Tuesday, December 26th, 2006
"Katakan apa yang kau lihat!".
Mata Ashari masih terbelalak.
menerawang jauh kebatas alam yang tidak jelas. wajahnya pucat. tubuhnya
menggigil. berkali-kali mulutnya digigit, seperti ada sesuatu yang harus segera
dimusnahkan dalam pikirannya. atau memang pikirannya sedang dikuasai oleh
sesuatu. yang pasti ada ketakutan yang merusak keceriaannya. entah apa itu..
***
2 6 O k to b e r 2 0 0 4
Hari ini memang bukan liburan
panjang tapi entah mengapa aku pingin sekali naik gunung. berbagai alasan
klise, refreshing, liburan dadakkan, kangen dengan suasana alam aku buat untuk
meneguhkan keinginanku, naik gunung, Lawu cukup buatku. tapi, jujur saja jika
aku berangkat sendirian, bakalan tidak seru. Aku berniat mengajak teman,
setidaknya ada teman ngobrol selama perjalanan.
Ashari, temanku yang satu ini
memang doyan acara-acara yang berhubungan dengan alam. dia lebih mengenal
gunung, lembah, tebing dan hutan ketimbang ukuran BH atau warna kesukaan
pacarnya. dan semua bisa menjadi nomor kesekian ketika nafsu untuk menyatu
dengan alam memanggil untuk dicumbu. dan dugaanku tidak meleset. Segera ashari mengiyakan
rencana ku untuk menapaki cemoro sewu menuju puncak.
Tidak butuh lama bagi ashari
mengumpulkan keperluan naik gunung. memang dia lebih mengerti apa yang dibutuhkan
untuk naik gunung, aku hanya mengikuti kemauannya. Aku tidak terlalu ambil
pusing tentang hal-hal itu. Yang aku butuhkan adalah menapaki terjalnya lereng
lawu. Menghirup murninya udara pagi. Dipeluk mesra hangatnya mentari pagi yang
berdesakan melalui celah-celah dedaunan pohon pinus atau sendunya akasia. Atau
merayu moleknya bunga edelweis sebagai kekasih alam yang mempesona. Sungguh
imajiner alam yang indah, dan semakin bermekaran dalam benak dan keinginanku. Malam
ini aku berangkat.
***
Bus jurusan tawangmangu melaju
pelan, berangkat dari
surakarta
, sore hari. bis penuh sesak,
sebagian dipenuhi oleh pedagang, entah itu dari sarangan atau dari solo mau
berdagang di lereng lawu. memang ini bukan ekspedisi pemenuhan nafsu. Tapi ini
yang aku harapkan, menikmati perjalanan. tidak ada target yang aku buat. Menari
pagi dipuncak dan menatap sunrise, itupun bukan target utama. Yang paling
penting aku sampai puncak entah malam atau pagi, sama saja. Ya, perjalanan ini
akan aku nikmati. Ku tebarkan tatapanku keluar, terhampar pemandangan malam
yang mempesona, ketika bis akan memasuki kawasan tawangmangu. Lampu
kota
begitu jauh dan kecil, seperti
kunang-kunang yang lelah mencari pasangan. atau sekedar iseng pamer kemolekkan
cahaya dari ekornya.
Bayangan malam merambat cepat,
tak terasa tawang mangu kurang 15 menit perjalanan lagi. Sebentar aku melihat
ke arah ashari. selepas karanganyar temanku yang satu ini tidak banyak ngobrol.
diam dengan tatapan kosong. Heran dari jogja ke terminal solo, dia rame sekali,
cerita apa saja. mulai dari keiirian teman-teman, karena tidak bisa ikut.
sampai ke persoalan pacarnya yang melarang ashari pergi, karena, bulan ini bukan
bulan untuk liburan. Tetap saja terbesit perasaan tidak enak dariku. Ahh entah
lah perduli amat, aku tidak ingin urusan sekecil itu mengganggu perjalananku. Sikap
ashari yang aneh membuatku penasaran. Apa yang ada dalam pikirannya? Ahh..
mungkin dia capek! Yah, itu saja keputusanku, ashari capek setelah hampir dua
jam duduk, dan lelah mengoceh dari jogja sampai solo.
