Archive for January, 2007

VIVA FRIENDSHIP, persahabatan adalah memberi dan diminta untuk segera memberi

Saturday, January 27th, 2007

“Aku lagi dirumah
, ada acara keluarga, Next time ya Bos!”, gila kata-kata Bos ini emang bikin
sumpek kuping. Gak tahu ngeres aja. Apalagi keluar dari mulut seorang yang
sudah aku anggap teman paling mengerti sedunia.

Sedari sabtu
minggu lalu, Dia sukses menaruh kepalanya. Ada keresahan-kerasahan yang datang
lewat jendela, masuk ke ruang-ruang galau kemudian bunuh diri disana, sehingga
bangkainya sulit di endus anjing kurap. Sebotol air putih, mengguyur
kerongkongannya yang mengering. Peluh mengucur seenak perutnya. Berlarian,
berebut sela-sela kain pembatas pinggang dan kemaluannya. Merembes dan
mengering. Duduk. Berkompromi dengan pikirannya yang berpautan, membentuk
simpul mati. Belum juga datang apa itu
solusi, mungkin di jadwalkan setahun kemudian atau dalam batas-batas waktu yang
tak menentu. Tetap saja membaringkan calon-calon bangkai itu, tidak juga
melepas nyawanya untuk sekedar mencicipi janji-janji para kyai, akan adanya
taman tanpa dosa. Yang terjadi matanya terpejam setelah jauh menitih perkiraan-perkiraan
dan menghitung waktu mundur, akan apa yang ingin dia lakukan, sekarang.

Lima belas menit
akhirnya mati membakar diri. Tidak berreinkarnasi lagi hanya angka enam yang
siap-siap berdiri di ujung guiltin, siap terpenggal menjadi angka tujuh di hari
selepas petang ini. Dan Dia masih belajar menggeliat dalam kepompong sendu air
hujan dan dekapan mesra para malaikat-malaikat pemalas. Pulas, dikatupkannya
lubang kuping. Deru suara HP dari para penikmat wajahnya, tidak digubris. Hari
ini Dia ingin mati sebentar. Bisik angin pada penghaus cinta itu. Deru kian
menggebu. Bukan salah Dia yang lupa akan hidup setelah mimpi , dan janji untuk
di jalani. Penikmat itu masih gagah membawa pesan, kata dan segala umpatan yang
tersumpal dalam mulut-mulut berajah kibul-kibul.

Di lain waktu
setelah saat itu. Seorang lagi adalah si Pingsan yang dihamili keluguannya.
Berpikir, hidup saling memberi dan menerima. Tapi sial si Pingsan sadar setelah
digencet pipih oleh apa yang dinamakan sesuatu yang benar. Si Pingsan hanyalah
seorang pemberi dan diminta. Hari ini si Pingsan jatuh kedalam lubang kesepian
yang teramat dalam. Hanya sisa-sisa jasad-jasad kenangan indah bersama mantan
kekasih, teronggok di ujung hatinya. Segumpal dan beribu-ribu umpatan juragan
muncrat dan mengguyur mukanya, becek, melekat dan sulit untuk dihilangkan.
Tidak sekali si Pingsan memelas untuk bertemu si penerima untuk sekedar bicara
dan saling tertawa untuk sekedar lepas semua. Si Pingsan yakin si penerima adalah teman sepanjang hidup dan
di akhir cerita si penerima lah yang akan menaburkan bunga di pusara si Pingsan.
Namun tidak. Tidak seperti mmpi-mimpi si Pingsan.

Ditatapnya layar
hp dengan bercak huruf bertuliskan si Pingsan. Jarinya menari sebentar. Butuh
waktu tak begitu banyak untuk menjawab. Dia menjawab dengan bahasa
alasan-alasan yang sudah di siapkan untuk sesuatu yang dianggapnya tidak ada untung.

“aku katakan
matilah kamu dengan segala nikmat yang sudah kamu serap dariku, simpel! aku
hanya ingin bicara, aku sumpek, aku sendiri dan aku belum ada teman untuk
mengadu mesranya gelak tawa, dulu aku pikir kamu ikhlas tanpa paksa mengawini
mulut, tubuh, hati dan gobloknya otak ini sebagai sahabat, sebagai teman,
sebagai sebuah bagian, tapi kamu selalu pinta aku ada, saat kepentinganmu harus
selesai, saat kesenanganmu harus di kenyangkan, saat luka mu harus dicampakkan,
saat kebutuhanmu harus disumpal mulutnya, saat hatimu membusuk karena di
khianati, kamu korbankan persahabatan kita untuk membalas dendam sakit hatimu, selama
hampir 7 tahun ini, tidak! Malas sekali aku mengeluh, itu semua kuanggap-inilah
syarat yang harus aku penuhi untuk senyum seorang teman. Sekarang Cuma! Ingin aku dan kamu duduk bersama lagi,
ditaman itu, taman yang biasa kamu sumpahi karena memberikan banyak kenangan
untuk persahabatan kita. Sekali lagi jawaban itu yang kamu beri. Dan kamu ulang
lagi. Tak ingin tahukah dirimu akan aku?” 

“Tubuhku
diganyang luka, aku sekarat tanpa nyawa penuh dalam tubuh, apakah bisa kamu
menitihku, sekali ini saja?”

“sorry ya aku
lagi dirumah, ada acara keluarga, next time ya bos!”.

Dia. Pulas
setelah merelakan si Pingsan mati di keesokkan harinya.

Omong kosong ini tidak
berlaku untuk semua. Ini hanyalah fiktif pengembangan makna akan persahabatanku
dengan seseorang. Ku harap kalian yang baca bisa menghitung lagi apa yang sudah
kalian beri dan kalian terima dari sahabatmu sebelum kamu bicara ikhlas dan
menjunjung tinggi norma-norma persahabatan. Tai kucing!

 

Jogja,Mendekati akhir Januari 2007

Lima Menit

Friday, January 19th, 2007

Kamu
bilang tunggu aku di Stasiun Tugu pukul dua siang. Katamu juga aku harus tepat
waktu, karena transit saja. Aku sudah datang, pukul dua lebih. Iya aku panik
saat itu. Apa kah lepas pertemuan kita?

Senang bukan kepalang, keretamu mogok
sebelum Balapan. Keringat keburu mengucur deras. Aku lupa bawa sapu tangan. Ku
seka dengan lengan baju. Aku tidak ingin kamu melihatku berantakan seperti ini.
Walaupun memang aku sudah pecah belah menjadi bagian-bagian yang sulit di
kremasi. Tapi katamu ada harapan. Aku nurut saja. Aku tidak ada pilihan. Buat
apa memilih selagi diberi harapan, pikirku. Saat itu. Ya apa boleh buat, untuk
harapan itu aku legawa menunggu keretamu lepas Balapan. Saju jam lagi, kalau
perkiraanku benar, kereta mu bakalan muncul dari arah timur. Tapi, sekali lagi
kamu mengabari keretamu mogok lagi di Klaten.

Pukul
dua semakin habis dimakan perjalanan waktu, mendekati reinkarnasi pukul tiga,
sore menjelang petang. Tetap aku tunggu kamu. Katamu terimakasih buat semua.
Dan katamu lagi kalau aku terlalu lama menunggu aku boleh pulang. Ku pikir ,
seenaknya kamu ngomong kayak gitu. Berlagak kasihan, atau Cuma ngetes aku? Jika
aku menunggu kamu, kamu merasa menang? Menang bahwa benar aku terpaut senyum
dan hatimu? Tai segala kucing itu ku-be-nar-kan! Jujur aku rindu kamu. Walau
transit lima menit pun aku jabani demi sebuah harapan yang kamu obral mahal.

Keretamu
datang. Aku mendekati jalur 3. Jalur yang akan membawamu lenyap ke barat. Ada
degup gugup ada juga degup takut dan mampir tanpa permisi degup rindu. Mana
yang aku pilih untuk menghadapi senyummu. Brengsek seharusnya sudah aku pilih
semenjak kemarin dulu.

Gerbong 2, berhenti jauh ke Barat, aku susul dengan
langkah kecil. Ku hitung tidak lebih satu menit. Masih empat menit lebih untuk
menikmati degupan-degupan itu. Wajahmu pun muncul dari balik tepian pintu
gerbong. Maaf aku biarkan kamu celingukan. Sembari melihat jam tanganmu. Matamu
panik berkejaran dengan waktu.

