Archive for December, 2006

Tuesday, December 26th, 2006

Img_4654rkcl







"Katakan apa yang kau lihat!".

Mata Ashari masih terbelalak.
menerawang jauh kebatas alam yang tidak jelas. wajahnya pucat. tubuhnya
menggigil. berkali-kali mulutnya digigit, seperti ada sesuatu yang harus segera
dimusnahkan dalam pikirannya. atau memang pikirannya sedang dikuasai oleh
sesuatu. yang pasti ada ketakutan yang merusak keceriaannya. entah apa itu..

***

2 6 O k to b e r 2 0 0 4

Hari ini memang bukan liburan
panjang tapi entah mengapa aku pingin sekali naik gunung. berbagai alasan
klise, refreshing, liburan dadakkan, kangen dengan suasana alam aku buat untuk
meneguhkan keinginanku, naik gunung, Lawu cukup buatku. tapi, jujur saja jika
aku berangkat sendirian, bakalan tidak seru. Aku berniat mengajak teman,
setidaknya ada teman ngobrol selama perjalanan.

Ashari, temanku yang satu ini
memang doyan acara-acara yang berhubungan dengan alam. dia lebih mengenal
gunung, lembah, tebing dan hutan ketimbang ukuran BH atau warna kesukaan
pacarnya. dan semua bisa menjadi nomor kesekian ketika nafsu untuk menyatu
dengan alam memanggil untuk dicumbu. dan dugaanku tidak meleset. Segera ashari mengiyakan
rencana ku untuk menapaki cemoro sewu menuju puncak.

Tidak butuh lama bagi ashari
mengumpulkan keperluan naik gunung. memang dia lebih mengerti apa yang dibutuhkan
untuk naik gunung, aku hanya mengikuti kemauannya. Aku tidak terlalu ambil
pusing tentang hal-hal itu. Yang aku butuhkan adalah menapaki terjalnya lereng
lawu. Menghirup murninya udara pagi. Dipeluk mesra hangatnya mentari pagi yang
berdesakan melalui celah-celah dedaunan pohon pinus atau sendunya akasia. Atau
merayu moleknya bunga edelweis sebagai kekasih alam yang mempesona. Sungguh
imajiner alam yang indah, dan semakin bermekaran dalam benak dan keinginanku. Malam
ini aku berangkat.


***

Bus jurusan tawangmangu melaju
pelan, berangkat dari

surakarta

, sore hari. bis penuh sesak,
sebagian dipenuhi oleh pedagang, entah itu dari sarangan atau dari solo mau
berdagang di lereng lawu. memang ini bukan ekspedisi pemenuhan nafsu. Tapi ini
yang aku harapkan, menikmati perjalanan. tidak ada target yang aku buat. Menari
pagi dipuncak dan menatap sunrise, itupun bukan target utama. Yang paling
penting aku sampai puncak entah malam atau pagi, sama saja. Ya, perjalanan ini
akan aku nikmati. Ku tebarkan tatapanku keluar, terhampar pemandangan malam
yang mempesona, ketika bis akan memasuki kawasan tawangmangu. Lampu

kota

begitu jauh dan kecil, seperti
kunang-kunang yang lelah mencari pasangan. atau sekedar iseng pamer kemolekkan
cahaya dari ekornya.

Bayangan malam merambat cepat,
tak terasa tawang mangu kurang 15 menit perjalanan lagi. Sebentar aku melihat
ke arah ashari. selepas karanganyar temanku yang satu ini tidak banyak ngobrol.
diam dengan tatapan kosong. Heran dari jogja ke terminal solo, dia rame sekali,
cerita apa saja. mulai dari keiirian teman-teman, karena tidak bisa ikut.
sampai ke persoalan pacarnya yang melarang ashari pergi, karena, bulan ini bukan
bulan untuk liburan. Tetap saja terbesit perasaan tidak enak dariku. Ahh entah
lah perduli amat, aku tidak ingin urusan sekecil itu mengganggu perjalananku. Sikap
ashari yang aneh membuatku penasaran. Apa yang ada dalam pikirannya? Ahh..
mungkin dia capek! Yah, itu saja keputusanku, ashari capek setelah hampir dua
jam duduk, dan lelah mengoceh dari jogja sampai solo.

 

T a w a n g m a n g u

 

Bus berhenti di sebuah terminal
kecil. aktivitas belum sepenuhnya mati. Hari ini bukan malam minggu tapi masih
ada beberapa warung makanan yang buka. Lalu lalang pedagang asongan menawarkan
makanan dan sofenir. Aku putuskan untuk melepas lelah. Pilihan kami jatuh ke
angkringan di ujung jalan, bersebelahan dengan pengecer minyak tanah. Warung
makanan itu langganan ashari katanya. Sembari menunggu colt yang akan membawa
kita ke cemoro sewu.

Ku pesan kopi panas yang terseduh
dalam cangkir. pisang goreng aku pesan untuk di bakar supaya lebih hangat
menemani minum kopi. Udara dingin mulai merambat turun. Menyapu segala bentuk
kehangatan untuk segera menepi mencari tempat sendiri. Aku rapatkan jaket, aku
tidak ingin dingin ini membiusku untuk terlelap. Masih 7 jam lagi harus aku
tempuh menuju puncak. Cemoro sewu bukan

medan

biasa, butuh energi lebih. Jadi
aku nikmati kopi, pisang bakar, dan ashari yang terdiam. Ashari yang terdiam..

Colt jurusan cemoro sewu belum juga muncul, beberapa
kernet dari colt yang berbeda sempat menawari kami. Belum ku putuskan, mungkin
nanti, tidak untuk saat ini. Kopi ini belum kandas kenikmatannya. Ashari yang
masih terdiam.. 5 menit berlalu, tetap saja belum ada obrolan yang renyah
antara kami berdua. Ku lempar cerita-cerita lalu tentang kelucuan-kelucuan
pengalaman naik Gunung Lawu bersama teman-teman, tapi gagal karena hutan
kebakar, dan saat itu kita memutuskan dari Cemorosewu turun ke Tawangmangu
dengan berjalan kaki. Ashari membalas dengan senyum dan tawa kecut. Bahkan
gosip kisah cintaku dengan tantri yang terpaksa aku benarkan, tetap saja tidak
menarik perhatian ashari yang terjatuh entah ke jurang angan yang mana. Komentar
singkat, menghirup kopi, menarik dalam asap rokok ke dalam paru-paru. lalu diam
dengan tebaran pandangan yang tak terfokus padaku atau wanita penghibur di
ujung jalan. Akupun mulai terdiam, ku tekadkan niatku, aku ingin bercinta
dengan alam bukan mengumbar nafsu cerita-cerita curahan hati seseorang. Kupikir
mengajak ashari adalah pilihan yang tepat. mampu menemaniku dalam pemenuhan
birahi ku menggauli alam. Ternyata niat itu menipis, lepas satu persatu seiring
ashari yang mulai merebahkan tubuhnya dipelataran toko, bersandar 80 liter
backpacknya.

Ku ambil kopiku. ku duduk bersebalahn
dengan ashari. sama-sama kami menatap kearah depan. entah ashari tapi yang
jelas tatapan ku tergoda oleh tingkah seorang gadis, pendaki juga. berkerumun
dengan rombongannya. mungkin diklat, ku pikir. Ku tepis, sikap ashari yang
lebih penting sekarang. Lebih baik aku selesaikan sekarang ketimbang berlarut
ketika di pendakian nanti. Bakalan tidak seru jika selama pendakian tidak ada
canda dan obrolan ngawur. Percuma pikirku jauh-jauh sampai ketempat ini.


"kamu kenapa Ash?".

Ku buka obralan yang sebenarnya
tidak aku minati untuk saat ini. ashari terdiam. asap rokok mengepul lepas
bebas ke udara dari mulutnya. terbang ke dinginnya udara.

"sorry ash, kalo memang ini bukan niatmu ikut acaraku ini..".

Ku tekankan rasa penyesalanku.
ashari menoleh, heran kali ini sedikit kelabaan mendengar kata-kataku.

"bukan men, gak kok aku niat ikut, tapi..". Ashari tidak meneruskan
perkataannya.

"tapi kenapa ash? "  Ku kejar. Ashari menatapku tajam.

"ada sesuatu yang gak bisa aku cerita ke kamu". Matanya sayu saat
mengucapkan kata-kata itu.

"sesuatu apa ash, jangan bikin aku bingung, aku sudah kebingungan melihat
sikapmu selepas karanganyar tadi, jadi jangan tambahi aku dengan kebingungan
yang lain!". Emosiku mulai berteman dalam hati.

"maaf men, yang satu ini biar aku yang punya"

"iya tapi apa! beri aku sedikit!".

 Belum puas aku mengutarakan
niatku yang terkikis untuk mendaki Lawa dikarenakan polah sikapnya, Ashari
keburu berdiri dan menarikku mengejar colt kuning diseberang jalan. Aku bayar
makananku. Ku benahi backpacku dan aku menyusul ashari yang masuk ke colt
kuning itu.


"tunggu ash!".

 
C e m o r a s e w u

 Jalur ini yang aku pilih selain
cemoro kandang. menuju puncak cuma memakan waktu 7 jam melalui jalur ini.
Medannya lebih terjal daripada cemoro kandang, namun pemandangan alamnya tidak
kalah binal. Tidak butuh waktu lama untuk turun sampai ke gerbang PERHUTANI.

Ada

4 pondok yang harus kita lalui
sebelum memasuki pesanggrahan argo dumilah di ketinggian 3100 dpl. Puncak aku
datang. tentu saja bersama temanku. Kami pun melangkah.

2100 dpl. udara dingin belum
terlampau menampar tulang persendianku. Berhasil memasung pernafasanku. Berat
sekali bernafas. Tubuh yang terbakar, dan keringat yang bercucuran, menambah dingin
yang teramat sangat. Ini bukan akhir cerita.

Pondok pertama, dan aku harus
menyerah karena permasalahan pernafasan yang terengah-engah? tidak! aku
bisa.dulu aku bisa. sekarang saat reuni kekuatan. paru-paru ini tidak berkawan dengan
semangatku. Walhasil 5 meter pendakian ku sempatkan untuk 2 menit menghirup
nafas dan mentralkan persendianku yang mulai lumpuh karena pola kehidupanku
yang tidak mengenal senam pagi. Ashari mengalah, dia setia menemaniku. setia
mengurusi keluhanku, menjaga semangatku untuk ke puncak. dan itu yang aku mau,
dugaanku jatuh ke bumi hancur lebur, ternyata Ashari bisa sesemangat ini.
Sempat terbesit, aku siramkan minyak tanah ke hatinya supaya terbakar api
semangatnya, hindari kekonyolan, jauh-jauh ke lawu, menyelesaikan pendakian
dengan diam tanpa ada mulut-mulut konyol berkoar ngawur, canda dan cerita
pujian kehebatan alam. Dan malam ini di pondok  pertama aku buang itu. Ternyata
Ashari penyemangat yang hebat. Benar-benar hebat. dia tahu, aku mudah sekali
mutung. Mudah menyerah. apalagi tubuh gembulku dan kerapuhan energi ku gampang
menyerang saat-saat seperti ini.


"OK men kita lanjut? Jangan menyerah dulu! Ingat kita pernah melakukan
ini!".

Terpancar  api semangat dari mata
ashari. Ku teguk air mineral, ku ambil gula merah sebagai penambah energi.

              "Ingat merapi kamu hanya
sampai pasar bubrah! merbabu kamu terlelap di pos kedua! sekarang gunung
ketiga, apa kamu juga akan berak untuk selamanya di pos pertama?!".

Aku tertawa. Ashari tertawa.  

Semangatku yang mulai mengecil
baranya aku tiup, supaya baranya memanas, lebih panas. Takkan ku biarkan keinginanku
kendor sebelum sampai kepuncak. Hei! Tunggu dulu! Aku punya target! Yah, dan
aku selesaikan sampai puncak sebelum mentari curi-curi pandang. Sepasukan
kegembiraan datang menyerang, entah berapa batalyon, berhasil memukul mundur
dan meruntuhkan kejayaan putus asa yang bercokol dalam hatiku. Menang dan
tenang. Yah! Aku siap beraksi. Ku lihat ashari berdiri 5 meter di depanku di
bawah pohon pinus dan melambaikan tangan untuk menyuruhku bergegas.

                "cepet men! kita harus nyampe argo dumilah sebelum matahari terbit!".
                "iya tunggu bentar!". 

