Bocah kecil duduk termenung di perempatan jalan. Nglemprak di trotoar berpayungkan dedaunan pohon asem londo.
Sesekali matanya liar menyapu motor dan mobil yang terhenti lampu merah. Atau
mengusap debu yang melekat di keningnya bercampur keringat. Kulitnya begitu
hitam terbakar matahari. Kotor, dekil melapisi seluruh kulitnya. Mungkin sudah
beberapa hari tubuh itu tidak merasakan segarnya air bersih. Atau minggu atau
bulan. Entah yang pasti bocah itu hampir seminggu ini masih hidup, masih bertahan
hidup dan mungkin sedang memperjuangkan hidupnya. Entah.
Parasnya cantik. Bedak,
eyeshadow, lipstick, dan segala perabot topeng yang melekat diwajahnya,
tentulah tidak harga eceran atau grosiran di toko kelontong murahan. Pastilah harga
promosi dari brand cosmetic terkenal. Tidak mudah luntur oleh keringat. Tahan
lama, nambah percaya diri dan tentu saja meyulap paras pas-pasan menjadi
lumayan. Mungkin. Yang jelas gadis berparas cantik itu berdiri dengan membawa
sekotak penuh rokok merk tertentu. Harga rokok tidak terlalu mahal, mahal
mungkin bagi yang merasa mahal, tidak mahal bagi yang merasa demikian. Yang
pasti rokok itu, kata orang sesuai dengan citarasa orang Indonesia. Tapi dengan
brand luar negeri, tentunya.
“maaf bapak, boleh tahu
rokok bapak apa?”. gadis itu meruntun kata menjual dengan pesona senyum yang
manis. Manis bagi yang merasa manis dan menggoda bagi yang merasa tergoda.
Seorang lelaki
berhenti. Berpikir sejenak. Muka dipasang menimbang-nimbang. Jemari kekar
mengelus jenggot rapi di dagunya. Cincin emas bermata batu melingkar di jari
manisnya. Berlagak sodagar dari negeri jiran, ingin memborong seluruh dagangan.
Lalu lelaki itu pun
menutur kata balasan, “rokok saya ini mbak, memang kenapa dengan rokok saya ini
mbak?”.
“gini kita mau
menawarkan kepada bapak, rasa istimewa dari rokok kita, rasa baru dengan saos
nikmat, low tar dan nikotin, aromanya istimewa karena dari cengkeh dan tembako
pilihan, tentu saja rasa sesuai dengan citarasa lokal, tertarik pak, nah begini
pak, sisa rokok yang bapak punya akan kita tukar dengan satu bungkus rokok
kita, juga jika bapak membeli satu bungkus lagi maka saya akan memberi
bonus..”. kata itu terhenti, oleh senyum lelaki itu.
“saya beli dua, rokok
ini tidak saya tukar dengan rokokmu, sedangkan bonusnya..”. kata itu terhenti
oleh gadis lain yang datang mendekat, lalu berbisik.
“bonus kita bagi ya..”.
satu senyum melayang ke arah lelaki itu.
“saya ambil dua bungkus
juga dari kamu, berarti bonus untuk saya berlipat..”. lelaki itu kembali
tersenyum. Kedua gadis membalas dengan senyum pula, manis.
“terimakasih pak, telah
mau membeli rokok merk ini, kami jamin bapak bakalan suka dengan aroma dan
rasanya, karena bapak membeli empat bungkus maka bapak berhak mendapatkan bonus
dari kami, bonus itu..”
“bonus itu untuk
kalian..”.
Lelaki itu melangkah
pergi dengan empat bungkus rokok, lalu mengeluarkan sebatang rokok dari bungkus
yang tidak dia tukarkan. Puss!
Telapak kecil
berjingkat-jingkat oleh panasnya permukaan jalan. Aspal. Berpindah-pindah di
sela-sela roda depan motor yang terhenti lampu merah. Kain hitam dekil di
sapukannya ke slebor motor seorang gadis. Helm besar membungkus kepalanya, kain
hitam menutup mulut serta hidungnya. Kaca mata hitam untuk menyeka sinar
matahari yang menyilaukan. Diam diatas motor menunggu datangnya lampu hijau.
