Archive for August, 2007

Kapan, Akan Kamu Bunuh Aku?

Saturday, August 25th, 2007

Suatu saat hanya ada aku dan dendang Obie
Mesak, semut-semut yang berbaris didinding sekolah. Tidak ada bangku taman untuk
menunggumu dengan rantang makanan yang aku bawa tadi pagi. Atau sekedar 2
kuntum edelweis sebagai pernyataan sikap, “aku suka kamu!”. Tidak ada lagi.
Mungkin memperkosa kesepian adalah jawaban. Duduk sendiri dengan pena
menggantung di ujung bibir. Lalu mematahkannya, membakar cerita-cerita lucu
yang tertumpah dalam kertas. Meremas geram satu dongeng kencan. Atau… Kemudian
mencampakkannya sebagai bangkai, mayat hasil pembunuhan karakter. Ya, karena
cinta, aku bisa merusak kebodohanku berkubang dalam ketidakpastian,
ketidakyakinan, dan segala sendu nikmatnya dosa-dosa utusan Allah. Yang sengaja merangkai bunga mawar hitam akan buramnya
sebuah cerita masa depan. Dan lagu itu tak henti-hentinya mengulang refren
tentang penantian cinta. Indah. Simpel. Dan mungkin. Segalanya apapun itu, yang
berdiri di permukaan perjalanan waktu ini aku anggap mungkin. Dan mungkin juga
untuk putaran waktu yang lain aku mungkin selalu mengakhiri cerita dengan mungkin aku bahagia dengan cinta.
 

Sepasang kekasih dalam keadaan tidak sadar
karena cinta, berujar untuk hidup semati. Kalopun ada itu reinkarnasi, mereka
pun membuat perjanjian untuk berreinkarnasi menjadi putri salju dan pangeran.
Dan penjual es, tukang selop, mas rujak dan sebagian makhluk hidup lain yang
merasa masih bernyawa. Mereka putuskan berreinkarnasi menjadi 7 kurcaci. Si
lelaki menatap mesra perempuannya. Si perempuan pun tidak mau kalah di elusnya
hati lelaki itu dengan kecupan kecil di ujung bibir nikotin itu. Sebentar,
tidak butuh waktu lama, dalam hitungan kedipan mata, bunga-bunga cinta bubar
dari balik celana dalam mereka. Bibir beradu kenangan. Hati beradu imajinasi.
Otak hanya memberi sinyal kepada sepasukan nafsu. Untuk segera membentuk
barisan, menyerbu kawasan musuh. Melumatkannya, merajamnya, membacoknya, dan
berkali-kali melemparinya dengan meteor-meteor kerdil. Berkumpul, menghujamnya
berkali-kali, berkumpul dan membantai apapun yang menghalanginya. Si lemah itu
pun terkoyak. Berdarah. Si lelaki terkulai lemah. Dan si perempuan terkulai
sebagai calon bangkai. Selongsong peluru panas bergelinting jatuh kelantai.
Pelor menghancurkan kelopak matanya. Moncong pistol masih melepas asap
terkhirnya. Sebelum terhempas di lantai. Ada dia, dingin di sekujur raut
mukanya. Ada senyum puas. Di tatapnya si lelaki. Dijamah pipinya. Dan dicium
keningnya. Perempuan berwajah dingin pergi. Darah segar membuat corak dilantai
putih. Bercak yang lain tersemat ditembok. Sebagian dirak buku. Sebagian yang
lain di piring dan gelas, sayat. Kekasih terkapar, kerling mata tidak ada lagi.
Hancur. Wajah cantik remuk. Dan darah yang penuh dengan cinta, meresap di
pori-pori bumi. Bersama dengan cintanya seketika tubuh itu tak sehangat tadi
siang. Peluh, tak urung membanjiri seluruh tubuh lelaki itu. Bukan perempuan
itu yang ditakutinya. Namun alangkah sulitnya kematian untuk di negosiasikan.
Menemui ajal secara cepat adalah bunga-bunga hitam dalam panjangnya rangkaian
waktu. Kadang mati dengan cara paling sempurna. Indah. Dikenang. Dan selalu
menjadi cerita. Tapi ada juga kematian bisa sangat menjijikkan. Membusuk,
berbelatung, darah dijilati anjing buduk. Atau bahkan sebagian tubuh hilang
entah kemana. Manakah ajal yang datang untuk si lelaki? Si lelaki, mulutnya
membisu, mungkin membusuk kaku. Matanya di julurkan ke depan, menatap bangkai
kekasihnya. Hancurlah. Sekarang bubarlah. Cinta dan janji untuk sehidup semati
tidak akan ada lagi. Reinkarnasi, tidak akan pernah ada.