Langit cerah. bulan lengkap
dengan tepiannya yang berpendar bundar. Hutan pinus menyambut kami dengan
berisik, berbisik kepada angin yang berhembus mengusik malam. Satu persatu terjal
dan nakalnya bebatuan yang longsor menambah cerita-cerita ngawur dari mulutku
dan ashari. Semak rumput kecil menjadi saksi betapa bahagianya aku malam itu,
bersama ashari dan kencing-kencing kami yang tertoreh di semak belukar dan
sebagian batang kokoh pohon pinus. Alam ingin bersahabat, rentetan mendung dari
timur segera tersisih ke selatan. Memberi ruang kepada kami untuk tidak
mengumpat akan datangnya hujan yang tidak diharapkan. dan bulan, bulan-bulan
lagi, begitu dekatnya kau dengan kami, sehingga senter sialan ini tidak lagi
aku butuhkan untuk memberiku cahaya selama pendakian. Lalu indahnya

kota

solo terhampar pasrah dari
dataran Cokrosuryo. Ku sempatkan menghirup udara kemenangan. Tidak terasa aku
bisa sampai setinggi ini. Mungkin kah 2 meter di atas kepalaku surga tergelar
indah seperti keindahan taman kayangan. dimana prabu brawijaya menikmati
keindahan alam. Ahh.. ini bukan mimpi, ini bukan alam imajiner. Aku masih
tersadar, hidup, dan dingin yang kurasakan ini begitu nikmat.

Alam memang punya bahasa lain
untuk menyapa pecintanya. bahasa-bahasa sejuk yang tidak mungkin aku dapatkan
dari mulut kekasihku. dari teman-teman sepergumulan. Canda yang mereka
ikhlaskan sungguh berbeda. Canda yang merenggut kata-kata syukur, kata-kata
pujian untuk sang Empunya. Saat ku lihat awan putih merambat pelan dari sisi
cemora kandang, Aku bisa rasakan betapa cerianya malaikat-malaikat kecil
bermain disana. Berlarian dengan kepulan awan yang hangat, menari bertelanjang
kaki bercanda dengan serpihan bintang yang jatuh. atau sekedar berguling-guling
bermanja dengan empuknya awan bak kasur dengan bulu angsa. Ku bayangkan aku
memiliki sayap, mengepak terbang sebentar dan mendarat jatuh di gumpalan awan
putih itu. Bulan? Tak ada umpatan kasar untukmu malam ini. Kamu berikan berjuta
cahaya

asmara

dari pendaranmu. Mesra memeluk
awan dengan embun yang melayang, berkelip-kelip seakan mengedipkan mata
menggodaku untuk memujamu dengan kata-kata dari pecinta

asmara

.

                "hei men! bisa kita lanjutkan, puncak sudah dekat!".  

Ajakan ashari menyadarkan ku dari
lelap ku yang sejenak. ku tersenyum. ku lihat ashari juga tersenyum.

"thanks Ash!".


J o l o t u n d o


"kita istirahat dulu!".

 Nafas Ashari tersengal-sengal. Keputusannya
tepat. Karena memang aku juga butuh membenahi nafasku yang kacau selapas
Cokrosuryo. Ashari membongkar peralatan masak. Lapar.

Tak butuh waktu lama, kami pun
rakus melahap mie instan yang mulai dingin. rokokpun libas oleh dinginnya
udara. Mulutku mulai menggigil parah. Ditambah lagi tiupan angin memaksa ku
memukul genderang perang. Backpack ku bongkar. Selimut ku lepaskan dari
sarangnya. Kaos kaki, sweater, handuk, dan kaos-kaos sisa pendakian. Ku
balutkan tubuhku. Semua sudah melekat, tapi tetap saja dingin seakan mempunyai
naluri membunuh sebuah keyakinan untuk bertahan lebih besar, mendorongku
menjauh mendekati jurang kekalahan. Pertarungan ini belum usai, ku cari sela
bebatuan untuk sekedar menepis tiupan angin yang menyerang dari arah puncak. Beribu-ribu
pasukkan dingin menabrak tubuhku mengobrak-abrik pertahananku melalui
celah-celah kain yang membungkus tubuh ini. Kehangatan dalam tubuhku kocar
kacir, berlarian tungganglanggang, berdesakkan memaksa keluar dari pori-pori
kulitku yang tercabik-cabik oleh angin malam. Yang tersisa hanyalah daging dan
lemak yang terkapar tak berdaya. Memucat wajahku, jari-jari tanganku mengkerut.
dan mataku mulai tidak fokus. Gigi saling beradu, begitu cepat, seperti ingin
saling menghancurkan satu dengan yang lain. Ku pejamkan mata. mencoba
mengalihkan perhatian tubuhku yang mulai melemah oleh dingin. Mencoba menarik
kembali panas tubuh untuk tetap setia. Usahaku meringkuk disela bebatuan tidak
membuahkan hasil. Dingin itu tidur disampingku, mendekapku selayaknya seorang
kekasih yang tak bersua ribuan hari. Tiba-tiba tubuhku mengejang. Sakit, nyeri
menjalar kesuluruh tubuh. Begitu cepat, merambat naik ke kepala, seperti
kerumunan semut ngangkrang yang menemukan hidangan lezat. Merayap, sembari
melumpuhkan semua fungsi pertahanan didalam tubuh ini.

Kamarku, tempat tidurku, bantal gemukku,
gulingku. Malam ini dingin sekali, sambut aku dengan kehangatan kalian. Tubuhku
menjadi ringan melayang ke udara. Lalu jatuh berdegum diplataran kasur yang
empuk. Hangat. Tiba-tiba dari langit melayang selimut bludru buatan nenek, jatuh ke bawah dimana tubuh
terbaring manja. Mendekap erat. Sayup ku dengar dongeng ibu tentang hebatnya
kura-kura yang mencoba mengalahkan kecepatan berlari seekor rusa. Ku palingkan
tidurku, ku tatap wajah ibu. Sejuk, nyaman, melindungi. Belaian tangannya
bagaikan menghempaskanku ke hamparan lembutnya bulu-bulu angsa. Setelah
mengecup keningku. Ibu pun pergi menjauh. Sempat ku dengar suaranya berpesan:
“tidurlah saying, kamu terlalu capek..”. Belum sempat ku sampaikan kerinduanku.
Ibu hilang dibalik kegelapan. Tiba-tiba satu persatu bagian kamarku terbang
seiring datangnya angin yang bertiup kencang dengan debu dan kerikil yang
berterbangan. Selimut nenek terkoyak, sobek lalu terbang ke arah kegelapan itu.
Disusul bantal gemuku, gulingku, kasurku, lalu kamarku. Semua hilang ke dalam
gelap. Tinggal aku sendiri yang sekarang terbaring. Mencoba menggapai
cinta-cinta itu.

Sayup-sayup ku lihat bayangan
seseorang berdiri tak jauh dari tempatku meringkuk, menatap tajam ke arahku. ku
picingkan mata untuk memperjelas penglihatanku. ternyata tidak hanya satu tapi
lebih..

lima

orang.. pandanganku mulai kabur.
tapi tidak salah lagi

lima

orang berdiri menatap ke arahku.
sepintas salah satu dari mereka duduk tersimpuh. menjulurkan tangannya
kepadaku. seperti ingin memberikan sesuatu. ku coba sambut uluran tangannya.
Namun seakan-akan tangan itu begitu jauh. Ku paksakan tubuh ini untuk lebih
mendekat. Tetap saja, sulit ku gapai. Sisa tenaga, ku manfaatkan untuk menenangkanku.
Untuk tahu apa yang ingin orang itu berikan. Rasa penasaran memaksa tubuhku
untuk merangkak mendekat. Sembari tanganku mencoba meraih-raih. Ku usap mata,
walau tangan mulai membeku. Sedikit demi sedikit dapat aku lihat, sesuatu itu.  Seikat bunga edelweiss. Ya benar seikat bunga
edelweiss. Tapi apa maksudnya? Tiba-tiba angin bertiup kencang dari pelbagai
arah. Mataku perih. Kembali pandanganku kabur. Debu-debu kering itu bertebaran.
Memporakporandakan penglihatanku. Bayangan orang-orang itu lenyap dan semuanya
berubah menjadi hitam. gelap.

Segumpal awan hitam menyapu
pendar cahaya bulan. Tiupan angin tak kunjung mereda, mengoyak dedaunan, semak
belukar melambai gontai. dan debu kering berterbangan kacau balau. Pijar api
unggunpun meredup. Dan yang kurasakan sekujur tubuhku menggigil. Jari jemari
seakan mati. Tak ada lagi suara riuh gemuruh angin.  Hampa. Mendengung. Sepi.

Aku terbangun. Berat ku coba
membuka kedua mataku. Samar-samar aku lihat Ashari terduduk, berhadapan dengan
matahari menatap ke arah barat, kepalanya tertunduk. Telingaku menangkap sesenggukan orang menangis. Dan suara itu
berasal dari arah Ashari. Ku usap mataku, ku tajamkan pendengaranku. Memang benar
suara itu suara tangisan Ashari.  Tapi
mengapa? Apa yang membuatnya menangis? sesenggukan seperti itu?

Tubuhku beku belum sepenuhnya
pulih dari peperangan semalam. Badai telah berlalu. Yang tertinggal hanyalah
sisa-sisa amukkannya. Termasuk aku yang kacau, penuh dengan debu dan sisa beku
yang masih melekat di persendianku. Namun hangat sinar matahari sedikit demi
sedikit melumerkan kebekuan ini. Dan pagi kembali tersenyum. walau masih sulit
untukku bergerak bebas, tapi energiku cukup untuk menyadarkanku dengan apa yang
ku dapati di sekelilingku. Tumpukkan bunga edelweiss. Tidak terlalu banyak.
Semua terikat rapi. Tergeletak mengelilingi batu tempatku berlindung dari
amukkan badai semalam. Ahh… Perduli amat, pikirku. Aku mendekat ke tempat
dimana ashari duduk.

 “pagi ash..!”. Ku tatap sinar
matahari, membasuh muka pucatku.

 Ku lihat Ashari juga melakukan
hal yang sama. Air mata masih menggenang di kelopak matanya. Wajahnya pucat.
Tapi tak sepucat wajahku. Ku tenggak air mineral, kerongkonganku mengering.
Lalu sebatang rokokku nyalakan, berharap udara dingin ini bisa diajak berdamai.
Ku hisap dan asapnya ku hirup pelan lalu ku hembuskan keluar. Benar-benar
nikmat.

Awan putih berbaris beriring
tersapu angin. Membelai kuncup pepohonan di lembah

sana

. Langit biru, tidak ada kotoran
mendung sendikitpun. Cerah. Dari kaki gunung kabut mulai merangkak naik. Seekor
burung blekok bertengger di batang pohon itu. Kemudian terbang menjauh
berpindah ke batang yang mana. Kabut terus merangkak naik, aku yakin
semak-semak itu merasakan kesegaran pagi. Mandi bermandikan cairan sisa dingin
semalam. Dan ashari tidak menikmati itu semua tatapannya kosong.

Apa yang terjadi? Sebelum ke Jolotunda,
dia begitu ceria, seperti kompor dengan nyala sederhana, memanaskan semangatku
ketika mulai membasi. Cambuk seorang kusir ketika kudanya lambat bertaut lelah.
Tapi sekarang bagaikan lilin yang terkikis habis. Tinggal sisa-sisa tubuhnya. Api
itu telah padam. Matanya sayu, tak sebinar semalam. Hanya sebatang rokok yang
menyibukkan mulutnya. Dinikmati resah.

Belum sempat aku tanyakan
persoalan pagi ini. Ashari beranjak dari tempat duduknya, melangkah ke arah
batu besar di balik semak belukar, aku menyusulnya. Di tempat berbeda dimana
ashari berdiri diatas batu itu. Wajahnya tetap sama tidak ada perubahan hanya
saja sekarang matanya nampak serius menatap puncak Argo Dumilah. Ku dekati dan
berdiri disampingnya.

 “maaf ash, gara-gara aku, kita
tidak bisa menikmati sunrise..”. Kata sesal keluar begitu saja dari mulutku.

 Entah mengapa aku sendiri kecewa,
tidak bisa mencium keindahan sunrise dan berdiri di ketinggian 3100 dpl.

 “bukan salahmu men, seharusnya
ini menjadi tanggungjawabku untuk mengantarkan dirimu sampai kepuncak..”.

 Ku rasakan kata-kata penyesalan
keluar dari mulut Ashari. Tapi, kenapa harus menjadi tanggungjawab, pikirku.

 “oh, ah gak apa-apa ash,
lagian aku mengajak kamu juga tidak
pasang target harus sampai argo dumilah sebelum pagi, iya

kan

”.

 Ku coba menghibur diri dan
menepis rasa bersalah yang mungkin dirasakan oleh ashari.

 “lagian ash kita

kan

bisa sekarang meneruskan
perjalanan, lalu kita bermalam disana sampai pagi tiba, bagaimana?”.

 Entah darimana datang semangat
itu. Yang jelas aku suka. Tidak mengapa sehari lagi di gunung tidak masalah, asalkan
bisa sampai puncak. Dan ku harapkan ini bisa menghilangkan rasa bersalah Ashari
ke aku. Atau setidaknya membuang kata-kata tanggungjawabnya. Seakan-akan aku
ini kayak orang penting, harus dipenuhi segala keinginanku. Padahal pendakian
ini aku tidak menuntut apapun. Sampai puncak, OK! Nge-kamp di jolotundo juga
tidak menjadi soal. Yang paling penting kerinduanku akan alam telah terpenuhi. Aku
puas.

