil begitu saja.

Karena cinta pula mulutku bungkam.

Tangan ku rantai, kaki ku biarkan terjuntai, terkulai
membiarkan atas nama cinta mengobrak-abrik sisa hartaku.

Dan meronta nikmat? Tidak!

Aku hanya bisa cengeng. Merengek.

Atas nama cinta ku takut ditinggalkannya.

Kenapa? Tanyaku.

Karena janji. Jawabnya.

Janji?

Dia berjanji, meyakinkan aku bahwa dialah lelaki pengakhir
sumpah itu.

Klise! Sinetron banget! Sela-ku.

Itu yang terjadi! Jawabnya.

Lalu?

Dia kawin dengan betina lain!

Klise! Sinetron sekali! Sela-ku.

Itu yang terjadi! Tukasnya.

Kamu? Tanyanya.

Aku?

Iya kamu? Apakah pernah kamu jatuh cinta? Tanyanya.

Pernah! Jawabku

Lalu? Tanyanya dingin.

Kawin dengan pejantan lain! Jawabku lirih.

Klise! Sinetron! Sela-nya.

Itu yang terjadi! Jawabku.

Lalu? Tanyanya dingin.

Dendam.. lirih ku jawab.

Hmmm.. Gumamnya.

Saat obrolan aku dengan dia. Saat itu aku mengenal
dia, lebih lama. Kotoran cinta masih melekat di otaknya. Jujur berujar luka
didepanku, membuatku yakin betina ini pilihanku. Tidak ada yang sempurna di
dirinya. Keagungan keperawanan lenyap dilahap atas nama cinta. Pesolek kraton
juga tidak. Hidup diranjang hedon kawula masa-masa itu, juga tidak. Lalu apa
yang membuatku ingin memilikinya?

Selang beberapa bulan, ku miliki betina itu. Aku pejantan,
species pesakitan yang bersanding dengan betina sekarat. Sungguh sempurna. Luka
kalikan luka sama dengan rajutan-rajutan yang membentuk anyaman kesempurnaan.
Cinta? Ku lobangi kepalanya dengan linggis. Bocor, mati terkapar jauh di selokan
sana.

Kita jalani apa adanya. Tidak
ada beban harus mengumbar kata-kata rindu atau semacamnya hanya untuk meyakin
kamu betinaku. Dan aku pejantanmu. Cukup percaya. Cukup menjadi binatang.
Karena peran menjadi Tuhan atau peranakan cupid terlalu berat buat kita.
Mengekang hak-hak cinta untuk berak di rumah hati yang dia suka. Tidak! Aku
pikir. Aku dan dia punya keyakinan sendiri. Jika harus berakhir bersama. Akhiri
dengan sebaik mungkin. Dan cinta dan hak-hak amandemennya, biarkan Tuhan dan
peranakan cupid yang mengatur.

Gelombang radio sekarang aku pikir susah dicari mana yang
pas. Ketika ada senandung lagu yang aku suka. Radio aku banting!

Seno,
jadilah binatang jika memang lupa cara mencinta..

Cinta: Luangkan Separuh Waktumu..

September 2nd, 2007 by jejakmungil

Trotoar sepi, lampu jalan dan segerombol poster dekil. Ada bau kencing
anjing dan piaraannya. Segar. Tak jauh, bocah kecil, wajahnya membusuk, mungkin
terlalu lama bibirnya digigit dan luka. Lalat berkerumun. Walau malam. Tak
ingin pesta dilepas begitu saja. Bocah itu mati. Tidak ada yang tau, mungkin
besok akan ada yang perduli. Seutas tali jemuran yang terbelit di lehernya,
mengakhiri iba-ibanya.

 Ruang tamu. Secangkir kopi robussta. Sudah dingin. Perempuan bibir tipis,
alis berpoles tebal warna coklat. Hidungnya terurus rapi. Kulitnya terawat.
Mata bulat, hampir mirip bola mata ulat kuda. Lentik bulu matanya. Rambut separuh
ikal tergerai bebas. Seikat tergerai ke depan menutup satu payudaranya. Tubuh
yang terbalut gaun tidur warna pink. Bersandar malas dikursi. Murung mencoreng
kemolekkan ,kecantikannya. Perempuan itu bingung. Dia mau di kawin tahun depan.
Oleh seorang lelaki yang jauh lebih tua darinya.
“Umurku baru 21”
tukas si perempuan.
“Aku kuliah, aku
serius kuliah, aku ingin pintar, jika pun harus menjadi pelacur kelak, aku lah
pelacur yang tau peradaban dunia, penemu mesin waktu, cerita-cerita einstein,
Neitzche, romansa dunia ketiga, sejarah, politik mutahir dan segalanya… aku
pintar”. Lanjut si perempuan.
“Rencanaku
selesai tahun depan.. 4 tahun.. hmm”. Nafas sejenak.
“Aku cerdas, aku
rajin, selalu kuselesaikan tugasku tepat waktu”. Dihela sejenak.
“…setiap hari,
setiap pagi, sebelum tidur, belum tidur.. aku cerdas..”. nafas panjang.

Diambil secarik kertas. Ditulisnya beberapa kata. Lalu kopi robusta dingin
lenyap dibalik sisa ginchunya. Si perempuan merebahkan kepala. Matanya jauh
mengiba rembulan. Tatapannya dangkal mengemis nasib. Malam ini ditenggaknya
segelas robusta dingin beserta 20 butir pil penenang.

Aku biasa menatapnya dari sini. Dibalik pohon randu yang berumur lebih dari
umur kakekku. Ada batang-batang yang kering dimakan matahari. Lalu membuang
bulu-bulu keringnya ke tanah. Berserakan. Namun masih terasa teduh. Untukku
berdiri dan menunggu dia, yang ku kagumi. Hari-hari berjalan bergandengan
tangan. Melangkah diantara ributnya udara yang kering. Dan debu jalan yang
merintih terbuang ketepian. Semua nampak sama dari yang sudah berakhir kemarin
waktu. Hanya sepasang kupu-kupu yang rela memberikan kecantikan untuk sebuah
kekekalan yang tidak kekal. Waktu. Dan pohon randu tua ini. Adalah bagian
kekekalan itu. Tubuhnya juga rela membiarkanku merajah luka-luka kecil
ditubuhnya. Ku tambahkan sayatan tipis di kambium pohon renta itu. Tipis saja,
aku takut pohon itu meronta dan mengaum memanggil penjaga taman kota. Lalu
menggiringku ke tepi sebagai perusak keindahan. Malas benar. Jadi, sayatan
tipis, tapi pasti ini hari ke 32 aku mengagumimu. Kamu tidak seberapa cantik.
Tulangmu cukup puas dengan lemak dan daging yang menggumpal ditiap sudutnya.
Tubuhmu jauh dari layaknya puja-puja lelaki-lelaki molek. Kamu gendut. Tapi aku
suka. Wajahmu bulat. Bagai nampan ibuku yang jatuh dari rak piring. Prakk!!
Tapi aku suka. Lihatlah saat kamu tersenyum. Lihat matamu! Hilang ditelan
pipimu yang berlomba dengan lesungnya membekap binar kelopak mata. Hilang
begitu saja. Tapi, sekali lagi aku suka. Rambut.. belum bisa aku puja untuk
saat ini. Cukup bagiku memuja apa yang dipahat oleh-Nya. Untuk saat ini, untuk
kelak saat ku sayat pohon renta ini. Lagi.

Hidung itu berdarah. Hidung yang terlalu biasa ingusan. Kini bukan lagi
mimisan. Tulangnya patah oleh bogem mentah. Si bapak lupa bagaimana mencintai
darah dagingnya. Semenjak kelaminnya
mengobrak-abrik garba seorang janda pinggiran kota. Si bapak memutuskan selesai
bersanding dengan si ibu. Si ibu pergi meninggalkan kehidupan mungil , si bocah
sendiri. Dan seribu kantung-kantung persoalan jagad tipu-tipu ini. Si bapak
lihai, dengan pesona tato yang merajah tubuhnya, mulut yang mengumbar manisnya
dunia, janda hampir kaya itupun terpikat. Mereka bercinta. Beradu canda gaya
seks remaja. Mereka begitu memanjakan kelamin masing-masing, begitu bahagia.
Entah di dapur, ruang tamu, kamar tidur, bilik ibadah, bahkan kamar mertua.
Mereka selalu bercinta. Membabi buta, luka adalah perantara kenikmatan. Si
janda pasrah. Sabetan rotan dan ikat pinggang adalah ikhlas dalam bercinta.
Cinta sama dengan ikhlas. Ikhlas untuk luka demi cinta. Dan cinta ikhlas untuk
terluka. Walau perih, walau luka menganga dan sekali di jahit beberapa. Itulah
cinta bagi si janda untuk si bapak Dan si bocah diberikannya mainan baru. Tutup
botol minuman soda, dipipihkan lalu 3 sampai 5 tutup botol dipaku ke sebatang
kayu. Si bapak tidak kawatir anaknya mungkin terlindas bus kota atau tersenggol
mobil-mobil mewah. Yang penting rupiah. Cukup membungkam mulut hitam si bapak.
Dan si bocah dengan sedikit senandung dangdut masa kini. Bermain dengan
mainannya yang baru. Ngamen. Dijalan. Diperempatan.. Selang dari waktu yang
tidak direncana. Si bocah pulang, dijulurkan tangannya yang hitam melegam. Ada
beberapa peser setoran hari ini, tidak cukup bagi si bapak. Plakk! Itu tamparan
untuk bulan ini. Tulang hidungnya patah. Hidung yang terlalu biasa ingusan.