Hmmm.. Dia nampak gembira. Dipandanginya
celana jean itu. Berkali-kali dipaskan ke pinggul dan betisnya. Berputar dan
berbalik menatapnya teliti dan menilai sendiri. Cermin sebagai saksi dia seksi.
Pikirnya. Harapnya. Mungkin. Selepas bulan Februari kemarin seseorang
menghadiahinya celana jean. Ujar seseorang itu celana jean akan menjadi sebuah  kenang-kenangan rumit sebuah kisah asmara,
prasasti untuk lamanya sebuah kisah percintaan dua manusia bumi. Yah itu hanya
sebagian benda yang disumpalkan ke dalam perjalanan kisah cinta dia dan
seseorang itu. Menurut seseorang itu benda adalah jelmaan cinta. Saling memberi
dan menerima. Diberikan oleh si dia surga dari sebagian surga yang di buang ke
bumi kepada seseorang itu. Dan seseorang memberinya kembali dengan apapun yang
dibutuhkan untuk mempertahankan surga si dia. Pikir seseorang itu. Sudah
terlampau banyak dia dan seseorang itu saling memberi dan menerima bahkan
mengutang dari sebagian hasil orangtua atau kerabat setara. Seseorang itu
percaya cinta adalah a.k.a. pengorbanan. Untuk membuatnya menjadi buta
sebuta-butanya. Sejati untuk sepalsu-palsunya. Dan memang benar celana jean
adalah kepalsuan yang direncanakan untuk si dia oleh seseorang itu. Dan
benda-benda lain yang lenyap dimakan janji sekarang pun tidak berbekas
sedikitpun. Hanya ada nota, kuitansi, dan tanda bukti seseorang habis segini.
Dan si dia menerima celana jean itu, prasasti sebuah akhir yang pait. Putus.
Bubar. Tidak ada ikatan janji dan rajutan rencana menantang masadepan.
Seseorang itu punya rencana lain, dengan yang lain. Dengan dia yang lain, yang
tidak harus diupah benda, tidak harus dibelain mengutang harta hanya untuk
secuil surga yang dibuang ke bumi. Yang mau menerima betapa rentanya kelamin
seseorang itu. Yang mau melepas segala bentuk ikatan dan janji, makna masadepan
dan berakhir di pelaminan. Tidak ada. Tidak pernah ada. Dan nggak bakalan
mungkin ada. Selamanya. Selepas februari.