Slebor itu tidak juga bersih, bahkan semakin kotor oleh kain dekil si bocah. Si
gadis diam menunggu datangnya lampu hijau, diatas motornya. Dengan sedikit
tenaga si bocah mencoba mengelap kotoran yang dibuat oleh kain dekilnya. Tidak
juga bersih.
Kain itu basah oleh air
kecingnya sendiri, tadi sewaktu ngompol di trotoar. Sekarang slebor itu pesing,
bekas air kencing yang terserap oleh kain dekilnya. Si gadis tetap diam
menunggu lampu hijau, diatas motornya. Sekarang kaki kanan diangkat, jari-jari
mungilnya terkait di betis kaki sebelah kirinya. Permukaan jalan panas. Aspal.
Gantian kaki kirinya yang diangkat. Sama. Permukaan jalan semakin panas. Aspal.
Keringat sebesar kepik menetes dari jidat. Berlari berguling-guling jatuh di
kerah baju. Merembes. Kemudian datang lagi kepik-kepik yang lain yang juga
berlari berguling-guling, jatuh ke tempat yang mereka sukai. Celana. Baju
bagian belakang. Dan kain yang terjepit oleh selangkangan. Namun ada juga yang
ikut terhembus angin dan debu, setelah rela jatuh di permukaan jalan yang
panas. Aspal.
Menyerah, bocah itu menyerah. Kotoran tidak
juga hilang, bahkan semakin melebar kemana-mana. Debu hamburan dari truk sampah
yang melaju cepat, ikut memperindah kotoran itu. Bocah itu menyerah. Mungkin
ini yang terbaik baginya, melangkah pergi dengan menundukkan kepala, rasa
penyesalan. Atau menengadah memasang muka melas untuk mendapatkan cepek atau
dua cepek. Kain dekil tetap bergerak kekanan, ke atas, ke kiri, menyamping dan
kadang berputar,lebih banyak berputar, mengikuti ritme tangan mungil si bocah.
Masih belum di putuskan, melangkah pergi atau memasang muka melas. Gerakkan
kain mulai mengendur. Yang cepat adalah gerakan otak yang berputar mencari
jawaban atas pilihan yang dibuat sendiri. Belum diputuskan. Lampu hijau
menyala. Motor lain bergerak pelan dengan deru klakson yang tidak ketulungan.
Panas, bising, tergesa-gesa, panas, bising, terburu-buru, panas, bising dan
tidak peduli. Jawaban belum di temukan, tapi kenapa semua sudah berhamburan,
bagaimana dengan aku. Seseorang menungguku disudut yang tidak jelas. Nunggu
setoranku. Dan dia janji memberi jatah makanku. Sekarang semua pergi.
Lampu hijau. Dan semua
pergi. Kotoran itu. Jawaban itu. Cepek dua cepek itu. Semua pergi. Dan dari
arah yang sama datang segerombolan bising lagi. Dengan deru yang berkoar dari
moncong knalpot. Membawa bungkusan-bungkusan berisi kepala, dengan penutup mata
dan kain yang membekap mulut dan hidungnya. Serta kaca-kaca yang ajaib dari
seonggok besi berpoles mengkilat, bisa turun sendiri, lima senti cukup untuk
jemari-jemari ladang cepek dua cepek. Dan permukaan jalan tetap panas. Aspal.
Bocah itu berlari ke
tempatnya semula. Dibawah pohon asem londo, trotar, dan bekas kencing. Kain
dekil. Kotoran yang melekat.. bocah itu terduduk lemas. Hanya bisa bergumam,
protes dalam hati. Mikir bagaimana nanti. Hari ini, makan untuk perut ini.
Melihat takut ke arah seseorang yang juga memegang janji bocah itu untuk
setoran lima ribu rupiah, siang ini. Tapi lima ribu menguap. Tidak ada lima
ribu yang ada mata melotot, seakan ingin dilepas begitu saja bola mata itu, seperti
duit yang pergi juga begitu saja.
