ASEP

Suatu hari Asep hanya bisa terdiam diatas tempat tidurnya. Terlentang
membujur kaku, masih bernyawa, masih hidup dan masih punya keinginan. Hanya
saja luka yang dibuatnya di masa lalu mengubur segala kehormatan, harga diri,
prestisinya sebagai seorang pejuang pembela kebenaran. Ya pejuang itu sekarang
lumpuh. Kakinya masih utuh, jumlahnya masih sama, dua buah. Namun tidak bekerja
layaknya kaki. Kaki-kaki yang dahulu menemaninya berlari berkubang di
nelangsanya nasib para petani, menopang tegak ketika lantang bersuara hak-hak
kaum mlarat, petani dan sejawat. Kaki-kaki yang bakuh menopang terjangan
tongkat-tongkat aparat, ketika jengah dengan pelecehan hak-hak perempuan.
Kaki-kaki yang selalu marah menendang segala bentuk-bentuk ketidakadilan. Dan
membuatnya tersungkur parah, mengaduh lalu balas dendam. Dan kaki-kaki yang
menggoda setiap perawan untuk rela membuatnya tetap perkasa. Dimana kaki-kaki
itu berada disitulah pujian dan sanjungan hadir sebagai penghormatan. Dan
kaki-kaki itu sekarang menemui ajalnya. Terbujur kaku. Hidup tapi tak sehebat hari-hari
kemarin. Tidak berguna. Layak untuk dibuang. Dan Asep hanya terdiam melihat
ketidakberdayaannya. Kepahlawanannya selesai sebelum perang di gemborkan.

 “Dasar perempuan
tua!”
Nadia, diam.
Lelaki itu pergi
meninggalkan Nadia. Tertunduk, menghela nafas panjang.

 Spanduk-spanduk terbentang menantang. Tercoret tulisan-tulisan propaganda,
perjuangan tidak pernah di tunda. Petani harus bicara. Hak mereka harus bicara.
Harus bicara. Ratusan masa dari sebuah desa berbondong-bondong memenuhi
pelataran sebuah instansi pemerintah. Wajah mereka nampak cemas sekaligus ingin
merampas. Merampas apa yang seharusnya sudah dimiliki oleh mereka. Namun lepas
untuk disengketakan. Tanah. Asep dibarisan paling depan. Sebanjar lagi dipimpin
oleh Nadia. Dan sebanjar lagi meringsek bersama Idam. Semua maju meneriakkan tidak
betahnya dikekang oleh jerat-jerat aturan yang memihak yang kuat. Poster
terjulang ke angkasa. Tangan terkepal menantang. Mulut lantang bicara. Bukan dengan
apa adanya mereka berjuang. Hati, semangat kemauan dan tekad untuk satu kata.
Kekalahan. Alasan merubah nasib, nasib yang akan mereka jalani di kemudian
hari. Namun kali ini nasib jarang bicara dengan kaum mlarat. Kaum perkasa yang
dipaksa perkasa karena nasib. Nasib itu juga yang membungkam mulut-mulut
mereka. Dan menggiring mereka menuju sebuah pertanyaan besar kapan perjuangan
ini berakhir dan kapan kita akan kalah?! Dan Asep pejuang untuk perjuangan itu.