 Ashari masih terdiam, beku. Tak
ada kata-kata keluar dari mulutnya lagi. Kepalanya tertunduk, airmata itu
menetes lagi. Bagai embun yang berlari menjemput datangnya hangat dari bumi.
Jatuh di pipi.

 “ash.. udah jangan terlalu
dipikirin, nyantai aja, hei!”. Ku paksa tubuh dan wajahnya berhenti menatap
puncak argo dumilah, untuk segera berpaling menatapku. Ashari menolak berusaha
menjauhkan wajahnya.

 “ash! Udah aku bilang nyantai!”.
Semakin ku paksa, ashari semakin menjauh dan kuat menahan usahaku.

                   “Ok!”. Ku hentikan usahaku yang sia-sia.

            “Ok! Sekarang kita turun!”. Paksaku. Ashari
tetap berdiri ditempat semula. Tidak segera mengiyakan ajakkanku. Kemudian..

 “bukan kita men yang turun dari
gunung ini..”. lirih ashari berkata hamper tidak terdengar olehku.

                 “maksudmu?”. Penasaran bergeliat dalam
otakku.

            “hanya aku yang bisa turun dari gunung ini..”.
Kembali diusapnya airmata yang mulai membanjir di pipinya.

 “maafkan aku sobat..”. Ashari
terdiam. Kepalanya tertunduk. Tubuhnya bergetar, menggigil. Bukan karena
dingin, tapi ada emosi besar yang tidak mampu terluapkan. Mengendap dalam dada.
Dan berebut keluar. Aku melangkah mendekat, sekarang aku sudah berdiri
dihadapannya.

 “apa maksudmu ash! Udah aku
bilang aku gak papa! Kenapa sampai begini? Kayak abis putus sama pacar aja..”. Aku
tertawa kecil. Mencoba mencari sisi kelucuan yang bisa menghapuskan ke
anehannya.

 “udah ayo kita lets go, kita
turun sebelum siang, lagian kabut mulai naik!”.

 Ku melangkah menjauh meninggalkan
ashari. Ku benahi barang-barangku. Ku masukkan ke dalam backpack. Dalam hati
terbesit pertanyaan, kenapa begitu banyak edelweiss. Ahh.. paling pendaki iseng
yang ketahuan membawa edelweiss sama petugas perhutani dan dihukum untuk
mengembalikan ke tempat dimana mereka mengambil edelweiss itu. Orang bodoh. Aku
pun tertawa kecil. Ku ambil sarung yang tergeletak di batu kecil. Ku lihat batu
itu bertuliskan sesuatu. Sengaja ditulis dengan pahatan yang rapi. Tapi lumut
menutupi sebagian tulisannya. Ku bersihkan.. pelan ku buang lumut-lumut kering
itu. Satu persatu huruf itu bisa aku baca..

 ***

“Tenangkan dirimu ash!”. Tantri
mencoba menenangkan ashari yang tidak bisa lagi membendung emosinya.

   “tenang ash! Relakan dia!
”.
                 “tidak bisa tri! Aku salah! Aku bukan
sahabat yang baik! Aku jahat tri!”.

 Tubuh ashari bersimpuh ke bumi.
Dipukulkan tangannya ke batu-batu itu. Tantri memeluk tubuh ashari yang
menggigil.

 “Sudah lama dia menderita,
lambungnya bobrok akut, dan dia mudah sekali terserang hypothermia. Ingat waktu
kita mendaki merapi. Dia memaksa untuk ikut. Tapi akhirnya dia harus mengalah
oleh penyakitnya di pasar bubrah!”.

 “aku jahat! Aku tinggalkan dia
saat badai itu datang! Seharusnya aku menyelamatkan dia!”. Air mata itu telah
mongering, namun penyesalan ashari tak kunjung mongering.

 “Aku tinggalkan dia saat dia
mengerang sakit, saat hypothermia mengobrak-abrik tubuhnya! Dia mengerang tri,
mengerang memohon pertolonganku! Tapi aku pergi! Aku berlari menyelamatkan
diriku sendiri! Aku jahat tri! Aku jahat! Aku.. jahat..! maafkan aku kawan..”.

                 Tantri memeluk tubuh ashari.
Mencoba menenangkannya. Ashari tersimpuh.
Sesenggukan.

 “setidaknya kau telah
menemaninya..”

“kau buktikan
kesetiakawananmu..”.

“walau terlambat..”.

 

***

 Seorang pendaki. Duduk diatas
bebatuan. Matanya menerawang jauh ke puncak Argo Dumilah. Tatapan matanya kosong.

 Kemudian selang beberapa menit
lewat 3 orang pendaki.

 “mari mas..”. pendaki itu
menyapa. Melewati pendaki yang duduk diatas bebatuan.

“mas tunggu sebentar”. Pendaki
itu memanggil ketiganya. Mereka berhenti.

“bisa bareng mas?”.

“bisa!”. Salah satu pendaki
menjawab.

“kita mau ke puncak, kita mau
mengejar sunrise?”. Yang lain meneruskan.

“ke puncak, mas?! Saya ikut! Saya
belum pernah ke Argo Dumilah!”.

 Mereka pun melangkah.

Bertiga.

Selepas jolotundo.

Jogja, sekitar Desember 2006

oOo

kisah semi-sedih

Saturday, December 23rd, 2006

    alkisah disebuah kerajaan, hidup seorang putri raja(raja kacamata). seluruh rakyat mertuavi_nama kerajaan tersebut_sangat mengagungkan paras cantik nan rupawan putri raja tersebut. kebaikkannya sudah melampoti batas kenormalan alias baik banggettttttt. sehingga rakyat mertuavi enggan nongol kejalan dengan mengaduh pertolongan, mereka takut dengan kebaikkan putri raja tersebut. bagaimana tidak ada satu kisah yang mengapa rakyat enggan mengaduh pertolongan kepada si putri. demikian kisahnya.

    ada seorang mendring(tukang kredit panci) marah-marah seperti kesurupan kepada salah satu pelanggannya. "POKOKNA INI HARI, PANCI MEREK YONGNGOS HARUS LUNAS!". teriak si mendring, kepada si pelanggan. "SAYA TIDAK AKAN MENARUH TAHU< BAGAIMANA KAMU BRKEHENDAK UNTUK MELUNASINYA!". si pelanggan geser 5 meter dari tempat duduknya. bukan menjauh ketakutan, di karenakan yang dipakainya adalah baju terakhir. dan hujan buatan itu terlampau brutal menghujani tubuh si pelanggan. genanganpun dimana-mana. dan begitulah teriakan demi teriakan berlompatan dari mulut si mendring. kata-kata kasar terlempar semabarangan dari mulut si mendring. dan hari itu adalah hari keenam dimana dia tidak sengaja telah mencatat rekor dunia sebagai orang dengan kekuatan teriakan terlama dalam sejarah permendringan. petugas KUA pun mencatat rekor tersebut. si pelanggan pasrah. "tidak berada guna kita melawan mulutnya,istriku..". si pelanggan menumpahkan hatinya kepada si istri tersayang. "ho-oh!". si istri kompak menyambut tumpahan hati si suami. "aku tak menahu lagi harus bertingkah seperti apa". si suami melihat sekeliling rumahnya. "harta benda kita telah aku sekolahkan, untuk memberikan biaya kepada anak semata kebo kita". si suami tertunduk, tatapan matanya jatuh ke lantai kayu rumahnya. "ho-oh". si istri menimpali dengan ikut-ikutan jatuh ke lantai. "maksud?". dalam temaram lampu teplok 3 1/4 watt si suami dan si istri merenungi nasib mereka yang tak begitu menguntungkan alias apes.

    matahari bersinar semau hati. redup, terang, redup terang. embun sesekali kali terlihat kepleset dari daun-daun pandan. kemudian jatuh ke tanah dan terinjak kebo sempoyongan. dan jangkrik nampak terkapar di pinggir trotoar, dengan botol minyak goreng tercengkram erat di kaki-kakinya. kepakan sayap burung terdengar di balik semak rerumputan. pertanda saatnya jemur pakaian. dan kucing duduk muram dengan secangkir kopi jahe campur oli tap-tapan. dan begitulah pagi di kerajaan mertuavi. semua aneh seperti biasa. orang-orang sibuk merangkak dan berjalan jinjit, karena memang itu aturan kerajaan, dilarang membunyikan klason sembarangan(tolong! tu penulis dilempar monitor dung!, gawat mulai gak nyambung!). tentram, nyaman, sejuk, segar, menenangkan. namun kemudian suasana itu hancur berantakan, karena ada yang memecahkan gelas biar rame. berlari kehutan lalu nyemplung kejurang(Wah! kayaknya monitor gak cukup dueh! ada yang punya jembatan? buat nglempar tu penulis!)ya.. suasana menjadi riuh. orang-orang berhamburan keluar. mencari sumber kegaduhan itu. tak jauh dari perempatan. ada stasiun balapan. belok kiri ada penjual CD bajakan, nah disitu mas tempat kegaduhan itu. ternyata si mendring beraksi lagi, cuma sekarang membawa pasukan yang lumayan tak terhitung banyaknya, 2 orang. si mendring tahu sekarang adalah hari yang dijanjikan si pelanggan itu untuk melunasi panci-panci yang dihutangnya. dengan berkacak pinggang, pinggang goreng dan ikang pinggang. si mendring mulai menampakkan kekuatannya. sengaja di lengan kirinya di tato ikan combro kesayangannya. ketika ditanya, maksud dari tato itu, si mendring menjawab singkat: "nutupin panu!". walhasil orang-orang takut, tak ada yang berani melawan ataupun mengutang panci kepada si mendring. bukan karena takut tato dan panunya tapi dikarenakan takut tertular narsisnya. mereka tahu, narsis goreng sosis mahal harganya.

    "APA YANG LALU KAU JANJI KAN UNTUK AKU SEORANG!". si mendring berlagak sangar di depan si pelanggan. kepala diangkat keatas, sebatas pandangan monyet. bibirnya di bentuk sedemikian rupa sehingga sulit dibedakan mana bibir mana jempol kaki. dan "EMM! EMM! EMM!". mata si mendring berisyarat kepada komandan pasukkan untuk segera mendekat. "SIAP PADUKA JURAGAN PANCI BAJAKAN YANG MULIA?!". "???"."Ups!". "maaf RUALAT! PADUKA YANG BAJAKAN SIAP PANCI JURAGAN MULIA!". si mendring: "?!?!?!". si komandan: "???" 2x lipat. si pelanggan: "maksud?". kerumunan orang: pingsan sempurna. si komandan: "???". si mendring: "???" 4 x lipat. dan begitulah seterusnya sampai senja merambat malas dari ufuk yang gak jelas. "SIAPA PANCI SIAPA JURAGAN, PANDUKA SIAPA?". laporan si komandan berakhir dengan mata dan bibir lebam-lebam. si mendring terpaksa pulang dengan tangan hampa. juga dengan bibir yang tidak bisa kembali kebentuk semula karena kram. akhirnya si pelanggan itu terselamatkan dari malapetaka yang rencananya datang mengobrak abrik keuangannya. suami, istri itupun berpelukkan dan kerumunan terpaksa bertepuk tangan. walau dimuka dan wajah mereka nampak kebingungan, apa yang mereka tepuk tangani. mereka membubarkan diri setelah hitungan ketiga. bubar jalan.

    rumah kecil. pintu tak terkunci rapat. segelintir cahaya keluar dari sela-selanya. terdengar sepasang suami istri sedang bercakap-cakap.
si suami: "istriku, betapa hari ini kita penuh dengan keberuntungan yang berlimpah ganda.."
si istri sibuk membetulkan baju:"ho-oh! suamiku".
si suami menerawang, menatap langit: "betapa untung, kram mulut telah menyelamatkan kita..".
si istri sibuk mencangkul di sawah: "ho-oh! suamiku"
si suami rebahan di amben: "ahh.. andaikan tadi terlaksana tuntutan si mendring, sedangkan kita tak berpunya sepeser, apa jadinya nasib yang ada pada kita.."
si istri, semangat wall climbing: "ho-oh! suamiku".
si suami membetulkan letak bantal yang terbuat dari jemari:" tapi esok masih berlaku, adakah si mendring sudi bertandang dengan garang kepada kita lagi? kalo itu terlaksana.. apa yang harusnya kita perbuat?"
si istri, sedang berkuda: "Ho-oh suamiku".
heran dengan jawaban si istri, si suami bangun dari rebahannya, dan mendapati si istri tertidur pulas di atas gentong air, pantatnya naik turun layaknya seorang joki kelas teri sedang memacu kuda lumping di arena kuda. si suami pun terkapar pingsan dengan dukungan sanak sodara, kerabat, dan handai tolan.