Waktu
berjalan juga, apakah kita berpikir sama. Rindu yang tak habis dalam tiga
menit. Dan sekali lagi resah juga bisa kamu miliki. Aku suka. Andaikan kamu
saat itu ada dibalik waktu sebuah film roman kondang, mungkin akan aku
perlambat kecepatannya. Biar bisa berlama-lama aku menikahi pertemuan ini. Dan
menjawab. Kenapa kamu begitu cantik? Kenapa wajahmu saat bingung mencariku,
begitu aku rindu? Kenapa tawamu saat menemukan aku berdiri menghadap ke barat,
begitu sangat ku miliki? Tercenung menatapmu.

Kamu
melangkah menghampiri. Kamu jabat erat tanganku. Alasan waktu yang begitu lama
membuka percakapan kecil. Kamu tanyakan kabarku. Kamu tanyakan hidupku,
aktivitasku, dan segala pertanyaan lazimnya kawan bersua kawan lama. Tidak aku
tidak butuh itu. Ku biarkan mulutku menjawab. Ku tunggu saat kamu diam. Dan
mempersilahkan hatiku yang bertanya. Ingin ku ingatkan basa-basi ini
membuang-buang waktu.

Kenapa
tidak kamu kecup saja pipiku? Kenapa tidak kamu beberkan kerinduanmu, aku dan
nasib hati ini? Kenapa ucapan salam dari dia yang mengakhir basa-basimu?

".. kita masih temenan kan? Maaf telah menyakitimu"

Entah
datang dari mana lokomotif keparat itu. Menerjangku sampai aku terpental ke
bagian-bagian yang tidak nyaman. Remuk redam.

“maaf
aku mengenalmu melalui senyum yang kamu tawarkan, dan cinta adalah jabatan
tangan yang ku tawarkan, jadi bagaimana aku bisa menganggapmu teman, jika masih
ada senyum-senyum itu, jangan memberiku dongeng jika memang kamu memilih
tidur”.

Waktu
habis. Ku jabat tanganmu lagi. Sekarang ku kantongi dulu tawaranmu. Ku janjikan suatu saat ada waktu lima menit lagi  dan saat itu aku benar-benar temanmu.

 

Jogja, Februari pertengahan waktu tertipu
2005

Es Krim

Thursday, January 18th, 2007

Ku ingat umurku saat itu baru menginjak 10
tahun. Tepatnya kelas 4 SD. Di sebuah sekolahan yayasan kristen di kotaku. Aku
tidak terlalu menggubris alasan mengapa Ibu bersikeras untuk menyekolahkanku di
sekolahan itu. Baru ku tahu sekarang, alasan kualitas pendidikan dan jarak
antara rumah dan sekolah yang tidak terlalu jauh, menggiringku ke sekolah yang
memang sebagian besar muridnya memperoleh uang saku 1500 perhari dari orangtua
mereka. Hanya untuk jajan, pulang di jemput. Seribu limaratus nilai yang sangat
lumayan untuk sekedar foya-foya di tahun 1996. Anak SD lagi dengan uang segitu
bisa untuk beli apapun. Apapun sampai makanan yang saat itu ku anggap sebagai
makanan paling memawah setelah arem-arem, es krim. Ya es krim. Bagiku makanan
itu merupakan makanan yang layak dihidangkan atau dibeli pada saat-saat
tertentu. Ulang tahun, kenaikan kelas, atau sodara jauh datang dan menawarkan
foya-foya bukan ala kadarnya. Bukan ketika istirahat sekolah berlari ke toko
seberang jalan, membuka almari tidur yang terasa dingin saat di buka tutupnya.
Lalu mengambil makanan yang dikemas gelas plastik kecil dengan sendok kayu
mirip dayung menempel di salah satu sisinya. Yaitu ice krim. Entah rasa apa
yang disukai pasti tersedia dalam lemari tidur itu.

Banyak kawan-kawanku memilih warna merah
jambu, kata mereka rasanya lebih lezat ketimbang yang berwarna coklat, pahit
kalo udah kandas, itu pendapat mereka. Sempat satu lamunan jalan-jalan di
otakku, apa benar makan es krim itu kayak makan emping, pahit kalo berhenti.
Wah berarti harus terus disambung makan es krimnya, biar nggak pahit. Nah kalo
begitu harus buka lemari tidur itu lagi, mengambil satu lagi, kemudian menjilat
tutup tipisnya, lalu ngemut sendok kayu yang mirip dayung sampan itu. Dan
seterusnya sampai di jewer kupingnya sama mama, dengan alasan bikin batuk. Tapi
untungnya itu bukan aku. Tapi aku sudah menikmati kepahitan itu. Uang saku,
buat membayar sendoknya saja nggak cukup apalagi membuka tutupnya yang tipis
dengan sisa-sisa rasa yang menempel di bagian lainnya. Jadi belum makan emping
atau menjilat lembutnya es krim rasa coklat, lidah ku sudah pahit menelan ludah
melihat kawan-kawan yang ngemut sendok kayu itu. Pemandangan itu begitu luar biasa!
Terakhir, mungkin karena kasihan kawanku berbaik hati menceritakan rasanya
kepadaku. Dia bilang,

“enak lho… kata mama ku ini rasa
setupberi!”

Dan begitulah, selain mengingat teguran
guru yang protes atas kelakuanku, tidur saat jam pelajaran matematika. Rasa “setupberi
yang” diceritakan oleh kawanku, tidak ku anak tirikan dalam ingatan. Walaupun
aku sendiri bingung bagaimana harus mengingat sebuah rasa. Bukankah rasa itu
bisa diingat setelah kita merasakan?

Sampai dirumah pukul 10 pagi lebih banyak
dari biasanya. Hampir mendekati jam duabelas siang. Ibu belum pulang kantor,
kakakku sibuk menonton TV. Dan nenek entah lagi sibuk apa yang pasti seragam
sekolahku hari kemarin sudah tidak ada lagi di ember. Ku lempar tas ku. Buk!
Jatuh ke muka kakakku. Dia marah. Aku lari keluar rumah, niatku mencari
keberadaan nenek. Mudah ditebak, nenek ada di komplek jemuran milik kampungku.
Dan seragamku terjemur disana. Basah. Jangan salah walau umurnya mendekati 63
tahun, nenek masih perkasa memilintir seragam sekolahku sebelum mampir di
jemuran.

Panik. Nenek tenggelam dalam kesibukkannya
memilitiri jemuran. Masih panik. Ku tarik seragamku dari jemuran. Ku rogohi
saku-sakunya. Celana juga tidak luput dari amukan tanganku. Tidak ada. Benda
itu tidak ada. Seragam sekolah ku kembalikan ke jemuran. Nenek mencak-mencak.
Seragam itu sekarang blepotan. Kupingku menjadi sasaran perkasanya tangan nenek
yang renta. Terpaksa ku jelaskan maksud dan tujuanku menggeledah seragamku
sendiri. Kalau tidak begitu kuping ini mungkin sudah ikut dijemur oleh nenek
setelah dipelintir sedemikian rupa sehingga menjadi begitu panasnya.

“sudah aku buang di tong sampah!”

Ku tinggalkan nenek dengan kesewotannya.
Tong sampah, sekarang menjadi tujuanku. Dapat. Tong sampah itu berdiri
menghadap kiblat. Kenapa bisa karena stiker gambar presiden yang dulu ku tempel
di salah entah sisinya masih menempel dengan beberapa bocel di tepi-tepinya.
Dan wajah itu menghadap ke arah kiblat. Tapi tak begitu lama wajah itu sudah
jatuh bergelimpangan setelah aku keluarkan isi perutnya. Ku kais dengan kaki.
Ke kanan lalu kekiri. Sampah berserakan. Kakak keluar rumah setelah berteriak.

“kucing sialan!”