Sore. Delapan jam lebih
sedikit lepas dari jam sembilan pagi. Kedua gadis. Cantik. Make up sisa tadi
pagi. Secangkir kopi sebagai teman kegelisahan. Mereka berdua gelisah. Mungkin kegelisahan
itu yang memberi keputusan kepada mereka untuk menikmati secangkir kopi
disebuah kafe tak jauh dari tempat mereka menjajakan rokok dengan bonus-bonus
itu. Tidak ada obrolan atau sekedar celoteh canda seperti biasanya. Kali ini
hanya mulut bergincu, terkatup rapat, sesekali menganga kecil untuk sehirup
kopi expresso. Diam.
Tidak jauh beda dengan
senyapnya sebuah ruang kelas, sekarang ada ujian. Gadis-gadis berjajar rapi
duduk dalam kegelisahan. Lelaki-lelaki merusak suasana dengan bertingkah
membabibuta, merasa mata pengawas tidak si cekatan mata elang brontok. Mengusik
teman untuk satu atau dua jawaban. Satu dua tepuk bahkan empat harus rela kartu
ujian disita. Sambil mencoba melepas bola matanya. Pengawas serta merta
memberikan kewenangan sepenuhnya kepada mahasiswa itu untuk berbesar hati
mengulang di tahun yang akan datang. Merengek, berbalas pantun sebagai seorang
perjaka patah arang, yang menghamba kepada seekor macan untuk memuntahkan
kembali calon istrinya dari perut si macan. Tontonan yang biasa untuk mata
kuliah ini. Dengar-dengar pengawas di bayar mahal untuk pekerjaan pembunuhan
karakter itu. Khusus untuk gadis-gadisnya apalagi. Kebanyakan mereka memang
mahasiswa yang mengulang mata kuliah itu. Dosennya baik hati. Jarang ke kampus.
Tugas tak melimpah. Kuis sedang diusahakan. Dan mata kuliah yang cukup
menggairahkan. Menggairahkan bagi yang merasa bergairah. Tapi bisa juga
bergairah untuk meninggalkan mata kuliah itu. Statistika. Seorang pengawas
sedang menelan hidup-hidup seorang gadis yang kepergok membawa lembar-lembarn
kecil di balik roknya, ketika pintu kelas di ketuk pelan oleh seseorang.
Penjaga mendekat lalu membukakan pintu. Tidak ada senyum untuk Gadis yang
terlambat. Walau jelas bibir sudah ditarik keatas dengan deretan gigi berjajar
rapi. Lesung pipi yang dalam, mata yang berbinar resah, dan..
“pagi pak maaf
terlambat, tadi di jalan terkena macet..”. Tetap saja tidak mengobrak-abrik
wajah pengawas itu. Muka asam rangkap dengan sadis, tidak mengindahkan
ketidakdisiplinan. Pengawas masih didepan pintu, menoleh ke arah pengawas yang
selesai memasukkan kaki seorang gadis dalam mulutnya. Anggukan kepala. Pengawas
yang didepan pintu mengerti, akhirnya memberi ijin untuk gadis itu mengikuti
ujian, dengan catatan..
“kamu boleh ikut ujian,
tapi tidak ada ekstra waku untuk mengganti keterlambatanmu!”. Aturan yang
muncrat dari mulutnya. Balasan senyum mengiyakan dari si gadis. Tidak butuh
waktu lama suasana kembali senyap. Sepi, diam.
“kenapa kamu diam
saja!”. Seorang wanita tidak terlalu tua, berteriak sembari berusaha menahan
bola matanya yang hampir copot karena terlalu lama melotot. Mungkin.
“maaf mak, tadi aku
bingung..”.
“bingung?! Memang mikir
apa kamu?! Kamu gak usah mikir! Kerjaanmu cukup ngelap motor, ngelap motor,
lalu dapat duit! Dah gak usah pake mikir segala! Aku gak ngajari kamu mikir!
Sejak kapan kamu bisa mikir?! Heh! Aku tanya sejak kapan kamu bisa mikir!”.
Kuping kecil itu diplintir. Merah. Perih. Sakit. Lalu mewek nangis.
“Eee! Malah nangis!
