Andai…
Friday, February 23rd, 2007
Aku bersyukur bisa mendengar dengan kedua telingaku. Mendengar
ucapan-ucapan keparat seribu bangsat dari orang-orang terdekatku, waktu mampu
untuk berkhianat. Menajamkan logika, menjerumuskan sobat saat mendengar dia
melakukan kesalahan kecil. Dan menelaah runtun sebuah rencana pembunuhan
karakter saat teman mengkritik kreativitas yang ada. Aku bangga, mampu
menikmati lidahku yang melenggok bebas, menguntai makna kata-kata atau sekedar
mengumpat beribu kata bajingan, kamu cantik, dia goblok, brengsek, matilah kamu
bersama kelebihanmu. Atau mungkin mengawinkan keduanya sekedar membalas dendam
luka lama. Indah betul. Aku merasa lebih mudah menjerumuskan, mengkhianati atau
membunuh lawan tanding, kawan tandang, atau sekerabat dekat untuk kepuasan fungsi
organ-organ tubuhku itu. Jarang bisa aku nikmat pujian untuk yang terbaik.
Menyanjung untuk yang menang. Atau menjunjung tinggi untuk yang terdepan.
Dengan lidah, mulut dan apa yang sudah aku dengar lewat kupingku, dari mereka.
Susah, sulit, dan buang-buang waktu. Buat apa mengindahkan hasil yang bukan aku
hasilkan. Menuai nikmat yang bukan dari aku. Sirik, memang. Kenapa tidak aku
lepas. Kenapa harus ditahan. Saat harus sirik, biarkan itu. Saat harus mencaci
biarkan itu. Dan saat harus nggak suka, membenci atau berkhianat, biarkan itu.
Aku ingin telingaku menampung kebencian, rasa nggak suka, sirik dan
sobat-sobatnya. Lalu mengolahnya di dalam otak dengan bumbu imajinasi
pembantaian hakekat sebuah persahabatan. Lalu mengumpatkan melalui mulutku
dengan baik dan atas nama kenyamanan. Mengadu domba dengan teman yang sedarah
kebencian. Menyebarkan rasa saling menjauhi dengan musuh yang senyawa. Indah
bukan? Apa yang aku lakukan, berpura-pura senang? Kalau memang dia, temanku
yang menang. Apa harus aku memuji? Kalau dia, temanku melejit ke langit mimpi.
Apa ya aku musti mengakui? Dia, temanku yang merantai puisi-puisi keberhasilan
hari ini. Menurutku omong kosong. Aku bebaskan kebencian ini. Aku biarkan dia
berlari mencari sasaran untuk di sekap dalam sekam-sekam dengki. Yah, aku
terbebas. Aku bisa membenci sesuka hati. Aku bisa mengumpat selama waktu yang
aku punya. Aku bisa merontokkan keyakinan yang teryakini oleh diri sendiri. Aku
bisa berteriak semauku, bajingan kamu! Kadal bunting! Banci arab hamil! Dengan lantang!
Keras! Bahkan mungkin bergema akan lebih dahsyat. Masuk ke kuping-kuping itu.
Ke otak mereka. Lalu terbakar dalam ruang-ruang hati yang sumpek itu. Marah dan
melibaskan pukulan, tanda kekesalan. Ke kepalaku. Keningku. Atau merobek-robek
perutku dengan belati karatan. Tetanus. Lalu mati. Tapi..
Aku hanya bergumam. Dengung yang ku dengar dari mulut-mulut temanku,
semakin jauh meninggalkanku. Walau mereka dekat. Walau mereka rekatkan tangan,
berdamai dengan keadaanku. Bisu. Tuli.
Jogja, februari 4 tahun lagi