Tapi setelah dugaannya salah, sapu lidi
diangkatnya tinggi-tinggi. Aku yakin jika aku tidak segera bergegas pergi,
pantat ini bakalan jadi pelataran kotor yang harus dibersihkan. Lari ke pinggir
kali. Tidak ada, benda itu tidak ada. Bagaimana aku bilang ke Ibu? Terus terang
waktu itu aku susah mengingat nama barang. Jika aku inginkan sesuatu aku harus
membawa samplenya. Entah itu cuilan, patahan, serpihan, reruntuhan, ataupun potongan
dari benda, makanan, barang atau mahkluk hidup yang aku ingin. Jadi Ibu bisa
melakukan analisa dasar mengenai apa yang aku ingin, seperti apa nama benda
itu, bagaimana membeli makanan itu, harganya bisakah diutang dulu atau dikontan
dua minggu kemudian, bikin aku batuk atau tidak, berguna untuk ke depannya,
alias tidak memiliki nilai penyusutan, lupa belajar_males, dan seabrek-abrek
lainnya. Intinya merugikan buat aku khususnya atau tidak dan perekonomian
keluarga pada umumnya. Maklum bapak waktu itu Cuma bisa menjilid buku, itu saja
jika ada pesenan. Kalau nggak ada pesanan, bapak sibuk dengan burung
merpatinya. Jadi Ibu sepenuhnya sebagai penanggungjawab perekonomian keluarga.
Golongan 2a.

Duduk ditepian sungai dibawah pohon dadab.
Airnya riuh keruh menghantar lajur jalur kapal selam milik manusia. Kaleng
susu, plastik mirota kampus, kulit telur, dan kain kantung terigu, ikut renang
gaya mengambang, setelah bangkai kucing lalu..

Byurr! Kawan kampung nyebur. Lalu ikut hanyut sampai ke bawah jembatan. Tergoda
percikan air, ku celupkan kaki ku sambil berayun sampan. Dingin juga.

Benda itu belum juga aku temukan.
Jelas-jelas aku ingat terakhir kali aku masukkan ke dalam saku baju seragam
sekolah. Tapi kenapa hilang. Tong sampah berstiker wajah presiden yang terbang
ke arahku tadi pun tidak juga membantuku menemukan benda itu. Lalu kemana? Ku
angkat kakiku dari dalam air, kapal selam segede pare mau lewat. Bagaimana aku
minta ke Ibu? Ku celupkan lagi kaki dan berayun sampan seperti sediakala.
Sedangkan hari itu akan datang, tinggal dua hari lagi. Bicara sendiri, di
tepian sungai, dan kaki yang naik turun memberi jalan, kapal-kapal selam baru.

“rasa setupberi!”.

Aku melangkah pergi. Kawanku kubiarkan
sibuk ngemut sendok kayu itu. Terlalu lama di depannya, bisa bikin aku sadar
bahwa es krim takkan pernah menjadi makanan favoritku. Sedangkan aku tidak
yakin itu. Es krim kelak menjadi makanan favoritku. Arem-arem itu harganya dua
ratus perak. Uangku habis. Tapi perut ku kenyang. Bel berbunyi. Capek juga
setelah main gobaksodor dengan kawan-kawan. Walau harus berakhir sepatuku di
basah di buang kawan yang kalah. Tapi seru juga. Melihatnya ngambek, kalah oleh
si perut gendut, aku. Kelas. Guru datang. Sebentar nerocos masalah norma dan
kebaikkan. Matematika pun datang. Ku persiapkan tempat untuk ku jelang kantuk.
Tidak lupa seperti biasa pulang sekolah, kantor kepala sekolah harus aku jenguk
sebentar. Untuk sekedar duduk barang satu jam, mengerjakan soal-soal
matematika. Tapi lumayan ada secangkir teh dan kue-kue. Kue dan teh habis.
Matematika semakin banyak. Jadi bukan satu jam, tapi satu jam lebih banyak, aku
bersahabat dengan matematika. Selesai mendengarkan ceramah guru matematika,
akhirnya aku diperbolehkan pulang. Tentu saja bekal PR dan seabrek ancaman ikut
bersama muka murung dan lesunya tubuhku.

Sekolahan sepi. Ku lihat pintu kelasku
masih terbuka. Tergoda. Ternyata tidak sepi. Ada kawan yang terduduk lesu di
pojokkan ruangan. Matanya bengap seperti habis menangis. Ku dekati. tapi kurang
lebih jarak lima langkah dari tempat kawanku duduk. Aku mencium bau yang ku
kenali. Ku kenali saat aku dikamar mandi. Tentu saja saat-saat melepas
kapal-kapal selamku. Hidung ku gencet. Dan melangkah mendekatinya. Mejanya
berserakan. Belum diberesi buku-bukunya. Kawanku pasrah. Mungkin dikiranya aku
akan mengeluarkan empatratuslimapuluhenam kata-kata umpatan terbaik. Karena
kawan ku sadar posisinya saat ini adalah sebagai seseorang yang layak
mendapatkan penghinaan yang berupa-rupa sadisnya. Bisa aku bayangkan bagaimana
jika kawanku itu bocor saat jam pelajaran. Bakalan bengkak kelasku karena
menahan bau dan tawa serta dosa mulut-mulut kawanku yang lain. Untunglah kelas
masih memberikan kesempatan pasrah hanya padaku. Tidak di depan kawan-kawan
satu kelas. Tidak kebayang. Aku duduk berseberangan dengan tempat duduknya.

Kawanku tersenyum. Setidaknya dia bisa
pulang. Pakai celanaku. Dan aku pakai celana yang dititipkan Ibu ke Mbok
pemilik kantin. Begini. Sebelumnya tidak ada celana yang dititipkan oleh Ibu ke
Mbok pemilik kantin sekolah. Namun setelah kejadian memalukan itu, Ibu berpikir
akan lebih baik jika aku tidak pulang sekolah sebelum waktunya karena celana
yang sobek dari ujung bawah resliting sampai ke belakang jauh. Karena celana
yang kekecilan dan kesukaanku main gobaksodor. Dan itu terjadi lebih dari dua
kali. Pernah ku paksakan untuk tetap bertahan di sekolah, tapi sama saja. Aku
memilih berdiam diri di dalam kelas, dan menolak keras mengerjakan soal di
depan kelas. Tapi pernah satu kali guru matematika berniat baik memberiku
pelajaran yang berharga. Mulut salah satu kawan ada yang bocor, berteriak di
dalam kelas diiringi tawa yang lepas.

“pak celana aji sobek lagi!
HAHAHAHAHAHA!”.

Kontan seisi kelas ikut-ikutan.

“HAHAHAHAHAHAHA!”

Dan guru matematika. Dengan niatnya yang
tulus, membantu kawan-kawan untuk lebih.

“HAHAHAHAHAHA!!!”

Dengan menyuruhku maju mengerjakan soal
terakhir. Celana sobek. Bagian belakang terpaksa aku pegang. Dan bagian depan
aku biarkan. Celana dalam masih bisa menyelematkanku. Tapi tidak untuk malu ini.

Setelah kejadian itu. Ibu putuskan tidak protes ke pihak sekolahan atas
penurunan harga diri anak dibawah umur yang dilakukan secara seolah-olah tidak
tahu keadaan anak saat itu oleh guru matematika. Hanya saja pernah sekali ibu
bilang kepada guru matematika.

“bapak memang nggak punya anak kecil, tapi
suatu saat bapak akan menjadi kakek, apa bisa bapak tahan melihat anak bapak
setelah tahu cucu bapak dipermalukan di depan kawan-kawannya sendiri”

Ibu pergi dengan anggun. Ya itu sejarah
singkat keberadaan celana cadangan. Dan sekarang celana itu dibawa pulang
kawan. Untung tidak ada acara celana sobek.

Berdiri didepan toko. Ada kawan, tidak aku
kenal berlari mendekati Ibunya yang sedang menebalkan wajah dengan bedak. Di
tangannya segelas plastik kecil warna merah jambu. Sendok sudah dilepas dan
digenggam ditangan yang lain. Masuk ke dalam mobil lalu pergi. Tidak lama ada
seorang Ibu-ibu dari kawan yang tidak aku kenal baik Ibu itu atau kawan kecil
yang sedang sibuk mengais lemari tidur itu. Gelas plastik kecil warna merah
jambu lagi. Mereka pergi. Lalu ada seorang kawan kecil, merengek nangis bengis.
Tidak ada gelas plastik kecil berwarna merah jambu ditangannya. Sempat si kawan
meronta, tapi si Ibu membentak. Merengek lagi, kemudian dibentak lagi. Nangis,
lalu mereka pergi. Kemudian datang seorang pengemis, meminta seberapa, lalu
pergi. Dan aku melangkah pergi. Duduk bersebelahan tukang becak yang pulas
tertidur. Mukanya disembunyikan di balik caping reotnya. Hanya dengkur lapar
yang keluar dari sela lobang.