tapi..

    baru berjalan 5 menit acara pingsan si suami. pintu depan di gedor keras dan anarkis. oleh seseorang tentunya, bukan jangkrik atau banci arab tiarap. suara ribut itu berhasil meyungsepkan kepala si istri ke dalam gentong. dan membuat si suami lupa karena akan rencana kepingsanannya.
"BANGUN DARI KETERLELAPKAN KALIAN!" ternyata si mendring lagi. datang dengan pasukkannya yang tak terhitung banyaknya, 2 orang. tanpa disadari oleh si suami. salah satu pasukkan si mendring bergegas, berlari ke arah si suami. dengan bengis ssalah satu pasukkan itu menjerat erat, kuat dan sangat kuat. tenaganya begitu besar, keringat bercucuran kemana-mana membasahi lantai. sambil berteriak "DIAM! AKU BILANG DIAM! GAK USAH BANYAK MULUT PUNDAK LUTUT KAKI?!". tangan tangan kekar itu berusaha memperkecil kemungkinan mangsanya untuk melepaskan diri. di bekap dan di kempit di bawah ketiak, cengkraman yang kuat. lalu dihempit ketembok, kuat sangat kuat. dibanting ke lantai, lalu dengan gaya smackdown ditindih dengan paha ukuran balok kayu. kemudian di lempar ke tembok dan dihimpit dengan lengannya " DIAM! SEDARI TADI AKU DIAM KENAPA KAMU HARUS DIAM!". si mendring: "???". si suami: "???". si istri masih sibuk mengeluarkan kepalanya dari gentong, tapi sempat mendengar dan: "maksud?" akhirnya panci itu pun tak berkutik dibuatnya. pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa. menerima nasib sebagai salah satu mahkluk yang teraniaya. kejamnya mendring

    "beres juragan, masalah sudah ditangani, dengan baik, tangkas, dan cermat". salah stau pasukkan itu tersenyum puas. "pekerjaan yang rapi". gumamnya. dan PLAKK!! satu tamparan telak di hidung salah satu pasukkan itu, beberapa helai bulu hidung terlihat melayang di udara, berputar-putar dan melesat cepat kesedot ke arah mulut si mendring yang sedang.. GLEKK!! pucat wajah si mendring, berusaha mengeluarkan 2 bulu hidung itu dari kerongkongannya. namun usahanya gagal. dan luamyan. "selamat makan". "SAPA YANG BERKENAN MEMBERI PERINTAH MEMBEKUK PANCI?!". si mendring ngamuk tiada kepalang. pasukkannya yang lumayan banyak, 2 orang tertunduk ketakutan. lalu si mendring menyisingkan lengan bajunya. muncul dari tirai lengan baju tato ikan combro. pasukkannya yang lumayan banyak, 2 orang semakin melipat kepalanya. ketakutan menyelimuti mereka. ketakutan untuk berlari kehutan kemudian nyungsep diselokkan membayangi mereka malam itu.
si suami: "horor".
si istri, basah kuyup: "ho-oh! brutal!".
si suami:"mengerikan!".
si istri: "ho-oh!".
si mendring: "???".
si suami:"kejam!".
si mendring: "???".
si istri: "ho-oh! gak kebayang deh!".
si mendring:"???".
si suami: "seram!". si mendring, pingsan!.
si istri:"maksud?"

    sekali lagi mereka pun terselamatkan dari si mendring. bersamaan dengan itu si putri datang bersama pasukkannya. wajahnya nampak resah. rumor tentang kekejaman si mendring telah menjadi perbincangan di lingkungan kerajaan. begitu hebatnya, membuat si putri penasaran dan merasa kasihan dengan si suami dan si istri. dan sebagai seorang putri kerajaan yang terkenal kebaikkannya, kearifannya, dan segala bentuk perhatiaannya kepada rakyatnya, malam itu juga si putri datang untuk memcoba menyelesaikan masalah-masalah itu. melihat kedatangan si putri, si suami dan si istri bersimpuh bertopang lutut, memberikan penghormatan kepada
si putri. "berdirilah kalian..".
dengan nada lembut si putri berkata: "atas nama kebaikkan dan kerajaan mertuavi, aku ingin bertutur kepada kalian berdua…".
anggun mempesona dan membuat hati yang resah tentram tiada tara. si suami dan si istri saling menatap, tersenyum gembira. "aku telah mendengar persoalan yang terjatuh kepada kalian..".
si suami tersenyum gembira, dalam hati si suami berkata: "akhirnya panciku dilunasi..".
si istri dalam hatinya, ikut-ikutan berkata:"ho-oh!". mereka tertawa kecil.
"aku telah berpikir tentang persoalan ini, dan dengan restu ayah handa aku akan…". si suami meraih tang si istri menggenggam erat. si isrti tak kalah senangnya, di genggam erat jempol kaki si suami.
si suami:"???".

    lalu keduanya saling berpelukkan menunggu keindahan kata-kata dari si putri. malaikat penolong mereka. bayangan-bayangan kebebasan dari cengkraman si mendring melintas bergantian dari si suami ke istrinya lalu ke tokek yang sedang berak di pojokkan tembok dapur. si tokek:"???". betapa bahagianya hari ini, ujar si suami lirih kepada si istri. "kita akan selamat dari angkara murka si mendring". si suami bersemangat mengucap lirih pada si istri. si istri: " ho-oh". si tokek:"ho-oh!". si suami dan si istri: "???". dan seterusnya sembari menunggu kata-kata keajaiban dari si putri. mereka berdua begitu bertingkah aneh(menurut tokek). menggambarkan keindahan yang akan mereka dapatkan. berlarian di pelataran penuh bunga, bernyanyi nyanyian lagu-lagu si DOEL anak SUMBANGan. berayun-ayun di ayunan. main prosotan dan lempar-lemparan kudapan. tawa, kebahagiaan yang tak terlukiskan. begitu indah. lalu dengan senyum penuh kemenangan, mereka pun menunggu perkataan.
si putri: "aku akan…"
si suami dan si istri, manatap tajam si putri dengan tatapan penuh harap.
si putri: "aku akan… bentar aku lupa isi teksnya.."
si suami dan si istri, bibir mereka tetap tersenyum hanya saja mata mereka menyimpan berjuta-juta ke gondokkan.
si putri: "lihat dong surat perintah ayahanda…". si putri menoleh dan meminta si perdana mentri mengeluarkan surat poerintah tersebut,
si putiri:"aku akan…"
si suami dan si istri: "iya putri… aku akan apa puiri?".

    sembari mengeratkan genggaman tangan mereka. saling menatap kemudia senyum satu sama lain. ini saatnya hidupku akan berubah, tidak untuk saat ini tapi untuk masa-masa itu. mereka masih menunggu perkataan putri.
si putri: "aku akan… aku akan.. akan…akan… menobatkan kalian sebagai keluarga teladan! dengan kategori tahan ujian, cobaan dan mempu mengalahakan kemurkaan dengan lapang dada dan jantan, selamat ya.. bo!".

    si suami dan istri pingsan dengan sekor tertinggi.

    semenjak saat itu. rakyat jadi males.

sekedar celoteh

Tuesday, December 19th, 2006

Hape ku malang, Hapeku yang hilang

Img_4571Kata orang angka 13 itu angka sial. gak ada untungnya. dan selalu dijauhi. dan yang jelas mengingatkan kita pada film seri "friday the 13th", dimana film itu bercerita tentang benda-benda atau barang-barang terkutuk. jadi pada saat itu aku menyimpulkan bahwa angka 13 memang angka terkutuk. atau jumat ke 13 adalah sial, gak baik, hari dimana kita akan menemukan nasib terburuk kita. dan memang mitos angka 13 tidak terlahir bukan dari kultur kita, orang indonesia. melainkan muncul ketika ada cerita perjamuan terakhir kristus dengan muridnya. kristus + 12 muridnya= 13 dan yesus di salib pada hari jumat. jadi secara gak langsung dengan melupakan harinya angka 13 diambil sebagai hari sial. nah berdasarkan itu aku sempat sedikit panik juga ketika dulu waktu duduk dibangku sekolah menengah pertama tersemat namaku di absen no 13, dan otomatis teman-teman sekelas menyangkutpautkan dengan mitos angka 13. walhasil aku pun tersugesti. aku merasa hari-hariku sesial mitos angka tersebut. tapi apa yang ingin aku celotehkan berbeda jauh dengan mitos angka 13…

Ataukah mitos itu sudah pindah di angka yang lain?

jakarta, 15 desember 2006
    Ku buka tirai jendela kamar hotel. matahari berebut masuk melalui jendela kaca ukuran 3 kali 4 meter itu. aku perkirakan ini melangkah lepas dari pukul 9 pagi. aku belum terlambat untuk beberes. hari ini aku pulang ke jogja. penerabangan pukul 11:25. jadi cukuplah perjalan tebet-soekarno-hatta. selang beberapa waktu, semua barang sudah rapih terbungkus. dan akupun cukup wangi, sampai nanti siang. saatnya sarapan. tapi… krrriinggg! telpon berdering. suara itu renyah, aku kenal dengan baik. "mas sarapan dibawah yuu!". sigap aku mengiyakan. perutku sedari tadi ribut bergederang. mengajak pasukkan-pasukkkan lapar untuk segera menyantap hidangan yang telah disajikan.

    Selepas berpamitan dengan teman-teman baik terutama dia si suara renyah. aku bergegas memesan taksi. 5 menit taksi juga belum datang. berdiri dalam kesabaran aku menunggu wajah itu, suara renyah itu dan seyumnya. taksi datang, dia pun tak kunjung menjelang. terakhir dari balik kaca mobil sempat aku tebarkan pandangan ke dalam hotel berharap senyumnya melepas keberanjakkan ku dari tempat ini. semalam dia begitu baik memberiku naungan untuk menampung segala kegalauanku. memahamiku dengan indah. dengan kata-katanya yang menenangkan. indah dan begitu renyah. "pak kemana pak?". lamunan bubrah oleh pertanyaan bapak supir taksi. "bandara pak". ku jawab sembari melepas tebaran pandanganku yang tak kunjung menangkap kehadirannya. terimakasih teman.

    Taksi melaju menuju cengkareng. kata bapak supir perkiraan 30 menit sampai ke bandara. "untung ini hari sabtu pak, jadi tol lumayan tidak macet". ujar pak supir mencoba menenangkan ku dari kepanikkan ketinggalan pesawat. benar 10:34 aku sampai di bandara segala tektek bengek urusan kebandaraan aku selesaikan segera.

gate A4.
    Sebelum ruang pemeriksaan. ada sebuah ruangan begitu luas. ber ac dan banyak stan toko baju bermerk dan kafe. teman sempat bilang, "ruangan ini bebas asap rokok jadi kalau kamu pingin merokok pergilah ke tempat disudut ruangan itu, disana kamu bisa merokok". melangkah aku ke sudut ruangan itu. memang aku juga butuh merokok. lagian sekali lagi aku ingin mendengar suara itu, suara yang selalu akan aku rindukan.

    Smoking area. sebuah logo kecil bertuliskan area merokok. tempat itu ku pikir mirip seperti halte bis, tapi kecil dengan atap melengkung ke depan berbahan plastik(mungkin). disediakan pula asbak dan tempat duduk yang dibungkus kulit sintetik hitam. cukup nyaman, viewnya pun lumayan memikat. lalu lalang kesibukkan di bandara. ku nyalakan rokok. ku  taruh minumanku. dan ku keluarkan hp. entah mengapa ada sesuatu yang belum aku selesaikan sebelum kakiku menjamah jogja. menelpon dia si suara renyah. mungkin ini waktu yang tepat untuk mengucapkan terimakasih untuk kebaikkan yang dia pnjamkan kepadaku pengobat galau. belum juga ku nyalakan hape, dompetku jatuh, isinya bertebaran kemana-mana. hape ku taruh. rokok ku semayamkan di asbak. entah oleh angin atau jin rokok jatuh menggelinding ke arah bawah kursi tempatku duduk. panik antara rokok, isi dompet yang berceceran, dan hasil keributan yang ku buat. satu persatu ku beresi kekacauanku. ku ambil semua isi dompet yang berceceran di lantai. beres. rokok ku lupakan. ku raih tas ku, tapi tak sengaja tangan kananku menyenggol botol minuman yang aku taruh di tepian tempat duduk smoking area tersebut. botol jatuh, untung isinya juga tidak ikut meramaikan suasana dengan tumpah kemana-mana. aman pikirku. baru selesai dengan urusan botol. teman ku memanggil untuk segera ke gate A4. aku pun menyusul..

Hapeku malang, ceritaku hilang di angka 15

Gate A4.
"Lho kok bisa, emang hape mas taruh mana?!".
"Gak tahu, tapi yang jelas terakhir aku mengeluarkan hape di smoking area".
Semua diam. aku pun terdiam. berpikir disela kalut. mencoba tenang. dan berpikir tanpa gegabah.
"Mas coba cari di ruang smoking area, mungkin masih disana.."
Aku bergegas, mempercepat langkahku, menuju smoking area.