Diam! Aku nyewa kamu bukan buat nangis! Tapi buat nyari duit! Goblok! Rugi aku
nyewa cah rewel! Rugi! Rugi! Diam!
Ambil kainmu! Kerjaaa!”.
Kaki mungil telanjang
tanpa sandal jepit, kembali merabai pelukkan permukaan jalanan yang meredub
panasnya. Aspal. Tangan mungil, jemari kecil-kecil satu meremas kain dekil,
satunya lagi sesekali mengusir kepik-kepik kecil yang berbaris teratur, keluar
dari sarangnya, kelopak mata. Ada yang selamat jatuh ke pipi merah bocah itu.
Ada juga yang tersapu jemari kecil dan kain dekil. Selembar leaflet terbang dan
menempel di muka bocah itu. Tidak terlalu mengerti dengan torehan tulisan
didalamnya. Yang dia tahu ada gambar mahkota dan terompet, seperti benda yang
dijual Mamad tahun lalu.
Bayangan dedaunan pohon
asem londo, miring melawan jatuhnya keperkasaan matahari. Panas tidak sekejam
tadi siang. Sekarang yang ada hanya hangat secangkir kopi kedua gadis itu. Ini
cangkir kedua untuk mereka berdua. Asbak juga mulai muak dengan bangkai rokok,
muntah kemana-mana. Berserakan kemana-mana. Abu rokok, puntung rokok dan
pikiran kedua gadis itu.
“jujur gua tidak ingin
seperti ini As..”. kata-kata itu melayang begitu saja. Satu-satu persatu masuk
ke lubang kuping Astrid. Rambut panjang tergerai, disibak ke belakang membuka
jalan untuk kata-kata itu.
“mungkin ini terakhir
kalinya gua bekerja seperti ini. Capek!”. Segumpal nafas panjang tersembur
keluar bersama asap rokok. Menyibak keruman abu yang porak-poranda olehnya.
“apa yang sebenarnya
gua butuhin? Uang? Pekerjaan? Cowok? Status? Nggak jelas. Atau mungkin gua
tidak butuh apa-apa? atau mungkin karena gua cantik, tubuh seperti ini,
senyumku yang manis, dan harum parfumku yang mahal, gua butuh tempat untuk
mengekspresikan itu semua?”. Segumpal asap pelan menelusup ke lubang hidung.
Kemudian berdesakan di paru-paru, lalu keluar mencari sendiri saraf-saraf yang
tegang. Untuk bisa kendor sejenak. Sebagian asap itu kebingungan kemudian
memilih keluar melalui mulut dan terbang menghempas wajah Astrid.
“gua sendiri heran
kenapa baru sekarang datang pikiran-pikiran seperti itu, pikiran-pikiran yang
seharusnya tidak gua pikirkan. Pikiran-pikiran yang semakin membuat ku berpikir
apakah otakku terlalu kosong untuk berpikir hal yang seharusnya lebih baik
untuk dipikirkan?”. Tidak ada asap, melainkan cairan kental dengan bijih ampas
hitam merajah indera manis, pahit, lalu manis kemudian hilang dibalik
kerongkongan. Mulut dengan lipstick yang memudar itu terus bergerak dengan
lambat dan terseka-seka. Sedangkan mulut yang lain tetap terkatup, lipstick
sudah ditebalkan lima menit yang lalu. Make sudah dibenahi.
“Baik! Waktu habis!
Kumpulkan pekerjaan kalian! Sekarang dan dengan waktu yang secepat-cepatnya!
Ini sudah sore!”. Selesai untuk si pengawas ujian. Tidak untuk Gadis. Panik,
toleh kanan semua sudah bergegas pulang, kekiri tidak ada lagi kawan. Kedepan
pengawas yang tidak setia kawan. Di akhir cerita seharusnya ada terselip
sedikit kisah bahagia, tapi tidak, tidak untuk cerita Gadis. Yang ada hanya
akhir dari penanya. Tinta tidak keluar lagi. Pengawas berjalan mendekat. Masih tiga soal yang tidak terjawab. Pengawas lain
yang mengemas semua jawaban yang terkumpul untuk segera diboyong keluar kelas.