 Tukang becak ini bapak salah satu kawan
kampung. Biasa mangkal dekat toko berlemari tidur itu. Tidak biasanya si bapak
tidur. Seharusnya si bapak mengayuh becaknya menghantar pulang kawan-kawan
sekolah. Tapi kayaknya kawan-kawan sudah dijemput bapak-bapak tukang becak yang
tidak bercaping. Yang tidak harus mengayuh. Tangan dan kakinya tidak
berotot-otot tebal. Cukup membukakan pintu belakang, supaya kawan sekolahku
bisa masuk ke dalamnya dan pergi tanpa rambutnya yang memerah terbakar sinar
matahari. Si Bapak tukang becak kadang juga mengayuh becak, kalau kawan ku
tidak dijemput. Tapi tidak sesering dulu saat aku kelas 1. tapi yang bikin aku
heran. Kawan ku anak bapak tukang becak ini, jarang lebih bodoh dari aku. Dia
selalu unggul, jarang rangkingnya di bawah rangkingku. Buku selalu dibekali
dari sekolah, tidak harus beli.

Memang beda sekolah. Dan sekolah kawan ku
ini jarang juga kawan-kawannya membeli gelas plastik warna jambu merah. Di toko
yang benar-benar lebih dekat jaraknya dibanding dengan sekolahku. Mungkin nasib
keuangan mereka sama seperti aku.

“Weh! Le!
Sudah lama duduk disini?”

Sampun
pak!”

“Kok murung le? Ada apa gerangan?”

“tidak ada apa-apa pak..”

“Iya kamu di tungguin thole, katanya kalian janjian mau pergi mancing?”

“Iya pak, bentar lagi saya pulang..”

“?”

“…”

“ya sudah sana buruan, keburu hujan!”

“Iya pak..”

Aku melangkah pergi.

Le
percaya saja, jika kamu ingin sesuatu yang baik, pasti kamu dapatkan, sabar
saja ya..”

Aku menoleh. Menganggukkan kepala.

Rumah. Ternyata ibu sudah pulang. Tumben
biasanya jam 2 siang ibu baru ada dirumah. Ada apa gerangan? Pulangku disambut
Ibu didepan pintu. Wajah Ibu tidak sesegar biasanya. Kusem. Cemberut. Dan
mungkin sebentar lagi marah. Ku hampiri. Kepala ku tundukkan, siap-siap
menerima omelan. Memang waktu disekolah sempat aku bikin olah dengan guru
matematika. Aku dimarahi karena buku ku baru, lupa membawa buku yang lama
padahal didalamnya ada PR yang harus aku kerjakan. Itu alasan mengapa aku lebih
lama di Kantor kepala sekolah. Selain tidur seperti biasa, di jam pelajaran
matematika. dan mungkin juga guru matematika bosan menegurku, lalu lapor ke
Ibu. Saat itu aku hanya bisa diam, melihat raut wajah Ibu yang nampak begitu
sangar. Ku siapkan kupingku untuk menerima jeweran, plintiran dan omelan. Kepala
tetap tertunduk. Pandangan jatuh ke lantai bersama perasaanku yang mulai
menciut. Ku ingat pesan-pesan Ibu untuk tidak macam-macam dengan pendidikan.
Sekolah adalah yang paling utama. Tidak ada pilihan lain untuk anak seumurku.
Prestasi kelas atau sekolah buat Ibuku bukan yang utama. Yang paling utama
adalah bagaimana aku menelaah sendiri apa itu pendidikan, apa itu prestasi.
Prestasi tidak harus rangking satu melulu. Di anak emaskan Guru. Rapot jarang
ada nilai merahnya. Jarang bermasalah di sekolah. Atau seonggok yang lain. Ibu
berpikir anak harus belajar dari kesalahan, kesalahan juga guru pendidik untuk
tidak diperbudak kemanjaan. Tanpa melakukan kesalahan, maka sampai kapanpun dia
akan takut untuk mengakui kesalahan, dan melepas tanggungjawab. Sekolahan
hanyalah formalitas sebagai salah satu jaminan masa depan. Prestasi yang
sebenarnya adalah bagaimana pendidikan itu bisa memberikan arti buat aku atau
orang-orang disekitarku. Membuatku bahagia, dan siap untuk bekal menantang
dunia. Setidaknya itu yang aku telaah sampai sekarang. Namun saat itu, saat Ibu
dan raut wajahnya itu, dan kesalahan ku di sekolah, itu yang bisa aku telaah.
Sebentar lagi kuping ini akan memerah. Pedas oleh plintiran dan omelan. Tapi
tidak.

Ibu membelai rambutku. Beliau berlutut di
depanku. Hingga sejajar dengan tinggi tubuhku. Di belainya kembali rambutku.
Aku masih tertunduk, takut. Heran. Dan apa gerangan ini. Belum selesai ku
kumpulkan keherananku. Tubuhku sudah berada dalam dekapan Ibu.

“selamat ulang tahun le..”

Ku balas pelukan Ibu. Di kecupnya
keningku. Hangat. Lalu Ibu berdiri mengambil sebuah bungkusan.

“ini buat kamu le..”

Tidak bisa aku utarakan perasaan saat itu.
Yang ada hanya heran, bahagia, dan masih sedikit ketakutan, tapi entah
ketakutan apa itu. Semua bercampur, menjadi gado-gado. Bergegas ku buka
bungkusan itu. Benda itu? Kenapa ada pada Ibu? Dalam bungkusan ini? Kado ku
ini? Ulang tahunku dihadiahi benda itu, tutup es krim yang tipis, rasa
setupberi.

“Ibu temukan itu di saku bajumu, ibu tahu
kamu pingin Es krim itu le..”.

Kemudian Ibu memberikan plastik hitam.

“Ini buat kamu, le..”

Ku melongok ke plastik hitam itu. Aku
tersenyum senang.

“Ini buat aku Bu?!”

Ibu menganggukkan kepala.

Ku keluarkan isi kantong plastik hitam
itu. Dua gelas plastik warna merah jambu, mirip gelas plastk yang biasa
dipamerkan kawan-kawanku di sekolah. Sekarang hari itu saat itu. Di hari ulang
tahun ku, aku punya.

“Es krim rasa setupberi!”

“strawberry le..”

Sekali lagi ku cium Ibu.

Yah aku ingat saat itu. Pertama kali aku
makan es krim rasa strawberry. Ibu selalu mengerti aku. Aku bukan anak
kesayangannya tapi kasih sayang selalu ada untuk aku. Aku sadar itu hanya
sebagian kecil perhatian serta kasih sayang yang Ibu berikan ke aku. Tapi dari
yang kecil itulah, memberi ku pelajaran emas. Dan es krim rasa strawberry bukan
makanan favoritku, sampai sekarang.

Jogja, Januari
menjelang malam 1 Suro 2007

Janji Bulan Mei

Wednesday, January 10th, 2007

                             Janji
        Bocah kecil duduk termenung di perempatan jalan. Nglemprak di trotoar berpayungkan dedaunan pohon asem londo.
Sesekali matanya liar menyapu motor dan mobil yang terhenti lampu merah. Atau
mengusap debu yang melekat di keningnya bercampur keringat. Kulitnya begitu
hitam terbakar matahari. Kotor, dekil melapisi seluruh kulitnya. Mungkin sudah
beberapa hari tubuh itu tidak merasakan segarnya air bersih. Atau minggu atau
bulan. Entah yang pasti bocah itu hampir seminggu ini masih hidup, masih bertahan
hidup dan mungkin sedang memperjuangkan hidupnya. Entah.

Parasnya cantik. Bedak,
eyeshadow, lipstick, dan segala perabot topeng yang melekat diwajahnya,
tentulah tidak harga eceran atau grosiran di toko kelontong murahan. Pastilah harga
promosi dari brand cosmetic terkenal. Tidak mudah luntur oleh keringat. Tahan
lama, nambah percaya diri dan tentu saja meyulap paras pas-pasan menjadi
lumayan. Mungkin. Yang jelas gadis berparas cantik itu berdiri dengan membawa
sekotak penuh rokok merk tertentu. Harga rokok tidak terlalu mahal, mahal
mungkin bagi yang merasa mahal, tidak mahal bagi yang merasa demikian. Yang
pasti rokok itu, kata orang sesuai dengan citarasa orang Indonesia. Tapi dengan
brand luar negeri, tentunya.