 Kamar. Sedikit pernik. Buku bermuatan politik luar negeri dan jurnalistik
dasar, terkapar disela-sela ramainya kertas-kertas putih yang berserakan.
Berita hari ini ‘Jual beli perempuan kian
marak’
. Seorang perempuan. Rambut diikat ekor kuda. Tubuh berlapis tanktop
cream. Dan paha terbekap celana pendek, putih. Duduk beradu mata dengan layar
monitor. Lentik jemari berlarian dari A ke K lalu ke U dan entah kemana lagi.
Sesekali berhenti. Berlari ke keningnya dan memijat, berputar pelan-pelan dan
pelan dikeningnya. Seperti bicara dengan otak melalui jemari. Untuk segera
berputar. Dan bicara melalui kata-kata makna. Lalu memanjakan diri berkecipak
di rentetan kata yang muncul di layar monitor. Melodi panggilan berderu dari
ponsel mungilnya. Si perempuan melirik. Hanya melirik. Diam, tatapannya tidak
bisa di ganggu. Proses senggama otak, logika dan kecerdasan sedang beradu asik
dalam gelora makna sebuah rentetan kata-kata. Deru itu muncul lagi. 10 kali.
Diam. Kemudian deru itu muncul lagi. 10 kali. Diam. Dan
“Apaan sihh?!”
“….”
“Ya, maaf aku
lagi sibuk!”
“….”
“Apa harus aku
selalu membalas semua SMS-mu!”
“!!!!”
“Iya aku tahu!
Tapi kan tugas ini lebih penting dari membalas SMS KANGENmu itu!”
“!!!!!!!”
“Terserah!”
Tuttttt… deru
berhenti. Diam.

Aku tersenyum sendiri. Benar! Apakah aku sudah gila? Tidak aku masih cukup
waras. Aku sehat. Jiwa tentram. Nafasku lepas bebas. Tidak bergumpal di
paru-paru dan bikin sesak nafas yang berkepanjangan. Tidak! Otakku? Ku rasakan
tidak bergeser 1 cm pun dari tempurungnya. Tetap ditempat semula. Lalu apa yang
membuatku senyum sendiri. Tanpa berpikir panjang, aku pun melongok ke sayatanku
33 di pohon randu tua itu. Baru setengah aku selesaikan sayatanku. Belum juga
aku ucapkan mimpiku. Belum selesai ku abadikan kemolekkan itu. Tiba-tiba dia menatapku.
Benar menatapku. Dari seberang jalan tempat dimana aku luluh lantak oleh
kekagumanku akan sebuah kesempurnaan reka-reka-Nya. Dia menatapku sebentar lalu
menoleh dan pergi. Pergi begitu saja. Betapa sepasukkan bahagia datang berkuda
menerjang kuat, degup jantungku. Meremukkanku menjadi kepingan-kepingan. Lalu
angin berhembus membawa pergi bersama kelopak bunga-bunga itu. Terbang ketepian
dan tanganku siap meraih sebuah harapan. Ya harapan untuk bisa berkenalan
dengannya. Ku selesaikan sayatanku. 33. 

Dihempaskan ponsel ke tempat tidur. Murung berkecamuk seenaknya. Datang dan
berak semaunya dimuka perempuan jelita itu. Meninggalkan amarah akan sumpeknya
persoalan asmara dan mempersatukan kelamin dalam ikatan pernikahan. Si
perempuan hanya bisa bermimpi untuk mimpi-mimpinya. Berimajinasi akan sebuah makna
kelak dan suatu saat yang takkan muncul. Tentang sebuah cita-cita besar.
Melakukan perubahan. Memberikan perubahan. Dan menawarkan perdamaian.
Setidaknya apa yang diperoleh saat di bangku kuliah tidak berakhir di ranjang
pengantin belaka. Ilmu-ilmu yang dia racik selama merajam alotnya memperoleh
nilai sempurna, tidak mengendap diujung kemaluan lelaki. Waktu yang dibantai mati,
untuk selembar paper politik luar negeri. Waktu yang mengering di depan layar
monitor untuk beberapa lembar review dosen. Waktu-waktu lain yang menghuni
hamparan kuburan kesenangan, untuk menjadi sesederhana pemikiran Tan Malaka.
Satu tujuan tanggungjawab kepada apa yang sudah dicita-citakan. Hargai aku!.
Bukan karena cantik dan bertubuh seksi. Tapi juga karena punya otak Bisa
bersendagurau tentang tuntutan TKI. Kelakar tentang trafficking, KDRT, child abusement. Dan budaya jual beli
harga diri negeri ini. Mengibarkan kekuatan perempuan. Memporak-porandakan
realitas, perempuan adalah komoditas sebuah perusahan. Ini adalah sebuah
pembuktian. Ini sekedar cita-cita. Cuma mimpi. Imajinasi. Karena tahun ini
selepas nasib ini. Si lelaki berhak membawanya pergi. Perjanjian sudah di cap
harga mati. Antara si lelaki dan orang tua si perempuan. Kemapanan si lelaki
membungkam mulut orangtua si perempuan. Jaminan masadepan dan segala atribut
sebuah keluarga yang aman_belum tentu bahagia_telah dipresentasikan sangat
sempurna. Air liur bak air bah. Menggenang, dimulut-mulut. Tumpah bersama lidah
yang terjulur. Lupa bahwa tanda terima jual beli hak si perempuan untuk
menemukan nasibnya sendiri.. Resmi distempel darah. Mampuslah mimpi indah!

Si janda baru 2 minggu yang lalu pergi meninggalkan si bapak. Tapi ranjang
bapak sudah berdecit kembali. Seorang perempuan separuh baya dengan gemerincing
emas di sekujur tubuhnya, lemas terkulai di ranjang milik si bapak. Bergelayut
manja, meronta sekali babak permainan cinta lagi. Dan lagi. Lalu lagi. Si bocah
tidak kemana-mana. Dibalik pintu kamar mandi si bocah sedang bicara dengan
tuhannya. Mainan. Tak lama si bocah mengeram kesakitan. Ditahannya rintihan
itu. Takut terdengar oleh si bapak. Si bapak bakalan murka besar kalau ada
rintihan lain selain rintihan perempuan yang digarap si bapak. Darah segar keluar dari anusnya. Bukan kotoran.
Si bocah menangis. Lirih. Lirih sekali. Hening. Hening. Dan hening. Brakk!
Disertai suara teriakan seorang perempuan. Si bocah berlari keluar. Telanjang.
Dengan mainan ditangannya. Berdiri, diam, ada yang mengunci rapat mulutnya. Dan
yang memaksa matanya terbelalak. Diremas gemas mainan ditangannya. Digigitnya
bibir si bocah. Dan dilemparnya mainan itu ke muka si bapak. Lalu berlari dan
mencoba menarik celana si bapak. Sekuat tenaga. Tapi tubuh si bapak terlalu
berat. Dan terlalu bertahan dengan kepalannya yang berkali-kali menghantam
wajah ibu si bocah.

Cermin. Si perempuan jelita. Sisir menyapu gerai rambutnya. Tidak ada
senyum. Diam. Bisu. Deru melodi ponsel tidak digubris. Dibiarkan meraung
sejadinya. Dibenahinya gaun tidurnya. Dirapikan wajahnya. Bekas derai airmata
tak juga lenyap oleh bedak. Ginchu ditebalkan. Alis mata di pertegas. Aksen
pipi di tonjolkan dan dibenahinya payudaranya. Disisir kembali rambutnya. Model
lain mungkin?

             Tangisan si bocah tidak mengurungkan niat si bapak untuk berhenti memukuli
si ibu. Cukup sekali sepak. Si bocah terpelanting ke lantai. Si bapak tetap
tidak peduli. Gaduh. Ramai. Kacau. Tetangga datang bukan sebagai pelerai
perkelahian. Melainkan sebagai penonton setia drama kehidupan. Mereka diam dan
berbisik satu dengan lain. Mengutuk dan mengumpat si bapak. Dari jauh dari
jarak yang tak mungkin tersentuh oleh tangis mengemis si bocah mengiba
pertolongan. Kembali ditariknya celana si bapak. Sekarang disertai gigitan
kecil. Terkejut, perih merasa ada yang ikut campur. Si bapak berpaling ke arah
si bocah. Membiarkan si ibu terkapar dengan muka penyok. Bercak darah masih
segar menempel di kepalan haus si bapak. Si bapak geram. Dengan cepat
ditariknya si bocah dan membantingnya ke tepian lemari makan. Tetangga berseru!
Hanya berseru! Tidak lebih!. Seutas tali jemuran tergenggam erat di tangan si
bapak. Lalu berjalan menghampiri si bocah. 