Dan soal-soal ini seakan menjelma menjadi benang kusut, merajut semrawut.
Memaksa otak Gadis untuk terjun bebas, melebur dalam kalut. Satu soal belum
terjawab. Jawaban warisan teman ke buru di sita pengawas. Soal kedua Gadis
tinggalkan. Soal ketiga, ingin sekali Gadis cincang dengan parang. Mutilasi
soal ujian dan mungkin selepas ini bertambah satu. Persoalan lulus tidaknya
dengan jawaban yang seadanya dan tidak tuntas sampai akhir cerita, turunnya
layar panggung.
“selesai tidak selesai
jawaban kudu di kumpulkan!”. Pengawas menarik lembar jawaban.
“jangan dulu pak, ini
kurang tiga soal lagi”. Gadis bertahan dengan lembar jawaban masih dalam
cengkramannya.
“tidak bisa! Saya harus
pulang! Istri saya menunggu dirumah!”.
“tapi pak! Saya mohon
pak! Saya harus lulus tahun ini!”.
Lorong kampus. Tiang-tiang
penyangga kayu berjajar rapi, berakhir di ujung lorong yang gelap. Tempat
sampah. Sebuah papan pengumuman dan beberapa lembaran pengumuman tertempel
sesak. Derit ensel pintu sebuah kelas karena tersenggol angin. Tempat duduk dan
seorang Gadis dipangkuannya. Sengaja dibiarkan punggung dan kakinya mencari
kenyamannya sendiri. Dan kepala merebah di sandaran bangku itu. Mata mencari
sela-sela langit-langit lorong, berusaha menembus jauh sampai ke
batas-batasnya. Melas. Secarik kertas lusuh dalam genggaman. Bertuliskan ujian
statistika dasar. Satu persatu jari-jari lentik itu berubah menjadi jari-jari
kasar yang melumat kertas. Tak berbentuk. Tempat sampah, kertas tak berbentuk
jatuh di sampingnya.
Waktu tidak perlu
disuruh untuk menghabisi hari. Gadis masih memanjakan semua organ tubuhnya.
Pikirannya masih dibiarkan bebas berkeliaran keluar masuk melalu matanya. Dan
kertas tak berbentuk masih setia bersanding dengan tempat sampah. HP berdering
lagu pop. Telpon masuk, dering khusus. Dan waktu terus menghabisi, meninggalkan
batas terang dan gelap yang merambat menyapu wajah Gadis. Silau, cahaya lampu
datang tiba-tiba dari atas. Menyadarkan semua mahkluk siang untuk kembali ke
sarang dan bicara rencana kudeta terhadap malam dan kekuasan gelapnya. Lengan
putih, jam tangan yang tersembul dari balik lengan jaket. Enam lebih empat
belas menit. Berketepuk langkah kaki terburu-buru menelusuri lorong. Disambut
remang cahaya lampu. Menuju parkiran motor didepan sana, diluar gerbang lorong
kampus dengan kelas-kelasnya berlari berlawanan arah. Ada kebencian kepada
waktu yang bengis membantai hari datang dari sorot mata Gadis. Ada sesuatu yang belum bisa
dia terima dari derap langkahnya yang tergesa-gesa. Adalah persoalan ke empat
jika dia tidak datang menepati janji.
“mungkin gak ya kita
dapat bonus lagi”. Belum cangkir ketiga. Belum juga memesan makanan. Kedua
gadis itu sudah menikmati obrolan mereka, tidak jauh dengan target bonus
penjualan, masa depan_besok, besoknya lagi_kontrak yang diperpanjang, juga
besoknya lagi_bagaimana membelanjakan uang itu, serta tidak ketinggalan
besoknya lagi_produk apa yang akan mengontrak senyum manis mereka. Sampai
sekarang tidak ada pembicaraan untuk kemarin. Tapi setidaknya kedua gadis itu
ingat obrolan tentang janji seorang teman. Yang mengkhiri sore mereka menghabisi
hari bersama waktu, duduk di kafe itu dan kopi expresso.