T a w a n g m a n g u
Bus berhenti di sebuah terminal
kecil. aktivitas belum sepenuhnya mati. Hari ini bukan malam minggu tapi masih
ada beberapa warung makanan yang buka. Lalu lalang pedagang asongan menawarkan
makanan dan sofenir. Aku putuskan untuk melepas lelah. Pilihan kami jatuh ke
angkringan di ujung jalan, bersebelahan dengan pengecer minyak tanah. Warung
makanan itu langganan ashari katanya. Sembari menunggu colt yang akan membawa
kita ke cemoro sewu.
Ku pesan kopi panas yang terseduh
dalam cangkir. pisang goreng aku pesan untuk di bakar supaya lebih hangat
menemani minum kopi. Udara dingin mulai merambat turun. Menyapu segala bentuk
kehangatan untuk segera menepi mencari tempat sendiri. Aku rapatkan jaket, aku
tidak ingin dingin ini membiusku untuk terlelap. Masih 7 jam lagi harus aku
tempuh menuju puncak. Cemoro sewu bukan
medan
biasa, butuh energi lebih. Jadi
aku nikmati kopi, pisang bakar, dan ashari yang terdiam. Ashari yang terdiam..
Colt jurusan cemoro sewu belum juga muncul, beberapa
kernet dari colt yang berbeda sempat menawari kami. Belum ku putuskan, mungkin
nanti, tidak untuk saat ini. Kopi ini belum kandas kenikmatannya. Ashari yang
masih terdiam.. 5 menit berlalu, tetap saja belum ada obrolan yang renyah
antara kami berdua. Ku lempar cerita-cerita lalu tentang kelucuan-kelucuan
pengalaman naik Gunung Lawu bersama teman-teman, tapi gagal karena hutan
kebakar, dan saat itu kita memutuskan dari Cemorosewu turun ke Tawangmangu
dengan berjalan kaki. Ashari membalas dengan senyum dan tawa kecut. Bahkan
gosip kisah cintaku dengan tantri yang terpaksa aku benarkan, tetap saja tidak
menarik perhatian ashari yang terjatuh entah ke jurang angan yang mana. Komentar
singkat, menghirup kopi, menarik dalam asap rokok ke dalam paru-paru. lalu diam
dengan tebaran pandangan yang tak terfokus padaku atau wanita penghibur di
ujung jalan. Akupun mulai terdiam, ku tekadkan niatku, aku ingin bercinta
dengan alam bukan mengumbar nafsu cerita-cerita curahan hati seseorang. Kupikir
mengajak ashari adalah pilihan yang tepat. mampu menemaniku dalam pemenuhan
birahi ku menggauli alam. Ternyata niat itu menipis, lepas satu persatu seiring
ashari yang mulai merebahkan tubuhnya dipelataran toko, bersandar 80 liter
backpacknya.
Ku ambil kopiku. ku duduk bersebalahn
dengan ashari. sama-sama kami menatap kearah depan. entah ashari tapi yang
jelas tatapan ku tergoda oleh tingkah seorang gadis, pendaki juga. berkerumun
dengan rombongannya. mungkin diklat, ku pikir. Ku tepis, sikap ashari yang
lebih penting sekarang. Lebih baik aku selesaikan sekarang ketimbang berlarut
ketika di pendakian nanti. Bakalan tidak seru jika selama pendakian tidak ada
canda dan obrolan ngawur. Percuma pikirku jauh-jauh sampai ketempat ini.
"kamu kenapa Ash?".
Ku buka obralan yang sebenarnya
tidak aku minati untuk saat ini. ashari terdiam. asap rokok mengepul lepas
bebas ke udara dari mulutnya. terbang ke dinginnya udara.
"sorry ash, kalo memang ini bukan niatmu ikut acaraku ini..".