Ada lelaki. Ada sebuah lorong kampus. Bangku
taman sengaja dibuat melingkar untuk menyatukan mata-mata rabun. Lelaki duduk
disalah satunya. Secarik kertas di kutik-kutik, dibentuknya sedemikian rupa.
Tidak lama, sebuah pesawat kertas berpesan, lepas terbang dari tangan lelaki itu.
Terbang, goyah oleh angin usil. Lalu menukik jatuh di pangkuan seorang
perempuan. Si perempuan sadar itu perbuatan unik si lelaki. Dengan cepat di
urainya pesawat kertas itu. Ada pesan yang di tulis lembaran kertas itu.
‘Cantik..’. Si perempuan tersenyum. Dirasakan pipinya memerah panas. Rasa betapa
cantiknya si perempuan membuat si perempuan tidak mau menceraikan sanjungan si
lelaki. Sudah terlalu lama si perempuan tidak diperjuangkan oleh lelaki-lelaki
kasmaran. Sekarang datang saat itu, sekarang itu, hari itu. Ada pesawat kertas
yang membawa sekuntum pujian untuk si perempuan. Diterimanya pujian itu.
Dibongkarnya relung hatinya yang sudah lama berlumut tebal. Dimasukkan ke dalam
jauh ke dalam. Lalu di congkelnya kotak-kotak kenangan yang diborgol waktu,
dibuka dan sebagian pujian di masukkan ke dalam lalu di kunci rapat oleh si
perempuan. Semua itu untuk dibawa pulang. Untuk dibaca lagi selepas makan
malam. Dalam sebuah kamar. Harum pengharum ruangan menyeruak. Membusukkan
segala yang bau busuk. Dan memberinya berhektar-hektar keharuman taman bunga.
Dan si perempuan berlari kesana. Berguling-guling setelah jatuh dari pangkuan
pesawat kertas yang membawanya terbang sesaat. Senyum sendiri. Memejamkan mata.
Lalu memetik sekuntum bunga untuk dicium. Lalu senyum lagi. Dan berguling lagi.
Lalu jatuh di setumpuk pesawat kertas. Diambilnya satu, diurainya dan senyum
lagi. Si tampan itu ada disana. Si lelaki itu duduk menunggunya dibangku taman.
Kemeja separuh rapi dikenakan berpasangan dengan celana belel kemarin minggu
menambah betapa rupawannya si lelaki. Si perempaun berjingkat girang. Berlari
menuju bangku taman. Dipakainya baju yang terbaik, tercantik. Ditatanya wajah
dengan perekat make up untuk menahan kecantikkannya, luar biasa. Untuk si
lelaki. Untuk si penggairah asmara. Senyum. Hanya bahagia yang bicara seadanya.
Ketika si lelaki memberikan 2 kuntum bunga edelweis. Jemari lentik menerima
kuntum-kuntum itu. Sebelum layu dan mranggas oleh perjalanan waktu. Senyum
kembali melukisi wajah si perempuan. Betapa bahagianya si perempuan,
mendapatkan kembali lontar-lontar yang hilang. Lontar-lontar tentang cinta dan
kebesarannya. Selepas telanjang, berguyur dengan segarnya air. Terburu-buru
langkah mungil seorang perempuan. Dalam dekapan segepok buku pelajaran menerima
kehangatan.  Tidak ada kepang untuk pagi
ini. Kawat gigi istirahat. Dan kacamata penghalang kelentikkan bulu mata
berganti maskara. Semua harus serba cantik. Dan langkah mungil itu tidak
henti-hentinya menyanyikan senandung kerinduan. Sebulan seakan berminggu-minggu
lamanya. Dan semenit tidak ada artinya tanpa si lelaki. Ada lelaki di bangku
taman. Selembar kertas mulai berwarna oleh kata-kata yang dicoretkannya.
Membentuk bait-bait, pola-pola sulaman puisi pujangga yang mati karena jatuh
cinta. Inilah roman tentang sebuah kejadian yang dinamakan percintaan.
Begitulah salah satu bait itu tertulis. Sembari menebar pandang, menunggu
berjuta-juta kerinduan yang dipesannya. Lelaki itu menata kembali sebuah
kejutan. Kejutan untuk cintanya. Untuk kekasihnya. Untuk perempuan itu. Ini
minggu pertama buat mereka untuk mengurai pesawat-pesawat kertas yang lain.
Bersama. Berdua. Atas nama asmara.

Daun pohon cemara belum juga berhenti bersiul bersama
terpaan angin dari barat. Ada tupai goblok yang mencoba menjilat sisa es apolo.
Dingin. Lalu berlari di balik semak. Seseorang, dua orang berteriak dari balik
semak. Perempuan itu separuh telanjang. Lelakinya tidak jauh beda. Mereka bubar
dari perhelatan acara persembahan untuk alam. Berlari pontang-panting menerjang
rumput yang pasrah terinjak, lebam, lalu layu menunggu mati entar sore. Tadi
pagi rumput begitu segar. Kawan-kawan embun bergelantungan, menggoda bumi
dibawahnya. Si rumput hanya tersenyum. Selain habis dimulut sapi dan kambing.
Setidaknya dia masih bisa menikmati canda puluhan embun. Rumput bersyukur dari
mulai hidup sampai rencana kematiannya kelak. Rumput selalu merasa dialah teman
dari sebagian kehidupan. Menjelang siang, ada kelamin yang melepaskan embun
keemasan. Sorrr begitu saja ditebarkan merata. Siang dengan embun yang
keemasan? Bagi rumput ini salah satu anugrah buatnya. Memberikan tempat
berteduh bagi embun-embun itu. Sebelum moksa di bakar mentari. Tidak hanya
kelamin itu. Kelamin satunya tertarik untuk memeriahkan taman bermain itu.
Sorrr… puluhan bahkan ratusan embun keemasan terbang dengan sayap-sayap
mereka. Mengepak, mengepak lalu jatuh begitu saja. Ujung tubuh rumput menjadi
tempat terakhirnya. Mereka bermain bercanda lalu mati di sore harinya.