            Percaya tidak aku sekarang berdiri di depannya. Dia. Perempuan impianku.
Lihat betapa senyumnya seperti apa yang aku rindukan. Matanya indah seperti
yang ingin ku lukiskan. Tubuhnya.. tubuh gendut yang paling rupawan. Rambutnya,
aku tersenyum girang. Indah sekali. Dikepang dua. Aku tersenyum lagi. Dia,
perempuan yang ku puja 33 kali ternyata lebih dari yang aku bayangkan. Dia,
sangat sangat sangat cantik. Aku kasmaran. Aku jatuh cinta? Mungkin, tapi entah
apa namanya itu. Aku cukup bahagia memperoleh senyum dari bibirnya yang lucu.
Sekali lagi ku tatap matanya. Tidak banyak kata-kata yang mampu aku ungkapkan
untuk memujimu, pujaanku. Tidak banyak permen yang bisa aku beri, karena ibu
melarangku, katanya bikin sakit gigi, tapi aku ingin sekali memberimu permen
itu. Tapi tunggu sebentar. Aku keluarkan seutas kawat, diujungnya ada sekuntum
mawar kertas warna merah. Dan ku berikan kepadamu, pujaanku. Itu yang aku pakai
untuk mengagumimu. Aku ambil dari rumah, milik ibu. Dia pun menerima
pemberianku. Aku tersenyum. Dia juga.  

            Handycam. Lampu kecil warna merah menyala. Kemudian mati. Si perempuan
mengubah posisi duduknya. Dipindahnya handycam. Sekarang si perempuan duduk,
dibelakangnya rak penuh dengan buku pembeliannya. Disamping kiri, meja kecil
dan secangkir kopi robusta. Berkali-kali ditata kembali rambutnya. Semua harus
rapi pikirnya. Tatapannya lurus ke arah handycam. Tajam. Pasti. Lalu senyum.
“Selamat malam
pemirsa..”

Akhirnya aku menemukan kepuasanku. Setelah menunggu lama,  ibu menyekolahkan aku. Disekolah ini. Sekolah
khusus downsyndrome. Bukan itu yang membuatku bisa tersenyum. Tapi karena ada
kawat berujung pohon mawar, pohon randu tua diseberang jalan sana. Tempat biasa
aku mengagumi dia, pujaanku. Sembari menunggu kakakku pulang sekolah. Dan dia,
pujaanku. Selalu dekat. Selalu ada.

 

Dear, kekasih

 Dari janji kepada
orangtuaku, aku rela kamu bawa pergi
Tapi janji dari
hati, aku tak rela harus pergi seperti ini

Salam,
Vanez

 

Senoaji,
Setengah bulan Agustus untuk menantimu..

Kapan, Akan Kamu Bunuh Aku?

August 25th, 2007 by jejakmungil

Suatu saat hanya ada aku dan dendang Obie
Mesak, semut-semut yang berbaris didinding sekolah. Tidak ada bangku taman untuk
menunggumu dengan rantang makanan yang aku bawa tadi pagi. Atau sekedar 2
kuntum edelweis sebagai pernyataan sikap, “aku suka kamu!”. Tidak ada lagi.
Mungkin memperkosa kesepian adalah jawaban. Duduk sendiri dengan pena
menggantung di ujung bibir. Lalu mematahkannya, membakar cerita-cerita lucu
yang tertumpah dalam kertas. Meremas geram satu dongeng kencan. Atau… Kemudian
mencampakkannya sebagai bangkai, mayat hasil pembunuhan karakter. Ya, karena
cinta, aku bisa merusak kebodohanku berkubang dalam ketidakpastian,
ketidakyakinan, dan segala sendu nikmatnya dosa-dosa utusan Allah. Yang sengaja merangkai bunga mawar hitam akan buramnya
sebuah cerita masa depan. Dan lagu itu tak henti-hentinya mengulang refren
tentang penantian cinta. Indah. Simpel. Dan mungkin. Segalanya apapun itu, yang
berdiri di permukaan perjalanan waktu ini aku anggap mungkin. Dan mungkin juga
untuk putaran waktu yang lain aku mungkin selalu mengakhiri cerita dengan mungkin aku bahagia dengan cinta.
 

Sepasang kekasih dalam keadaan tidak sadar
karena cinta, berujar untuk hidup semati. Kalopun ada itu reinkarnasi, mereka
pun membuat perjanjian untuk berreinkarnasi menjadi putri salju dan pangeran.
Dan penjual es, tukang selop, mas rujak dan sebagian makhluk hidup lain yang
merasa masih bernyawa. Mereka putuskan berreinkarnasi menjadi 7 kurcaci. Si
lelaki menatap mesra perempuannya. Si perempuan pun tidak mau kalah di elusnya
hati lelaki itu dengan kecupan kecil di ujung bibir nikotin itu. Sebentar,
tidak butuh waktu lama, dalam hitungan kedipan mata, bunga-bunga cinta bubar
dari balik celana dalam mereka. Bibir beradu kenangan. Hati beradu imajinasi.
Otak hanya memberi sinyal kepada sepasukan nafsu. Untuk segera membentuk
barisan, menyerbu kawasan musuh. Melumatkannya, merajamnya, membacoknya, dan
berkali-kali melemparinya dengan meteor-meteor kerdil. Berkumpul, menghujamnya
berkali-kali, berkumpul dan membantai apapun yang menghalanginya. Si lemah itu
pun terkoyak. Berdarah. Si lelaki terkulai lemah. Dan si perempuan terkulai
sebagai calon bangkai. Selongsong peluru panas bergelinting jatuh kelantai.
Pelor menghancurkan kelopak matanya. Moncong pistol masih melepas asap
terkhirnya. Sebelum terhempas di lantai. Ada dia, dingin di sekujur raut
mukanya. Ada senyum puas. Di tatapnya si lelaki. Dijamah pipinya. Dan dicium
keningnya. Perempuan berwajah dingin pergi. Darah segar membuat corak dilantai
putih. Bercak yang lain tersemat ditembok. Sebagian dirak buku. Sebagian yang
lain di piring dan gelas, sayat. Kekasih terkapar, kerling mata tidak ada lagi.
Hancur. Wajah cantik remuk. Dan darah yang penuh dengan cinta, meresap di
pori-pori bumi. Bersama dengan cintanya seketika tubuh itu tak sehangat tadi
siang. Peluh, tak urung membanjiri seluruh tubuh lelaki itu. Bukan perempuan
itu yang ditakutinya. Namun alangkah sulitnya kematian untuk di negosiasikan.
Menemui ajal secara cepat adalah bunga-bunga hitam dalam panjangnya rangkaian
waktu. Kadang mati dengan cara paling sempurna. Indah. Dikenang. Dan selalu
menjadi cerita. Tapi ada juga kematian bisa sangat menjijikkan. Membusuk,
berbelatung, darah dijilati anjing buduk. Atau bahkan sebagian tubuh hilang
entah kemana. Manakah ajal yang datang untuk si lelaki? Si lelaki, mulutnya
membisu, mungkin membusuk kaku. Matanya di julurkan ke depan, menatap bangkai
kekasihnya. Hancurlah. Sekarang bubarlah. Cinta dan janji untuk sehidup semati
tidak akan ada lagi. Reinkarnasi, tidak akan pernah ada.

