Archive for March, 2007

mungkin masih ada waktu..

Tuesday, March 13th, 2007

Dari loteng ini aku biasa melihat matahari
belingsatan mencari persembunyian. Raja malam akan datang. Menghujam dengan
semaraknya kelam.

Tokek tercekik tali buatan si empunya
kerajaan yang di tumpanginya. Mampus. Tikus celurut mondar-mandir. Lima menit kemudian si tikus tercenung menatap jasadnya yang pipih itu.

Ada
juga si Kecil, pantatnya memar. Batok kepalanya benjol satu, dua. Bibirnya sobek.
Tidak bisa teriak. Berbisikpun tak sanggup. Perih sekali. Monyong, tak bisa
berucap satupun kata. Yang si Kecil bisa lakukan adalah belajar berlindung
dengan kedua tangan mungilnya. Berlindung dari sapu lidi si Ayah. Tolong aku,
luka kemarin belum juga kering, sekarang Ayah menambahnya lagi. Lantaran si
kecil tak kunjung berhenti merengek, selepas magrhib.

Lalat-lalat, sekali waktu lepas dari
cengkremannya. Jatuh dan terbang mencari ketiak-ketiak dedaunan lain yang tak
berair. Bergelantung setelah menebar mencret dimana-mana. Seiring matanya yang
terkatup lelah, dia menghitung kematian untuk esok hari, selepas magrib.

Nah, perempuan itu tidak perawan lagi.
Meringkuk memuji terpaksa si pacar yang puas bangga kelaminnya berfungsi dengan
baik. Lewat bibir mungil itu, satu kata keluar dari hati. Satu kata penjaga tai
kucingnya cinta. Dipeluknya si Pacar mesra. Hampir 4 jam mereka mengurung diri
di kamar. Beribu bahasa muncrat tiada tara. .
               

  Saling membalas tai kucing cinta dan meleburkan tubuh, keringat. Muncrat!.
Lelah. Kali ini yang kedua untuk hari ini. Selesai. Hidup memang tak serumit
bercinta. Hari ini untuk hari ini. Besok masih ada negosiasi. Setidaknya itu
yang dipegang oleh si Pacar. Dibelainya rambut si perempuan. Diusapnya keringat
yang meleleh di jidat, leher. Sekali kecup seraya mengucap. Aku akan nikahi
kamu.. Hati si perempuan diam seribu bahasa. Bertubi-tubi muncul
lukisan-lukisan muram, murung atau sesekali terberangus oleh api. Pameran
lukisan tentang runyamnya esok yang terpajang dalam lamunan si perempuan. Kemudian
muncul jalan yang berkelok-kelok. Entah dimana ujung untuk di tuju. Semakin
melangkah jauh, semakin gelap oleh rimba-rimba kebiadaban masa depan. Sedangkan
si Perempuan masih terdiam di persimpangan. Kakinya tak urung bergerak, ada
lumpur gembur yang menghisapnya lembut ke dalam pengapnya lubang tanpa tujuan. Dibalasnya
kecupan si Pacar sembari berucap.. Aku percaya kamu akan lakukan itu..

Asap rokok meringsek ke dalam paru-paru
lebih banyak. Menenangkan kekalutan yang baru saja mampir bersenjatakan bogem
mentah. Melulantahkan imaji, mimpi dan negosiasi untuk esok hari. Si Pacar
terbunuh gayanya. Hanya Otak yang bersarang dimulut si pacar diputar mencari
akal-akal. Mencari sela selamat. Menuai nikmat tanpa jerat, mengikat. Dan
mereka saling meringkuk, merumitkan kembali masa depan mereka. Untuk ketiga
kalinya, selepas magrib.

Burung gereja masuk ke lobang-lobang sarang.
Kembali dari rantau mencari sisa-sisa nasi, jagung (kalau ada), atau apapun.
Tapi semua tidak ada. Tidak ada sisa nasi yang tercecer untuk dibawa pulang.
Atau jagung dari kandang ayam. Ayam-ayam itu menemui ajalnya minggu kemarin.
Kata orang mereka dijual ke pasar, dalam keadaan sakit. Sempat si burung gereja
protes, protes bagaimana kelanjutan nasibnya, anak-anaknya dalam lobang-lobang
sarang. Tanpa ayam dalam kadang, tidak ada jagung yang tercecer. Tidak ada
jagung, manusia semakin tamak, tidak ada hari esok untuk si anak Burung gereja.
Burung gereja pulang ke lobang-lobang sarang. Ujung daun kering ada di
mulutnya. Disambut oleh mereka_anak-anak burung gereja itu_ si Ibunda pulang.
Serempak mereka melebarkan mulut-mulut laparnya. Si anak lapar semenjak
kemarin. Di suapi satu persatu si anak-anak itu. Ujung daun kering, selepas
magrib.