Ku tekankan rasa penyesalanku.
ashari menoleh, heran kali ini sedikit kelabaan mendengar kata-kataku.
"bukan men, gak kok aku niat ikut, tapi..". Ashari tidak meneruskan
perkataannya.
"tapi kenapa ash? " Ku kejar. Ashari menatapku tajam.
"ada sesuatu yang gak bisa aku cerita ke kamu". Matanya sayu saat
mengucapkan kata-kata itu.
"sesuatu apa ash, jangan bikin aku bingung, aku sudah kebingungan melihat
sikapmu selepas karanganyar tadi, jadi jangan tambahi aku dengan kebingungan
yang lain!". Emosiku mulai berteman dalam hati.
"maaf men, yang satu ini biar aku yang punya"
"iya tapi apa! beri aku sedikit!".
Belum puas aku mengutarakan
niatku yang terkikis untuk mendaki Lawa dikarenakan polah sikapnya, Ashari
keburu berdiri dan menarikku mengejar colt kuning diseberang jalan. Aku bayar
makananku. Ku benahi backpacku dan aku menyusul ashari yang masuk ke colt
kuning itu.
"tunggu ash!".
C e m o r a s e w u
Jalur ini yang aku pilih selain
cemoro kandang. menuju puncak cuma memakan waktu 7 jam melalui jalur ini.
Medannya lebih terjal daripada cemoro kandang, namun pemandangan alamnya tidak
kalah binal. Tidak butuh waktu lama untuk turun sampai ke gerbang PERHUTANI.
Ada
4 pondok yang harus kita lalui
sebelum memasuki pesanggrahan argo dumilah di ketinggian 3100 dpl. Puncak aku
datang. tentu saja bersama temanku. Kami pun melangkah.
2100 dpl. udara dingin belum
terlampau menampar tulang persendianku. Berhasil memasung pernafasanku. Berat
sekali bernafas. Tubuh yang terbakar, dan keringat yang bercucuran, menambah dingin
yang teramat sangat. Ini bukan akhir cerita.
Pondok pertama, dan aku harus
menyerah karena permasalahan pernafasan yang terengah-engah? tidak! aku
bisa.dulu aku bisa. sekarang saat reuni kekuatan. paru-paru ini tidak berkawan dengan
semangatku. Walhasil 5 meter pendakian ku sempatkan untuk 2 menit menghirup
nafas dan mentralkan persendianku yang mulai lumpuh karena pola kehidupanku
yang tidak mengenal senam pagi. Ashari mengalah, dia setia menemaniku. setia
mengurusi keluhanku, menjaga semangatku untuk ke puncak. dan itu yang aku mau,
dugaanku jatuh ke bumi hancur lebur, ternyata Ashari bisa sesemangat ini.
Sempat terbesit, aku siramkan minyak tanah ke hatinya supaya terbakar api
semangatnya, hindari kekonyolan, jauh-jauh ke lawu, menyelesaikan pendakian
dengan diam tanpa ada mulut-mulut konyol berkoar ngawur, canda dan cerita
pujian kehebatan alam. Dan malam ini di pondok pertama aku buang itu. Ternyata
Ashari penyemangat yang hebat. Benar-benar hebat. dia tahu, aku mudah sekali
mutung. Mudah menyerah. apalagi tubuh gembulku dan kerapuhan energi ku gampang
menyerang saat-saat seperti ini.
"OK men kita lanjut? Jangan menyerah dulu! Ingat kita pernah melakukan
ini!".
Terpancar api semangat dari mata
ashari. Ku teguk air mineral, ku ambil gula merah sebagai penambah energi.
"Ingat merapi kamu hanya
sampai pasar bubrah! merbabu kamu terlelap di pos kedua! sekarang gunung
ketiga, apa kamu juga akan berak untuk selamanya di pos pertama?!".
Aku tertawa. Ashari tertawa.