“maaf bapak, boleh tahu
rokok bapak apa?”. gadis itu meruntun kata menjual dengan pesona senyum yang
manis. Manis bagi yang merasa manis dan menggoda bagi yang merasa tergoda.

Seorang lelaki
berhenti. Berpikir sejenak. Muka dipasang menimbang-nimbang. Jemari kekar
mengelus jenggot rapi di dagunya. Cincin emas bermata batu melingkar di jari
manisnya. Berlagak sodagar dari negeri jiran, ingin memborong seluruh dagangan.

Lalu lelaki itu pun
menutur kata balasan, “rokok saya ini mbak, memang kenapa dengan rokok saya ini
mbak?”.

“gini kita mau
menawarkan kepada bapak, rasa istimewa dari rokok kita, rasa baru dengan saos
nikmat, low tar dan nikotin, aromanya istimewa karena dari cengkeh dan tembako
pilihan, tentu saja rasa sesuai dengan citarasa lokal, tertarik pak, nah begini
pak, sisa rokok yang bapak punya akan kita tukar dengan satu bungkus rokok
kita, juga jika bapak membeli satu bungkus lagi maka saya akan memberi
bonus..”. kata itu terhenti, oleh senyum lelaki itu.

“saya beli dua, rokok
ini tidak saya tukar dengan rokokmu, sedangkan bonusnya..”. kata itu terhenti
oleh gadis lain yang datang mendekat, lalu berbisik.

“bonus kita bagi ya..”.
satu senyum melayang ke arah lelaki itu.

“saya ambil dua bungkus
juga dari kamu, berarti bonus untuk saya berlipat..”. lelaki itu kembali
tersenyum. Kedua gadis membalas dengan senyum pula, manis.

“terimakasih pak, telah
mau membeli rokok merk ini, kami jamin bapak bakalan suka dengan aroma dan
rasanya, karena bapak membeli empat bungkus maka bapak berhak mendapatkan bonus
dari kami, bonus itu..”

“bonus itu untuk
kalian..”.

Lelaki itu melangkah
pergi dengan empat bungkus rokok, lalu mengeluarkan sebatang rokok dari bungkus
yang tidak dia tukarkan. Puss!

Telapak kecil
berjingkat-jingkat oleh panasnya permukaan jalan. Aspal. Berpindah-pindah di
sela-sela roda depan motor yang terhenti lampu merah. Kain hitam dekil di
sapukannya ke slebor motor seorang gadis. Helm besar membungkus kepalanya, kain
hitam menutup mulut serta hidungnya. Kaca mata hitam untuk menyeka sinar
matahari yang menyilaukan. Diam diatas motor menunggu datangnya lampu hijau.
Slebor itu tidak juga bersih, bahkan semakin kotor oleh kain dekil si bocah. Si
gadis diam menunggu datangnya lampu hijau, diatas motornya. Dengan sedikit
tenaga si bocah mencoba mengelap kotoran yang dibuat oleh kain dekilnya. Tidak
juga bersih.

Kain itu basah oleh air
kecingnya sendiri, tadi sewaktu ngompol di trotoar. Sekarang slebor itu pesing,
bekas air kencing yang terserap oleh kain dekilnya. Si gadis tetap diam
menunggu lampu hijau, diatas motornya. Sekarang kaki kanan diangkat, jari-jari
mungilnya terkait di betis kaki sebelah kirinya. Permukaan jalan panas. Aspal.
Gantian kaki kirinya yang diangkat. Sama. Permukaan jalan semakin panas. Aspal.
Keringat sebesar kepik menetes dari jidat. Berlari berguling-guling jatuh di
kerah baju. Merembes. Kemudian datang lagi kepik-kepik yang lain yang juga
berlari berguling-guling, jatuh ke tempat yang mereka sukai. Celana. Baju
bagian belakang. Dan kain yang terjepit oleh selangkangan. Namun ada juga yang
ikut terhembus angin dan debu, setelah rela jatuh di permukaan jalan yang
panas. Aspal.

 Menyerah, bocah itu menyerah. Kotoran tidak
juga hilang, bahkan semakin melebar kemana-mana. Debu hamburan dari truk sampah
yang melaju cepat, ikut memperindah kotoran itu. Bocah itu menyerah. Mungkin
ini yang terbaik baginya, melangkah pergi dengan menundukkan kepala, rasa
penyesalan. Atau menengadah memasang muka melas untuk mendapatkan cepek atau
dua cepek. Kain dekil tetap bergerak kekanan, ke atas, ke kiri, menyamping dan
kadang berputar,lebih banyak berputar, mengikuti ritme tangan mungil si bocah.
Masih belum di putuskan, melangkah pergi atau memasang muka melas. Gerakkan
kain mulai mengendur. Yang cepat adalah gerakan otak yang berputar mencari
jawaban atas pilihan yang dibuat sendiri. Belum diputuskan. Lampu hijau
menyala. Motor lain bergerak pelan dengan deru klakson yang tidak ketulungan.
Panas, bising, tergesa-gesa, panas, bising, terburu-buru, panas, bising dan
tidak peduli. Jawaban belum di temukan, tapi kenapa semua sudah berhamburan,
bagaimana dengan aku. Seseorang menungguku disudut yang tidak jelas. Nunggu
setoranku. Dan dia janji memberi jatah makanku. Sekarang semua pergi.

Lampu hijau. Dan semua
pergi. Kotoran itu. Jawaban itu. Cepek dua cepek itu. Semua pergi. Dan dari
arah yang sama datang segerombolan bising lagi. Dengan deru yang berkoar dari
moncong knalpot. Membawa bungkusan-bungkusan berisi kepala, dengan penutup mata
dan kain yang membekap mulut dan hidungnya. Serta kaca-kaca yang ajaib dari
seonggok besi berpoles mengkilat, bisa turun sendiri, lima senti cukup untuk
jemari-jemari ladang cepek dua cepek. Dan permukaan jalan tetap panas. Aspal.

Bocah itu berlari ke
tempatnya semula. Dibawah pohon asem londo, trotar, dan bekas kencing. Kain
dekil. Kotoran yang melekat.. bocah itu terduduk lemas. Hanya bisa bergumam,
protes dalam hati. Mikir bagaimana nanti. Hari ini, makan untuk perut ini.
Melihat takut ke arah seseorang yang juga memegang janji bocah itu untuk
setoran lima ribu rupiah, siang ini. Tapi lima ribu menguap. Tidak ada lima
ribu yang ada mata melotot, seakan ingin dilepas begitu saja bola mata itu, seperti
duit yang pergi juga begitu saja.

Sore. Delapan jam lebih
sedikit lepas dari jam sembilan pagi. Kedua gadis. Cantik. Make up sisa tadi
pagi. Secangkir kopi sebagai teman kegelisahan. Mereka berdua gelisah. Mungkin kegelisahan
itu yang memberi keputusan kepada mereka untuk menikmati secangkir kopi
disebuah kafe tak jauh dari tempat mereka menjajakan rokok dengan bonus-bonus
itu. Tidak ada obrolan atau sekedar celoteh canda seperti biasanya. Kali ini
hanya mulut bergincu, terkatup rapat, sesekali menganga kecil untuk sehirup
kopi expresso. Diam.

Tidak jauh beda dengan
senyapnya sebuah ruang kelas, sekarang ada ujian. Gadis-gadis berjajar rapi
duduk dalam kegelisahan. Lelaki-lelaki merusak suasana dengan bertingkah
membabibuta, merasa mata pengawas tidak si cekatan mata elang brontok. Mengusik
teman untuk satu atau dua jawaban. Satu dua tepuk bahkan empat harus rela kartu
ujian disita. Sambil mencoba melepas bola matanya. Pengawas serta merta
memberikan kewenangan sepenuhnya kepada mahasiswa itu untuk berbesar hati
mengulang di tahun yang akan datang. Merengek, berbalas pantun sebagai seorang
perjaka patah arang, yang menghamba kepada seekor macan untuk memuntahkan
kembali calon istrinya dari perut si macan. Tontonan yang biasa untuk mata
kuliah ini. Dengar-dengar pengawas di bayar mahal untuk pekerjaan pembunuhan
karakter itu. Khusus untuk gadis-gadisnya apalagi. Kebanyakan mereka memang
mahasiswa yang mengulang mata kuliah itu. Dosennya baik hati. Jarang ke kampus.
Tugas tak melimpah. Kuis sedang diusahakan. Dan mata kuliah yang cukup
menggairahkan. Menggairahkan bagi yang merasa bergairah. Tapi bisa juga
bergairah untuk meninggalkan mata kuliah itu. Statistika. Seorang pengawas
sedang menelan hidup-hidup seorang gadis yang kepergok membawa lembar-lembarn
kecil di balik roknya, ketika pintu kelas di ketuk pelan oleh seseorang.
Penjaga mendekat lalu membukakan pintu. Tidak ada senyum untuk Gadis yang
terlambat. Walau jelas bibir sudah ditarik keatas dengan deretan gigi berjajar
rapi. Lesung pipi yang dalam, mata yang berbinar resah, dan..