Hmmm.. Dia nampak gembira. Dipandanginya
celana jean itu. Berkali-kali dipaskan ke pinggul dan betisnya. Berputar dan
berbalik menatapnya teliti dan menilai sendiri. Cermin sebagai saksi dia seksi.
Pikirnya. Harapnya. Mungkin. Selepas bulan Februari kemarin seseorang
menghadiahinya celana jean. Ujar seseorang itu celana jean akan menjadi sebuah  kenang-kenangan rumit sebuah kisah asmara,
prasasti untuk lamanya sebuah kisah percintaan dua manusia bumi. Yah itu hanya
sebagian benda yang disumpalkan ke dalam perjalanan kisah cinta dia dan
seseorang itu. Menurut seseorang itu benda adalah jelmaan cinta. Saling memberi
dan menerima. Diberikan oleh si dia surga dari sebagian surga yang di buang ke
bumi kepada seseorang itu. Dan seseorang memberinya kembali dengan apapun yang
dibutuhkan untuk mempertahankan surga si dia. Pikir seseorang itu. Sudah
terlampau banyak dia dan seseorang itu saling memberi dan menerima bahkan
mengutang dari sebagian hasil orangtua atau kerabat setara. Seseorang itu
percaya cinta adalah a.k.a. pengorbanan. Untuk membuatnya menjadi buta
sebuta-butanya. Sejati untuk sepalsu-palsunya. Dan memang benar celana jean
adalah kepalsuan yang direncanakan untuk si dia oleh seseorang itu. Dan
benda-benda lain yang lenyap dimakan janji sekarang pun tidak berbekas
sedikitpun. Hanya ada nota, kuitansi, dan tanda bukti seseorang habis segini.
Dan si dia menerima celana jean itu, prasasti sebuah akhir yang pait. Putus.
Bubar. Tidak ada ikatan janji dan rajutan rencana menantang masadepan.
Seseorang itu punya rencana lain, dengan yang lain. Dengan dia yang lain, yang
tidak harus diupah benda, tidak harus dibelain mengutang harta hanya untuk
secuil surga yang dibuang ke bumi. Yang mau menerima betapa rentanya kelamin
seseorang itu. Yang mau melepas segala bentuk ikatan dan janji, makna masadepan
dan berakhir di pelaminan. Tidak ada. Tidak pernah ada. Dan nggak bakalan
mungkin ada. Selamanya. Selepas februari.

Ada lelaki. Ada sebuah lorong kampus. Bangku
taman sengaja dibuat melingkar untuk menyatukan mata-mata rabun. Lelaki duduk
disalah satunya. Secarik kertas di kutik-kutik, dibentuknya sedemikian rupa.
Tidak lama, sebuah pesawat kertas berpesan, lepas terbang dari tangan lelaki itu.
Terbang, goyah oleh angin usil. Lalu menukik jatuh di pangkuan seorang
perempuan. Si perempuan sadar itu perbuatan unik si lelaki. Dengan cepat di
urainya pesawat kertas itu. Ada pesan yang di tulis lembaran kertas itu.
‘Cantik..’. Si perempuan tersenyum. Dirasakan pipinya memerah panas. Rasa betapa
cantiknya si perempuan membuat si perempuan tidak mau menceraikan sanjungan si
lelaki. Sudah terlalu lama si perempuan tidak diperjuangkan oleh lelaki-lelaki
kasmaran. Sekarang datang saat itu, sekarang itu, hari itu. Ada pesawat kertas
yang membawa sekuntum pujian untuk si perempuan. Diterimanya pujian itu.
Dibongkarnya relung hatinya yang sudah lama berlumut tebal. Dimasukkan ke dalam
jauh ke dalam. Lalu di congkelnya kotak-kotak kenangan yang diborgol waktu,
dibuka dan sebagian pujian di masukkan ke dalam lalu di kunci rapat oleh si
perempuan. Semua itu untuk dibawa pulang. Untuk dibaca lagi selepas makan
malam. Dalam sebuah kamar. Harum pengharum ruangan menyeruak. Membusukkan
segala yang bau busuk. Dan memberinya berhektar-hektar keharuman taman bunga.
Dan si perempuan berlari kesana. Berguling-guling setelah jatuh dari pangkuan
pesawat kertas yang membawanya terbang sesaat. Senyum sendiri. Memejamkan mata.
Lalu memetik sekuntum bunga untuk dicium. Lalu senyum lagi. Dan berguling lagi.
Lalu jatuh di setumpuk pesawat kertas. Diambilnya satu, diurainya dan senyum
lagi. Si tampan itu ada disana. Si lelaki itu duduk menunggunya dibangku taman.
Kemeja separuh rapi dikenakan berpasangan dengan celana belel kemarin minggu
menambah betapa rupawannya si lelaki. Si perempaun berjingkat girang. Berlari
menuju bangku taman. Dipakainya baju yang terbaik, tercantik. Ditatanya wajah
dengan perekat make up untuk menahan kecantikkannya, luar biasa. Untuk si
lelaki. Untuk si penggairah asmara. Senyum. Hanya bahagia yang bicara seadanya.
Ketika si lelaki memberikan 2 kuntum bunga edelweis. Jemari lentik menerima
kuntum-kuntum itu. Sebelum layu dan mranggas oleh perjalanan waktu. Senyum
kembali melukisi wajah si perempuan. Betapa bahagianya si perempuan,
mendapatkan kembali lontar-lontar yang hilang. Lontar-lontar tentang cinta dan
kebesarannya. Selepas telanjang, berguyur dengan segarnya air. Terburu-buru
langkah mungil seorang perempuan. Dalam dekapan segepok buku pelajaran menerima
kehangatan.  Tidak ada kepang untuk pagi
ini. Kawat gigi istirahat. Dan kacamata penghalang kelentikkan bulu mata
berganti maskara. Semua harus serba cantik. Dan langkah mungil itu tidak
henti-hentinya menyanyikan senandung kerinduan. Sebulan seakan berminggu-minggu
lamanya. Dan semenit tidak ada artinya tanpa si lelaki. Ada lelaki di bangku
taman. Selembar kertas mulai berwarna oleh kata-kata yang dicoretkannya.
Membentuk bait-bait, pola-pola sulaman puisi pujangga yang mati karena jatuh
cinta. Inilah roman tentang sebuah kejadian yang dinamakan percintaan.
Begitulah salah satu bait itu tertulis. Sembari menebar pandang, menunggu
berjuta-juta kerinduan yang dipesannya. Lelaki itu menata kembali sebuah
kejutan. Kejutan untuk cintanya. Untuk kekasihnya. Untuk perempuan itu. Ini
minggu pertama buat mereka untuk mengurai pesawat-pesawat kertas yang lain.
Bersama. Berdua. Atas nama asmara.

Daun pohon cemara belum juga berhenti bersiul bersama
terpaan angin dari barat. Ada tupai goblok yang mencoba menjilat sisa es apolo.
Dingin. Lalu berlari di balik semak. Seseorang, dua orang berteriak dari balik
semak. Perempuan itu separuh telanjang. Lelakinya tidak jauh beda. Mereka bubar
dari perhelatan acara persembahan untuk alam. Berlari pontang-panting menerjang
rumput yang pasrah terinjak, lebam, lalu layu menunggu mati entar sore. Tadi
pagi rumput begitu segar. Kawan-kawan embun bergelantungan, menggoda bumi
dibawahnya. Si rumput hanya tersenyum. Selain habis dimulut sapi dan kambing.
Setidaknya dia masih bisa menikmati canda puluhan embun. Rumput bersyukur dari
mulai hidup sampai rencana kematiannya kelak. Rumput selalu merasa dialah teman
dari sebagian kehidupan. Menjelang siang, ada kelamin yang melepaskan embun
keemasan. Sorrr begitu saja ditebarkan merata. Siang dengan embun yang
keemasan? Bagi rumput ini salah satu anugrah buatnya. Memberikan tempat
berteduh bagi embun-embun itu. Sebelum moksa di bakar mentari. Tidak hanya
kelamin itu. Kelamin satunya tertarik untuk memeriahkan taman bermain itu.
Sorrr… puluhan bahkan ratusan embun keemasan terbang dengan sayap-sayap
mereka. Mengepak, mengepak lalu jatuh begitu saja. Ujung tubuh rumput menjadi
tempat terakhirnya. Mereka bermain bercanda lalu mati di sore harinya.

Senoaji, akhir agustus 2007-08-24
Pagi, adalah awal kebinasaan waktu dan cerita semalam..

Mungkin, akan datang apa yang disebut: suatu saat nanti…

August 5th, 2007 by jejakmungil

Nasi yang
tergelar di daun pisang itu, kian menipis. Lele goreng dan sambel itu juga tak
mau kalah, menipis tinggal duri dan daging tipis yang melekat di ujung ekor.
Sambel juga. Lalapan hilang entah kemana. Yah! Ada 10 tangan kanan bernafsu
berebut nasi, lele goreng dan sambel. Ada 10 mulut yang sibuk mengoceh,
mengomel tak jelas, dan mengunyah sembari melepas kelakar yang bikin muntah
bagi mulut higenis. Belepot memang, mulut, tangan dan kaki. Kotor memang, nasi,
lele goreng dan sambal karena terciprat pasir pantai. Hancur memang, rasa dan
aroma makanan itu. Tapi ini aku sebut kebersamaan. Bukan perkara nasi prol, bukan
juga hambar bumbu lele goreng, dan manisnya sambel tomat dan rasa lapar yang meraung
selepas Karangmalang. Yang memaksa berebut, semrawut. Dan menjauhkan dari apa
yang dinamakan beradab. Bukan itu. Tidak sesimpel itu. Ada cinta yang dikunyah
dan dimuntahkan dalam lingkar kebersamaan. Ada senyum yang tidak dipaksa. Bacot
yang ikhlas, sekedar mengumpat, atau bicara rusuh seadanya. Untuk satu kelakar
yang indah. Atau membagi senyum, tawa dari mulut yang tidak mudah jenuh dengan  kejujuran dan sebakul kebahagiaan yang murah
meriah tanpa harus ngutang pada pelawak kacangan atau da’i jadi-jadian. Semua
muncul dari lembabnya hati. Dari bibit _satu untuk semua kebodohan yang
rupawan_yang ditanam saat jumpa dimalam keakraban 1999. Tumbuh subur seiring
semakin gobloknya perjalanan waktu. Yang ngigau sebagai raja dari segala
langkah-langkah mungil serial sinetron kehidupan manusia. Dan panen itu tiba,
buahnya lezat, nikmat bernama tangan terjabat erat. Manis, asam, lalu pahit,
kemudian gigitan kedua asam diselanya terasa manis dan pahit lagi. Hampir mirip
sama apa itu tipu-tipu jaman.

