Cinta: Luangkan Separuh Waktumu..

Trotoar sepi, lampu jalan dan segerombol poster dekil. Ada bau kencing
anjing dan piaraannya. Segar. Tak jauh, bocah kecil, wajahnya membusuk, mungkin
terlalu lama bibirnya digigit dan luka. Lalat berkerumun. Walau malam. Tak
ingin pesta dilepas begitu saja. Bocah itu mati. Tidak ada yang tau, mungkin
besok akan ada yang perduli. Seutas tali jemuran yang terbelit di lehernya,
mengakhiri iba-ibanya.

 Ruang tamu. Secangkir kopi robussta. Sudah dingin. Perempuan bibir tipis,
alis berpoles tebal warna coklat. Hidungnya terurus rapi. Kulitnya terawat.
Mata bulat, hampir mirip bola mata ulat kuda. Lentik bulu matanya. Rambut separuh
ikal tergerai bebas. Seikat tergerai ke depan menutup satu payudaranya. Tubuh
yang terbalut gaun tidur warna pink. Bersandar malas dikursi. Murung mencoreng
kemolekkan ,kecantikannya. Perempuan itu bingung. Dia mau di kawin tahun depan.
Oleh seorang lelaki yang jauh lebih tua darinya.
“Umurku baru 21”
tukas si perempuan.
“Aku kuliah, aku
serius kuliah, aku ingin pintar, jika pun harus menjadi pelacur kelak, aku lah
pelacur yang tau peradaban dunia, penemu mesin waktu, cerita-cerita einstein,
Neitzche, romansa dunia ketiga, sejarah, politik mutahir dan segalanya… aku
pintar”. Lanjut si perempuan.
“Rencanaku
selesai tahun depan.. 4 tahun.. hmm”. Nafas sejenak.
“Aku cerdas, aku
rajin, selalu kuselesaikan tugasku tepat waktu”. Dihela sejenak.
“…setiap hari,
setiap pagi, sebelum tidur, belum tidur.. aku cerdas..”. nafas panjang.

Diambil secarik kertas. Ditulisnya beberapa kata. Lalu kopi robusta dingin
lenyap dibalik sisa ginchunya. Si perempuan merebahkan kepala. Matanya jauh
mengiba rembulan. Tatapannya dangkal mengemis nasib. Malam ini ditenggaknya
segelas robusta dingin beserta 20 butir pil penenang.

Aku biasa menatapnya dari sini. Dibalik pohon randu yang berumur lebih dari
umur kakekku. Ada batang-batang yang kering dimakan matahari. Lalu membuang
bulu-bulu keringnya ke tanah. Berserakan. Namun masih terasa teduh. Untukku
berdiri dan menunggu dia, yang ku kagumi. Hari-hari berjalan bergandengan
tangan. Melangkah diantara ributnya udara yang kering. Dan debu jalan yang
merintih terbuang ketepian. Semua nampak sama dari yang sudah berakhir kemarin
waktu. Hanya sepasang kupu-kupu yang rela memberikan kecantikan untuk sebuah
kekekalan yang tidak kekal. Waktu. Dan pohon randu tua ini. Adalah bagian
kekekalan itu. Tubuhnya juga rela membiarkanku merajah luka-luka kecil
ditubuhnya. Ku tambahkan sayatan tipis di kambium pohon renta itu. Tipis saja,
aku takut pohon itu meronta dan mengaum memanggil penjaga taman kota. Lalu
menggiringku ke tepi sebagai perusak keindahan. Malas benar. Jadi, sayatan
tipis, tapi pasti ini hari ke 32 aku mengagumimu. Kamu tidak seberapa cantik.
Tulangmu cukup puas dengan lemak dan daging yang menggumpal ditiap sudutnya.
Tubuhmu jauh dari layaknya puja-puja lelaki-lelaki molek. Kamu gendut. Tapi aku
suka. Wajahmu bulat. Bagai nampan ibuku yang jatuh dari rak piring. Prakk!!
Tapi aku suka. Lihatlah saat kamu tersenyum. Lihat matamu! Hilang ditelan
pipimu yang berlomba dengan lesungnya membekap binar kelopak mata. Hilang
begitu saja. Tapi, sekali lagi aku suka. Rambut.. belum bisa aku puja untuk
saat ini. Cukup bagiku memuja apa yang dipahat oleh-Nya. Untuk saat ini, untuk
kelak saat ku sayat pohon renta ini. Lagi.