“yang jelas mungkin
terjadi. Hari ini aku tidak lulus ujian statistika. Terpaksa ngulang semester
depan. Dan yang jelas lagi, bapak yang tadi mulai nakal, lihat sms-nya..”.
Bapak tahu kamu tidak ikut ujian mata
kuliah bapak, dan kemungkinan besar kamu tidak lulus. Harus ngulang tahun
depan. Apa gak bosen.. he3. tapi tenang itu bisa diatur. Cuman ada saratnya..
kapan bisa dinner sama bapak?
“lagian salahmu sendiri kenapa lo kasih no HP lo ke dia, bisa
kan lo kasih no yang lain!”.
“gak bisa lah! lo tahu sendiri tadi dia miskol ke HP
gua!”.
“iya.. ya!”. Astrid diam sejenak.
“Tapi neh! Ada yang janggal menurut gua, kenapa dia tahu
lo mangkal disitu?”
“emang gua kasih tahu!”
“nah loh! Lagian ngapai ngasih tahu dia!”
“koceknya tebel bu! Katanya kalo ketemu kita pas lagi
jualan, dia mo ngeborong! So apa salahnya kita juga memanggil si konsumen buat
datang ke kita!”.
“gak ngerti! Lagian apa cuman dia yang mampu ngeborong tu
dagangan?! Gak juga kan!”
“bener juga sih! Tapi selagi tu pembeli matanya masih
suka nyelonong ke belahan dada gue! Ngapain juga gak di manfaatin! Suka aja
ngerjain lelaki kelamin penganguran! Tinggal di buka sedikit krannya. Ngucru
deh uangnya!”. Kedua gadis itu tertawa.
“gak tahu Mei.. tanpa lo mungkin gua gak bakalan survive
ma yang gituan! Hiii! Horor!”.
“gak lah! Lo pasti bisa! Cuma satu yang harus lo pegang!
Harga diri!”
“setuju Mei!”
“heran! Kenapa gak ada yang melihat pekerjaan kita, lo,
gue dan teman-teman yang selain secara profesional, kenapa selalu kita tuh
dianggap komoditi yang siap di eksport ke area pemuasan nafsu kelamin-kelamin
kesepian?”
“kenapa tanya ke gue?!”
“kenapa juga agen-agen itu menuntut kita harus pake rok
mini lah! pamer dada lah! harum lah! menor lah! Apa gak bisa kita tuh diberi
pengetahuan bagaimana meningkatkan pejualan tanpa jualan senyum genit, tubuh
dan segala yang menganggap kita tuh gak bisa mikir, gak peduli dengan sekitar,
cuek, punya pede lebih yang gak peduli sama lelaki-lelaki berkelamin pengangguran.
Terus seenaknya ngeremehin kita. Apa benar kita tuh sebodoh itu? Apa harus
seperti ini, tubuh ini harus dijual dengan melepas otak kita untuk bisa
berpikir!”.
“mungkin..”. Jawaban astrid singkat. Amarah itu berakhir
dengan sebatang rokok lagi.
Mungkin malam dan kerabatnya_gelap belum puas menyiksa
hari. Kehadiran rembulan di tengah-tengah mereka seakan mengganggu jalannya
misi pembantian hari. Tanpa pikir panjang didatangkan sepasukan awan yang
berarakan dari arah barat. Bulan ditelan selagi binarnya terang benderang.
Hilang. Langitpun menangis selepas matinya bulan. Pohon asem londo. Seekor cleret gombel, melesat pindah ke pohon
asem jawa. Berlari mengejar pasangannya yang lebih dulu mencari teduh dari
guyuran hujan. Tikus got nampak berpesta-pora di rerimbunan pohon krokot.
Katak, mati terlindas motor. Dan bocah duduk bersimpuh. Menantang hujan.
Menggigil. Gigi beradu seperti saling ingin menghancurkan. Kain dekil masih di
dekapnya dalam pelukan. Dan wanita itu. Wanita itu tidak ada lagi. Matanya yang
melotot sudah lelah. Dia tertidur di emperan toko. Tak jauh dari pohon asem
londo.