 “Nad, aku bilang
aku akan nikahi kamu..”
Nadia terdiam,
mulutnya lumpuh oleh rayuan si Lelaki.
“Dengarkan aku
Nad aku mencintaimu! Sungguh!”. Lelaki itu merengkuh lengan Nadia.
Nadia diam, mulutnya terluka parah oleh segala ucapan si Lelaki.
“Nad, Kamu tidak
percaya aku bakalan menikahimu. Sekarang aku tanya siapa yang kamu cintai?
Siapa yang akan sudi menikahi perempuan berumur seperti kamu? Ingat Nad perjalanan
cinta kita sudah lama. 2 tahun kita pacaran. Dan aku yakin kita saling mengerti
satu dengan yang lain. Sekarang apa yang kamu ragukan dengan ketulusanku?” 
            Pelan Nadia merebahkan tubuhnya. Diatas kasur busa. Di tatapnya
langit-langit kamar ruangan itu seakan ikut tertawa. Tertawa sejadinya. Lalu
diam dan mulut berkumur air liur. Waktu jarang bicara tentang cerita-cerita
luka. Mereka pergi begitu saja meninggalkan seorang perempuan yang berjuang
membalut hatinya yang bobrok oleh rayuan. Hancur. Hancur itu berkeping-keping,
berserakan. Serpihan-serpihan kecil hati dan makna cinta, berhamburan
kemana-mana. Dan waktulah yang melahapnya sebagai santap malam. Sedangkan Nadia
tak bisa berbuat banyak, sendi-sendi tubuhnya lumer oleh gemuruh tubuh si
Lelaki. Menggebu berjuang membuktikan keperkasaannya.
            Ada anjing kencing di luar sana. Dilihatnya seekor ayam tertidur pulas. Air
liur menetes. Matanya meruncing. Mengendap pelan kearah si Ayam betina yang
pulas tertidur. Pelan si anjing buduk itu mengendap-endap. Sebatang ranting
tidak sengaja terinjak. Prakk! Ayam betina terkejut. Matanya menyapu
sekeliling. Gelap. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Dibenahinya jerami yang
menghangatkan tubuhnya. Dan si Ayam betina siap untuk kembali dalam pelukkan
mimpi. Namun! Belum juga si ayam betina memejamkan matanya. Si Anjing dengan
garang menerkam si Ayam betina dari belakang. Dicakarnya punggung Si ayam
betina. Robek berdarah. Leher jenjang itu di gigit , sobek dan berdarah. Si
ayam betina sekarang tidak bisa berteriak minta tolong. Lehernya hampir putus
oleh gigitan si Anjing. Si ayam betina lemah. Pasrah. Si anjing menggeram
lirih. Dan tanpa banyak auman si anjing menancapkan kemaluannya yang sudah
memanjang, ke pantat si Ayam betina.
            Nadia tidak banyak bicara. Digigit bibirnya untuk menyadarkan, kelak luka
itu perih seperih bibir yang tergigit. Luka menganga darah meluber. Deras.
Keringat terkuras. Kelamin pun melemas. Terkulai. Satu tersenyum mengemas
tubuhnya, lari menyembunyikan diri. Dan sebisa mungkin hilang tanpa jejak,
pemerkosaan. Satu lagi merengek meraba sela selangkangan yang remuk atas nama
cinta. Nadia diam, matanya tergenang air asin karya sebuah luka. Hari ini
adalah hari yang bersejarah buatnya. Masa depannya adalah nyata hidup dengan
seorang pejuang pembela kebenaran. Pikir Nadia, harap Nadia, dari mulut itu
Nadia berani menukar hatinya dengan kelamin kurang kerjaan. Dari mulut itu lah
Nadia percaya, lelaki pujaan tidak berujar janji-janji rekaan. Dari janji Nadia
rela, dari harapan Nadia percaya.
            Si Lelaki terduduk lemas di ruang tamu. Sebatang rokok terselip di sela
jari-jemarinya. Tatapannya jauh menabrak jalan yang sepi dan rumah yang
lengang. Senyum kemenangan terpahat rapi diwajahnya. Disekanya keringat yang
bergerombol dijidatnya. Dan tanpa sadar ada sperma menempel dijidatnya. Si
lelaki tersenyum. Mantap dihembuskannya asap rokok ke udara. Senyum lagi, lalu
di lihat sekeliling. Jam dinding. Kamar sebelah. WC. Garasi. Dan taman depan
rumah. Sepi. Rumah sepi. Monumen kehancuran itu sepi. Teman-teman seperjuangan
sedang keluar. Mereka pergi untuk satu dua hari. Katanya ada sesuatu yang harus
dibicarakan masalah projek selanjutnya. Seharusnya mereka datang malam ini.
Tapi.. Dari arah pantat lelaki itu keluar bergerombol sebarisan Malaikat-malaikat
bejat. Tertawa puas. Sebagian menyeka liur dan lidah yang terjulur. Mereka
bergegas lari, terbang dan merangkak, singgah di kasur busa sebuah ruangan. Menyanyikan
lagu-lagu romatis. Berdendang lagu sebuah kesempurnaan pemerkosaan. Atas nama
tipu-tipu cinta. Lalu serempak mereka duduk di langit-langit kamar ruangan itu.
Duduk dan menunggu si budak kelamin untuk segera mengulang
kenikmatan-kenikmatan itu.
            Selimut hanya selimut. Tubuh yang bugil pun bisa terkurung rapi. Tapi angan
tidak terkurung. Mereka bebas berkelana mencari sela-sela penyesalan. Jika
janji terucap ingkar di akhir cerita. Harapan lah yang ditunggu di
persimpangan. Untuk bisa diajak bicara tentang masadepan dan nasib sebuah
kepercayaan. Namun terkadang harapan keburu menemui ajalnya. Ditengah-tengah
kisah tipu-tipu cinta. Sesal datang dan tidak akan rela menutup pintu untuk dendam.
Rokok pergi. Si lelaki memenuhi panggilan kelaminnya yang menegang. Selimut
terkoyak, kelamin pun bicara. Hati adalah mitos sebuah cinta. Dan kelamin..
Siap Grakk! Maju Jalan! Anjing itu pun berlari menuju sebuah pohon dan kecing
untuk kedua kalinya. Ditempat yang sama.
            Musim hujan datang seperti biasanya. Dingin merajam tubuh-tubuh yang tak
berbalut. Dedaunan bersendaugurau dengan butir-butir air yang jatuh dari
langit. Lebah bersarang dalam tempurung-tempurung pohon dan lubang-lubang kayu.
Mendekap tubuhnya yang menggigil dengan sisa-sisa madu siang tadi. Dan sekali lagi
perjuangan tidak pernah di tunda. Gembar-gembor tentang hak kepemilikan tanah
mulai di beberkan ke media masa. Petani versus aturan. Mana yang kalah? Asep
selalu didepan mencoba membekap lobi-lobi yang dibuat oleh tikus-tikus dan
anjing kurap. Ini atas nama orang mlarat, katanya lantang. Spanduk-spanduk
bercoret kata-kata perjuangan kembali menjulang ke angkasa. Di usung oleh
penuntut ketidakadilan aturan-aturan. Hukum? Sudah lari terbirit-birit
bersembunyi di ketiak-ketiak aturan rekaan. Siapa yang di untungkan? Sorak-sorai
ratusan mulut menyambut gegap gempita kata-kata Asep. Corong-corong toa yang
dibawa dari desa, sekuat tenaga menebarkan kata-kata pergerakkan yang dibuang
dari mulut Asep. Semua setuju semua akan maju bersama. Atas nama orang mlarat.
            Asep bicara sebagai pejuang dadakan. Hari ini cukup! Kita pulang! Kehidupan
diawali dari perut yang kenyang! Perjuangan tanpa kehidupan adalah hampa! Kita
pulang! Lengang. Poster berserakan. Plastik-plastik bekas es teh, makanan kecil
terbang berputar tersapu angin. Sandal jepit terjepit disela pilar. Topi mungil
bertengger di atas tanaman hias. Dan nadia celingukan, mencari kemana para
pejuang-pejuang itu. Di tentengnya plastik hitam besar penuh dengan makanan,
kembali ke sepeda motornya. Sembari memastikan lagi bahwa tidak ada lagi pejuang
yang tertinggal menungguinya. Sepi. Pelataran itu sepi. Semua orang telah
pergi. Nadia pun pergi.