"hilang.."
"Apa?"
"Iya.."
"mungkin ini hari naasku"

    Ku pikir hanya di angka 13 aku bisa menuai kesialanku. tapi nampaknya si sial bosan juga, karena banyak mitos kesialan angka 13 disalah gunakan oleh beberapa orang ternama seperti Ballack atau maradaona saat di napoli. atau juga karena budaya kraton jogja yang mempercaya angka 13, angka yang dipercaya membawa kebaikkan, keagungan. nah mungkin juga si sial bingung angka mana yang bagus, membawa hoki buat dia. karena angka 4 tidak mungkin lagi karena tempat itu spesial buat si mati. angka 2? gak bisa itu terlalu susah buat si sial karena banyak orang yang mendapatkan keberuntungan dengan mengikuti acara superdeal 2 milyar. angka 1 tidak mungkin, 3 apalagi. jadi mungkin angka 15 adalah try out buat si sial. mungkin. Tahu ahh! KOPROL!!

untuk mereka benih perempuan-perempuan besi

Saturday, December 16th, 2006

Mereka_3
riuh tepuk tangan, mengiringi senyumku yang tak terbendung dalam ruangan itu. begitu bahagia itu aku ciumi dengan mesra. ku peluk erat seerat hati seorang perindu kekasih. hari itu adalah hari terkahir perjalanan perjuangan mereka. namun bukan berhenti untuk bersandar lelah, tapi berhenti untuk menimbang langkah hebat selanjutnya. ya.. benih-benih itu telah tertanam dalam kerontangnya jaman pembenaran ini. benih-benih yang akan berkecambah, mencakar bumi dengan geliat resah sebuah kalimat "ini lah yang sudah aku persembahkan kepada negeri dongeng ini". persembahan yang nyata dengan polah nurani kejujuran mereka. dengan kata yang biasa keluar dari mulut mereka, dengan mata yang biasa mereka kerlingkan, dengan hati yang biasa mereka prinsipkan. aku sebagai bukan apa-apa, ikut merasakan begitu nikmatnya sebuah kebanggaan. begitu dahsyatnya sebuah langkah tertatih dan meraih segala buih-buih kebahagiaan di akhir cerita. ya… aku tersenyum untuk kalian.. teman-teman kecilku.. selamat atas kepak mungil sayap kalian yang menyejukkan…

Cinta Sepenggal Malam

Tuesday, December 12th, 2006

Bikin pusing!

Ku raih asbak, ku lempar berharap kena tepat di perut
keparat berbulu itu. Meowwng!

Baru saja aku timpuk kucing yang sedang hamil.
Teriak-teriak seenak mulutnya. Tidak punya perasaan. Sesama mahkluk hidup harus
saling mengerti. Aku sedang pusing! Suami belum pulang dari kemarin! Kamu enak,
teriak-teriak seperti Mak Solehah kehilangan paha ayamnya karena di makan
cucunya sendiri. Tapi tolong! Aku sedang bingung, resah, panic, dan khawatir
suamiku tersayang belum pulang.

Aku kesepian.

Aku sendirian.

Dasar kucing sialan!

Clurut, sliwar-sliwir.
Berlagak buta. Nabrak

sana

nabrak sini. Heran! Binatang pengerat kecil itu, punya hak hidup
lebih dari tikus-tikus kampung. Tidak boleh dibunuh, katanya bawa sial!.
Brengsek! Padahal seharusnya disamakan haknya. Kalau menyebalkan bunuh saja!.
Sempurna!

Kamar ini serasa senyap. Suara aneh seakan berlalu
lalang ditelingaku. Entah cicak berak. Atau dansa sayap-sayap kecoa. Mataku
tidak bisa diam. Mengikuti bayangan yang tidak jelas. Sekelebat kecoa berlari,
ke atap dan jatuh ditelinga kanan. Aku terperanjat! Ku ambil sapu dan ku
pukulkan keras 4 kali ke wajah. Kecoa pergi, pipiku memerah pedas.

Ku tenangkan perasaanku. Galau ini tidak kunjung hilang.
Segelas susu panas, tidak juga membuat kalutku terkapar. Bantal busa untuk ke
sekian kali aku padatkan. Menggumpal gemuk. Supaya nyaman di tengkuk. Tidak!
Tetap saja kempes cepat. Oleh polah
kepala beratku, pikiran yang berlarian, bertumbukkan dan terluka parah dalam
ruang galau yang retak tak karuan.

Ada

apa denganku?
Tidak ada firasat buruk? Tidak ada gelas yang pecah? Tidak ada bingkai foto
suamiku yang terjatuh…

aku diam… 

Pandanganku tertuju pada foto-foto, aku dan suamiku yang
tebingkai kayu jati buatan almarhum Pak Udin. Bingkai foto… Beranjak dari
tempat tidurku, ku kumpulkan semua foto-foto suamiku dan kusimpan dalam lemari.
Ku kunci rapat. Dan kunci ku selipkan dalam kotangku. Dingin juga.

Dingin, “aku kangen bibirmu mas..”. Bibir suamiku,
ketika manja mencumbuku. Dimana kamu Mas? Ini istrimu resah menunggu kabar? SMS
tidak ada? Telpon tidak ada? Apa yang kau pelajari saat ikut pramuka pun tidak
ada. Sandi morse, sandi asap, atau petunjuk lain yang mengabarkan keadaanmu,
dimana kau berada, apa yang sedang kau kerjakan? Brengsek!

Keresahan ini menyiksaku. Sepucuk

surat

ataupun pesan
tidak kau tinggalkan. Sudah aku bilang, tulis pesan sebelum pergi. Tempelkan di
stereoform yang aku belikan. Biar aku tahu kau pergi kemana Biar aku tenang.
Biar aku menebak keadaanmu. Kenapa hanya sisa botol bir saja yang kau
tinggalkan. Baju kotor pun tidak tersisa untukku cuci. Aku butuh kabarmu Mas…
aku butuh kabarmu…

Mata ini tetap menganga. Terpejam sementara. Langit-langit
kamar mulai bicara ngelantur. Lalu bungkam oleh degum tikus sialan. Lampu
gantung kecil itu bergoyang pelan. Gelap, terang, gelap kemudian terang.
Menyapu wajah resahku. Ku palingkan posisi tidurku. Membujur kekanan. Tanganku
kosong mengusap, halus sprei ini.
Disisi kanan biasa kau terbaring telanjang. Meringkuk. Kadang memeluk hangat
diriku. Kepalamu yang manja rebah sempurna diatas tubuhku.

Malam itu. Aku dikejutkan pintu depan digedor brutal.
Irama panik. Ku bangunkan suamiku. Dari balik jendela suamiku mengintip,
gerangan siapa malam-malam begini menggedor pintu seperti itu. Di luar, dibalik
pintu. Tiga orang lelaki berjaket kulit hitam berdiri. Wajah mereka tidak
begitu dikenal. Asing. Dan nampak emosi membungkus wajah-wajah itu. Suamiku
menatapku bingung. Aku pun sama, bingung ada apa gerangan malam ini. Kenapa ada
tiga orang lelaki berjaket kulit hitam datang malam-malam. Dengan wajah yang
terbungkus emosi. Dan menggedor pintu dengan brutal. Seperti meminta jawaban
yang harus segera untuk dijawab. Polisikah? Suamiku tidak mengiyakan
pertanyaanku. Dia sibuk mengamati ketiga lelaki itu. Sebentar suamiku berpikir.
Lalu dengan paksa menyuruhku untuk masuk ke kamar. Sekali lagi pintu itu
digedor. Hanya saja sekarang diiringi teriakkan salah satu lelaki itu. “Buka
pintu!”. Aku memilih untuk berdiam diri di tempat semula. Suamiku semakin
panik. Menyuruhku untuk segera masuk kamar. Aku menolak. “Masuk kataku!”
bentakkan itu membuatku resah. Pelan aku melangkah menuju kamarku, sembari
menatap suamiku yang celingukan, bingung, resah, panik. “Masuk kataku!”.
Mulutku terkatup rapat, lidahku telah aku kunyah, ludahku tinggal setetes,
sedikit melegakan tenggorokkanku yang mulai mengering. Bagaimana bisa aku
membiarkan suamiku yang sedang kebingungan,. Bingung menghadapi yang belum
jelas. Mungkin kah ketiga lelaki itu inginkan jawaban suamiku dengan baik-baik.
Ataukah malam ini aku harus menuai luka tubuh dari suamiku? Ataukah berita esok
menulis ke-apes-an aku dan suamiku? Ataukah setelah dibalik pintu kamar ini aku
menemukan tubuh suamiku terbujur kaku tak bernyawa? Ahhh brengsek kekuatiran
ini membunuh logikaku, bringas. Apa yang harus aku lakukan. Teriak minta
tolong? Telpon polisi? Berlari ke dapur, meraih pisau lalu menancapkan ke dada
salah satu lelaki itu?

Dari balik pintu kamar, ku lihat suamiku, kebingungan.
Wajahnya nampak menimbang-nimbang. Gagang pintu belum dijamah suamiku. Ketiga
lelaki itu masih diluar

sana

. Niat yang sama. Mencari jawaban atau menuntut sesuatu. Yang jelas
suasana ini tidak menguntungkan di pihak aku dan suamiku. Dan! Brakkk! Suara
keras dari ruang depan memporak-porandakan kegalauan dan logika yang sedang aku
masak. Ku lihat suamiku tersungkur. Kepalanya berdarah setelah menghantam tepian
meja. Aku hanya terdiam. Ketika moncong pistol itu menempel di jidat suamiku.

Tenggorokkanmu terganjal ludah. Batukmu begitu
mengerikan. Sudah aku bilang kurangi rokokmu. Pakailah jaket. Udara malam
kadang lebih bejat dari penjahat musiman. Jangan biasakan tidur terlalu larut.
Ingat paru-parumu. Kesehatanmu. Aku dan masa depan mereka buah cinta kita
berdua. Anak-anakmu. Sekarang nikmati penyakitmu. Egomu akan pekerjaanmu
mengalahkan suapan perhatianku. Tapi inilah hidupku. Semua sudah aku gadaikan
kepadamu. Aku percaya dan keyakinanku tidak luntur. Kamu tetap lelakiku. Biasanya
aku usap pelan jidatmu yang melebar. Ku usap belai sisa rambutmu. Lalu ku kecup
mesra keningmu. Dan dirimu tertidur pulas. Mendengkur parah. Dan parau tersedak
ludah, selalu keluar di sela mimpimu. Memang aku terganggu, tapi aku rindu
semua itu.

Mata ini tetap menganga. Terbelalak. Menatap kosong,
mencari sisa kerinduan di sela malam penantian. Sekali lagi ku usap sprei ini.
Halus. Sepi. Hanya tersisa bayangmu di balik memori-memori itu. Hangat. Harum
bau keringatmu. Ku cium dan ku cium. Lalu ku rebahkan tubuhku untuk memelukmu.
Aku ingin tidur Mas… tapi di pelukmu.. dalam dekapan tanganmu dan harum keringatmu…
aku ingin tidur Mas… belai aku sebisamu… sebisamu…

Amukkan malam tak kunjung reda. Awan berarak bingung,
mencari arah datangnya pagi. Bintang hanya celingukkan sesekali. Bulan? Buat
apa mempertanyakan bulan? Membosankan! Tidak ada yang lebih baik dari apa yang
aku gambarkan. Tidak ada pohon. Atau rumput merana terinjak anjing kotor
tetangga. Atau gemericik sungai pegungan merapi. Atau kicau burung hantu. Tidak
ada! Mungkin itu saja, malam dan segala atribut bangsatnya! Hati ku benar-benar
sesak. Pikiranku masih melompat-lompat tidak karuan. Dari sisi tebing terjal
otakku. Ke tebing yang lain. Berlari tunggang langgang ke belakang. Dan diam
bercokol lama. Di tengkukku. Berat! Keparat! Ku telan pil penenang. Sama saja,
tidak ada perubahan. Ku hirup harum minyak kayu putih, tetap saja tidak mempan.
Mungkinkah harus aku benturkan kepalaku,

lima

sampai tuju
kali? Mungkin saja. Tapi tidak, itu bodoh, konyol dan tidak logis. Tapi kepala
begitu berat. Pusing. Pecah berpuing-puing. Suamiku dimana dirimu.

