Mungkin, akan datang apa yang disebut: suatu saat nanti…

Nasi yang
tergelar di daun pisang itu, kian menipis. Lele goreng dan sambel itu juga tak
mau kalah, menipis tinggal duri dan daging tipis yang melekat di ujung ekor.
Sambel juga. Lalapan hilang entah kemana. Yah! Ada 10 tangan kanan bernafsu
berebut nasi, lele goreng dan sambel. Ada 10 mulut yang sibuk mengoceh,
mengomel tak jelas, dan mengunyah sembari melepas kelakar yang bikin muntah
bagi mulut higenis. Belepot memang, mulut, tangan dan kaki. Kotor memang, nasi,
lele goreng dan sambal karena terciprat pasir pantai. Hancur memang, rasa dan
aroma makanan itu. Tapi ini aku sebut kebersamaan. Bukan perkara nasi prol, bukan
juga hambar bumbu lele goreng, dan manisnya sambel tomat dan rasa lapar yang meraung
selepas Karangmalang. Yang memaksa berebut, semrawut. Dan menjauhkan dari apa
yang dinamakan beradab. Bukan itu. Tidak sesimpel itu. Ada cinta yang dikunyah
dan dimuntahkan dalam lingkar kebersamaan. Ada senyum yang tidak dipaksa. Bacot
yang ikhlas, sekedar mengumpat, atau bicara rusuh seadanya. Untuk satu kelakar
yang indah. Atau membagi senyum, tawa dari mulut yang tidak mudah jenuh dengan  kejujuran dan sebakul kebahagiaan yang murah
meriah tanpa harus ngutang pada pelawak kacangan atau da’i jadi-jadian. Semua
muncul dari lembabnya hati. Dari bibit _satu untuk semua kebodohan yang
rupawan_yang ditanam saat jumpa dimalam keakraban 1999. Tumbuh subur seiring
semakin gobloknya perjalanan waktu. Yang ngigau sebagai raja dari segala
langkah-langkah mungil serial sinetron kehidupan manusia. Dan panen itu tiba,
buahnya lezat, nikmat bernama tangan terjabat erat. Manis, asam, lalu pahit,
kemudian gigitan kedua asam diselanya terasa manis dan pahit lagi. Hampir mirip
sama apa itu tipu-tipu jaman.

 

Yah, sebodoh
mungkin hidup ini dibuat sederhana. Seperti kesepuluh wajah itu, mereka tahu
pasir itu bukan lauk yang tepat untuk nasi. tapi tetap saja, kunyah, telan,
masuk kekerongkongan. Terjun bebas ke pencernaan. Senyum. Selesai.

Tepian pantai, lemah
mencengkeram deburan ombak Pantai itu. Berlari menjauh dan bertumbuk di ujung
palung. Buyar bubar. Sedemikian juga hancurnya terik siang, bertebaran menjauh
menyambut gelak kelakar sang penguasa malam. Pergi jauh di balik gumuk. Hanya
jingking yang betah berkejaran dengan gemulung riuh ombak. Berlari masuk
kelobang pasir. Bersembunyi, mengintip dibalik-balik kilau pasir pantai. Tapak
riuh canda itu hilang satu persatu. Terbasuh ombak. Halus rata oleh pasir.
Tidak sedikitpun bekas tertinggal. Halus, rata. Seperti sediakala. Tidak ada
daun pisang, alas kembulan. Tidak ada, halus, rata. Hari sudah larut malam,
saatnya dongeng berterbangan dan hinggap di benak para pecintanya. Dongeng
indah kisah-kisah tadi siang. Sepanjang waktu mendengar dongeng-dongeng itu,
sebetahnya pergantian hari yang pergi namun tak ingin kembali.

 

Bulan April 2007,
kenangan mengajakku mampir, kembali ke tempat itu. Tepian pantai. Mata ini aku
bebaskan menikmati apa yang sudah terjadi di waktu lampau. Aku duduk. Gemulung
ombak tak henti-hentinya menarikku ke dalam satu cerita yang sesaat dulu pernah
aku lupa. Rambutku tertampar angin. Sekali, dua kali lalu sekali dan
seterusnya. Sebutir pasir menyelinap di mata. Perih. Ku usap, berair, namun tak
juga pergi.