 “Goblok!”. Lelaki
itu berdiri. Berkacak pinggang. Matanya melotot. Tajam menantang. Pejuang lain
kelipukan. Mereka lelah untuk bicara lagi. Mereka diam karena terlalu lama
berjuang. Mereka butuh makan. Mereka lapar. Dan mulut belum juga diganyang
makanan. Mana bisa otak kelaparan. Mana ada perjuangan dengan perut mengiba
makanan. Tidak! Maaf saja kawan pacarmu tidak berperasaan. Melihat Nadia yang berdiri
dengan plastik besar penuh berisi makanan, si Lelaki mendekat, geram. Malu.
“Kenapa bisa
terlambat, sudah aku bilang jangan sampai terlambat, perut ku dan kawan-kawan
butuh makan, kita lapar!”. Si lelaki tetap tidak berubah. Bangga dengan
bentuknya yang sekarang. Marah, seakan perut-perut kawan perlu juga di
perjuangkan. Cinta adalah legenda. Dan kawan adalah segala.
“Tega kamu ya!
Ngebiarin kita nunggu lama! Kelaparan! Kemana aja kamu! Apa aku suruh kamu beli
makanan di Medan?! Nggak kan! Bisa-bisanya!”. Si lelaki masih cinta dengan
bentuknya yang sekarang. Marah dan merasa hebat, dihadapan kawan-kawan
seperjuangan. Perjuangan tidak akan pernah di tunda. Ganyang semuanya atas nama
kebenaran. Cinta tak ubahnya tai kucing, bau dan harus di singkirkan.
“Dengar aku malu
punya kekasih seperti kamu! Mau ditaruh dimana mukaku! Mereka mengeluh ke aku
kok makanannya datangnya lama! Sapa sih yang beli! Benar-benar nggak punya
perasaan! Tega kamu sama kekasih sendiri! Aku capek! Kita semua capek! Kamu
punya tugas membeli makanan saja nggak becus!”. Si lelaki masih bergumul mesra
dengan bentuknya yang sekarang. Kekasih bisa dua macam kekasih di hati atau
kekasih seperti tai. Yang kudu di guyur dengan air yang banyak supaya lenyap masuk ke dalam septiteng.
“Hei dengar
mulutmu sudah keterlaluan. Siapa yang tega?! “
            Plastik hitam penuh berisi makan di lempar ke pejuang-pejuang itu.
Berhamburan. Nadia pergi.

