Biasanya
Biasanya aku
lihat Puji berlari mendekatiku. Saat ditanganku penuh dengan belanjaan bulanan.
Menyodorkan senyum ramah. Meraih separuh bungkusan yang ku bawa. Sembari
melongok mencari apa yang ingin dicarinya. Puji bertanya. “kakak capek ya?”. Ku
jawab ringkas. Ku tersenyum. Kadang sesal itu berlari dan menubruk relung
hatiku. Saat aku lupa membelikan buah Duku kesukaannya.
Biasanya aku
tertawa terkekeh-kekeh. Mendengar banyolan ringan, cerita-cerita teman-teman
sekelasnya. Dan terus, terus dan terus. Aku pun terus tertawa, tertawa, dan
tertawa yang ku buat ala kadarnya. Dan tak sengaja aku terlelap
meninggalkannya, diam. Ku sadar, lirih ku dengar derap kaki berjingkat menjauh
dari tempat tidurku. Hangat selimut yang mendekap tubuhku, adalah penutup gelak
canda yang ku akhiri sendiri.
Biasanya aku peluk
tubuh Puji. Tubuh kering itu begitu hangat. Entah mengapa, bacot mulut pacarku
yang meronta kelaminnya tak terpuaskan. Seakan lumat oleh lembut belaian tangan
Puji. Mengecup air mataku. Mencium sakit hatiku. Menarik ku tegap, diatas sikap
yang ku buang entah kemana. Mengembalikannya dengan utuh. Untuk aku bisa
melangkah dan takkan lagi mengalah pada tipu-tipu cinta. Hanya dengan tatapan Puji
aku dapatkan itu semua. Namun seringkali tubuh kering itu menangis tak
bersuara. Di bungkamnya dalam hati. Lalu merintih sendiri. Di sudut dekil
kamarnya. Dan aku, aku hanya berlalu di depan kamarnya, saat pacarku resah,
rindu cumbuanku. Aku tergoda dan riang aku berenang di tipu-tipu cintanya. Dan
niat melongok sebentar, apa gerangan, erangan apa yang terjadi di balik terai
kamar bermotih kupu-kupu itu. Ku buang entah kemana.
Biasanya aku
rusak karya Puji. Selalu saja pekerjaan kantor menghantamku dengan
bertubi-tubi. Dilembur atau tidak, sering saja aku timang, aku suapi, aku
neneni layaknya orok yang muncrat dari garbaku. Betapa aku sayang
deadline-deadline itu. Aku cinta mereka. Ku tidurkan disampingku. Ku nina
bobokan. Sebelum aku merintih puggungguku patah, kecapean. Tidak! Tidak sama
sekali aku tinggalkan mereka teronggok begitu saja. Saat Puji meronta minta
pendapat akan karya tulisnya. Ku tampik dan ku jauhkan tulisan bobrok itu.
Berhamburan. Jatuh kelantai. Lalu aku kembali menciumi orok-orok itu. Biarlah!
Itu bisa nanti! Masih banyak waktu! Yang ini adalah hidupku! Sekali lagi
hidupku! Tanpa ini aku lupa bagaimana terbang dan menimang segala kemegahan
pujian bos, manajer, tuan, juragan. Yah! Aku mencintai hasil pemerkosaan itu.
Aku hamil dan ku lahirkan orok-orokku. Dan kau Puji! Dan segala idelaismemu tentang
karya tulis! Aku bilang mundur dulu! Realita!
Biasanya itu
semua selalu terjadi rutin. Dengan cerita yang beda. Dan ku ulang. Sampai aku
lupa bagaimana mengakhirnya. Sampai detik ini…
Tidak biasanya
aku menangis seperti ini. Melihatnya tersenyum sendiri. Menangis sendiri. Dan
terkekeh-kekeh disela erangan pilunya. Seharusnya aku ingat adikku sangat
istimewa.
Buat seperti
biasanya..