Hujan kian menunjukkan keangkuhannya. Sombong akan
kekuatannya yang membuat kocar-kacir penghuni bumi. Deru mesin mengeram kuat,
tanda di geber ke batas kecepatan tertentu. Gadis membiarkan tubuhnya dihujam
buliran hujan yang menerjang. Tidak ada ampun bagi penghuni bumi yang tidak mau
mengalah oleh sombongnya hujan, maka diterimanya basah dan linu di sekujur
tubuh. Beberapa kali adrenalin mendidih, sekali waktu sempoyongan hampir
menyerempet motor lain. Sekali lagi hampir menyerempet motor lagi. Hujan tidak
memaklumi itu.
Tidak ada niat dari bocah itu untuk berlari menyusul
empunya. Tidak sedikitpun terlintas di benaknya, Bermalas-malasan sebentar.
Memanjakan tubuh untuk di urut oleh lelah lalu lelap dalam perantauan mencari
mimpi. Tidak ada semua itu. Yang ada bocah itu tetap harus ditempat. Tidak
kemana-mana, karena ada janji dengan seseorang. Dan dia akan datang di sini
dibawah pohon asem londo ini.
“Idiih kemana sich dia?!”. Memei panik. Alunan music
alternatif menghancurkan keheningan. Arogansi budaya pop merusak obrolan kedua
gadis itu, mengingatkan mereka akan sesuatu.
“coba lo telpon dia!?”. Tetap belum sadar akan perusakan
itu. Musik itu semakin menggeber harmonisasi miring, sekali lagi
melululantahkan suasana menjadi kepingan-kepingan jenuh.
“gak diangkat!”
“Mungkin lagi dijalan kali!”. Astrid menerka.
“mungkin..”.
“terus gimana?”. Astrid bertanya.
“ya udah kita berangkat!”
“sekarang?”. Astrid bertanya.
“gak sewindu lagi! Ya sekarang lah! Gimana sih lo!”
“nafsu amir lo! Kayak ini baru pertama kalinya lo lakuin
itu!”. Astrid berujar serius.
“denger ya! Ini emang pertama kalinya buat gue! Dan gue
gak bisa maafin diri gue jika gak gue tepati janji gue ke dia!”
“emang dia sapa lo! Getol amat bela-belainnya! Pake kudu
ke salon lagi! Resevasi tempat! Yang ini yang itu! Lagian ngapain juga
ngelibatin kecengan gue segala sih!”. Astrid sedikit protes.
“Dah! Gini gue udah terlambat lima belas menit gara-gara
nemenin lo nugguin laki lo! Sekarang lo mau ikut pa gak terserah lo! Gue ke
buru-buru! Kasihan dia pasti dah nungguin terlalu lama!”. Memei melangkah
menembus lebatnya hujan. Menuju ke arah modil yang diparkir di seberang jalan.
“Mei tunggui Mei!
Gitu aja ngambek! Lagian jarang-jarang gua ikut acara gituan”. Astrid pun
menyusul tanpa pertanyaan lagi.
Hujan. Sebuah kafe. Gaya seperti biasanya kafe, menjual
kenyamanan dengan beribu tagihan. Sofa melingkar. Segelas kopi, asbak yang
belum muak. Dan lelaki dengan jari yang sibuk menari di tombol-tombol huruf.
Sesekali tertawa terbahak merasa puas dengan teman kecilnya itu. Lalu
marah-marah ketika yang keluar suara seorang wanita yang mengikatnya sebagai
seorang kepala rumah tangga. Kadang juga merayu ketika yang keluar dari teman
kecilnya itu suara seorang gadis. Atau kadang dia juga marah walaupun yang
keluar dari teman kecilnya itu suara seorang gadis yang ingin ditinggalkannya.
Dan berakhir pada minuman. Juga sesekali memegang kelaminnya yang menegang
ketika seorang pelayan cantik merunduk menyedu minum untuk mulutnya yang
beliur. Atau sesekali di pegang ujung puting dadanya sendiri ketika melihat
seorang gadis datang dengan tubuh yang basah kuyup.