 

Yah, sebodoh
mungkin hidup ini dibuat sederhana. Seperti kesepuluh wajah itu, mereka tahu
pasir itu bukan lauk yang tepat untuk nasi. tapi tetap saja, kunyah, telan,
masuk kekerongkongan. Terjun bebas ke pencernaan. Senyum. Selesai.

Tepian pantai, lemah
mencengkeram deburan ombak Pantai itu. Berlari menjauh dan bertumbuk di ujung
palung. Buyar bubar. Sedemikian juga hancurnya terik siang, bertebaran menjauh
menyambut gelak kelakar sang penguasa malam. Pergi jauh di balik gumuk. Hanya
jingking yang betah berkejaran dengan gemulung riuh ombak. Berlari masuk
kelobang pasir. Bersembunyi, mengintip dibalik-balik kilau pasir pantai. Tapak
riuh canda itu hilang satu persatu. Terbasuh ombak. Halus rata oleh pasir.
Tidak sedikitpun bekas tertinggal. Halus, rata. Seperti sediakala. Tidak ada
daun pisang, alas kembulan. Tidak ada, halus, rata. Hari sudah larut malam,
saatnya dongeng berterbangan dan hinggap di benak para pecintanya. Dongeng
indah kisah-kisah tadi siang. Sepanjang waktu mendengar dongeng-dongeng itu,
sebetahnya pergantian hari yang pergi namun tak ingin kembali.

 

Bulan April 2007,
kenangan mengajakku mampir, kembali ke tempat itu. Tepian pantai. Mata ini aku
bebaskan menikmati apa yang sudah terjadi di waktu lampau. Aku duduk. Gemulung
ombak tak henti-hentinya menarikku ke dalam satu cerita yang sesaat dulu pernah
aku lupa. Rambutku tertampar angin. Sekali, dua kali lalu sekali dan
seterusnya. Sebutir pasir menyelinap di mata. Perih. Ku usap, berair, namun tak
juga pergi.

“Sini biar aku
tiup..”

Mata ku usap
lagi, sekarang lebih kuat.

“Jangan kamu
usap, ntar pasirnya tambah masuk ke dalam!”

Dan.. Wuufff!!

“Gimana lebih
enakkan?”

Benar tak ada
lagi pasir di mataku. Namun apa yang aku lihat lebih mengganggu mata ini. Ku
usap lagi. Lagi. Kemudian sekali lagi. Lenyap sudah teori tentang fatamorgana.
Terik mataharipun bukan jadi alasan untuk mengelabuhi mataku. Apa yang ku lihat
nyata. Bukan semu. Dan bukan juga racun otak yang memaksa logika bekerja tak
sempurna. Lelaki itu duduk di sampingku. Melempar senyum. Lalu berlari menuju
bibir pantai. Korek gas ku nyalakan dan ku sulutkan ke kelingking. Panas.
Lelaki itu melambai. Diam. Dan belari ke arahku.

“Hei ngapain ke
pantai kalau Cuma mampir bengong? Ayo!”.

Ditariknya lengan
bajuku. Aku berdiri. Ku tatap lagi lelaki itu. Nyata. Tas aku letakkan. Ku
lepas sepatu, kaos kaki. Dan ku berlari mengejarnya. Dan sebentar aku sibuk
dengan permainan bola. Tidak hanya satu aku lihat ke delapan lelaki lain.
Senyum. Tawa. Cerita. Waktu. Hilang. Hampa. Sepi. Hanya desir angin dari sela rumput
liar.

 

Kaki ini terpaku,
pasir menenggelamkannya sebatas tumit. Air laut bergulung menepi. Lembut menyentuh
jemari kaki. Lalu pergi membawa kembali apa yang diberikannya. Menyisakan
jejak-jejak waktu yang hancur, tak ada. Sisa waktu jatuh berdegum di bulir-bulir
pasir. Pingsan dan tak bicara lagi. Dongeng akan kehebatan sebuah persahabatan
dan cerita-cerita di lontar-lontar rapuh, hari ini aku baca kembali. Angin
telah memaksa air bergemuruh membantai tepian pasir. Senja tak lagi berpantun
dengan malam. Mungkin separuh bulan yang terlahap batara kala terpasung di
balik sepasukkan awan, menjadi titik awal penebusan. Dan aku dan mitos sebuah kenangan adalah nyata, berdiri
sendiri, disini bersama sapuan ombak yang terburu-buru pulang ke lautan.

 

Teruntuk
kawan-kawanku. Nyawa memaksa tubuhmu berjingkrak resah menerima kenyataan,
bahwa hidup tidak senikmat semangkuk mie Ayam Purworejo. Atau semanis segelas
kopi hitam Bonbin. Ada brotowali yang tercelup didalamnya, mempertahankan hidup
sebaik mungkin. Kawan sampai saat ini aku lihat kalian sudah sebaik-baiknya
menjalankan peran sebagai seekor manusia. Mahkluk yang katanya paling sempurna
dari kucing, kodok, atau kecoa. Kesempurnaan itu sudah kalian raih. Walau
kadang harus tersayat waktu. Tergores dalam aturan dunia. Dan terpenggal
keputusan kodrati. Tapi tegar dan berdiri sendiri dengan kelumpuhanmu,
membuatku ingin mengiba satu permintaan. Kapan kalian istirahat sejenak. Duduk
santai di basahnya rumput Telomoyo. Memuji nikmatnya secangkir kopi hitam. Yang
kita sedu dengan sederhana. Atau semanci mie instan untuk kita lahap ala
kadarnya. Itu saja lalu kita bicara apapun. Apapun selain hilang dari waktu dan
berlari di belantara kesendirian.

ASEP

June 8th, 2007 by jejakmungil

Suatu hari Asep hanya bisa terdiam diatas tempat tidurnya. Terlentang
membujur kaku, masih bernyawa, masih hidup dan masih punya keinginan. Hanya
saja luka yang dibuatnya di masa lalu mengubur segala kehormatan, harga diri,
prestisinya sebagai seorang pejuang pembela kebenaran. Ya pejuang itu sekarang
lumpuh. Kakinya masih utuh, jumlahnya masih sama, dua buah. Namun tidak bekerja
layaknya kaki. Kaki-kaki yang dahulu menemaninya berlari berkubang di
nelangsanya nasib para petani, menopang tegak ketika lantang bersuara hak-hak
kaum mlarat, petani dan sejawat. Kaki-kaki yang bakuh menopang terjangan
tongkat-tongkat aparat, ketika jengah dengan pelecehan hak-hak perempuan.
Kaki-kaki yang selalu marah menendang segala bentuk-bentuk ketidakadilan. Dan
membuatnya tersungkur parah, mengaduh lalu balas dendam. Dan kaki-kaki yang
menggoda setiap perawan untuk rela membuatnya tetap perkasa. Dimana kaki-kaki
itu berada disitulah pujian dan sanjungan hadir sebagai penghormatan. Dan
kaki-kaki itu sekarang menemui ajalnya. Terbujur kaku. Hidup tapi tak sehebat hari-hari
kemarin. Tidak berguna. Layak untuk dibuang. Dan Asep hanya terdiam melihat
ketidakberdayaannya. Kepahlawanannya selesai sebelum perang di gemborkan.

 “Dasar perempuan
tua!”
Nadia, diam.
Lelaki itu pergi
meninggalkan Nadia. Tertunduk, menghela nafas panjang.