Semangatku yang mulai mengecil
baranya aku tiup, supaya baranya memanas, lebih panas. Takkan ku biarkan keinginanku
kendor sebelum sampai kepuncak. Hei! Tunggu dulu! Aku punya target! Yah, dan
aku selesaikan sampai puncak sebelum mentari curi-curi pandang. Sepasukan
kegembiraan datang menyerang, entah berapa batalyon, berhasil memukul mundur
dan meruntuhkan kejayaan putus asa yang bercokol dalam hatiku. Menang dan
tenang. Yah! Aku siap beraksi. Ku lihat ashari berdiri 5 meter di depanku di
bawah pohon pinus dan melambaikan tangan untuk menyuruhku bergegas.
"cepet men! kita harus nyampe argo dumilah sebelum matahari terbit!".
"iya tunggu bentar!".
Langit cerah. bulan lengkap
dengan tepiannya yang berpendar bundar. Hutan pinus menyambut kami dengan
berisik, berbisik kepada angin yang berhembus mengusik malam. Satu persatu terjal
dan nakalnya bebatuan yang longsor menambah cerita-cerita ngawur dari mulutku
dan ashari. Semak rumput kecil menjadi saksi betapa bahagianya aku malam itu,
bersama ashari dan kencing-kencing kami yang tertoreh di semak belukar dan
sebagian batang kokoh pohon pinus. Alam ingin bersahabat, rentetan mendung dari
timur segera tersisih ke selatan. Memberi ruang kepada kami untuk tidak
mengumpat akan datangnya hujan yang tidak diharapkan. dan bulan, bulan-bulan
lagi, begitu dekatnya kau dengan kami, sehingga senter sialan ini tidak lagi
aku butuhkan untuk memberiku cahaya selama pendakian. Lalu indahnya
kota
solo terhampar pasrah dari
dataran Cokrosuryo. Ku sempatkan menghirup udara kemenangan. Tidak terasa aku
bisa sampai setinggi ini. Mungkin kah 2 meter di atas kepalaku surga tergelar
indah seperti keindahan taman kayangan. dimana prabu brawijaya menikmati
keindahan alam. Ahh.. ini bukan mimpi, ini bukan alam imajiner. Aku masih
tersadar, hidup, dan dingin yang kurasakan ini begitu nikmat.
Alam memang punya bahasa lain
untuk menyapa pecintanya. bahasa-bahasa sejuk yang tidak mungkin aku dapatkan
dari mulut kekasihku. dari teman-teman sepergumulan. Canda yang mereka
ikhlaskan sungguh berbeda. Canda yang merenggut kata-kata syukur, kata-kata
pujian untuk sang Empunya. Saat ku lihat awan putih merambat pelan dari sisi
cemora kandang, Aku bisa rasakan betapa cerianya malaikat-malaikat kecil
bermain disana. Berlarian dengan kepulan awan yang hangat, menari bertelanjang
kaki bercanda dengan serpihan bintang yang jatuh. atau sekedar berguling-guling
bermanja dengan empuknya awan bak kasur dengan bulu angsa. Ku bayangkan aku
memiliki sayap, mengepak terbang sebentar dan mendarat jatuh di gumpalan awan
putih itu. Bulan? Tak ada umpatan kasar untukmu malam ini. Kamu berikan berjuta
cahaya
asmara
dari pendaranmu. Mesra memeluk
awan dengan embun yang melayang, berkelip-kelip seakan mengedipkan mata
menggodaku untuk memujamu dengan kata-kata dari pecinta
asmara
.
"hei men! bisa kita lanjutkan, puncak sudah dekat!".
Ajakan ashari menyadarkan ku dari
lelap ku yang sejenak. ku tersenyum. ku lihat ashari juga tersenyum.
"thanks Ash!".
J o l o t u n d o
"kita istirahat dulu!".
Nafas Ashari tersengal-sengal. Keputusannya
tepat. Karena memang aku juga butuh membenahi nafasku yang kacau selapas
Cokrosuryo. Ashari membongkar peralatan masak. Lapar.