Akhirnya si kecil dihajar habis-habisan.
Umurnya baru dua tahun setengah. Si kecil tidak salah. Tadi ada sebakul ice
krim. Bermacam-macam rasa. Dan harganyapun, harga kampungan. Si kecil ngiler.
Pingin menjilat nikmat ice krim sebatang berasa coklat. Dilihatnya si Ayah
duduk murung, telanjang dada, pamer tato yang merajam di tubuhnya. Segumpal
asap rokok lepas dari mulutnya yang tersekap kumis dekil. Mengepul ke udara.
Buyar, bubar tersapu angin. Si kecil berlari mengejar mimpi. Ayahnya adalah
Tuhan baginya. Seribu, dua ribu perak bisa tercipta sekejap saja tanpa harus
meraung. Dulu..

       Bermodal seribu untai mutiara senyum yang di
rajut rapi di mulutnya yang mungil.  Si
kecil berharap hari ini, digenggaman tangannya, sebatang Ice krim berasa coklat
siap untuk di jilat. Dalam kenangan si Kecil, si Ayah tetap Tuhan sampai
kapanpun. Kapan pun itu..

        Tapi tidak. Sebakul ice krim itu di amuk
oleh Si Ayah. Melihat itu si kecil menangis, merengek, meratap, takut dan tidak
tahu apa yang harus diperbuat selain menangis, merengek, meratap. Sekejap itu si
Ayah meraih sebatang kayu. Mendekat geram ke arah si kecil yang diam terpaku
pasrah. Celana si Kecil basah, pesing di pukulan pertama. Si Ayah benar-benar  Tuhan bagi si kecil. Kapan pun bisa mengambil.
Dan kapan pun itu juga bisa memberi. Luka dan miris perih Ibu yang meronta
mohon ampun untuk si kecil. Percuma! Ibu juga tidak bisa apa-apa. Meronta,
menangis, diam tidak bergeming menatap si kecil tersungkur di lantai. Si kecil
belum bisa untuk paham kenapa Ayah bisa seberingas itu. Kenapa si Ayah tidak
sebaik dulu. Memanjakan Ibu dan si Kecil dengan gelimang kasih sayang.
Berkarung-karung cinta. Dan menyuapi Ibu dan si Kecil dengan mesra. Semua
berubah. Ayah adalah Tuhan bagi si kecil. Dan uang adalah Tuhan bagi si Ayah.
Tuhan si Ayah sudah terlarung satu tahun yang lalu. Ayah terlalu percaya uang
bisa di gandakan dengan peruntungan tipu-tipu. Matilah harga diri saat semuanya
begitu tandus. Lahan-lahan subur itu mengering. Dan hangus terbakar tipu-tipu
jaman.

    Nah, perempuan itu urat sarafnya menegang.
Mukanya merah. Terpoles amarah. Kata keparat, bangsat, manusia tak beradab
muncul dari mulut tanpa di rencana. Keluar begitu saja. Setelah tercengang
mendengar si pacar mengigau perempuan selingkuhannya. Si pacar panic. Memutar
kembali isi otak yang bersarang di mulutnya. Kata-kata yang biasa mujarab untuk
ricuh yang seperti ini. Mencari jawaban, alasan dan beribu ampun kibul-kibul.
Menungging, merangkul kaki perempuan itu. Minta maaf ala kadarnya sekedar
kibul-kibul belaka. Menyalahkan yang jelas-jelas telah di akui.

