Archive for April, 2007

Biasanya

Tuesday, April 17th, 2007

Biasanya aku
lihat Puji berlari mendekatiku. Saat ditanganku penuh dengan belanjaan bulanan.
Menyodorkan senyum ramah. Meraih separuh bungkusan yang ku bawa. Sembari
melongok mencari apa yang ingin dicarinya. Puji bertanya. “kakak capek ya?”. Ku
jawab ringkas. Ku tersenyum. Kadang sesal itu berlari dan menubruk relung
hatiku. Saat aku lupa membelikan buah Duku kesukaannya.

Biasanya aku
tertawa terkekeh-kekeh. Mendengar banyolan ringan, cerita-cerita teman-teman
sekelasnya. Dan terus, terus dan terus. Aku pun terus tertawa, tertawa, dan
tertawa yang ku buat ala kadarnya. Dan tak sengaja aku terlelap
meninggalkannya, diam. Ku sadar, lirih ku dengar derap kaki berjingkat menjauh
dari tempat tidurku. Hangat selimut yang mendekap tubuhku, adalah penutup gelak
canda yang ku akhiri sendiri.

Biasanya aku peluk
tubuh Puji. Tubuh kering itu begitu hangat. Entah mengapa, bacot mulut pacarku
yang meronta kelaminnya tak terpuaskan. Seakan lumat oleh lembut belaian tangan
Puji. Mengecup air mataku. Mencium sakit hatiku. Menarik ku tegap, diatas sikap
yang ku buang entah kemana. Mengembalikannya dengan utuh. Untuk aku bisa
melangkah dan takkan lagi mengalah pada tipu-tipu cinta. Hanya dengan tatapan Puji
aku dapatkan itu semua. Namun seringkali tubuh kering itu menangis tak
bersuara. Di bungkamnya dalam hati. Lalu merintih sendiri. Di sudut dekil
kamarnya. Dan aku, aku hanya berlalu di depan kamarnya, saat pacarku resah,
rindu cumbuanku. Aku tergoda dan riang aku berenang di tipu-tipu cintanya. Dan
niat melongok sebentar, apa gerangan, erangan apa yang terjadi di balik terai
kamar bermotih kupu-kupu itu. Ku buang entah kemana.

Biasanya aku
rusak karya Puji. Selalu saja pekerjaan kantor menghantamku dengan
bertubi-tubi. Dilembur atau tidak, sering saja aku timang, aku suapi, aku
neneni layaknya orok yang muncrat dari garbaku. Betapa aku sayang
deadline-deadline itu. Aku cinta mereka. Ku tidurkan disampingku. Ku nina
bobokan. Sebelum aku merintih puggungguku patah, kecapean. Tidak! Tidak sama
sekali aku tinggalkan mereka teronggok begitu saja. Saat Puji meronta minta
pendapat akan karya tulisnya. Ku tampik dan ku jauhkan tulisan bobrok itu.
Berhamburan. Jatuh kelantai. Lalu aku kembali menciumi orok-orok itu. Biarlah!
Itu bisa nanti! Masih banyak waktu! Yang ini adalah hidupku! Sekali lagi
hidupku! Tanpa ini aku lupa bagaimana terbang dan menimang segala kemegahan
pujian bos, manajer, tuan, juragan. Yah! Aku mencintai hasil pemerkosaan itu.
Aku hamil dan ku lahirkan orok-orokku. Dan kau Puji! Dan segala idelaismemu tentang
karya tulis! Aku bilang mundur dulu! Realita!

Biasanya itu
semua selalu terjadi rutin. Dengan cerita yang beda. Dan ku ulang. Sampai aku
lupa bagaimana mengakhirnya. Sampai detik ini…

Tidak biasanya
aku menangis seperti ini. Melihatnya tersenyum sendiri. Menangis sendiri. Dan
terkekeh-kekeh disela erangan pilunya. Seharusnya aku ingat adikku sangat
istimewa.

Buat seperti
biasanya..

lembaran usang sebuah kenangan (Bab 1)

Monday, April 9th, 2007

1571374975605lw
Sekali lagi,
malam ini aku tersenyum. Melihat mereka. Kawan.
Tinggal sepotong
gambar ini yang aku punya. Entah kemana sisanya. Kawan.
Bagaimana bisa
aku menatap masa lalu. Masa yang membacok ingatanku, meremukkan persendian
kenanganku. Dan merebahkanku dalam pelukkan hangat kehampaan. Tanpa hadirnya
riuh gelak bodoh kita. Tanpa tangis luka kebersamaan kita. Dan tak kunjung
datang apa itu bacot, kelakar, tak berguna bagi yang tak rela. Namun muara
pelukkan-pelukkan senyum merdeka kita. Kawan.

Ya, gobloknya
waktu yang berlari menjauh. Meninggalkan salah satu ceritanya. Begonya matahari
yang terkantuk-kantuk. Membiarkan langit bicara sendiri. Ngelantur tak lelah.
Lapar. Kemudian melahap hari ke dalam reka-reka malam. Kawan.

Kemana kalian
bawa bungkusan-bungkusan itu. Bungkusan yang kita penuhi dengan kelakar
menantang bumi. Rencana masa lalu untuk sebuah persimpangan di tengah perjalan
ke depan. Atau sekedar sekilas bokep-bokep pilihan saat jengah menepi ke sela
lelah kita. Atau puisi-puisi tai kucing untuk kisah-kisah miris cinta yang
sebenarnya sudah terluka. Atau sumbang gitar, merintihkan luka-luka yang kita
balut dengan kain “ini aku kawanmu!”. “ini aku temanmu!”. “tertatihkah kita
untuk kawan yang terperosok?!”. “larikah kita untuk kawan yang seharusnya kita
panggul dukanya?!”. “tidak! aku, dia, kita, mereka, kalian selalu ada disini
untukmu, untuk dia, untuk kita, untuk mereka. Kapanpun, dimanapun, dan masa
apapun!”. Atau mungkinkah sekedar bilik kecil tempat kita meringkuk lelap telah
kalian buang di tepian ombak Glagah. Ahh aku tidak percaya! Kawan.

Bungkusan itu
masih kalian simpan kan? Seperti aku? Saat butuh membuka, membaca kembali
cerita-cerita indah kita. Saat butuh merentang kembali lontar-lontar yang kita
rajah dengan jemari tawa, kebodohan yang terindah, banyolan yang rupawan, dan
tangan yang tergenggam. Kawan.

Aku ngantuk.
Tidak aku kunci pintu kamar mimpi. Masuklah kalian. Seperti biasa, aku jamu
dengan senyumku..

Selamat malam
untukmu kawan

Selamat pagi
untuk hidupmu kawan

Selamat menitih
kembali cerita-cerita seru kalian.

Yang baru.
Yang lucu.

 

Tabik
Sebagian belulang
ANERs 99 FISIPOL UGM