Tak butuh waktu lama, kami pun
rakus melahap mie instan yang mulai dingin. rokokpun libas oleh dinginnya
udara. Mulutku mulai menggigil parah. Ditambah lagi tiupan angin memaksa ku
memukul genderang perang. Backpack ku bongkar. Selimut ku lepaskan dari
sarangnya. Kaos kaki, sweater, handuk, dan kaos-kaos sisa pendakian. Ku
balutkan tubuhku. Semua sudah melekat, tapi tetap saja dingin seakan mempunyai
naluri membunuh sebuah keyakinan untuk bertahan lebih besar, mendorongku
menjauh mendekati jurang kekalahan. Pertarungan ini belum usai, ku cari sela
bebatuan untuk sekedar menepis tiupan angin yang menyerang dari arah puncak. Beribu-ribu
pasukkan dingin menabrak tubuhku mengobrak-abrik pertahananku melalui
celah-celah kain yang membungkus tubuh ini. Kehangatan dalam tubuhku kocar
kacir, berlarian tungganglanggang, berdesakkan memaksa keluar dari pori-pori
kulitku yang tercabik-cabik oleh angin malam. Yang tersisa hanyalah daging dan
lemak yang terkapar tak berdaya. Memucat wajahku, jari-jari tanganku mengkerut.
dan mataku mulai tidak fokus. Gigi saling beradu, begitu cepat, seperti ingin
saling menghancurkan satu dengan yang lain. Ku pejamkan mata. mencoba
mengalihkan perhatian tubuhku yang mulai melemah oleh dingin. Mencoba menarik
kembali panas tubuh untuk tetap setia. Usahaku meringkuk disela bebatuan tidak
membuahkan hasil. Dingin itu tidur disampingku, mendekapku selayaknya seorang
kekasih yang tak bersua ribuan hari. Tiba-tiba tubuhku mengejang. Sakit, nyeri
menjalar kesuluruh tubuh. Begitu cepat, merambat naik ke kepala, seperti
kerumunan semut ngangkrang yang menemukan hidangan lezat. Merayap, sembari
melumpuhkan semua fungsi pertahanan didalam tubuh ini.
Kamarku, tempat tidurku, bantal gemukku,
gulingku. Malam ini dingin sekali, sambut aku dengan kehangatan kalian. Tubuhku
menjadi ringan melayang ke udara. Lalu jatuh berdegum diplataran kasur yang
empuk. Hangat. Tiba-tiba dari langit melayang selimut bludru buatan nenek, jatuh ke bawah dimana tubuh
terbaring manja. Mendekap erat. Sayup ku dengar dongeng ibu tentang hebatnya
kura-kura yang mencoba mengalahkan kecepatan berlari seekor rusa. Ku palingkan
tidurku, ku tatap wajah ibu. Sejuk, nyaman, melindungi. Belaian tangannya
bagaikan menghempaskanku ke hamparan lembutnya bulu-bulu angsa. Setelah
mengecup keningku. Ibu pun pergi menjauh. Sempat ku dengar suaranya berpesan:
“tidurlah saying, kamu terlalu capek..”. Belum sempat ku sampaikan kerinduanku.
Ibu hilang dibalik kegelapan. Tiba-tiba satu persatu bagian kamarku terbang
seiring datangnya angin yang bertiup kencang dengan debu dan kerikil yang
berterbangan. Selimut nenek terkoyak, sobek lalu terbang ke arah kegelapan itu.
Disusul bantal gemuku, gulingku, kasurku, lalu kamarku. Semua hilang ke dalam
gelap. Tinggal aku sendiri yang sekarang terbaring. Mencoba menggapai
cinta-cinta itu.
Sayup-sayup ku lihat bayangan
seseorang berdiri tak jauh dari tempatku meringkuk, menatap tajam ke arahku. ku
picingkan mata untuk memperjelas penglihatanku. ternyata tidak hanya satu tapi
lebih..
lima
orang.. pandanganku mulai kabur.
tapi tidak salah lagi
lima
orang berdiri menatap ke arahku.
sepintas salah satu dari mereka duduk tersimpuh. menjulurkan tangannya
kepadaku. seperti ingin memberikan sesuatu. ku coba sambut uluran tangannya.