Janji itu terlanjur terlontar dari mulut si
Pacar. Sehidup, semati. Bersama berjalan dengan tai kucingnya kata-kata cinta. Mulut
hanyalah rangkaian saraf, terbungkus daging-daging lunak. Tidak ada otak
disana. Bahkan hati pun tak cukup untuk disumpalkan ke mulut. Jadi mulut tidak
berpikir atau berperasaan. Mereka bicara karena ada yang menginginkannya. Ya
kalau hati sedang tidak sibuk dan ada waktu biasanya hati yang sering bicara.
Tapi kadang otak sirik. Merasa lebih berhak daripada hati. Dan benar, hati
selalu kalah oleh otak. Dan mulut bicara keinginan otak. Entah bagaimana otak
itu bisa bersarang di mulut si Pacar. Bisa menebar harap, sumpah dan
kibul-kibul yang begitu mempesona. Menjerat, lalu menyekap hati si perempuan.
Membuat mulut berhati_perempuan itu_terkatup. Diam saat hiburan dunia tanpa
batas merampok batas-batas itu. Memporak-porandakannya, berkeping-keping dan
kelak menjadi usang dan terbuang. Enam bulan yang lalu hingga saat ini selepas
magrib. Tidak ada yang bakalan usang dan terbuang. Andaikan si pacar
mencampakkan kibul-kibulnya. Dan belajar dari tai kucingnya sebuah kesetiaan. Wajar
saja jika si pacar meronta, luka di kepalanya cukup untuk membuat otak
dimulutnya berhenti bermutar. Tidak ada kibul-kibul lagi. Pot bunga dari kaca
berserakan di lantai. Kembangnya terkulai melayu merona warna darah. Dan
kelamin-kelamin usang itu..

Terbuang.

Sudah pagi rupanya. Dari lobang-lobang
sarang tidak ada deru kicau burung gereja. Sekali waktu cicak merangkak pergi.
Tubuhnya di gumuli semut hitam. Lobang-lobang itu telah berganti penghuninya.
Kemana si burung gereja? Kemana cuit-cuit lapar anak-anaknya? Lalat-lalat tidak
ada di kantong-kantong sampah. Cuma ada beberapa ekor . Sudah dua hari lalat
itu tidak bergelantung di ketiak-ketiak dedaunan basah. Tidak menyebarkan
mencret. Dan juga tidak mengais sari-sari sampah yang teronggok di tepian jalan
kampong. Biasanya mereka ramai menerjang garang sampah-sampah itu. Sekarang
sepi. Kemana yang lain? Mereka punya pekerjaan baru membuka jalan untuk
belatung-belatung lapar untuk berpesta pora. Di rongga mulut jasad seorang
lelaki yang terkapar dengan luka di kepalanya.  Kaki-kaki kerumun masa berjubel menghantar
buntelan kecil kain kafan. Ke tempat tidur terakhir. Tak disengaja kaki-kaki
itu menyampar jasad si tikus celurut. Jauh terbuang, lalu jatuh ke dalam got. Tak
jauh dari tempat dimana dia biasa menatap jasadnya yang pipih. Tikus celurut
sekarang hanya bisa pasrah. Jasadnya entah kemana. Jika Semalam seorang lelaki
bertato, telanjang dada tidak menginjaknya. Mungkin sekarang si tikus celurut
masih bisa berlari menghindar dari kaki-kaki kerumunan itu. Nasib si tikus celurut, bukannya minta maaf
karena mengakhiri hidup si tikus celurut. Malahan lelaki itu mengumpat
selayaknya mulut-mulut bejat. Dan meninggalkan jasad si tikus celurut terkapar
ditengah jalan kampong itu. Berlari mengejar bocah kecil yang berlari meronta-ronta
ketakutan.

Nah, perempuan itu sekarang duduk di sudut
kamarnya yang mungil. Pernak-pernik lucu menghiasi sudut-sudut kamarnya.
Secarik kertas bernoktah hitam. Mungkin rajutan kata-kata. Di bakar dan
membiarkan abunya berhamburan dihempas hembusan kipas angin. Lelah yang lama
tidak dimanjakannya sekarang terbayar sudah. Lelah oleh hiburan dunia yang
tidak jelas batasannya. Tidak ada sesal untuk sebuah penyesalan.

Di gelapnya loteng kamar seekor tokek
mengendap-endap. Menyusup kesela-sela aman. Matanya juling, mengeram, perutnya
kembang kempis. Sebutir telur keluar dari pantatnya. Selepas magrib.

Jogja, sepagi ini..