Aku nekad menyalakan televise . Siapa tahu ada berita
biadab tentang nasibmu. Siapa tahu mereka tahu. Karena aku belum tentu tahu
keadaanmu. Tapi sial, mereka berkoar tentang berita orang-orang arogan. Pingin
menang melalui satu kelompok untuk melakukan pembantaian intelektual. Dasar
bangsa ini memang sakit. Mungkin terlalu lama dijajah. Atau memang kodratinya
sebagai budak kekuasaan. Maafkan aku, Mas, aku bosan dengan berita-berita di TV.
Terlalu banyak kejutan yang tidak bisa aku terima. Ku pindah saluran 2 kulihat sinetron.
Lumayan ada hiburan. Tapi aku semakin sedih. Aku terbiasa dengan sikapmu
menolak tayangan sinetron, candu katamu. Tontonan yang terlalu sempurna. “Kita
belum terlalu sempurna, jadi jangan terlalu banyak menonton sinetron, aku takut
kamu iri, hidup tidak sesempurna cerita-cerita itu”. Lalu remote itu kamu
rebut. Dan berita bodoh itu yang membuatmu senang. Aku mengalah. Diam seribu
marah. Aku marah tapi ini lah yang aku cintai. Kecerdasanmu, pola pikirmu, dan
sikap militanmu. Membuatku marah-marah cinta. Ini salah satu untaian perjalanan
hidup yang ingin selalu aku peluk, aku cium dan ku perkosa setiap hari. Tak
sengaja tanganku menjatuhkan korek gas berbentuk kura-kura, korek gas
kesayanganmu. Jatuh ke lantai lalu retak. Cairan gas merembes keluar. Menguap
bersama udara.

Tubuhku terkulai lemas. “Bajingan, mau apa kalian?!”,
bentak suamiku. Salah satu lelaki itu menarik baju suamiku. Didekatkan wajah
lelaki itu, mereka saling menatap suamiku geram. Lelaki itu diam.

“Kamu terlalu dalam menggali”, tukas lelaki itu.

“Bapak tidak terlalu senang dengan apa yang kau
sebarkan”.

Satu pukulan keras telak menyambar kening suamiku.
Tersungkur kembali ke lantai. Suamiku mencoba berdiri, namun sambaran gagang
pistol dipelilipis kiri menumbangkannya. Tersungkur. Darah segar mengucur.

Sejenak kaki-kaki ini seperti terpatri di ubin tempatku
bersimpuh. Tidak berdaya melihat suamiku, mengerang kesakitan. Aku tahu dia
mencoba menyelematkan aku. Kerlingan matanya yang berbaur darah menyadarkan aku
untuk tetap ditempatku semula. Untung anak-anakku sedang pergi. Dari celah
pintu kamar ini ada bahasa yang aku tangkap, kejadian ini harus diabadikan.
Walau harus ku korban lelaki yang ku cintai. Tetapi pidana ini harus diganti.
Aku harus tetap hidup untuk bersaksi.

Ku lihat jendela kamarku terbuka. Sigap aku meraih
handphone dan ku melompat jendela dan berlari menembus malam. Meninggalkan
suamiku, disana, sendirian, yang mungkin kematian sedang bernegosiasi
dengannya.

Inikah janji hidup semati. Haruskah aku tepati janji
itu. Lalu membungkam kebusukan seseorang. Atau aku lupakan janji ku untuk
sebuah kebenaran. Mana yang harus aku pilih. Haruskah kembali dan menepati
janji itu. Lalu mati. Dan tiga hari kemudian ditemukan dengan tubuh yang
menggembung dan berbelatung. Lalu bagaimana dengan anak-anakku. Bisakah mereka
tidak meratap marah akan kebodohanku, akan keegoisanku demi sebuah cinta.
Ataukah aku memang harus tetap hidup demi mereka. Satu-satunya kenang-kenangan
cinta hidup mati dengan suamiku. Aku tetap berlari. Jauh merobek kegalauanku,
untuk tetap fokus pada balas dendamku. Kelak.

Doa, hanya itu yang bisa aku lakukan. Memohon untuk
menunda kematian yang datang malam ini. Jalan hidupku masih berkelok-kelok. Aku
belum bisa menentukan mana baik mana buruk. Ya.. doa aku kirimkan melalui hati
untuk penguasa hidup dan kematian.

Bayangan hitam itu terserap jauh ke dalam jurang
kenangan kelam. Ku usap air mataku. ku rebahkan tubuhku di kursi malas yang
kamu beli. Udara dingin merambat masuk melalui celah jendela ruang tengah yang
berbatas langsung dengan taman kecil yang kamu buat. Ku ubah posisi berbaringku
menghadapi kerlip lampu mungil taman itu. Mataku nanar menatap pijarnya yang
meredup oleh waktu yang bertolak pergi terlalu lama.

Ku ingat kembali masa itu. Masa dimana aku dan dirimu
berujar janji, “ di depan pijar lilin dan tetesannya aku bubuhkan janjiku, jika
aku hidup kamu harus lebih hidup, jika aku mati, menyusul lah nanti, setelah
kamu menangis bangga melihat anak-anak kita terbang mengobrak-abrik
cakrawala…”. Kata-katamu sungguh mempesona. Kamu bilang “entah suatu saat jika
memang diriku subur dan kamu tidak mandul, lalu kamu hamil anak-anakku,
pesanlah pada mereka agar jangan mengingat orang tuanya karena mendidik benar
tapi ingatlah keberanian orang tuanya melahirkan mereka, pesan juga kala kau
belai perut buncitmu. Sayang jadilah orang merdeka, jadilah pengecut jika orang
tuamu lebih pengecut, jadilah pemberani jika orang tua mu penakut… jadilah apa
yang kamu ingin, dan matilah jika kamu belum siap hidup di bumi yang akan
menghidupi langkahmu…”. Lalu aku peluk pacarku. Ku ciumi bibir hitamnya. Aku percaya
matiku dalam pelukkanmu. Sakitku hanya kamu yang menjilati. Dan sukaku hanya
kamu yang akan tersenyum dan berteriak sorai.

Kita jadian, lalu pacaran, lalu bercinta, pagi sore,
malam. Di rumahmu, atau dirumahku, sama saja. Berlarian di tepian pantai.
Memetik edelwise di puncak merapi, lawu, terakhir slamet. Kencing di satu pohon
yang sama. Katamu “ ini daerah kekuasaan cinta kita, biarlah seperti anjing
yang penting, kita selalu bersama…” . yang ku lihat utuh lelakiku, pacarku,
kekasihku, pahlawanku. Entah ini posesif atau jatuh cinta. Ini yang terhebat
dari lelaki-lelakiku yang terdahulu. Jika alam bisa di beli mungkin akan aku
beli cintanya, dan ku persembahkan hanya untuk kamu, Mas. Jika surga bisa aku
nego, mungkin aku akan menawar telaganya untuk kita mandi bersama. Jika neraka
itu nikmat adanya. Mungkin akan aku pinjam hangatnya. Ketika kita bicara
tentang kehidupan dan masa depan. Berbaring berdialog dengan alam. Bercanda
dengan desir dingin angin pagi. Dan berdiskusi dengan mentari. Tentang mimpi,
mimpi akan sebuah cita-cita, masa depan dan bagaimana kita menyusun langkah
untuk keluarga. Anak-anak kita kelak. Bagaimana mereka pintar. Bagaimana
mereka_ anak-anakmu_menjadi penjahat pembela kebenaran. Ya… ketika malam datang
kita curhat kepada penguasa jagad raya. Dalam pelukkan bulan, bintang dan
gerimis. Di pelataran pasar bubrah, Merapi.

Ku matikan televisi. Sinetron usai dengan akhir yang
bisa aku tebak. Heran kenapa mereka suka memperdaya orang untuk membelalakkan
mata berjam-jam untuk sebuah kemolekkan ibu

kota

. Apa memang
benar kata suamiku. Negeri ini telah nikmat dengan mimpi-mimpinya.

Susah

dibangunkan. Walau dengan
kematian.

Ada

saja yang masih bisa tertawa. Ya.. mungkin itu yang aku suka dari
sinetron. Menghibur. Ku ambil segelas air dingin.

Sekilas aku dengar tawa kelakarmu. Di ruang tamu. Suara
desis tutup botol yang tercongkel dari congornya. Berkali-kali. Entah berapa
botol bir kamu tenggak, Mas bersama teman-temanmu. Aku tidak melarang. Karena
minuman itulah, kamu titipkan separuh jiwa dan logika kritismu. Mabuk? Jelas!
Dirimu sering terkapar telanjang dada. Di sofa atau di tepian bibir bak kamar
mandi. Atau meringsek malas di depan pintu kamar. Tak urung celotehmu tak
karuan. Bicara kemenangan. Mbacot perubahan. Merayakan keberhasilanmu
membongkar kasus penggede kambuhan. Konspirasi tingkat teri. Bodohnya pejabat
yang kaya mendadak. Pingin membeli surga dengan duit penjilat. Ingin tetap
diatas angin, duduk ditahta kekuasaan mengepakkan sayap kelelawarnya. Ya katamu
mereka seperti kelelawar penghisap darah, menghisap darah, bermuka dua. Bisa
seperti tikus, mengerat di tanah dan bisa seperti burung kuitilang yang ngoceh
setelah makan pisang. Sekali lagi kelekarmu meledak bersama kawan-kawanmu. Tahu
kamu Mas, aku takut dengan lakumu yang itu. Entah kamu bodoh atau memang namamu
ingin cepat dikenang. Setidaknya bagiku itu bodoh.

Tapi kamu selalu ingat Mas, kata-kata mujarab itu. Kata
yang selalu bisa menenangkan ku dari kericuhan hidup yang kita jalani bersama.

Aku milikmu…

aku cintamu…

Dan aku lah kenapa kamu melawan luka perih lambungmu.
Karena hidupku lebih berarti. Hidupnya adalah milikku yang kamu pinjam selama
menantang dunia. Aku timang cintamu. Aku balas celoteh mabukmu dengan
mengusapmu pelan, di jidat, rambut dan kening. Sampai terpulas lemas. Disini di
sprei halus. Tempat peraduan kita.

Gambar itu memudar cepat. Yang tersisa cahaya kecil
lampu kulkas. Botol bir itu masih tertutup congornya. Mengembun. Dingin dan
memanggil-manggil tuannya. Ku tutup pintu kulkas. Dan nanar mataku menerawang
jauh. Ku toleh ruang tamu. Kosong. Gelap. Sisa tawamu lenyap. Tidak ada suami
tercintaku. Tidak ada bau alcohol atau tawa kelakar lepasnya. Ku tenggak air
dingin dalam cangkir. Kerongkonganku basah. Lemah parau tersisa. Kering
terhempas lepas ke dalam perut
gelambirku. Dingin. Sedikit tenang. Dan ku melangkah ke dalam kamar.

Ku lepas sandal jepit rajutan rumput. Katamu ini lucu
jika melekat di jemari kakiku. Mengurangi bau kaki. Candamu yang itu-itu saja.
Membuatku semakin kangen. Ku ambil dan ku cium sandal jepit pemberianmu di
ultah ke 30 ku. Memang bau! Pesanmu rawat sandal itu. Jangan sampai rusak.
Karena susah membelinya. Ku tatap rajutannya. Masih sempurana. Tidak ada yang
rusak. Ku pakai jika aku rindu memakainya. Jarang aku pakai karena aku selalu
ingin candamu. Gerutumu, masalah bau kakiku. Aku suka jika melihat wajah
ngambekmu. Begitu jujur.

Ku rebahkan tubuhku. Punggungku seakan lupa cara
berkompromi. Pegal sekali. Ingin dimanja. Biasanya tanganmu selalu memijat
konyol melalui jari-jari mesramu. Sekonyol lelucon yang keluar dari mulutmu.
Menemaniku, memandikanku dengan rabaan kasih sayang. Walau kadang nafsumu lebih
dulu menggebu dari keinginanmu menghilangkan pegal di punggungku ini. Aku
layani. satu atau dua tepuk. Dan dirimu terkapar lemas, tertidur pulas. Dan
menyisakan nyeri dan rintih, encokku kumat. 

Aku ingin kamu pulang, Mas…

Tidak juga berkunjung juga apa yang dinamakan pagi hari.
Sudah semakin dungu mungkin. Atau pura-pura lupa. Nyaman di balik lintasan
angin malam. Dan awan yang sedari tadi tidak mondar-mandir mencari jalur
perjalanan. Bulan? Buat apa merisaukan bulan. Bulan tetaplah bulan. Benda bulat
bodoh. Yang hanya senyum kala di puja. Tapi tetap saja benda idiot bagi para
pemuja-pemuja idiot. Satu harapanku, mentari pulang bersama suamiku. Seperti
film-film pahlawan. Muncul dari balik kobaran api dan asap yang mengepul. Lalu
selangkah demi langkah keluar dengan siluet hitam. Pasti ke arah ku dengan
membawa beribu-beribu kantong oleh-oleh. Dan bicara layaknya superhero. Dapur
kita terselamatkan sayang.