“pagi pak maaf
terlambat, tadi di jalan terkena macet..”. Tetap saja tidak mengobrak-abrik
wajah pengawas itu. Muka asam rangkap dengan sadis, tidak mengindahkan
ketidakdisiplinan. Pengawas masih didepan pintu, menoleh ke arah pengawas yang
selesai memasukkan kaki seorang gadis dalam mulutnya. Anggukan kepala. Pengawas
yang didepan pintu mengerti, akhirnya memberi ijin untuk gadis itu mengikuti
ujian, dengan catatan..

“kamu boleh ikut ujian,
tapi tidak ada ekstra waku untuk mengganti keterlambatanmu!”. Aturan yang
muncrat dari mulutnya. Balasan senyum mengiyakan dari si gadis. Tidak butuh
waktu lama suasana kembali senyap. Sepi, diam.

“kenapa kamu diam
saja!”. Seorang wanita tidak terlalu tua, berteriak sembari berusaha menahan
bola matanya yang hampir copot karena terlalu lama melotot. Mungkin.

“maaf mak, tadi aku
bingung..”.

“bingung?! Memang mikir
apa kamu?! Kamu gak usah mikir! Kerjaanmu cukup ngelap motor, ngelap motor,
lalu dapat duit! Dah gak usah pake mikir segala! Aku gak ngajari kamu mikir!
Sejak kapan kamu bisa mikir?! Heh! Aku tanya sejak kapan kamu bisa mikir!”.
Kuping kecil itu diplintir. Merah. Perih. Sakit. Lalu mewek nangis.

“Eee! Malah nangis!
Diam! Aku nyewa kamu bukan buat nangis! Tapi buat nyari duit! Goblok! Rugi aku
nyewa cah rewel! Rugi! Rugi! Diam!
Ambil kainmu! Kerjaaa!”.

Kaki mungil telanjang
tanpa sandal jepit, kembali merabai pelukkan permukaan jalanan yang meredub
panasnya. Aspal. Tangan mungil, jemari kecil-kecil satu meremas kain dekil,
satunya lagi sesekali mengusir kepik-kepik kecil yang berbaris teratur, keluar
dari sarangnya, kelopak mata. Ada yang selamat jatuh ke pipi merah bocah itu.
Ada juga yang tersapu jemari kecil dan kain dekil. Selembar leaflet terbang dan
menempel di muka bocah itu. Tidak terlalu mengerti dengan torehan tulisan
didalamnya. Yang dia tahu ada gambar mahkota dan terompet, seperti benda yang
dijual Mamad tahun lalu.

Bayangan dedaunan pohon
asem londo, miring melawan jatuhnya keperkasaan matahari. Panas tidak sekejam
tadi siang. Sekarang yang ada hanya hangat secangkir kopi kedua gadis itu. Ini
cangkir kedua untuk mereka berdua. Asbak juga mulai muak dengan bangkai rokok,
muntah kemana-mana. Berserakan kemana-mana. Abu rokok, puntung rokok dan
pikiran kedua gadis itu.

“jujur gua tidak ingin
seperti ini As..”. kata-kata itu melayang begitu saja. Satu-satu persatu masuk
ke lubang kuping Astrid. Rambut panjang tergerai, disibak ke belakang membuka
jalan untuk kata-kata itu.

“mungkin ini terakhir
kalinya gua bekerja seperti ini. Capek!”. Segumpal nafas panjang tersembur
keluar bersama asap rokok. Menyibak keruman abu yang porak-poranda olehnya.

“apa yang sebenarnya
gua butuhin? Uang? Pekerjaan? Cowok? Status? Nggak jelas. Atau mungkin gua
tidak butuh apa-apa? atau mungkin karena gua cantik, tubuh seperti ini,
senyumku yang manis, dan harum parfumku yang mahal, gua butuh tempat untuk
mengekspresikan itu semua?”. Segumpal asap pelan menelusup ke lubang hidung.
Kemudian berdesakan di paru-paru, lalu keluar mencari sendiri saraf-saraf yang
tegang. Untuk bisa kendor sejenak. Sebagian asap itu kebingungan kemudian
memilih keluar melalui mulut dan terbang menghempas wajah Astrid.

“gua sendiri heran
kenapa baru sekarang datang pikiran-pikiran seperti itu, pikiran-pikiran yang
seharusnya tidak gua pikirkan. Pikiran-pikiran yang semakin membuat ku berpikir
apakah otakku terlalu kosong untuk berpikir hal yang seharusnya lebih baik
untuk dipikirkan?”. Tidak ada asap, melainkan cairan kental dengan bijih ampas
hitam merajah indera manis, pahit, lalu manis kemudian hilang dibalik
kerongkongan. Mulut dengan lipstick yang memudar itu terus bergerak dengan
lambat dan terseka-seka. Sedangkan mulut yang lain tetap terkatup, lipstick
sudah ditebalkan lima menit yang lalu. Make sudah dibenahi.

“Baik! Waktu habis!
Kumpulkan pekerjaan kalian! Sekarang dan dengan waktu yang secepat-cepatnya!
Ini sudah sore!”. Selesai untuk si pengawas ujian. Tidak untuk Gadis. Panik,
toleh kanan semua sudah bergegas pulang, kekiri tidak ada lagi kawan. Kedepan
pengawas yang tidak setia kawan. Di akhir cerita seharusnya ada terselip
sedikit kisah bahagia, tapi tidak, tidak untuk cerita Gadis. Yang ada hanya
akhir dari penanya. Tinta tidak keluar lagi. Pengawas berjalan mendekat. Masih tiga soal yang tidak terjawab. Pengawas lain
yang mengemas semua jawaban yang terkumpul untuk segera diboyong keluar kelas.
Dan soal-soal ini seakan menjelma menjadi benang kusut, merajut semrawut.
Memaksa otak Gadis untuk terjun bebas, melebur dalam kalut. Satu soal belum
terjawab. Jawaban warisan teman ke buru di sita pengawas. Soal kedua Gadis
tinggalkan. Soal ketiga, ingin sekali Gadis cincang dengan parang. Mutilasi
soal ujian dan mungkin selepas ini bertambah satu. Persoalan lulus tidaknya
dengan jawaban yang seadanya dan tidak tuntas sampai akhir cerita, turunnya
layar panggung.

“selesai tidak selesai
jawaban kudu di kumpulkan!”. Pengawas menarik lembar jawaban.

“jangan dulu pak, ini
kurang tiga soal lagi”. Gadis bertahan dengan lembar jawaban masih dalam
cengkramannya.

“tidak bisa! Saya harus
pulang! Istri saya menunggu dirumah!”.

“tapi pak! Saya mohon
pak! Saya harus lulus tahun ini!”.

Lorong kampus. Tiang-tiang
penyangga kayu berjajar rapi, berakhir di ujung lorong yang gelap. Tempat
sampah. Sebuah papan pengumuman dan beberapa lembaran pengumuman tertempel
sesak. Derit ensel pintu sebuah kelas karena tersenggol angin. Tempat duduk dan
seorang Gadis dipangkuannya. Sengaja dibiarkan punggung dan kakinya mencari
kenyamannya sendiri. Dan kepala merebah di sandaran bangku itu. Mata mencari
sela-sela langit-langit lorong, berusaha menembus jauh sampai ke
batas-batasnya. Melas. Secarik kertas lusuh dalam genggaman. Bertuliskan ujian
statistika dasar. Satu persatu jari-jari lentik itu berubah menjadi jari-jari
kasar yang melumat kertas. Tak berbentuk. Tempat sampah, kertas tak berbentuk
jatuh di sampingnya.