Hidung itu berdarah. Hidung yang terlalu biasa ingusan. Kini bukan lagi
mimisan. Tulangnya patah oleh bogem mentah. Si bapak lupa bagaimana mencintai
darah dagingnya. Semenjak kelaminnya
mengobrak-abrik garba seorang janda pinggiran kota. Si bapak memutuskan selesai
bersanding dengan si ibu. Si ibu pergi meninggalkan kehidupan mungil , si bocah
sendiri. Dan seribu kantung-kantung persoalan jagad tipu-tipu ini. Si bapak
lihai, dengan pesona tato yang merajah tubuhnya, mulut yang mengumbar manisnya
dunia, janda hampir kaya itupun terpikat. Mereka bercinta. Beradu canda gaya
seks remaja. Mereka begitu memanjakan kelamin masing-masing, begitu bahagia.
Entah di dapur, ruang tamu, kamar tidur, bilik ibadah, bahkan kamar mertua.
Mereka selalu bercinta. Membabi buta, luka adalah perantara kenikmatan. Si
janda pasrah. Sabetan rotan dan ikat pinggang adalah ikhlas dalam bercinta.
Cinta sama dengan ikhlas. Ikhlas untuk luka demi cinta. Dan cinta ikhlas untuk
terluka. Walau perih, walau luka menganga dan sekali di jahit beberapa. Itulah
cinta bagi si janda untuk si bapak Dan si bocah diberikannya mainan baru. Tutup
botol minuman soda, dipipihkan lalu 3 sampai 5 tutup botol dipaku ke sebatang
kayu. Si bapak tidak kawatir anaknya mungkin terlindas bus kota atau tersenggol
mobil-mobil mewah. Yang penting rupiah. Cukup membungkam mulut hitam si bapak.
Dan si bocah dengan sedikit senandung dangdut masa kini. Bermain dengan
mainannya yang baru. Ngamen. Dijalan. Diperempatan.. Selang dari waktu yang
tidak direncana. Si bocah pulang, dijulurkan tangannya yang hitam melegam. Ada
beberapa peser setoran hari ini, tidak cukup bagi si bapak. Plakk! Itu tamparan
untuk bulan ini. Tulang hidungnya patah. Hidung yang terlalu biasa ingusan.

 Kamar. Sedikit pernik. Buku bermuatan politik luar negeri dan jurnalistik
dasar, terkapar disela-sela ramainya kertas-kertas putih yang berserakan.
Berita hari ini ‘Jual beli perempuan kian
marak’
. Seorang perempuan. Rambut diikat ekor kuda. Tubuh berlapis tanktop
cream. Dan paha terbekap celana pendek, putih. Duduk beradu mata dengan layar
monitor. Lentik jemari berlarian dari A ke K lalu ke U dan entah kemana lagi.
Sesekali berhenti. Berlari ke keningnya dan memijat, berputar pelan-pelan dan
pelan dikeningnya. Seperti bicara dengan otak melalui jemari. Untuk segera
berputar. Dan bicara melalui kata-kata makna. Lalu memanjakan diri berkecipak
di rentetan kata yang muncul di layar monitor. Melodi panggilan berderu dari
ponsel mungilnya. Si perempuan melirik. Hanya melirik. Diam, tatapannya tidak
bisa di ganggu. Proses senggama otak, logika dan kecerdasan sedang beradu asik
dalam gelora makna sebuah rentetan kata-kata. Deru itu muncul lagi. 10 kali.
Diam. Kemudian deru itu muncul lagi. 10 kali. Diam. Dan
“Apaan sihh?!”
“….”
“Ya, maaf aku
lagi sibuk!”
“….”
“Apa harus aku
selalu membalas semua SMS-mu!”
“!!!!”
“Iya aku tahu!
Tapi kan tugas ini lebih penting dari membalas SMS KANGENmu itu!”
“!!!!!!!”
“Terserah!”
Tuttttt… deru
berhenti. Diam.

Aku tersenyum sendiri. Benar! Apakah aku sudah gila? Tidak aku masih cukup
waras. Aku sehat. Jiwa tentram. Nafasku lepas bebas. Tidak bergumpal di
paru-paru dan bikin sesak nafas yang berkepanjangan. Tidak! Otakku? Ku rasakan
tidak bergeser 1 cm pun dari tempurungnya. Tetap ditempat semula. Lalu apa yang
membuatku senyum sendiri. Tanpa berpikir panjang, aku pun melongok ke sayatanku
33 di pohon randu tua itu. Baru setengah aku selesaikan sayatanku. Belum juga
aku ucapkan mimpiku. Belum selesai ku abadikan kemolekkan itu. Tiba-tiba dia menatapku.
Benar menatapku. Dari seberang jalan tempat dimana aku luluh lantak oleh
kekagumanku akan sebuah kesempurnaan reka-reka-Nya. Dia menatapku sebentar lalu
menoleh dan pergi. Pergi begitu saja. Betapa sepasukkan bahagia datang berkuda
menerjang kuat, degup jantungku. Meremukkanku menjadi kepingan-kepingan. Lalu
angin berhembus membawa pergi bersama kelopak bunga-bunga itu. Terbang ketepian
dan tanganku siap meraih sebuah harapan. Ya harapan untuk bisa berkenalan
dengannya. Ku selesaikan sayatanku. 33. 