Senoaji, akhir agustus 2007-08-24
Pagi, adalah awal kebinasaan waktu dan cerita semalam..

Mungkin, akan datang apa yang disebut: suatu saat nanti…

Sunday, August 5th, 2007

Nasi yang
tergelar di daun pisang itu, kian menipis. Lele goreng dan sambel itu juga tak
mau kalah, menipis tinggal duri dan daging tipis yang melekat di ujung ekor.
Sambel juga. Lalapan hilang entah kemana. Yah! Ada 10 tangan kanan bernafsu
berebut nasi, lele goreng dan sambel. Ada 10 mulut yang sibuk mengoceh,
mengomel tak jelas, dan mengunyah sembari melepas kelakar yang bikin muntah
bagi mulut higenis. Belepot memang, mulut, tangan dan kaki. Kotor memang, nasi,
lele goreng dan sambal karena terciprat pasir pantai. Hancur memang, rasa dan
aroma makanan itu. Tapi ini aku sebut kebersamaan. Bukan perkara nasi prol, bukan
juga hambar bumbu lele goreng, dan manisnya sambel tomat dan rasa lapar yang meraung
selepas Karangmalang. Yang memaksa berebut, semrawut. Dan menjauhkan dari apa
yang dinamakan beradab. Bukan itu. Tidak sesimpel itu. Ada cinta yang dikunyah
dan dimuntahkan dalam lingkar kebersamaan. Ada senyum yang tidak dipaksa. Bacot
yang ikhlas, sekedar mengumpat, atau bicara rusuh seadanya. Untuk satu kelakar
yang indah. Atau membagi senyum, tawa dari mulut yang tidak mudah jenuh dengan  kejujuran dan sebakul kebahagiaan yang murah
meriah tanpa harus ngutang pada pelawak kacangan atau da’i jadi-jadian. Semua
muncul dari lembabnya hati. Dari bibit _satu untuk semua kebodohan yang
rupawan_yang ditanam saat jumpa dimalam keakraban 1999. Tumbuh subur seiring
semakin gobloknya perjalanan waktu. Yang ngigau sebagai raja dari segala
langkah-langkah mungil serial sinetron kehidupan manusia. Dan panen itu tiba,
buahnya lezat, nikmat bernama tangan terjabat erat. Manis, asam, lalu pahit,
kemudian gigitan kedua asam diselanya terasa manis dan pahit lagi. Hampir mirip
sama apa itu tipu-tipu jaman.

 

Yah, sebodoh
mungkin hidup ini dibuat sederhana. Seperti kesepuluh wajah itu, mereka tahu
pasir itu bukan lauk yang tepat untuk nasi. tapi tetap saja, kunyah, telan,
masuk kekerongkongan. Terjun bebas ke pencernaan. Senyum. Selesai.

Tepian pantai, lemah
mencengkeram deburan ombak Pantai itu. Berlari menjauh dan bertumbuk di ujung
palung. Buyar bubar. Sedemikian juga hancurnya terik siang, bertebaran menjauh
menyambut gelak kelakar sang penguasa malam. Pergi jauh di balik gumuk. Hanya
jingking yang betah berkejaran dengan gemulung riuh ombak. Berlari masuk
kelobang pasir. Bersembunyi, mengintip dibalik-balik kilau pasir pantai. Tapak
riuh canda itu hilang satu persatu. Terbasuh ombak. Halus rata oleh pasir.
Tidak sedikitpun bekas tertinggal. Halus, rata. Seperti sediakala. Tidak ada
daun pisang, alas kembulan. Tidak ada, halus, rata. Hari sudah larut malam,
saatnya dongeng berterbangan dan hinggap di benak para pecintanya. Dongeng
indah kisah-kisah tadi siang. Sepanjang waktu mendengar dongeng-dongeng itu,
sebetahnya pergantian hari yang pergi namun tak ingin kembali.