 Asep nampak serius. Kawan-kawan perjuangan juga berkumpul. Ada tokoh dari
petani yang nampak serius membeberkan persoalan-persoalan. Sebentar saja mereka
saling melontarkan pendapat. Strategi disusun, relasi dihubungi. Bantuanpun
dikumpulkan. Ada pergerakkan besar-besaran yang sedang mereka rencanakan.
Perjuangan seharusnya tidak tertunda. Harus berakhir dengan kepuasan. Menang.
Atau kalah sama sekali.
            Malam. Tidak ada yang indah. Sama sekali. Bulan? Kemanapun dia bersembunyi
mentari akan membunuhnya di esok hari. Kumbang-kumbang lapar menghisap madu.
Lebah-lebah kenyang dengan sisa-sisa madu semalam. Dan lalat, tidak seekorpun
dari mereka yang berhenti menggerogoti bangkai tikus clurut yang mati siang
tadi. Dan si lelaki tidak ada niat sedikitpun menyeka air mata Nadia yang lumer
bersama derasnya keringat-keringat malaikat-malaikat bejat. Menggebu,
menghujam, melupakan sakit yang merintih keluar dari bibir Nadia yang tergigit.
Semua harus selesai malam ini. Esok si Lelaki ada pekerjaan mulia yang harus
dijalani. Dan Nadia mencomot kata-kata rela sebagai ungkapan kasih sayang.
Iklhas, beda dari rampas. Biarlah semua lepas asalkan si lelaki puas. 5 menit
berlalu. Si lelaki itu tepar. Terengah-engah. Tersenyum puas. Dan merasa
keperkasaannya terbukti. Dan tidak ada tandingannya. Selesai. Satu menyeka
sperma yang tercecer di jidatnya. Bergegas meringsek keluar tanpa kecupan
sayang atau sekedar terimakasih karena kelaminnya tidak jadi patah karena nafsu
yang tidak ketulungan. Yang satu menyeka air mata yang menggenang dihatinya.
Merasa janji adalah nyata dan bisa dipegang tanpa tergelincir di masa depan.
Cinta sama dengan kelamin. Dan kelamin adalah cinta. Di luar sana si Anjing
masih sibuk menancapkan kelaminnya. Si Ayam betina sudah membangkai. Si Anjing
belum mau selesai.

 Ruang tamu. Si Lelaki duduk terlentang, bertelanjang dada. Sebatang rokok
berayun-ayun di sela jari jemarinya. Segumpal asap bubar di udara. Di tatapnya
Nadia yang duduk melipat selangkangannya yang perih. Jam dinding tidak bergerak
di jarum jam tepat di angka 1 pagi. Segelas teh panas, di sekakan ke lengan
Nadia yang pegal karena permainan tadi. Air mata tidak ada lagi. Tersisa
hanyalah bengap. Dan kantung air mata yang menggembung.