Namun seakan-akan tangan itu begitu jauh. Ku paksakan tubuh ini untuk lebih
mendekat. Tetap saja, sulit ku gapai. Sisa tenaga, ku manfaatkan untuk menenangkanku.
Untuk tahu apa yang ingin orang itu berikan. Rasa penasaran memaksa tubuhku
untuk merangkak mendekat. Sembari tanganku mencoba meraih-raih. Ku usap mata,
walau tangan mulai membeku. Sedikit demi sedikit dapat aku lihat, sesuatu itu. Seikat bunga edelweiss. Ya benar seikat bunga
edelweiss. Tapi apa maksudnya? Tiba-tiba angin bertiup kencang dari pelbagai
arah. Mataku perih. Kembali pandanganku kabur. Debu-debu kering itu bertebaran.
Memporakporandakan penglihatanku. Bayangan orang-orang itu lenyap dan semuanya
berubah menjadi hitam. gelap.
Segumpal awan hitam menyapu
pendar cahaya bulan. Tiupan angin tak kunjung mereda, mengoyak dedaunan, semak
belukar melambai gontai. dan debu kering berterbangan kacau balau. Pijar api
unggunpun meredup. Dan yang kurasakan sekujur tubuhku menggigil. Jari jemari
seakan mati. Tak ada lagi suara riuh gemuruh angin. Hampa. Mendengung. Sepi.
Aku terbangun. Berat ku coba
membuka kedua mataku. Samar-samar aku lihat Ashari terduduk, berhadapan dengan
matahari menatap ke arah barat, kepalanya tertunduk. Telingaku menangkap sesenggukan orang menangis. Dan suara itu
berasal dari arah Ashari. Ku usap mataku, ku tajamkan pendengaranku. Memang benar
suara itu suara tangisan Ashari. Tapi
mengapa? Apa yang membuatnya menangis? sesenggukan seperti itu?
Tubuhku beku belum sepenuhnya
pulih dari peperangan semalam. Badai telah berlalu. Yang tertinggal hanyalah
sisa-sisa amukkannya. Termasuk aku yang kacau, penuh dengan debu dan sisa beku
yang masih melekat di persendianku. Namun hangat sinar matahari sedikit demi
sedikit melumerkan kebekuan ini. Dan pagi kembali tersenyum. walau masih sulit
untukku bergerak bebas, tapi energiku cukup untuk menyadarkanku dengan apa yang
ku dapati di sekelilingku. Tumpukkan bunga edelweiss. Tidak terlalu banyak.
Semua terikat rapi. Tergeletak mengelilingi batu tempatku berlindung dari
amukkan badai semalam. Ahh… Perduli amat, pikirku. Aku mendekat ke tempat
dimana ashari duduk.
“pagi ash..!”. Ku tatap sinar
matahari, membasuh muka pucatku.
Ku lihat Ashari juga melakukan
hal yang sama. Air mata masih menggenang di kelopak matanya. Wajahnya pucat.
Tapi tak sepucat wajahku. Ku tenggak air mineral, kerongkonganku mengering.
Lalu sebatang rokokku nyalakan, berharap udara dingin ini bisa diajak berdamai.
Ku hisap dan asapnya ku hirup pelan lalu ku hembuskan keluar. Benar-benar
nikmat.
Awan putih berbaris beriring
tersapu angin. Membelai kuncup pepohonan di lembah
sana
. Langit biru, tidak ada kotoran
mendung sendikitpun. Cerah. Dari kaki gunung kabut mulai merangkak naik. Seekor
burung blekok bertengger di batang pohon itu. Kemudian terbang menjauh
berpindah ke batang yang mana. Kabut terus merangkak naik, aku yakin
semak-semak itu merasakan kesegaran pagi. Mandi bermandikan cairan sisa dingin
semalam. Dan ashari tidak menikmati itu semua tatapannya kosong.