“maaf pak saya terlambat..”. gadis itu tidak
memperdulikan celoteh yang keluar dari mata pengunjung lain. Lelaki itu
menelanjangi tubuh gadis dengan tatapan lepas kendali. Gadis menggigil. Separuh
tubuhnya terguyur hujan.
“tidak masalah, dari dulu memang kamu indisipliner, tapi
ya sudah, sini duduk sini dekat bapak, kamu pasti lapar, lihat tubuhmu basah
kuyup, sini biar bapak hangatkan.. gimana ujian tadi?”
Lampu kerlap-kerlip. Kecil-kecil. Bergantian membaurkan
suasana semakin meriah. Balon-balon dipajang dimana-mana. Pita-pita kertas
terbentuk lucu sedemikan rupa. Menambah semaraknya pesta. Ruangan itu dipenuhi
dengan cinta dan kebahagiaan. Musik bertalun ceria menyambut datangnya
anak-anak kecil yang beradu senyum dan tawa. Riuh.
***
Wulan nama bocah itu datang bersama Astrid dan Memei.
Mahkota kecil disematkan untuk ketiganya sebagai penyambutan. Dan terompet
mungil.
“Wulan maafkan kakak. Terlambat menjemputmu. Nah janji
kakak terpenuhi, sekarang kita ada ditempat yang indah, dimana Wulan bisa
bermain, makan , minum, bercanda tertawa, apapun yang belum pernah Wulan
rasakan, sekarang bisa Wulan rasakan, nah sekarang kakak nagih janji Wulan,
ingatkan? Janji Wulan ke kakak. Wulan janji akan memberi sesuatu yang indah
kepada kakak”.
Mata Wulan menatap tajam Memei. Dipandanginya sahabatnya
itu. Sahabat yang terjalin karena keduanya adalah milik yang empunya. Wulan
dengan wanita yang seakan-akan matanya mau copot. Dan memei yang terpaksa
berjualan dengan senyum genitnya. Aturan agen. Dan juga pohon Asem Londo yang
menjadi saksi kecerian mereka berdua ketika empunya mereka sibuk dengan untung
dan rugi. Dan saksi akan ikrar janji saling memberi yang terindah di ulang
tahun Wulan ini.
Memei membalas tatapan Wulan. Kemudian pelan Wulan
mencium kening Memei. Lama seiring riuh tepuk tangan teman-teman permukaan
jalan, trotoar, perempatan dan ridang serta teduh pohon-pohon taman kota. Wulan
memeluk erat tubuh Memei. Memei membalas tak kalah hangat.
“Maaf kak, itu
yang paling indah yang Wulan bisa berikan..sekarang”
“terimakasih, tapi kenapa baru sekarang Wulan berikan,
kenapa tidak dulu-dulu, kakak rela dipeluk seperti ini oleh Wulan, kakak ingin
di kecup hangat oleh Wulan, Wulan sobat kakak yang paling baik..”
“Wulan takut kak..”
“takut kenapa?”
“takut baju Kakak kotor, wajah Kakak kotor, dan parfum Kakak
kotor..”
Memei melepas pelukkannya. Dan menatap sendu.
“kenapa Wulan berkata seperti itu..”
Wulan tertunduk.
“Wulan takut, Kakak gak bisa kerja kalo baju, wajah dan
parfum Kakak kotor oleh Wulan. Kakak kan juga butuh uang”.
Wulan kembali jatuh dalam pelukkan hangat Memei, hujan
dan keceriaan malam ulang tahun ke tujuh Wulan dan Sembilanbelas tahun Memei
hidup serta dua bulan kebersamaan mereka.
“makasih sobat..”
***
Dalam pelukkan seorang bapak. Gadis kembali
membebaskan tubuhnya dalam gumulan kelamin pengangguran. Menatap kosong ke
langit-langit kamar sebuah hotel. Mencoba menembus meraih letupan-letupan
gairah yang berhamburan di udara. Dalam gemuruh deru nafsu. Gadis meraih HP dan
sejenak dia sudah tersambung dengan seseorang.
“Mei met Ultah ya, sori banget aku gak bisa datang, ada
saweran..”. seperti biasa bapak gagal membuktikan keperkasaannya.
“udah pak?”
Jogja,
selepas Desember 2006