 “Nad aku butuh
duit..”
            Nadia diam
tatapannya jauh menabrak semua kepastian-kepastian janji yang terjungkal
kejurang tipu-tipu cinta.
“Pamanku dan aku
berencana membuka usaha, kamu taukan kita tidak akan selamanya di jalur ini,
masa depan harus ada jaminan. Nah salah satunya usaha yang akan aku buka sama
pamanku, adalah untuk jaminan itu. Lagian duit darimana kalau aku ingin
melamarmu? Terus untuk anak-anak kita? Tentu saja duit perlu dan penting..”.
Asap rokok mengepul ke udara lalu lenyap tersapu angin malam.
“Gak bisa..
kata-kata yang kamu ucapkan sama seperti yang kamu ucapkan tahun lalu, asal
kamu tahu saja, uang 5 juta yang ku berikan ke kamu itu adalah tabunganku.
Sebagian aku pinjam mamah. Dan buktinya sampai sekarang pun aku tidak melihat
adanya sebuah usaha untuk jaminan masa depan, nol besar!”. Nadia membuang
ketakutannya. Kali ini Nadia berusaha menyingkirkan semua kebodohan-kebodohan
yang dituturkan oleh tipu-tipu cinta.
“kan kamu tahu
sendiri, usaha ku gagal saat itu, dan wajarkan sebuah usaha gagal, tapi kataku kita tidak boleh menyerah,
kita harus tetap berjuang, nah sekarang bisa aku pastikan ke kamu bahwa usaha
yang akan aku rintis bersama pamanku, aku jamin berhasil dan hasilnya… ya
untuk kita berdua, kita dan masadepan yang kita impikan… percaya aku Nad kali
ini aku tidak akan gagal, dan secepatnya akan aku kembalikan dua kalipat uang
yang pernah aku pinjam ke kamu, percaya aku Nad..”. si Lelaki merengkuh tangan
lembut Nadia. Matanya memelas. Memohon. Menjilat.

 Perjuangan Asep tidak sia-sia. Kekalahan mutlak. Aturan-aturan itu terlalu
kuat. Duit yang ditanam pun terlampau hebat. Matilah sebuah perjuangan.
Perjuangan akan ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Pengadilan telah
menjatuhkan vonis. Kemenangan ada dipihak yang berduit. Tidak ada sejarah yang
tergores untuk sebuah perjuangan tanpa duit. Kata-kata yang keluar dari mulut
membangkai di pelataran sepi itu. Tercecer bersama sorak-sorai kekalahan, tidak
terima dan siap menerima nasib sebagai pejuang kekalahan. Mereka pulang ke
tempurung mereka masing-masing. Hanya lobi kepada Tuhan yang bisa dilakukan.
Tidak lebih, bahkan berkurang. Seperti halnya dukungan, relasi dan bantuan yang
berlarian tungganglanggang, takut ajal datang menjelang. Mendadak tanpa
pemberitahuan. Posisi yang kuat dari seorang kawanpun tetap dipertahankan.
Dipertahankan untuk bisa membela daftar belanja istrinya yang seabrek.
Mediamasa tinggal mengeruk kesimpulan dan menyebar luaskan tentang
berita-berita ketidakadilan dan pelanggaran-pelanggaran. Tidak ada solusi.
Kecuali mati bunuh diri. Kekalahan, malu selalu digunjingkan sebagai obrolan
hangat sembari nikmat bersendawa di lobi-lobi hotel. Diskusi terbuka. Dan
forum-forum pejuang-pejuang lain. Ya sebatas obrolan. Tidak ada kelanjutan.
Alias bersambung di masa depan. Namun masa yang mana tidak mampu dijelaskan.
Selamat tinggal kemenangan. Selamat datang kekalahan.
            Asep lenyap. Pergi entah kemana. Lari bersama harga dirinya. Mulutnya
dibungkam oleh ketidakberdayaannya menjawab pertanyaan atas kebodohan dan
keculasannya. Suap telah tersumpal di mulut asep. Segepok lima puluhan ribu,
memberinya pilihan antar tetap maju kedepan kemudian mati belakangan. Atau
pergi dengan kekayaan. Pejuangan itu telah dijual kepada aturan-aturan.
Meninggalkan kawan-kawan. Meninggalkan Nadia yang harus berani bicara membawa
barisan ke depan. Barisan yang seharusnya di pimpin oleh si pejuang Asep.
Pergerakkan, rencana besar sudah dijual. Terlalu banyak mata-mata, perusuh yang
masuk. Perjuangan itu berakhir dengan kerusuhan. Segerombol bubar, berlarian
mencari selamat. Segerombol lagi meringsek mencoba bertahan. Dan segerombol
penuh terajam luka. Kekalahan tiada tara.

“Brengsek!
Lelakimu itu Brengsek! Dia pergi selagi kita butuh dia!”
“Dengar! Aku
tidak trima! Akan aku bunuh Lelakimu!”
“Kenapa diam! Mau
bela lelakimu?! Bela dia atau ku bunuh kamu sekalian!”
“Sebaiknya kamu
pergi! Disini tidak menerima pengkhianat!”

            Pintu tertutup
rapat. Dari luar mengiringi langkah Nadia. Pergi. Dan harga diri telah mati di
dalam ruangan itu, rumah itu, monumen itu.

 

 

Leave a Reply