“Sini biar aku
tiup..”

Mata ku usap
lagi, sekarang lebih kuat.

“Jangan kamu
usap, ntar pasirnya tambah masuk ke dalam!”

Dan.. Wuufff!!

“Gimana lebih
enakkan?”

Benar tak ada
lagi pasir di mataku. Namun apa yang aku lihat lebih mengganggu mata ini. Ku
usap lagi. Lagi. Kemudian sekali lagi. Lenyap sudah teori tentang fatamorgana.
Terik mataharipun bukan jadi alasan untuk mengelabuhi mataku. Apa yang ku lihat
nyata. Bukan semu. Dan bukan juga racun otak yang memaksa logika bekerja tak
sempurna. Lelaki itu duduk di sampingku. Melempar senyum. Lalu berlari menuju
bibir pantai. Korek gas ku nyalakan dan ku sulutkan ke kelingking. Panas.
Lelaki itu melambai. Diam. Dan belari ke arahku.

“Hei ngapain ke
pantai kalau Cuma mampir bengong? Ayo!”.

Ditariknya lengan
bajuku. Aku berdiri. Ku tatap lagi lelaki itu. Nyata. Tas aku letakkan. Ku
lepas sepatu, kaos kaki. Dan ku berlari mengejarnya. Dan sebentar aku sibuk
dengan permainan bola. Tidak hanya satu aku lihat ke delapan lelaki lain.
Senyum. Tawa. Cerita. Waktu. Hilang. Hampa. Sepi. Hanya desir angin dari sela rumput
liar.

 

Kaki ini terpaku,
pasir menenggelamkannya sebatas tumit. Air laut bergulung menepi. Lembut menyentuh
jemari kaki. Lalu pergi membawa kembali apa yang diberikannya. Menyisakan
jejak-jejak waktu yang hancur, tak ada. Sisa waktu jatuh berdegum di bulir-bulir
pasir. Pingsan dan tak bicara lagi. Dongeng akan kehebatan sebuah persahabatan
dan cerita-cerita di lontar-lontar rapuh, hari ini aku baca kembali. Angin
telah memaksa air bergemuruh membantai tepian pasir. Senja tak lagi berpantun
dengan malam. Mungkin separuh bulan yang terlahap batara kala terpasung di
balik sepasukkan awan, menjadi titik awal penebusan. Dan aku dan mitos sebuah kenangan adalah nyata, berdiri
sendiri, disini bersama sapuan ombak yang terburu-buru pulang ke lautan.

 

Teruntuk
kawan-kawanku. Nyawa memaksa tubuhmu berjingkrak resah menerima kenyataan,
bahwa hidup tidak senikmat semangkuk mie Ayam Purworejo. Atau semanis segelas
kopi hitam Bonbin. Ada brotowali yang tercelup didalamnya, mempertahankan hidup
sebaik mungkin. Kawan sampai saat ini aku lihat kalian sudah sebaik-baiknya
menjalankan peran sebagai seekor manusia. Mahkluk yang katanya paling sempurna
dari kucing, kodok, atau kecoa. Kesempurnaan itu sudah kalian raih. Walau
kadang harus tersayat waktu. Tergores dalam aturan dunia. Dan terpenggal
keputusan kodrati. Tapi tegar dan berdiri sendiri dengan kelumpuhanmu,
membuatku ingin mengiba satu permintaan. Kapan kalian istirahat sejenak. Duduk
santai di basahnya rumput Telomoyo. Memuji nikmatnya secangkir kopi hitam. Yang
kita sedu dengan sederhana. Atau semanci mie instan untuk kita lahap ala
kadarnya. Itu saja lalu kita bicara apapun. Apapun selain hilang dari waktu dan
berlari di belantara kesendirian.

Leave a Reply