Dihempaskan ponsel ke tempat tidur. Murung berkecamuk seenaknya. Datang dan
berak semaunya dimuka perempuan jelita itu. Meninggalkan amarah akan sumpeknya
persoalan asmara dan mempersatukan kelamin dalam ikatan pernikahan. Si
perempuan hanya bisa bermimpi untuk mimpi-mimpinya. Berimajinasi akan sebuah makna
kelak dan suatu saat yang takkan muncul. Tentang sebuah cita-cita besar.
Melakukan perubahan. Memberikan perubahan. Dan menawarkan perdamaian.
Setidaknya apa yang diperoleh saat di bangku kuliah tidak berakhir di ranjang
pengantin belaka. Ilmu-ilmu yang dia racik selama merajam alotnya memperoleh
nilai sempurna, tidak mengendap diujung kemaluan lelaki. Waktu yang dibantai mati,
untuk selembar paper politik luar negeri. Waktu yang mengering di depan layar
monitor untuk beberapa lembar review dosen. Waktu-waktu lain yang menghuni
hamparan kuburan kesenangan, untuk menjadi sesederhana pemikiran Tan Malaka.
Satu tujuan tanggungjawab kepada apa yang sudah dicita-citakan. Hargai aku!.
Bukan karena cantik dan bertubuh seksi. Tapi juga karena punya otak Bisa
bersendagurau tentang tuntutan TKI. Kelakar tentang trafficking, KDRT, child abusement. Dan budaya jual beli
harga diri negeri ini. Mengibarkan kekuatan perempuan. Memporak-porandakan
realitas, perempuan adalah komoditas sebuah perusahan. Ini adalah sebuah
pembuktian. Ini sekedar cita-cita. Cuma mimpi. Imajinasi. Karena tahun ini
selepas nasib ini. Si lelaki berhak membawanya pergi. Perjanjian sudah di cap
harga mati. Antara si lelaki dan orang tua si perempuan. Kemapanan si lelaki
membungkam mulut orangtua si perempuan. Jaminan masadepan dan segala atribut
sebuah keluarga yang aman_belum tentu bahagia_telah dipresentasikan sangat
sempurna. Air liur bak air bah. Menggenang, dimulut-mulut. Tumpah bersama lidah
yang terjulur. Lupa bahwa tanda terima jual beli hak si perempuan untuk
menemukan nasibnya sendiri.. Resmi distempel darah. Mampuslah mimpi indah!

Si janda baru 2 minggu yang lalu pergi meninggalkan si bapak. Tapi ranjang
bapak sudah berdecit kembali. Seorang perempuan separuh baya dengan gemerincing
emas di sekujur tubuhnya, lemas terkulai di ranjang milik si bapak. Bergelayut
manja, meronta sekali babak permainan cinta lagi. Dan lagi. Lalu lagi. Si bocah
tidak kemana-mana. Dibalik pintu kamar mandi si bocah sedang bicara dengan
tuhannya. Mainan. Tak lama si bocah mengeram kesakitan. Ditahannya rintihan
itu. Takut terdengar oleh si bapak. Si bapak bakalan murka besar kalau ada
rintihan lain selain rintihan perempuan yang digarap si bapak. Darah segar keluar dari anusnya. Bukan kotoran.
Si bocah menangis. Lirih. Lirih sekali. Hening. Hening. Dan hening. Brakk!
Disertai suara teriakan seorang perempuan. Si bocah berlari keluar. Telanjang.
Dengan mainan ditangannya. Berdiri, diam, ada yang mengunci rapat mulutnya. Dan
yang memaksa matanya terbelalak. Diremas gemas mainan ditangannya. Digigitnya
bibir si bocah. Dan dilemparnya mainan itu ke muka si bapak. Lalu berlari dan
mencoba menarik celana si bapak. Sekuat tenaga. Tapi tubuh si bapak terlalu
berat. Dan terlalu bertahan dengan kepalannya yang berkali-kali menghantam
wajah ibu si bocah.