Jangan lupa matikan lampu kamar mandi sebelum berlari
memeluku. Ingat pintu depan pastikan terkunci. Dan jangan membaca buku, sebelum
tidur. Aku lah yang dirimu nikahi, bukumu adalah selirmu. Aku lah yang beranak
pinak. Jadi bahagiakan aku malam ini, karena aku lelah menjadi pekerja rumahtanggac.
Bicaralah sepuasmu, ini komunikasi intim kita. Diranjang ini kita buka
konferensi, tagihan listrik, air, kebutuhan dapur. Anakmu yang butuh uang
kuliah. Pekerjaanmu, marahmu. Apa yang aku butuh. Haruskah aku bergelayut
manja, karena ingin baju baru. Sedangkan kamu butuh sepatu baru. Haruskah aku
tranparasikan, aku ngutang tentangga untuk nyumbang, bayar ini dan itu.

Ada

ini dan keluh
itu. Haruskah? Iba, ketika aku lihat raut mukamu yang kuyu. Lelah yang erat
melekat. Haruskah aku mengeluh butuh uang untuk beli gas? Haruskah aku mengeluh
tagihan telpon yang membengkak? Atau pertanyaan lain seputaran masalah-masalah
regional keluarga kita? Hatiku susah ku ajak berlari ke arah keluhan-keluhan
itu. Walau kadang dirimu memaksa. Memancingku ke arah itu. Aku tidak tega.
Dengan canda aku menjawab “semua beres sayang…”. Dan satu pertanyaan sebelum
dirimu terlelap. “apakah masih banyak tersisa cinta untuk aku dan anak-anakmu
sayang?” Lembut tanganmu melingkar dileher dan kecupan mesra mendarat di
keningku. Dirimu pulas. Pelan ku peluk tubuhmu.

Sekilas kecoa mencoba menyebrang dari almari pakain
menuju tempat tidur. Seketika ku gencet dengan sandal rajutan rumput. Mati.
Pipih.

Ku matikan lampu kamar. Gelap. Terang hanya membuatku
terlena. Terlena dalam obrolan yang tidak terkonsep. Mematikan logika dan
kemampuan berpikir yang kritis. Bagaimana melalui hari ini, malam ini. Tanpa
dirimu. Dan lagi kabarmu yang tidak jelas. Ku coba memejamkan mata. Mataku
terlalu lelah bicara sendiri. Terlalu capek menerawang ke belakang.
Menggapai-gapai kilasan-kilasan cerita cintaku. Aku terdiam dalam pejaman. ku
rapikan kembali kenanganku yang amburadul. Berserakkan kemana-mana. Menyusun
kembali rencana di esok hari. Karena hari esok adalah hari lahirnya
masalah-masalah baru yang harus aku selesaikan sebijak mungkin. Aku butuh
energi lebih.

Dan malam ini terlalu banyak aku habiskan untuk
menimang-nimang ketidakberadaanmu. Bosan? Tidak! Hanya saja ada kalanya aku
harus belajar untuk bicara sebagai istri yang mandiri. Sadar diri dan berusaha
bicara melalui kekuatanku sebagai seorang wanita. Biarkan cinta itu ada dan
berkembang setiap saat. Dan biarkan kerinduan itu datang setiap saat. Karena
itu bukan sesuatu yang harus ditolak, dilawan atau dihancurkan. Cintaku kepada
suamiku bukanlah kelemahanku. Tapi inilah semangatku untukku tetap berdiri
tegap melawan dunia. Aku seorang istri dengan cinta di sepenggal malam. Aku
bisa. “sayang aku akan menyusulmu… nanti…”.

Seno 2006
untuk dia…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

bi you yi sheng

Sunday, December 10th, 2006

Bi_you_yi_sheng_lia    Bi You Yi Sheng (masih adakah jalan untuk hidup) sebuah film dokumenter karya pelajar Bandung. Lia Listiana, Wilda A. Putri dan Ridwan Malik, mereka tergabung dalam Team 1 dari ketiga team yang lolos seleksi workshop film dokumenter untuk pelajar "Putih Abu-abu: masa lalu perempuan".
    Dalam film ini Lia cs berusaha untuk sedikit mengusik perhatian kita dengan tema yang diangkatnya ke dalam film dokumenter ini. diskriminasi teman, sodara kita etnis tionghoa. namun sayang keterbatasan waktu, juga membatasi Lia cs untuk bergerak menggali lebih dalam permasalahan tersebut. Sehingga yang muncul dalam film ini masih merupakan langkah awal pengungkapan kembali "dongeng-dongeng" memalukan bangsa yang ber-Pancasila ini.
    Tapi film ini cukup untuk kita mereview ke belakang tentang sejarah kelam bangsa ini. tentang memori peristiwa kerusuhan mei 1998 yang memakan korban jiwa dan harga diri dari etnis tionghoa.
   Dan juga dalam film dokumenter ini Lia cs berusaha mengungkap pula latar belakang terjadinya diskriminasi etnis tionghoa. lagi-lagi waktu tidak mengijinkan Lia cs untuk bertanya lebih lanjut tentang diskripsi sejarah diskriminasi etnis tionghoa yang dari kutipan wawancara oleh seorang narasumber, mengatakan bahwa diskriminasi etnis tionghoa sudah ada sejak penjajahan Jepang.
    Seru film dokumenter ini, walau masih dangkal tapi setidaknya Lia cs berani bicara. Bagaimana dengan kamu? kamu? dan Kamu? apa cuma pingin cari tampang doang? jangan jadikan negeri ini lebih bangsat lagi OK!

Dongeng Seorang Penari

Thursday, December 7th, 2006

Aku hanya ingin menari. Mereka menari! Kenapa aku tidak,
14 tahun umurku. Ini masa dimana kelincahan kaki tangan dan gemulai tubuhku,
bergelora dengan lantunan nada-nada alam. Rambut kusuhku ku biarkan terjuntai
lepas. Dan berayun bebas kala tubuh melantun bersama irama itu. Sungguh merdu,
nyaman di telinga dan jiwa. Melambai-lambai memanggil, cepat bergegas dan
berbaur terbang ke alam jiwa seni ini. Muda dan aku ingin menari. Mereka
menari! Kenapa aku tidak?!

Lampu teplok.
Malam. Jangkrik. Dan desis, dengkur teman sebarak. Letih membunuh mereka, menantang
siang satu lawan satu. Lelap, senyap, hening. Sesekali terdengar gaduh
tikus-tikus liar belarian disudut-sudut kumuh barak. Mungkin ini musim kawin mereka.
Beranak pinak dan tumbal-tumbal baru untuk mulut kucing-kucing kelaparan. Jauh
diluar
sana, menerobos sela sekat kayu barak. Telingaku menangkap kebebasan Sayap-sayap
kelelawar berkepak menjauh. Menerjang kilau bintang dan terang rembulan. Lalu
berbalik menjauh, membawa pikiranku ke lobang hitam, tak kutemukan cahaya hanya
lobang hitam. Semua hitam gelap dan membingungkan. Aku terduduk, merunduk, ku
peluk kedua kaki telanjangku. Mencoba merapat, menyeka dingin dalam hati. Aku
menangis. Aku rindu ibu, bapak, rumah. Aroma hujan dan becek jalanan kampung.
Aku rindu bermain hujan bersama kawan sebaya. Aku rindu kupu-kupu, rembulan..
Haruskah aku panggil semua? Tidak! Aku tidak ingin mengganggu. Biar keluh kesah
ini aku bungkus lalu ku buang di sudut kebun. Aku harus puas memeluknya melalui
dunia keduaku, Doa dan mimpi. Teruntuk Bapak dan Ibu, cinta ini milik kalian.

Rembulan mengintip dari sela genting retak atap barak. Bicara
sebentar dan pergi bersama awan kelam. Mungkin sebentar lagi hujan. Pijar
teplok mulai meredup. Cahayanya tidak lagi bergoyang seperti sedia kala. Dan
pelan sembarut tepi malam melahap wajahku. Pijar kecil itu telah terlelap. Dan
bernyanyi sendiri dalam mimpi-mimpinya. Aku ingin tidur tapi mata ini masih
mencakar kebelakang berpegang erat, kelam masa lalu, 6 tahun terdahulu. Mereka
menari! Kenapa sekarang aku dibalik terali tirani?! Aku hanya ingin menari. Aku
tidak tahu jendral-jendral itu menari di alam sempit, hitam dan berlumpur,
berbaur anyir darah dan belatung yang berpura-pura lapar. Itu bukan salahku.
Aku hanya bisa menari! Mereka menari! Kenapa hanya aku dan teman-temanku yang
dipaksa mengakui! Entah mengapa Ibu
kota terbakar.
Semua merah. Entah darah atau amarah. Lambang-lambang itu dibakar, diberangus
dan dibungkam bersama orang-orangnya. Semua bergelimpangan. Entah mati atau
dipaksa mati. Tetap anyir darah itu menari diatas pelangi ibu
kota yang tertutup
awan kelam. Ketakutan, ditakuti dan diancam belati dan cangkul, menyebar cepat.
Tak terhitung seberapa cepat belatung itu harus bekerja keras menghilangkan
bukti kekejaman, manusia-manusia bodoh itu. Seberapa cepat angin menyapu
bau-bau bangkai yang terbengkalai. Tak ada bukti tak ada lawan atau kawan yang
tidak mati. Hanya karena kebohongan, salah ucap dan tuduhan yang tak beralasan,
membabi buta. Kebencian yang harus dibenci. Satu, lawan sejuta. Sejuta
membantai satu. Semua dituduh sama. Semua harus menerima lara dan duka. Atau
harus tersenyum membawa luka ke alam baka. Pilih salah satu, pilih mereka mati
atau mengakui. Pilihan omong kosong. Bergelimpangan dan mati. Atau beruntung
dipenjara tanpa diadili. Dan seberapa cepat angin mengubur bangkai-bangkai itu.
Cerita-cerita itu, dongeng itu dan lantunan nada-nada sumbang itu. Menarilah…

 

Tak terasa air mata ini begitu asin membasuh bibir keringku.
Dimana aku sekarang. Bumi ini telah tenang dan tertidur lelap tanpa merasa
berdosa dengan luka yang digoreskannya. Mereka melepas mulut dan hati dan
menyimpan perih untuk dinikmati sendiri. Aku takut, aku belum bisa bicara, aku
dulu hanya ingin menari bersama mereka. Karena senyum, karena tawa dan indahnya
tarian itu.

Aku ingin menari! Mereka menari! Kenapa kalian hanya
duduk terdiam, sesenggukan, merasa kasihan dan tak berujar sepatah katapun. Aku
ingin kalian lihat tarian itu, lagu-lagu itu jaya berkumandang, begitu nyaman
di telinga dan hati sanubari. Tapi yang ku lihat, tarian itu, gerakakn indah
itu, nada-nada itu dan musik itu, senasib dengan aku dan yang lain. Dipenjara,
disuruh diam selamanya. Atau diberangus tanpas sisa. Mereka telah membunuh anak
kebudayaan mereka sendiri. Menganggap seolah onggokan kotoran kucing yang harus
segera dikubur, karena bau busuk yang mengganggu. Di depan kalian aku bicara
seadanya. Apa yang pernah kaki dan tanganku lakukan semua untuk cinta kepada

Indonesia

.
Itu yang bisa aku lakukan. Demi bangsa ini pula aku bicara apa adanya. Demi
bangsa ini pula aku rela bersimbah darah, luka, dan perjuangan, dengan mereka.
Perempuan-perempuan besi. Dulu aku hanya bisa menari. Aku selalu diajak karena
cintaku kepada gerakakan indah itu. Semua senang melihatku menari. Tapi kenapa
bapak-bapak itu tidak? Apa yang salah dengan tarianku? Di depan kalian
(generasi muda

Indonesia

) aku bicara. mulut ini tidak akan lama sebetah ini ngoceh didepan
kalian. Akan datang waktu untuk kami tidur, mungkin sebentar atau untuk
selamanya. Dan aku bermimpi aku melihat kalian bicara kebenaran atas nama untuk
keadilan bukan untukku. Tapi untuk bangsa ini, bumi yang pernah aku kencingi
ini. Dan ku pejamkan mata ini dan terlelap dengan mimpi paling indah.

Menarilah dikala kalian bisa menoreh angin dengan lentik
tajam jari-jari muda kalian. Kibaskan selendang perjuangan itu. Nikmati masa
muda, lincah gesit dan bicara melalui keindahan-keindahan alam ini. Aku hanya
ingin melihat penerusku menari! Dulu aku menari dan mereka menari demi
kehidupan dan sebuah perubahan. Mereka nyata berjuang. Bertatih, menghapuskan
kebodohan orang-orang desa. Bicara tentang saling menghargai. Dan bicara hak
kami, perempuan dan kesejajaran kami dengan lelaki. Kami tidak boleh menikah
muda. Kami harus bisa baca tulis, kami dibebaskan berkreasi seni, bernyanyi dan
menari. Mereka tidak mengajarkan kami menari tak berhelai kain. Itu bohong,
Bapak-bapak itu terlalu banyak mulut. Takut turun sendiri begerombol, menghasut
tanpa kebenaran untuk pijakan. Berkerumun dan bicara tanpa hati. Datanglah
sendiri lawan kami, satu lawan satu, keroyokan dan menang tanpa kemenangan.
Menang dari bangsa sendiri. Dari manusia Bumi dengan dongeng-dongengnya yang
dihilangkan? Ironi! Aku akui aku terlalu takut. Aku masih 14 tahun dan aku
takut, takut bicara kebenaran. Yang aku tahu aku hanya menari senada lagu yang
berkumandang itu. Apa salah tubuh ini bicara dalam gerakkan-gerakkan estetik?
apa salah jiwa ini bicara tentang lakon kehidupan dan angkara murka? Kita
manusia, tarian kita sama. Menari dalam sebuah kehidupan yang terlampau panjang
atau mungkin lebih pendek dari umur kita.