Waktu tidak perlu
disuruh untuk menghabisi hari. Gadis masih memanjakan semua organ tubuhnya.
Pikirannya masih dibiarkan bebas berkeliaran keluar masuk melalu matanya. Dan
kertas tak berbentuk masih setia bersanding dengan tempat sampah. HP berdering
lagu pop. Telpon masuk, dering khusus. Dan waktu terus menghabisi, meninggalkan
batas terang dan gelap yang merambat menyapu wajah Gadis. Silau, cahaya lampu
datang tiba-tiba dari atas. Menyadarkan semua mahkluk siang untuk kembali ke
sarang dan bicara rencana kudeta terhadap malam dan kekuasan gelapnya. Lengan
putih, jam tangan yang tersembul dari balik lengan jaket. Enam lebih empat
belas menit. Berketepuk langkah kaki terburu-buru menelusuri lorong. Disambut
remang cahaya lampu. Menuju parkiran motor didepan sana, diluar gerbang lorong
kampus dengan kelas-kelasnya berlari berlawanan arah. Ada kebencian kepada
waktu yang bengis membantai hari datang dari  sorot mata Gadis. Ada sesuatu yang belum bisa
dia terima dari derap langkahnya yang tergesa-gesa. Adalah persoalan ke empat
jika dia tidak datang menepati janji.

“mungkin gak ya kita
dapat bonus lagi”. Belum cangkir ketiga. Belum juga memesan makanan. Kedua
gadis itu sudah menikmati obrolan mereka, tidak jauh dengan target bonus
penjualan, masa depan_besok, besoknya lagi_kontrak yang diperpanjang, juga
besoknya lagi_bagaimana membelanjakan uang itu, serta tidak ketinggalan
besoknya lagi_produk apa yang akan mengontrak senyum manis mereka. Sampai
sekarang tidak ada pembicaraan untuk kemarin. Tapi setidaknya kedua gadis itu
ingat obrolan tentang janji seorang teman. Yang mengkhiri sore mereka menghabisi
hari bersama waktu, duduk di kafe itu dan kopi expresso.

“yang jelas mungkin
terjadi. Hari ini aku tidak lulus ujian statistika. Terpaksa ngulang semester
depan. Dan yang jelas lagi, bapak yang tadi mulai nakal, lihat sms-nya..”.

Bapak tahu kamu tidak ikut ujian mata
kuliah bapak, dan kemungkinan besar kamu tidak lulus. Harus ngulang tahun
depan. Apa gak bosen.. he3. tapi tenang itu bisa diatur. Cuman ada saratnya..
kapan bisa dinner sama bapak?

“lagian salahmu sendiri kenapa lo kasih no HP lo ke dia, bisa
kan lo kasih no yang lain!”.

“gak bisa lah! lo tahu sendiri tadi dia miskol ke HP
gua!”.

“iya.. ya!”. Astrid diam sejenak.

“Tapi neh! Ada yang janggal menurut gua, kenapa dia tahu
lo mangkal disitu?”

“emang gua kasih tahu!”

“nah loh! Lagian ngapai ngasih tahu dia!”

“koceknya tebel bu! Katanya kalo ketemu kita pas lagi
jualan, dia mo ngeborong! So apa salahnya kita juga memanggil si konsumen buat
datang ke kita!”.

“gak ngerti! Lagian apa cuman dia yang mampu ngeborong tu
dagangan?! Gak juga kan!”

“bener juga sih! Tapi selagi tu pembeli matanya masih
suka nyelonong ke belahan dada gue! Ngapain juga gak di manfaatin! Suka aja
ngerjain lelaki kelamin penganguran! Tinggal di buka sedikit krannya. Ngucru
deh uangnya!”. Kedua gadis itu tertawa.

“gak tahu Mei.. tanpa lo mungkin gua gak bakalan survive
ma yang gituan! Hiii! Horor!”.

“gak lah! Lo pasti bisa! Cuma satu yang harus lo pegang!
Harga diri!”

“setuju Mei!”

“heran! Kenapa gak ada yang melihat pekerjaan kita, lo,
gue dan teman-teman yang selain secara profesional, kenapa selalu kita tuh
dianggap komoditi yang siap di eksport ke area pemuasan nafsu kelamin-kelamin
kesepian?”

“kenapa tanya ke gue?!”

“kenapa juga agen-agen itu menuntut kita harus pake rok
mini lah! pamer dada lah! harum lah! menor lah! Apa gak bisa kita tuh diberi
pengetahuan bagaimana meningkatkan pejualan tanpa jualan senyum genit, tubuh
dan segala yang menganggap kita tuh gak bisa mikir, gak peduli dengan sekitar,
cuek, punya pede lebih yang gak peduli sama lelaki-lelaki berkelamin pengangguran.
Terus seenaknya ngeremehin kita. Apa benar kita tuh sebodoh itu? Apa harus
seperti ini, tubuh ini harus dijual dengan melepas otak kita untuk bisa
berpikir!”.

“mungkin..”. Jawaban astrid singkat. Amarah itu berakhir
dengan sebatang rokok lagi.

Mungkin malam dan kerabatnya_gelap belum puas menyiksa
hari. Kehadiran rembulan di tengah-tengah mereka seakan mengganggu jalannya
misi pembantian hari. Tanpa pikir panjang didatangkan sepasukan awan yang
berarakan dari arah barat. Bulan ditelan selagi binarnya terang benderang.
Hilang. Langitpun menangis selepas matinya bulan. Pohon asem londo. Seekor cleret gombel, melesat pindah ke pohon
asem jawa. Berlari mengejar pasangannya yang lebih dulu mencari teduh dari
guyuran hujan. Tikus got nampak berpesta-pora di rerimbunan pohon krokot.
Katak, mati terlindas motor. Dan bocah duduk bersimpuh. Menantang hujan.
Menggigil. Gigi beradu seperti saling ingin menghancurkan. Kain dekil masih di
dekapnya dalam pelukan. Dan wanita itu. Wanita itu tidak ada lagi. Matanya yang
melotot sudah lelah. Dia tertidur di emperan toko. Tak jauh dari pohon asem
londo.

Hujan kian menunjukkan keangkuhannya. Sombong akan
kekuatannya yang membuat kocar-kacir penghuni bumi. Deru mesin mengeram kuat,
tanda di geber ke batas kecepatan tertentu. Gadis membiarkan tubuhnya dihujam
buliran hujan yang menerjang. Tidak ada ampun bagi penghuni bumi yang tidak mau
mengalah oleh sombongnya hujan, maka diterimanya basah dan linu di sekujur
tubuh. Beberapa kali adrenalin mendidih, sekali waktu sempoyongan hampir
menyerempet motor lain. Sekali lagi hampir menyerempet motor lagi. Hujan tidak
memaklumi itu.

Tidak ada niat dari bocah itu untuk berlari menyusul
empunya. Tidak sedikitpun terlintas di benaknya, Bermalas-malasan sebentar.
Memanjakan tubuh untuk di urut oleh lelah lalu lelap dalam perantauan mencari
mimpi. Tidak ada semua itu. Yang ada bocah itu tetap harus ditempat. Tidak
kemana-mana, karena ada janji dengan seseorang. Dan dia akan datang di sini
dibawah pohon asem londo ini.

“Idiih kemana sich dia?!”. Memei panik. Alunan music
alternatif menghancurkan keheningan. Arogansi budaya pop merusak obrolan kedua
gadis itu, mengingatkan mereka akan sesuatu.

“coba lo telpon dia!?”. Tetap belum sadar akan perusakan
itu. Musik itu semakin menggeber harmonisasi miring, sekali lagi
melululantahkan suasana menjadi kepingan-kepingan jenuh.

“gak diangkat!”

“Mungkin lagi dijalan kali!”. Astrid menerka.

“mungkin..”.

“terus gimana?”. Astrid bertanya.

“ya udah kita berangkat!”

“sekarang?”. Astrid bertanya.

“gak sewindu lagi! Ya sekarang lah! Gimana sih lo!”

“nafsu amir lo! Kayak ini baru pertama kalinya lo lakuin
itu!”. Astrid berujar serius.

“denger ya! Ini emang pertama kalinya buat gue! Dan gue
gak bisa maafin diri gue jika gak gue tepati janji gue ke dia!”

“emang dia sapa lo! Getol amat bela-belainnya! Pake kudu
ke salon lagi! Resevasi tempat! Yang ini yang itu! Lagian ngapain juga
ngelibatin kecengan gue segala sih!”. Astrid sedikit protes.