 Spanduk-spanduk terbentang menantang. Tercoret tulisan-tulisan propaganda,
perjuangan tidak pernah di tunda. Petani harus bicara. Hak mereka harus bicara.
Harus bicara. Ratusan masa dari sebuah desa berbondong-bondong memenuhi
pelataran sebuah instansi pemerintah. Wajah mereka nampak cemas sekaligus ingin
merampas. Merampas apa yang seharusnya sudah dimiliki oleh mereka. Namun lepas
untuk disengketakan. Tanah. Asep dibarisan paling depan. Sebanjar lagi dipimpin
oleh Nadia. Dan sebanjar lagi meringsek bersama Idam. Semua maju meneriakkan tidak
betahnya dikekang oleh jerat-jerat aturan yang memihak yang kuat. Poster
terjulang ke angkasa. Tangan terkepal menantang. Mulut lantang bicara. Bukan dengan
apa adanya mereka berjuang. Hati, semangat kemauan dan tekad untuk satu kata.
Kekalahan. Alasan merubah nasib, nasib yang akan mereka jalani di kemudian
hari. Namun kali ini nasib jarang bicara dengan kaum mlarat. Kaum perkasa yang
dipaksa perkasa karena nasib. Nasib itu juga yang membungkam mulut-mulut
mereka. Dan menggiring mereka menuju sebuah pertanyaan besar kapan perjuangan
ini berakhir dan kapan kita akan kalah?! Dan Asep pejuang untuk perjuangan itu.

 “Nad, aku bilang
aku akan nikahi kamu..”
Nadia terdiam,
mulutnya lumpuh oleh rayuan si Lelaki.
“Dengarkan aku
Nad aku mencintaimu! Sungguh!”. Lelaki itu merengkuh lengan Nadia.
Nadia diam, mulutnya terluka parah oleh segala ucapan si Lelaki.
“Nad, Kamu tidak
percaya aku bakalan menikahimu. Sekarang aku tanya siapa yang kamu cintai?
Siapa yang akan sudi menikahi perempuan berumur seperti kamu? Ingat Nad perjalanan
cinta kita sudah lama. 2 tahun kita pacaran. Dan aku yakin kita saling mengerti
satu dengan yang lain. Sekarang apa yang kamu ragukan dengan ketulusanku?” 
            Pelan Nadia merebahkan tubuhnya. Diatas kasur busa. Di tatapnya
langit-langit kamar ruangan itu seakan ikut tertawa. Tertawa sejadinya. Lalu
diam dan mulut berkumur air liur. Waktu jarang bicara tentang cerita-cerita
luka. Mereka pergi begitu saja meninggalkan seorang perempuan yang berjuang
membalut hatinya yang bobrok oleh rayuan. Hancur. Hancur itu berkeping-keping,
berserakan. Serpihan-serpihan kecil hati dan makna cinta, berhamburan
kemana-mana. Dan waktulah yang melahapnya sebagai santap malam. Sedangkan Nadia
tak bisa berbuat banyak, sendi-sendi tubuhnya lumer oleh gemuruh tubuh si
Lelaki. Menggebu berjuang membuktikan keperkasaannya.
            Ada anjing kencing di luar sana. Dilihatnya seekor ayam tertidur pulas. Air
liur menetes. Matanya meruncing. Mengendap pelan kearah si Ayam betina yang
pulas tertidur. Pelan si anjing buduk itu mengendap-endap. Sebatang ranting
tidak sengaja terinjak. Prakk! Ayam betina terkejut. Matanya menyapu
sekeliling. Gelap. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Dibenahinya jerami yang
menghangatkan tubuhnya. Dan si Ayam betina siap untuk kembali dalam pelukkan
mimpi. Namun! Belum juga si ayam betina memejamkan matanya. Si Anjing dengan
garang menerkam si Ayam betina dari belakang. Dicakarnya punggung Si ayam
betina. Robek berdarah. Leher jenjang itu di gigit , sobek dan berdarah. Si
ayam betina sekarang tidak bisa berteriak minta tolong. Lehernya hampir putus
oleh gigitan si Anjing. Si ayam betina lemah. Pasrah. Si anjing menggeram
lirih. Dan tanpa banyak auman si anjing menancapkan kemaluannya yang sudah
memanjang, ke pantat si Ayam betina.
            Nadia tidak banyak bicara. Digigit bibirnya untuk menyadarkan, kelak luka
itu perih seperih bibir yang tergigit. Luka menganga darah meluber. Deras.
Keringat terkuras. Kelamin pun melemas. Terkulai. Satu tersenyum mengemas
tubuhnya, lari menyembunyikan diri. Dan sebisa mungkin hilang tanpa jejak,
pemerkosaan. Satu lagi merengek meraba sela selangkangan yang remuk atas nama
cinta. Nadia diam, matanya tergenang air asin karya sebuah luka. Hari ini
adalah hari yang bersejarah buatnya. Masa depannya adalah nyata hidup dengan
seorang pejuang pembela kebenaran. Pikir Nadia, harap Nadia, dari mulut itu
Nadia berani menukar hatinya dengan kelamin kurang kerjaan. Dari mulut itu lah
Nadia percaya, lelaki pujaan tidak berujar janji-janji rekaan. Dari janji Nadia
rela, dari harapan Nadia percaya.
            Si Lelaki terduduk lemas di ruang tamu. Sebatang rokok terselip di sela
jari-jemarinya. Tatapannya jauh menabrak jalan yang sepi dan rumah yang
lengang. Senyum kemenangan terpahat rapi diwajahnya. Disekanya keringat yang
bergerombol dijidatnya. Dan tanpa sadar ada sperma menempel dijidatnya. Si
lelaki tersenyum. Mantap dihembuskannya asap rokok ke udara. Senyum lagi, lalu
di lihat sekeliling. Jam dinding. Kamar sebelah. WC. Garasi. Dan taman depan
rumah. Sepi. Rumah sepi. Monumen kehancuran itu sepi. Teman-teman seperjuangan
sedang keluar. Mereka pergi untuk satu dua hari. Katanya ada sesuatu yang harus
dibicarakan masalah projek selanjutnya. Seharusnya mereka datang malam ini.
Tapi.. Dari arah pantat lelaki itu keluar bergerombol sebarisan Malaikat-malaikat
bejat. Tertawa puas. Sebagian menyeka liur dan lidah yang terjulur. Mereka
bergegas lari, terbang dan merangkak, singgah di kasur busa sebuah ruangan. Menyanyikan
lagu-lagu romatis. Berdendang lagu sebuah kesempurnaan pemerkosaan. Atas nama
tipu-tipu cinta. Lalu serempak mereka duduk di langit-langit kamar ruangan itu.
Duduk dan menunggu si budak kelamin untuk segera mengulang
kenikmatan-kenikmatan itu.
            Selimut hanya selimut. Tubuh yang bugil pun bisa terkurung rapi. Tapi angan
tidak terkurung. Mereka bebas berkelana mencari sela-sela penyesalan. Jika
janji terucap ingkar di akhir cerita. Harapan lah yang ditunggu di
persimpangan. Untuk bisa diajak bicara tentang masadepan dan nasib sebuah
kepercayaan. Namun terkadang harapan keburu menemui ajalnya. Ditengah-tengah
kisah tipu-tipu cinta. Sesal datang dan tidak akan rela menutup pintu untuk dendam.
Rokok pergi. Si lelaki memenuhi panggilan kelaminnya yang menegang. Selimut
terkoyak, kelamin pun bicara. Hati adalah mitos sebuah cinta. Dan kelamin..
Siap Grakk! Maju Jalan! Anjing itu pun berlari menuju sebuah pohon dan kecing
untuk kedua kalinya. Ditempat yang sama.
            Musim hujan datang seperti biasanya. Dingin merajam tubuh-tubuh yang tak
berbalut. Dedaunan bersendaugurau dengan butir-butir air yang jatuh dari
langit. Lebah bersarang dalam tempurung-tempurung pohon dan lubang-lubang kayu.
Mendekap tubuhnya yang menggigil dengan sisa-sisa madu siang tadi. Dan sekali lagi
perjuangan tidak pernah di tunda. Gembar-gembor tentang hak kepemilikan tanah
mulai di beberkan ke media masa. Petani versus aturan. Mana yang kalah? Asep
selalu didepan mencoba membekap lobi-lobi yang dibuat oleh tikus-tikus dan
anjing kurap. Ini atas nama orang mlarat, katanya lantang. Spanduk-spanduk
bercoret kata-kata perjuangan kembali menjulang ke angkasa. Di usung oleh
penuntut ketidakadilan aturan-aturan. Hukum? Sudah lari terbirit-birit
bersembunyi di ketiak-ketiak aturan rekaan. Siapa yang di untungkan? Sorak-sorai
ratusan mulut menyambut gegap gempita kata-kata Asep. Corong-corong toa yang
dibawa dari desa, sekuat tenaga menebarkan kata-kata pergerakkan yang dibuang
dari mulut Asep. Semua setuju semua akan maju bersama. Atas nama orang mlarat.
            Asep bicara sebagai pejuang dadakan. Hari ini cukup! Kita pulang! Kehidupan
diawali dari perut yang kenyang! Perjuangan tanpa kehidupan adalah hampa! Kita
pulang! Lengang. Poster berserakan. Plastik-plastik bekas es teh, makanan kecil
terbang berputar tersapu angin. Sandal jepit terjepit disela pilar. Topi mungil
bertengger di atas tanaman hias. Dan nadia celingukan, mencari kemana para
pejuang-pejuang itu. Di tentengnya plastik hitam besar penuh dengan makanan,
kembali ke sepeda motornya. Sembari memastikan lagi bahwa tidak ada lagi pejuang
yang tertinggal menungguinya. Sepi. Pelataran itu sepi. Semua orang telah
pergi. Nadia pun pergi.