Ku usap telapak tanganku. Lumpur ini bicara kepadaku
untuk mendendang , mengolah dan
memberikan arti untuk hidupku dan teman-teman sebarak. Menyuapinya dengan
keringat-keringat kami dan mendongeng dengan lagu lantun lirih. Senandung lirih
menyimpan perih hanya senandung, tapi inilah senandung kami di lahan pertanian
ini. Senandung untuk bertahan hidup dari siksaan batin dan terpaan kerinduan
akan keluarga dan kampong halaman. Teruntuk mereka, perempuan-perempuan
negeriku, sekarangpun menari. Tangan ini terjuntai, untuk rela mengais tanah.
Rusak tak halus lagi seperti bayi untuk sekedar menuai kebun kami. Ini lebih
baik dari kerangkeng itu. Kata mereka, nasi sebutir adalah hidup walau harus
dijilat dari sisa pembungkus makanan. Beberapa butir jagung serasa nikmat
sekedar mengelabui perut yang berteriak semangkuk nasi dan lauk sepotong ayam.
Kami harus berbagi, berlebih adalah untuk semua, rata, jika ada yang menangis
mengeram tak ada besukkan keluarga dengan rantang penuh makanan. Kelaparan
biarlah menjadi kawan asal harga diri tetap bisa dipertahankan. Lagi pula bumi
yang aku kencingi ini tak seindah dulu lagi.

Serpihan kerikil terlontar ke mata kiriku.
Menyadarkanku. Inilah yang harus aku jalani. Perih dimataku tak seperih luka
bumi ini. Tapi aku percaya tak selamanya bau busuk itu tak mampu bicara, tetap
saja keadilan akan datang tanpa pesan. Keajaiban hanyalah kicauan dijaman yang
buta ini. Jaman yang menghilangkan jaman. Bumi dengan negeri tanpa
dongeng-dongeng kebenaran yang seharusnya diceritakan kepada generasi-generasi
yang dipaksa buta itu. Tapi harapan tetap ada. Lakon drama tak bisa digubah
keasliannya. Yang busuk tetaplah busuk dan yang benar akan terus diceritakan.
Kelak di jaman yang mana lagi, aku sendiri bertanya-tanya. Atau jaman sekarang
dimana anak cucuku tumbuh dan mampu bicara, harus tetap buta dan bungkam.
Karena takut? Entah biarkan mereka memilih selagi bisa memilih dan memilah.
Biarkan selagi mereka bisa bernafas lega. Ya mungkin tarian yang indah,
adakalanya menari diatas pengorbanan. Tapi aku tidak menyesal, asal ini tak
berulang kembali. Dan menimpa untuk pejuang muda negeri ini. Bumi yang hilang
salah satu dongengnya.

Sepintas telingaku menangkap suara alunan gambang,
seperangkat gamelan itu telah datang! Mungkin ini saatnya melihat mereka bicara
melalu gerak dan lantun nada-nada indah. Aku rindu. Begitu indah, tarian itu,
dan berperan dari lakon yang disandiwarakan. Aku menangkap cinta. Ya aku
menangkap cinta dalam atmosfir sempit ini. Suara-suara lantang lakon-lakon
wayang, cinta kepada seni dan budaya sendiri, cinta untuk bercinta dengan
kerinduan akan jiwa dan olah seni yang tertahan sekian lama. Ya ada cinta dan kasih
sayang di pengasingan. Perjuangan untuk sebuah perjuangan. Bebas yang ku
rasakan hari ini, sungguh aku manjakan. Sedikit aku simpan dalam saku ingatan,
lumayan untuk sekedar teman tidur nanti malam. Ibu-ibu itu bergerak,
beraktivitas tiada
tara, Lepas walau terbatas. Dan terbang walau terkekang. Tapi ada
kejujuran yang ingin mereka sampaikan kejujuran bicara dalam bahasa tubuh dan
olah seni. Didunia itu mereka bisa berlari mencari hati. Mengepakkan sayap,
terbang rendah lalu menyambar kesunyian hati dan membuangnya di sela-sela
jeratan. Memetik bahagia satu persatu , menaruhnya dalam keranjang lalu
membagikan kepada hati-hati yang kesepian. Satu dismpan, sama seperti aku untuk
dikenang dalam mimpi. Dan memutar balik kala ada kesempatan menikmati jaman
tanpa dongeng-dongeng yang dihilangkan. Mereka menari dan aku rindu menari.

Ibu itu tersenyum dan menangis. Menangis lalu tersenyum
kecil. Dan bicara lirih lirih sekali. Dan begitu cepat hilang tersapu angin.
Selembar kertas erat dalam genggamannya. Sedikit kotor karena ada warna ungu
menempel baru sebalik kertas itu.Bertulis TELAH DITILIK. Di belai sekali lalu
berlanjut untuk sekian kali, di peluk dan dicium. Lalu dipeluk, erat kuat. Foto
anak kecil, buram, dengan senyum yang tipis, lebih banyak muram dipelukkan
bapaknya. Ku tinggalkan, aku tidak ingin mengganggunnya dalam pesta canda buram kenangannya. Keluargaku
begitu jauh jarang kabar berita terlontar sampai ke pelukkanku, aku rindu
rumah, aku rindu dipeluk. Seharusnya aku tidak disini. Seharusnya aku bermain.
Dan membantu ibu di rumah. Bumi ini lagi susah, sedang kelaparan, butuh bantuan
dan makanan. Burung kutilang pinjamkan sebentar sayapmu. Aku ingin sejenak
terbang pulang. Melibas pekat muram durja hidupku dalam pengasingan ini. Bebas
sejenak.

Tapi inilah aku dan rumah keduaku, keluarga keduaku, dan
hidup yang memaksa ku belajar untuk mengartikan hidup. Bersama mereka. Entah
mengapa mereka? alasan aku bisa tetap
bertahan. Mungkin karena nasib, kerinduan pada keluarga, sakit yang terdera di
hati, karena luka yang tersayat di angan dan batin, karena kesalahan yang
dituduhkan Bapak-bapak itu, atau mungkin semangat juang merekalah, dan karena
merekalah bumi ku pijak ini pernah belajar akan arti sebuah pelepasan pasung ke
bodohan, dan kebebasan melantunkan teriakan budaya dan warisan nenek moyang
kami. Bumi ini akan menangis melihat luka memar itu. Tapi aku bangga jadi
bagian perjuangan ini. Walau harus menikmati keadilan yang tercongkel matanya.
Aku harus hidup dan bicara untuk mereka, keturunanku, mungkin generasiku.
Mungkin…

Tapi mimpi ini akan aku nikmati. Sendiri. Dalam tarian
perih di pengasingan.

Terik mentari tak lagi sejajar ubun-ubun. Bumi terjatuh
dan berputar ke arah larinya pagi, disambut malam yang melahap mentari di kejauhan.
Hari mulai senja. Di sela rerumputan jangkrik berlari dari ular yang berderik
lapar. Diatas bukit burung mulai merdu menyapa malam. Merekuhkan sayap untuk
memeluk tubuhnya dari dingin malam. Diantara deras arus sungai dari puing
batuan kali yang bertahan memecah arus.
Ada riak yang
bergumul, saling menyapa saling mencari sela-sela kosong untuk diisi dan
berjuang untuk bertahan dari terjangan arus yang bergelombang-gelombang. tak ada
yang lepas erat.

Kuat!

Kurasakan hari ini bahagia datang menjemputku, mengajak
berjalan menapak sebentar bumi Plantungan. Deretan foto terpampang dalam sebuah
pameran. Aku ada disana, walau hanya sepintas tetap saja foto-toto itu menyampaikan
kerinduanku. Bukan pagar duri yang membungkus “kesalahanku”, bukan aku dan tarian
itu, bukan kebodohan Tuan negeri ini yang lupa akan hati kecilnya. Dan bukan
separuh kehidupan yang terpaksa aku tukar dengan ketidakberdayaanku sebagai
anak-anak yang bingung geliat lapar negeri ini. Bukan semuanya. Kerinduan akan
cinta dan kehidupan yang menantingku berdiri, berani menantang negeri ini, bumi
pengecut. Berlari dari bayangan kelamnya sendiri. Bersembunyi dibalik
tembok-tembok kuasa, menjulang tinggi, merasa lupa, masih ada kuasa langit
diatas
sana, Tangan mereka terlalu kotor. Mengubur hidup-hidup
pahlawan-pahlawan itu. Membunuh hak-hak yang seharusnya aku miliki. Aku rela
dan legawa. Inilah perjuangan. Kemarin adalah masa lalu sekarang adalah diriku
untuk sekali lagi langkah tergoyang, tertahan melawan nasib sebagai eks tapol.
Sungguh berat tak kudapati tandu untuk ku pinjam. Uluran tangan begitu jauh.
Seutas tali itu putus saat aku mencoba merayap. Jatuh berdegum. Tulang
kepercayaanku hancur remuk. Hati keyakinanku terhempit pecah. Tak
terselamatkan. Tercemooh, terkubang. Dan melahap perjalanan hidup sebagai
orang-orang “pengkhianat”. Hanya ruang kosong dan kekosongan ini aku bisa
bicara lepas. Dan ikhlas, rela, legawa untuk bisa hidup sekali lagi. Tekadku
kuat aku harus menang untuk keturunanku. Anakku dan anak-anak yang lain dari
kehidupan yang senasib denganku, tetap aku perjuangkan. Mereka layak hidup dan
menikmati isi bumi ini. Pekerjaan, sekolah terbaik, dan kehidupan yang
sempurna. Biar kesalahan ini cukup diriku yang menimang-nimang. Terlalu berat
untuk ku bagikan kepada mereka. Cukuplah menjadi sebuah dongeng, membesarkan
hati mereka untuk lebih menerima dan percaya bahwa kebenaran takkan pernah
berhenti diceritakan. Ini perjuangan keduaku dalam masa kehidupanku ini. Aku
bahagia, melihat mereka berkembang dan tertempa menjadi anak-anak baja dari
bumi yang dulu aku kencingi ini. Aku bangga. Dan ini kebebasanku. Aku akan
tetap bicara bersama mereka perempuan-perempuan di pengasingan. Dan menari
disela-sela sakitnya bumi ini. Aku akan menari untukmu dengan sisa semangat dan
umurku yang telah terampas tanpa keadilan.

Kakiku seakan terjerat, tak mampu bergerak. Di dalam ruangan yang dingin ini.
Serasa begitu hangat. Ruangan ini penuh dengan pertanyaan. Pertanyaan akan
kebenaran dongeng-dongeng yang dihilangkan. Mereka sangat bersemangat. Mereka
generasi-generasi pembenaran. Aku menangis. Biar semua tertumpah teruntuk
kebenaran. Teruntuk perempuan-perempuan di pengasingan. Dan generasi-generasi
yang telah bicara dan membuka mata, menerima kami selayaknya manusia biasa,
sebangsa dan setanah air. Tanpa cacat dan cela yang Tuan negeri ini berikan.
Terima kasih.

Lantunan merdu musik merasuki sukma. Kulihat tanganku
begitu mungil. Masih halus tak berlumur darah atau Lumpur kebun. Bersih!.
Rambutku tergerai kembali , terjuntai bebas, ku belai pelan, halus. Halus!.
Harum tidak lusuh. Ku jamah pipiku kulitnya mengencang tak berkeriput. Aku
cantik kembali! Teriakku. Tiba-tiba ku rasakan aku sudah berada dalam sebuah
kerumunan. Ya kerumunan yang tidak asing oleh ingatan kecilku. Mereka tersenyum
dan bertepuk tangan. Kebahagiaan itu bukan mimpi yang selalu aku mimpikan. Lalu
sehelai selendang bersih merangkulku, mengajakku berlari ke tengah kebahagiaan
itu. Dan aku menari. Aku menari dan menari.

Waktu tak berujar. Ikut bungkam dan diam seribu kata.
Beribu pertanyaan bergelayutan di otakku dan perasaanku. Kenapa aku diasingkan?
Apa salahku? Apa yang aku khianati? Aku hanya menari! Dan mereka menari, kenapa
sekarang aku tetap dibungkam?