Cermin. Si perempuan jelita. Sisir menyapu gerai rambutnya. Tidak ada
senyum. Diam. Bisu. Deru melodi ponsel tidak digubris. Dibiarkan meraung
sejadinya. Dibenahinya gaun tidurnya. Dirapikan wajahnya. Bekas derai airmata
tak juga lenyap oleh bedak. Ginchu ditebalkan. Alis mata di pertegas. Aksen
pipi di tonjolkan dan dibenahinya payudaranya. Disisir kembali rambutnya. Model
lain mungkin?

             Tangisan si bocah tidak mengurungkan niat si bapak untuk berhenti memukuli
si ibu. Cukup sekali sepak. Si bocah terpelanting ke lantai. Si bapak tetap
tidak peduli. Gaduh. Ramai. Kacau. Tetangga datang bukan sebagai pelerai
perkelahian. Melainkan sebagai penonton setia drama kehidupan. Mereka diam dan
berbisik satu dengan lain. Mengutuk dan mengumpat si bapak. Dari jauh dari
jarak yang tak mungkin tersentuh oleh tangis mengemis si bocah mengiba
pertolongan. Kembali ditariknya celana si bapak. Sekarang disertai gigitan
kecil. Terkejut, perih merasa ada yang ikut campur. Si bapak berpaling ke arah
si bocah. Membiarkan si ibu terkapar dengan muka penyok. Bercak darah masih
segar menempel di kepalan haus si bapak. Si bapak geram. Dengan cepat
ditariknya si bocah dan membantingnya ke tepian lemari makan. Tetangga berseru!
Hanya berseru! Tidak lebih!. Seutas tali jemuran tergenggam erat di tangan si
bapak. Lalu berjalan menghampiri si bocah. 

            Percaya tidak aku sekarang berdiri di depannya. Dia. Perempuan impianku.
Lihat betapa senyumnya seperti apa yang aku rindukan. Matanya indah seperti
yang ingin ku lukiskan. Tubuhnya.. tubuh gendut yang paling rupawan. Rambutnya,
aku tersenyum girang. Indah sekali. Dikepang dua. Aku tersenyum lagi. Dia,
perempuan yang ku puja 33 kali ternyata lebih dari yang aku bayangkan. Dia,
sangat sangat sangat cantik. Aku kasmaran. Aku jatuh cinta? Mungkin, tapi entah
apa namanya itu. Aku cukup bahagia memperoleh senyum dari bibirnya yang lucu.
Sekali lagi ku tatap matanya. Tidak banyak kata-kata yang mampu aku ungkapkan
untuk memujimu, pujaanku. Tidak banyak permen yang bisa aku beri, karena ibu
melarangku, katanya bikin sakit gigi, tapi aku ingin sekali memberimu permen
itu. Tapi tunggu sebentar. Aku keluarkan seutas kawat, diujungnya ada sekuntum
mawar kertas warna merah. Dan ku berikan kepadamu, pujaanku. Itu yang aku pakai
untuk mengagumimu. Aku ambil dari rumah, milik ibu. Dia pun menerima
pemberianku. Aku tersenyum. Dia juga.  

            Handycam. Lampu kecil warna merah menyala. Kemudian mati. Si perempuan
mengubah posisi duduknya. Dipindahnya handycam. Sekarang si perempuan duduk,
dibelakangnya rak penuh dengan buku pembeliannya. Disamping kiri, meja kecil
dan secangkir kopi robusta. Berkali-kali ditata kembali rambutnya. Semua harus
rapi pikirnya. Tatapannya lurus ke arah handycam. Tajam. Pasti. Lalu senyum.
“Selamat malam
pemirsa..”

Akhirnya aku menemukan kepuasanku. Setelah menunggu lama,  ibu menyekolahkan aku. Disekolah ini. Sekolah
khusus downsyndrome. Bukan itu yang membuatku bisa tersenyum. Tapi karena ada
kawat berujung pohon mawar, pohon randu tua diseberang jalan sana. Tempat biasa
aku mengagumi dia, pujaanku. Sembari menunggu kakakku pulang sekolah. Dan dia,
pujaanku. Selalu dekat. Selalu ada.

 

Dear, kekasih

 Dari janji kepada
orangtuaku, aku rela kamu bawa pergi
Tapi janji dari
hati, aku tak rela harus pergi seperti ini

Salam,
Vanez

 

Senoaji,
Setengah bulan Agustus untuk menantimu..

Leave a Reply