 “Goblok!”. Lelaki
itu berdiri. Berkacak pinggang. Matanya melotot. Tajam menantang. Pejuang lain
kelipukan. Mereka lelah untuk bicara lagi. Mereka diam karena terlalu lama
berjuang. Mereka butuh makan. Mereka lapar. Dan mulut belum juga diganyang
makanan. Mana bisa otak kelaparan. Mana ada perjuangan dengan perut mengiba
makanan. Tidak! Maaf saja kawan pacarmu tidak berperasaan. Melihat Nadia yang berdiri
dengan plastik besar penuh berisi makanan, si Lelaki mendekat, geram. Malu.
“Kenapa bisa
terlambat, sudah aku bilang jangan sampai terlambat, perut ku dan kawan-kawan
butuh makan, kita lapar!”. Si lelaki tetap tidak berubah. Bangga dengan
bentuknya yang sekarang. Marah, seakan perut-perut kawan perlu juga di
perjuangkan. Cinta adalah legenda. Dan kawan adalah segala.
“Tega kamu ya!
Ngebiarin kita nunggu lama! Kelaparan! Kemana aja kamu! Apa aku suruh kamu beli
makanan di Medan?! Nggak kan! Bisa-bisanya!”. Si lelaki masih cinta dengan
bentuknya yang sekarang. Marah dan merasa hebat, dihadapan kawan-kawan
seperjuangan. Perjuangan tidak akan pernah di tunda. Ganyang semuanya atas nama
kebenaran. Cinta tak ubahnya tai kucing, bau dan harus di singkirkan.
“Dengar aku malu
punya kekasih seperti kamu! Mau ditaruh dimana mukaku! Mereka mengeluh ke aku
kok makanannya datangnya lama! Sapa sih yang beli! Benar-benar nggak punya
perasaan! Tega kamu sama kekasih sendiri! Aku capek! Kita semua capek! Kamu
punya tugas membeli makanan saja nggak becus!”. Si lelaki masih bergumul mesra
dengan bentuknya yang sekarang. Kekasih bisa dua macam kekasih di hati atau
kekasih seperti tai. Yang kudu di guyur dengan air yang banyak supaya lenyap masuk ke dalam septiteng.
“Hei dengar
mulutmu sudah keterlaluan. Siapa yang tega?! “
            Plastik hitam penuh berisi makan di lempar ke pejuang-pejuang itu.
Berhamburan. Nadia pergi.

 Asep nampak serius. Kawan-kawan perjuangan juga berkumpul. Ada tokoh dari
petani yang nampak serius membeberkan persoalan-persoalan. Sebentar saja mereka
saling melontarkan pendapat. Strategi disusun, relasi dihubungi. Bantuanpun
dikumpulkan. Ada pergerakkan besar-besaran yang sedang mereka rencanakan.
Perjuangan seharusnya tidak tertunda. Harus berakhir dengan kepuasan. Menang.
Atau kalah sama sekali.
            Malam. Tidak ada yang indah. Sama sekali. Bulan? Kemanapun dia bersembunyi
mentari akan membunuhnya di esok hari. Kumbang-kumbang lapar menghisap madu.
Lebah-lebah kenyang dengan sisa-sisa madu semalam. Dan lalat, tidak seekorpun
dari mereka yang berhenti menggerogoti bangkai tikus clurut yang mati siang
tadi. Dan si lelaki tidak ada niat sedikitpun menyeka air mata Nadia yang lumer
bersama derasnya keringat-keringat malaikat-malaikat bejat. Menggebu,
menghujam, melupakan sakit yang merintih keluar dari bibir Nadia yang tergigit.
Semua harus selesai malam ini. Esok si Lelaki ada pekerjaan mulia yang harus
dijalani. Dan Nadia mencomot kata-kata rela sebagai ungkapan kasih sayang.
Iklhas, beda dari rampas. Biarlah semua lepas asalkan si lelaki puas. 5 menit
berlalu. Si lelaki itu tepar. Terengah-engah. Tersenyum puas. Dan merasa
keperkasaannya terbukti. Dan tidak ada tandingannya. Selesai. Satu menyeka
sperma yang tercecer di jidatnya. Bergegas meringsek keluar tanpa kecupan
sayang atau sekedar terimakasih karena kelaminnya tidak jadi patah karena nafsu
yang tidak ketulungan. Yang satu menyeka air mata yang menggenang dihatinya.
Merasa janji adalah nyata dan bisa dipegang tanpa tergelincir di masa depan.
Cinta sama dengan kelamin. Dan kelamin adalah cinta. Di luar sana si Anjing
masih sibuk menancapkan kelaminnya. Si Ayam betina sudah membangkai. Si Anjing
belum mau selesai.

 Ruang tamu. Si Lelaki duduk terlentang, bertelanjang dada. Sebatang rokok
berayun-ayun di sela jari jemarinya. Segumpal asap bubar di udara. Di tatapnya
Nadia yang duduk melipat selangkangannya yang perih. Jam dinding tidak bergerak
di jarum jam tepat di angka 1 pagi. Segelas teh panas, di sekakan ke lengan
Nadia yang pegal karena permainan tadi. Air mata tidak ada lagi. Tersisa
hanyalah bengap. Dan kantung air mata yang menggembung.

 “Nad aku butuh
duit..”
            Nadia diam
tatapannya jauh menabrak semua kepastian-kepastian janji yang terjungkal
kejurang tipu-tipu cinta.
“Pamanku dan aku
berencana membuka usaha, kamu taukan kita tidak akan selamanya di jalur ini,
masa depan harus ada jaminan. Nah salah satunya usaha yang akan aku buka sama
pamanku, adalah untuk jaminan itu. Lagian duit darimana kalau aku ingin
melamarmu? Terus untuk anak-anak kita? Tentu saja duit perlu dan penting..”.
Asap rokok mengepul ke udara lalu lenyap tersapu angin malam.
“Gak bisa..
kata-kata yang kamu ucapkan sama seperti yang kamu ucapkan tahun lalu, asal
kamu tahu saja, uang 5 juta yang ku berikan ke kamu itu adalah tabunganku.
Sebagian aku pinjam mamah. Dan buktinya sampai sekarang pun aku tidak melihat
adanya sebuah usaha untuk jaminan masa depan, nol besar!”. Nadia membuang
ketakutannya. Kali ini Nadia berusaha menyingkirkan semua kebodohan-kebodohan
yang dituturkan oleh tipu-tipu cinta.
“kan kamu tahu
sendiri, usaha ku gagal saat itu, dan wajarkan sebuah usaha gagal, tapi kataku kita tidak boleh menyerah,
kita harus tetap berjuang, nah sekarang bisa aku pastikan ke kamu bahwa usaha
yang akan aku rintis bersama pamanku, aku jamin berhasil dan hasilnya… ya
untuk kita berdua, kita dan masadepan yang kita impikan… percaya aku Nad kali
ini aku tidak akan gagal, dan secepatnya akan aku kembalikan dua kalipat uang
yang pernah aku pinjam ke kamu, percaya aku Nad..”. si Lelaki merengkuh tangan
lembut Nadia. Matanya memelas. Memohon. Menjilat.