Apa yang terjadi? Sebelum ke Jolotunda,
dia begitu ceria, seperti kompor dengan nyala sederhana, memanaskan semangatku
ketika mulai membasi. Cambuk seorang kusir ketika kudanya lambat bertaut lelah.
Tapi sekarang bagaikan lilin yang terkikis habis. Tinggal sisa-sisa tubuhnya. Api
itu telah padam. Matanya sayu, tak sebinar semalam. Hanya sebatang rokok yang
menyibukkan mulutnya. Dinikmati resah.
Belum sempat aku tanyakan
persoalan pagi ini. Ashari beranjak dari tempat duduknya, melangkah ke arah
batu besar di balik semak belukar, aku menyusulnya. Di tempat berbeda dimana
ashari berdiri diatas batu itu. Wajahnya tetap sama tidak ada perubahan hanya
saja sekarang matanya nampak serius menatap puncak Argo Dumilah. Ku dekati dan
berdiri disampingnya.
“maaf ash, gara-gara aku, kita
tidak bisa menikmati sunrise..”. Kata sesal keluar begitu saja dari mulutku.
Entah mengapa aku sendiri kecewa,
tidak bisa mencium keindahan sunrise dan berdiri di ketinggian 3100 dpl.
“bukan salahmu men, seharusnya
ini menjadi tanggungjawabku untuk mengantarkan dirimu sampai kepuncak..”.
Ku rasakan kata-kata penyesalan
keluar dari mulut Ashari. Tapi, kenapa harus menjadi tanggungjawab, pikirku.
“oh, ah gak apa-apa ash,
lagian aku mengajak kamu juga tidak
pasang target harus sampai argo dumilah sebelum pagi, iya
kan
”.
Ku coba menghibur diri dan
menepis rasa bersalah yang mungkin dirasakan oleh ashari.
“lagian ash kita
kan
bisa sekarang meneruskan
perjalanan, lalu kita bermalam disana sampai pagi tiba, bagaimana?”.
Entah darimana datang semangat
itu. Yang jelas aku suka. Tidak mengapa sehari lagi di gunung tidak masalah, asalkan
bisa sampai puncak. Dan ku harapkan ini bisa menghilangkan rasa bersalah Ashari
ke aku. Atau setidaknya membuang kata-kata tanggungjawabnya. Seakan-akan aku
ini kayak orang penting, harus dipenuhi segala keinginanku. Padahal pendakian
ini aku tidak menuntut apapun. Sampai puncak, OK! Nge-kamp di jolotundo juga
tidak menjadi soal. Yang paling penting kerinduanku akan alam telah terpenuhi. Aku
puas.
Ashari masih terdiam, beku. Tak
ada kata-kata keluar dari mulutnya lagi. Kepalanya tertunduk, airmata itu
menetes lagi. Bagai embun yang berlari menjemput datangnya hangat dari bumi.
Jatuh di pipi.
“ash.. udah jangan terlalu
dipikirin, nyantai aja, hei!”. Ku paksa tubuh dan wajahnya berhenti menatap
puncak argo dumilah, untuk segera berpaling menatapku. Ashari menolak berusaha
menjauhkan wajahnya.
“ash! Udah aku bilang nyantai!”.
Semakin ku paksa, ashari semakin menjauh dan kuat menahan usahaku.
“Ok!”. Ku hentikan usahaku yang sia-sia.
“Ok! Sekarang kita turun!”. Paksaku. Ashari
tetap berdiri ditempat semula. Tidak segera mengiyakan ajakkanku. Kemudian..
“bukan kita men yang turun dari
gunung ini..”. lirih ashari berkata hamper tidak terdengar olehku.
“maksudmu?”. Penasaran bergeliat dalam
otakku.
“hanya aku yang bisa turun dari gunung ini..”.
Kembali diusapnya airmata yang mulai membanjir di pipinya.