 

Bulan April 2007,
kenangan mengajakku mampir, kembali ke tempat itu. Tepian pantai. Mata ini aku
bebaskan menikmati apa yang sudah terjadi di waktu lampau. Aku duduk. Gemulung
ombak tak henti-hentinya menarikku ke dalam satu cerita yang sesaat dulu pernah
aku lupa. Rambutku tertampar angin. Sekali, dua kali lalu sekali dan
seterusnya. Sebutir pasir menyelinap di mata. Perih. Ku usap, berair, namun tak
juga pergi.

“Sini biar aku
tiup..”

Mata ku usap
lagi, sekarang lebih kuat.

“Jangan kamu
usap, ntar pasirnya tambah masuk ke dalam!”

Dan.. Wuufff!!

“Gimana lebih
enakkan?”

Benar tak ada
lagi pasir di mataku. Namun apa yang aku lihat lebih mengganggu mata ini. Ku
usap lagi. Lagi. Kemudian sekali lagi. Lenyap sudah teori tentang fatamorgana.
Terik mataharipun bukan jadi alasan untuk mengelabuhi mataku. Apa yang ku lihat
nyata. Bukan semu. Dan bukan juga racun otak yang memaksa logika bekerja tak
sempurna. Lelaki itu duduk di sampingku. Melempar senyum. Lalu berlari menuju
bibir pantai. Korek gas ku nyalakan dan ku sulutkan ke kelingking. Panas.
Lelaki itu melambai. Diam. Dan belari ke arahku.

“Hei ngapain ke
pantai kalau Cuma mampir bengong? Ayo!”.

Ditariknya lengan
bajuku. Aku berdiri. Ku tatap lagi lelaki itu. Nyata. Tas aku letakkan. Ku
lepas sepatu, kaos kaki. Dan ku berlari mengejarnya. Dan sebentar aku sibuk
dengan permainan bola. Tidak hanya satu aku lihat ke delapan lelaki lain.
Senyum. Tawa. Cerita. Waktu. Hilang. Hampa. Sepi. Hanya desir angin dari sela rumput
liar.

 

Kaki ini terpaku,
pasir menenggelamkannya sebatas tumit. Air laut bergulung menepi. Lembut menyentuh
jemari kaki. Lalu pergi membawa kembali apa yang diberikannya. Menyisakan
jejak-jejak waktu yang hancur, tak ada. Sisa waktu jatuh berdegum di bulir-bulir
pasir. Pingsan dan tak bicara lagi. Dongeng akan kehebatan sebuah persahabatan
dan cerita-cerita di lontar-lontar rapuh, hari ini aku baca kembali. Angin
telah memaksa air bergemuruh membantai tepian pasir. Senja tak lagi berpantun
dengan malam. Mungkin separuh bulan yang terlahap batara kala terpasung di
balik sepasukkan awan, menjadi titik awal penebusan. Dan aku dan mitos sebuah kenangan adalah nyata, berdiri
sendiri, disini bersama sapuan ombak yang terburu-buru pulang ke lautan.

 

Teruntuk
kawan-kawanku. Nyawa memaksa tubuhmu berjingkrak resah menerima kenyataan,
bahwa hidup tidak senikmat semangkuk mie Ayam Purworejo. Atau semanis segelas
kopi hitam Bonbin. Ada brotowali yang tercelup didalamnya, mempertahankan hidup
sebaik mungkin. Kawan sampai saat ini aku lihat kalian sudah sebaik-baiknya
menjalankan peran sebagai seekor manusia. Mahkluk yang katanya paling sempurna
dari kucing, kodok, atau kecoa. Kesempurnaan itu sudah kalian raih. Walau
kadang harus tersayat waktu. Tergores dalam aturan dunia. Dan terpenggal
keputusan kodrati. Tapi tegar dan berdiri sendiri dengan kelumpuhanmu,
membuatku ingin mengiba satu permintaan. Kapan kalian istirahat sejenak. Duduk
santai di basahnya rumput Telomoyo. Memuji nikmatnya secangkir kopi hitam. Yang
kita sedu dengan sederhana. Atau semanci mie instan untuk kita lahap ala
kadarnya. Itu saja lalu kita bicara apapun. Apapun selain hilang dari waktu dan
berlari di belantara kesendirian.