 Perjuangan Asep tidak sia-sia. Kekalahan mutlak. Aturan-aturan itu terlalu
kuat. Duit yang ditanam pun terlampau hebat. Matilah sebuah perjuangan.
Perjuangan akan ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Pengadilan telah
menjatuhkan vonis. Kemenangan ada dipihak yang berduit. Tidak ada sejarah yang
tergores untuk sebuah perjuangan tanpa duit. Kata-kata yang keluar dari mulut
membangkai di pelataran sepi itu. Tercecer bersama sorak-sorai kekalahan, tidak
terima dan siap menerima nasib sebagai pejuang kekalahan. Mereka pulang ke
tempurung mereka masing-masing. Hanya lobi kepada Tuhan yang bisa dilakukan.
Tidak lebih, bahkan berkurang. Seperti halnya dukungan, relasi dan bantuan yang
berlarian tungganglanggang, takut ajal datang menjelang. Mendadak tanpa
pemberitahuan. Posisi yang kuat dari seorang kawanpun tetap dipertahankan.
Dipertahankan untuk bisa membela daftar belanja istrinya yang seabrek.
Mediamasa tinggal mengeruk kesimpulan dan menyebar luaskan tentang
berita-berita ketidakadilan dan pelanggaran-pelanggaran. Tidak ada solusi.
Kecuali mati bunuh diri. Kekalahan, malu selalu digunjingkan sebagai obrolan
hangat sembari nikmat bersendawa di lobi-lobi hotel. Diskusi terbuka. Dan
forum-forum pejuang-pejuang lain. Ya sebatas obrolan. Tidak ada kelanjutan.
Alias bersambung di masa depan. Namun masa yang mana tidak mampu dijelaskan.
Selamat tinggal kemenangan. Selamat datang kekalahan.
            Asep lenyap. Pergi entah kemana. Lari bersama harga dirinya. Mulutnya
dibungkam oleh ketidakberdayaannya menjawab pertanyaan atas kebodohan dan
keculasannya. Suap telah tersumpal di mulut asep. Segepok lima puluhan ribu,
memberinya pilihan antar tetap maju kedepan kemudian mati belakangan. Atau
pergi dengan kekayaan. Pejuangan itu telah dijual kepada aturan-aturan.
Meninggalkan kawan-kawan. Meninggalkan Nadia yang harus berani bicara membawa
barisan ke depan. Barisan yang seharusnya di pimpin oleh si pejuang Asep.
Pergerakkan, rencana besar sudah dijual. Terlalu banyak mata-mata, perusuh yang
masuk. Perjuangan itu berakhir dengan kerusuhan. Segerombol bubar, berlarian
mencari selamat. Segerombol lagi meringsek mencoba bertahan. Dan segerombol
penuh terajam luka. Kekalahan tiada tara.

“Brengsek!
Lelakimu itu Brengsek! Dia pergi selagi kita butuh dia!”
“Dengar! Aku
tidak trima! Akan aku bunuh Lelakimu!”
“Kenapa diam! Mau
bela lelakimu?! Bela dia atau ku bunuh kamu sekalian!”
“Sebaiknya kamu
pergi! Disini tidak menerima pengkhianat!”

            Pintu tertutup
rapat. Dari luar mengiringi langkah Nadia. Pergi. Dan harga diri telah mati di
dalam ruangan itu, rumah itu, monumen itu.

 

 

Biasanya

April 17th, 2007 by jejakmungil

Biasanya aku
lihat Puji berlari mendekatiku. Saat ditanganku penuh dengan belanjaan bulanan.
Menyodorkan senyum ramah. Meraih separuh bungkusan yang ku bawa. Sembari
melongok mencari apa yang ingin dicarinya. Puji bertanya. “kakak capek ya?”. Ku
jawab ringkas. Ku tersenyum. Kadang sesal itu berlari dan menubruk relung
hatiku. Saat aku lupa membelikan buah Duku kesukaannya.

Biasanya aku
tertawa terkekeh-kekeh. Mendengar banyolan ringan, cerita-cerita teman-teman
sekelasnya. Dan terus, terus dan terus. Aku pun terus tertawa, tertawa, dan
tertawa yang ku buat ala kadarnya. Dan tak sengaja aku terlelap
meninggalkannya, diam. Ku sadar, lirih ku dengar derap kaki berjingkat menjauh
dari tempat tidurku. Hangat selimut yang mendekap tubuhku, adalah penutup gelak
canda yang ku akhiri sendiri.

Biasanya aku peluk
tubuh Puji. Tubuh kering itu begitu hangat. Entah mengapa, bacot mulut pacarku
yang meronta kelaminnya tak terpuaskan. Seakan lumat oleh lembut belaian tangan
Puji. Mengecup air mataku. Mencium sakit hatiku. Menarik ku tegap, diatas sikap
yang ku buang entah kemana. Mengembalikannya dengan utuh. Untuk aku bisa
melangkah dan takkan lagi mengalah pada tipu-tipu cinta. Hanya dengan tatapan Puji
aku dapatkan itu semua. Namun seringkali tubuh kering itu menangis tak
bersuara. Di bungkamnya dalam hati. Lalu merintih sendiri. Di sudut dekil
kamarnya. Dan aku, aku hanya berlalu di depan kamarnya, saat pacarku resah,
rindu cumbuanku. Aku tergoda dan riang aku berenang di tipu-tipu cintanya. Dan
niat melongok sebentar, apa gerangan, erangan apa yang terjadi di balik terai
kamar bermotih kupu-kupu itu. Ku buang entah kemana.

Biasanya aku
rusak karya Puji. Selalu saja pekerjaan kantor menghantamku dengan
bertubi-tubi. Dilembur atau tidak, sering saja aku timang, aku suapi, aku
neneni layaknya orok yang muncrat dari garbaku. Betapa aku sayang
deadline-deadline itu. Aku cinta mereka. Ku tidurkan disampingku. Ku nina
bobokan. Sebelum aku merintih puggungguku patah, kecapean. Tidak! Tidak sama
sekali aku tinggalkan mereka teronggok begitu saja. Saat Puji meronta minta
pendapat akan karya tulisnya. Ku tampik dan ku jauhkan tulisan bobrok itu.
Berhamburan. Jatuh kelantai. Lalu aku kembali menciumi orok-orok itu. Biarlah!
Itu bisa nanti! Masih banyak waktu! Yang ini adalah hidupku! Sekali lagi
hidupku! Tanpa ini aku lupa bagaimana terbang dan menimang segala kemegahan
pujian bos, manajer, tuan, juragan. Yah! Aku mencintai hasil pemerkosaan itu.
Aku hamil dan ku lahirkan orok-orokku. Dan kau Puji! Dan segala idelaismemu tentang
karya tulis! Aku bilang mundur dulu! Realita!

Biasanya itu
semua selalu terjadi rutin. Dengan cerita yang beda. Dan ku ulang. Sampai aku
lupa bagaimana mengakhirnya. Sampai detik ini…

Tidak biasanya
aku menangis seperti ini. Melihatnya tersenyum sendiri. Menangis sendiri. Dan
terkekeh-kekeh disela erangan pilunya. Seharusnya aku ingat adikku sangat
istimewa.

Buat seperti
biasanya..

lembaran usang sebuah kenangan (Bab 1)

April 9th, 2007 by jejakmungil

1571374975605lw
Sekali lagi,
malam ini aku tersenyum. Melihat mereka. Kawan.
Tinggal sepotong
gambar ini yang aku punya. Entah kemana sisanya. Kawan.
Bagaimana bisa
aku menatap masa lalu. Masa yang membacok ingatanku, meremukkan persendian
kenanganku. Dan merebahkanku dalam pelukkan hangat kehampaan. Tanpa hadirnya
riuh gelak bodoh kita. Tanpa tangis luka kebersamaan kita. Dan tak kunjung
datang apa itu bacot, kelakar, tak berguna bagi yang tak rela. Namun muara
pelukkan-pelukkan senyum merdeka kita. Kawan.

Ya, gobloknya
waktu yang berlari menjauh. Meninggalkan salah satu ceritanya. Begonya matahari
yang terkantuk-kantuk. Membiarkan langit bicara sendiri. Ngelantur tak lelah.
Lapar. Kemudian melahap hari ke dalam reka-reka malam. Kawan.

Kemana kalian
bawa bungkusan-bungkusan itu. Bungkusan yang kita penuhi dengan kelakar
menantang bumi. Rencana masa lalu untuk sebuah persimpangan di tengah perjalan
ke depan. Atau sekedar sekilas bokep-bokep pilihan saat jengah menepi ke sela
lelah kita. Atau puisi-puisi tai kucing untuk kisah-kisah miris cinta yang
sebenarnya sudah terluka. Atau sumbang gitar, merintihkan luka-luka yang kita
balut dengan kain “ini aku kawanmu!”. “ini aku temanmu!”. “tertatihkah kita
untuk kawan yang terperosok?!”. “larikah kita untuk kawan yang seharusnya kita
panggul dukanya?!”. “tidak! aku, dia, kita, mereka, kalian selalu ada disini
untukmu, untuk dia, untuk kita, untuk mereka. Kapanpun, dimanapun, dan masa
apapun!”. Atau mungkinkah sekedar bilik kecil tempat kita meringkuk lelap telah
kalian buang di tepian ombak Glagah. Ahh aku tidak percaya! Kawan.

Bungkusan itu
masih kalian simpan kan? Seperti aku? Saat butuh membuka, membaca kembali
cerita-cerita indah kita. Saat butuh merentang kembali lontar-lontar yang kita
rajah dengan jemari tawa, kebodohan yang terindah, banyolan yang rupawan, dan
tangan yang tergenggam. Kawan.

Aku ngantuk.
Tidak aku kunci pintu kamar mimpi. Masuklah kalian. Seperti biasa, aku jamu
dengan senyumku..

Selamat malam
untukmu kawan

Selamat pagi
untuk hidupmu kawan

Selamat menitih
kembali cerita-cerita seru kalian.

Yang baru.
Yang lucu.

 

Tabik
Sebagian belulang
ANERs 99 FISIPOL UGM