“Dah! Gini gue udah terlambat lima belas menit gara-gara
nemenin lo nugguin laki lo! Sekarang lo mau ikut pa gak terserah lo! Gue ke
buru-buru! Kasihan dia pasti dah nungguin terlalu lama!”. Memei melangkah
menembus lebatnya hujan. Menuju ke arah modil yang diparkir di seberang jalan.

 “Mei tunggui Mei!
Gitu aja ngambek! Lagian jarang-jarang gua ikut acara gituan”. Astrid pun
menyusul tanpa pertanyaan lagi.

Hujan. Sebuah kafe. Gaya seperti biasanya kafe, menjual
kenyamanan dengan beribu tagihan. Sofa melingkar. Segelas kopi, asbak yang
belum muak. Dan lelaki dengan jari yang sibuk menari di tombol-tombol huruf.
Sesekali tertawa terbahak merasa puas dengan teman kecilnya itu. Lalu
marah-marah ketika yang keluar suara seorang wanita yang mengikatnya sebagai
seorang kepala rumah tangga. Kadang juga merayu ketika yang keluar dari teman
kecilnya itu suara seorang gadis. Atau kadang dia juga marah walaupun yang
keluar dari teman kecilnya itu suara seorang gadis yang ingin ditinggalkannya.
Dan berakhir pada minuman. Juga sesekali memegang kelaminnya yang menegang
ketika seorang pelayan cantik merunduk menyedu minum untuk mulutnya yang
beliur. Atau sesekali di pegang ujung puting dadanya sendiri ketika melihat
seorang gadis datang dengan tubuh yang basah kuyup.

“maaf pak saya terlambat..”. gadis itu tidak
memperdulikan celoteh yang keluar dari mata pengunjung lain. Lelaki itu
menelanjangi tubuh gadis dengan tatapan lepas kendali. Gadis menggigil. Separuh
tubuhnya terguyur hujan.

“tidak masalah, dari dulu memang kamu indisipliner, tapi
ya sudah, sini duduk sini dekat bapak, kamu pasti lapar, lihat tubuhmu basah
kuyup, sini biar bapak hangatkan.. gimana ujian tadi?”

Lampu kerlap-kerlip. Kecil-kecil. Bergantian membaurkan
suasana semakin meriah. Balon-balon dipajang dimana-mana. Pita-pita kertas
terbentuk lucu sedemikan rupa. Menambah semaraknya pesta. Ruangan itu dipenuhi
dengan cinta dan kebahagiaan. Musik bertalun ceria menyambut datangnya
anak-anak kecil yang beradu senyum dan tawa. Riuh.

***

Wulan nama bocah itu datang bersama Astrid dan Memei.
Mahkota kecil disematkan untuk ketiganya sebagai penyambutan. Dan terompet
mungil.

“Wulan maafkan kakak. Terlambat menjemputmu. Nah janji
kakak terpenuhi, sekarang kita ada ditempat yang indah, dimana Wulan bisa
bermain, makan , minum, bercanda tertawa, apapun yang belum pernah Wulan
rasakan, sekarang bisa Wulan rasakan, nah sekarang kakak nagih janji Wulan,
ingatkan? Janji Wulan ke kakak. Wulan janji akan memberi sesuatu yang indah
kepada kakak”.

Mata Wulan menatap tajam Memei. Dipandanginya sahabatnya
itu. Sahabat yang terjalin karena keduanya adalah milik yang empunya. Wulan
dengan wanita yang seakan-akan matanya mau copot. Dan memei yang terpaksa
berjualan dengan senyum genitnya. Aturan agen. Dan juga pohon Asem Londo yang
menjadi saksi kecerian mereka berdua ketika empunya mereka sibuk dengan untung
dan rugi. Dan saksi akan ikrar janji saling memberi yang terindah di ulang
tahun Wulan ini.

Memei membalas tatapan Wulan. Kemudian pelan Wulan
mencium kening Memei. Lama seiring riuh tepuk tangan teman-teman permukaan
jalan, trotoar, perempatan dan ridang serta teduh pohon-pohon taman kota. Wulan
memeluk erat tubuh Memei. Memei membalas tak kalah hangat.

“Maaf kak, itu
yang paling indah yang Wulan bisa berikan..sekarang”

“terimakasih, tapi kenapa baru sekarang Wulan berikan,
kenapa tidak dulu-dulu, kakak rela dipeluk seperti ini oleh Wulan, kakak ingin
di kecup hangat oleh Wulan, Wulan sobat kakak yang paling baik..”

“Wulan takut kak..”

“takut kenapa?”

“takut baju Kakak kotor, wajah Kakak kotor, dan parfum Kakak
kotor..”

Memei melepas pelukkannya. Dan menatap sendu.

“kenapa Wulan berkata seperti itu..”

Wulan tertunduk.

“Wulan takut, Kakak gak bisa kerja kalo baju, wajah dan
parfum Kakak kotor oleh Wulan. Kakak kan juga butuh uang”.

Wulan kembali jatuh dalam pelukkan hangat Memei, hujan
dan keceriaan malam ulang tahun ke tujuh Wulan dan Sembilanbelas tahun Memei
hidup serta dua bulan kebersamaan mereka.

“makasih sobat..”

 ***

 Dalam pelukkan seorang bapak. Gadis kembali
membebaskan tubuhnya dalam gumulan kelamin pengangguran. Menatap kosong ke
langit-langit kamar sebuah hotel. Mencoba menembus meraih letupan-letupan
gairah yang berhamburan di udara. Dalam gemuruh deru nafsu. Gadis meraih HP dan
sejenak dia sudah tersambung dengan seseorang.

“Mei met Ultah ya, sori banget aku gak bisa datang, ada
saweran..”. seperti biasa bapak gagal membuktikan keperkasaannya.

“udah pak?”

 

Jogja,
selepas Desember 2006

 

 

 

aku lagi pingin marah..

Sunday, January 7th, 2007

Marah
Putih?

Satu
lembar kertas putih, aku pegang di kedua ujungnya dan ku tarik. Robek.

Satu
lembar lagi kertas, masih berwarna putih, ku pegang salah satu ujungnya, dan
ujung yang lain biarkan api yang mengurus. Hangus.

Satu
lembar lagi ku ambil, mungkin ini warna putih yang terakhir. Tidak ku robek
atau ku bakar. Cukup aku baringkan di papan. Ku balik, putar, sedemikian rupa.
Aku ingin melihat apakah kertas ini benar-benar putih?

Ternyata
aku terlalu berbikir positif. Ku kira putih ya putih. Tidak putih dengan noktah
kotor di ujung-ujungnya. Karena begitu kecewa, mungkin kecewa dan benar-benar
kecewa. Ku hempaskan ke lantai, terkulai, lalai bahwa putihnya palsu.

Kemudian..

Kertas
itu begitu pasrah, ketika tinta hitam sengaja aku hamburkan diatasnya. Hitam.


batu

Pernah
aku berjanji kepada batu. Begini: “batu aku berjanji tidak akan membuatmu
menjadi alat pembunuh lagi, suerr!”.

Batu
diam.

Lalu
aku meneruskan, begini: “terakhir lelaki itu bocor kepalanya, apa mungkin aku
terlalu keras menghempaskan dirimu ke kepalanya? Atau memang ada benci yang
kamu simpan untuk lelaki itu? Atau memang kita sama-sama ingin membunuhnya?”.

Batu
tetap diam.

Tak
lama kemudian datang serombongan debu.

Mereka
berhenti, berbaris, bak laskar negeri menyambut mati, dihadapanku, salah satu
kerikil besar berteriak, begini: “wahai daging dan darah! Ku kata kan kepadamu
berhentilah merayu kematianmu sendiri!”.

Sekarang
aku yang memilih diam.

Serombongan
kerikil itu meringsek menjadi besar, sebesar batu itu lalu terbang melesat
cepat menghempas ke arah kepalaku.

Jam
7 pagi.

Tak
terasa matahari masih ingat pekerjaannya. Dan awan belum juga dewasa, suka
membutakan mata matahari dengan beriring sendu di depannya. Angin, persetan
dengannya.

Ku
duduk lelah. Di pematang waktu. Tanganku kadang bercanda dengan rumput teki.
Dan mataku kadang liar menyatroni buih-buih airmata. Di sebelahku tergeletak
bangkai, bongkah kecil, keras, culas.

Si
batu kawanku.