“maafkan aku sobat..”. Ashari
terdiam. Kepalanya tertunduk. Tubuhnya bergetar, menggigil. Bukan karena
dingin, tapi ada emosi besar yang tidak mampu terluapkan. Mengendap dalam dada.
Dan berebut keluar. Aku melangkah mendekat, sekarang aku sudah berdiri
dihadapannya.
“apa maksudmu ash! Udah aku
bilang aku gak papa! Kenapa sampai begini? Kayak abis putus sama pacar aja..”. Aku
tertawa kecil. Mencoba mencari sisi kelucuan yang bisa menghapuskan ke
anehannya.
“udah ayo kita lets go, kita
turun sebelum siang, lagian kabut mulai naik!”.
Ku melangkah menjauh meninggalkan
ashari. Ku benahi barang-barangku. Ku masukkan ke dalam backpack. Dalam hati
terbesit pertanyaan, kenapa begitu banyak edelweiss. Ahh.. paling pendaki iseng
yang ketahuan membawa edelweiss sama petugas perhutani dan dihukum untuk
mengembalikan ke tempat dimana mereka mengambil edelweiss itu. Orang bodoh. Aku
pun tertawa kecil. Ku ambil sarung yang tergeletak di batu kecil. Ku lihat batu
itu bertuliskan sesuatu. Sengaja ditulis dengan pahatan yang rapi. Tapi lumut
menutupi sebagian tulisannya. Ku bersihkan.. pelan ku buang lumut-lumut kering
itu. Satu persatu huruf itu bisa aku baca..
***
“Tenangkan dirimu ash!”. Tantri
mencoba menenangkan ashari yang tidak bisa lagi membendung emosinya.
“tenang ash! Relakan dia!
”.
“tidak bisa tri! Aku salah! Aku bukan
sahabat yang baik! Aku jahat tri!”.
Tubuh ashari bersimpuh ke bumi.
Dipukulkan tangannya ke batu-batu itu. Tantri memeluk tubuh ashari yang
menggigil.
“Sudah lama dia menderita,
lambungnya bobrok akut, dan dia mudah sekali terserang hypothermia. Ingat waktu
kita mendaki merapi. Dia memaksa untuk ikut. Tapi akhirnya dia harus mengalah
oleh penyakitnya di pasar bubrah!”.
“aku jahat! Aku tinggalkan dia
saat badai itu datang! Seharusnya aku menyelamatkan dia!”. Air mata itu telah
mongering, namun penyesalan ashari tak kunjung mongering.
“Aku tinggalkan dia saat dia
mengerang sakit, saat hypothermia mengobrak-abrik tubuhnya! Dia mengerang tri,
mengerang memohon pertolonganku! Tapi aku pergi! Aku berlari menyelamatkan
diriku sendiri! Aku jahat tri! Aku jahat! Aku.. jahat..! maafkan aku kawan..”.
Tantri memeluk tubuh ashari.
Mencoba menenangkannya. Ashari tersimpuh.
Sesenggukan.
“setidaknya kau telah
menemaninya..”
“kau buktikan
kesetiakawananmu..”.
“walau terlambat..”.
Seorang pendaki. Duduk diatas
bebatuan. Matanya menerawang jauh ke puncak Argo Dumilah. Tatapan matanya kosong.
Kemudian selang beberapa menit
lewat 3 orang pendaki.
“mari mas..”. pendaki itu
menyapa. Melewati pendaki yang duduk diatas bebatuan.
“mas tunggu sebentar”. Pendaki
itu memanggil ketiganya. Mereka berhenti.
“bisa bareng mas?”.
“bisa!”. Salah satu pendaki
menjawab.
“kita mau ke puncak, kita mau
mengejar sunrise?”. Yang lain meneruskan.
“ke puncak, mas?! Saya ikut! Saya
belum pernah ke Argo Dumilah!”.
Mereka pun melangkah.
Bertiga.
Selepas jolotundo.
Jogja, sekitar Desember 2006
oOo



