Gelombang radio sekarang aku pikir susah dicari mana yang
pas. Ketika ada senandung lagu yang aku suka. Selalu diselingi celoteh penyiar
radio lain yang mengumandangkan trend celana dalam masa kini. Atau kalo nggak
koar-koar perkara hedon kawula muda. Padahal tujuanku beli radio kelas teri
ini, cuma satu. Dengar lagu yang di nyanyikan mas-nya yang dari ibu kota.
Katanya mas-nya ini bikin solo album, yah menyalurkan hasrat yang ke buang di tong sampah semenjak diculik
sama band yang terlanjur besar, menyuplik nama penghuni kayangan. Kata temanku,
aku mempersulit diri, jelas-jelas ada Mp3, ada CD, banyak yang jualan banyak
yang menyewakan. Kenapa aku sibuk mencari gelombang radio, atau berharap salah
satu station radio memutar lagu itu. Ya kalo ada yang muter, kalo nggak.
Padahal kalo lagu itu tidak nge-pop lagi, bakalan kesingkir oleh lagu-lagu dari
band-band dadakkan. Yang notabene nggak jualan apa-apa. Tampang nggak lagu juga
ngepas. Itu kata temanku. Tapi jawabanku singkat. Romantisme. Ya ku pikir akan
seromantis bait-bait lagu ‘Apel’ ciptaan Gombloh almarhum. “..di radio aku
dengar lagu.. bla.. bla.. bla..”. atau memang aku-nya sendiri yang cenderung
miskin masukkan dari teman. Yah, mungkin itu juga bisa jadi alasan, kenapa aku
bersikukuh lagu itu akan lebih romantis di dengar, jika keluar dari congor
speker radioku ini. Kembali ke persoalan romantisme. Aku sedang jatuh cinta.
Tepatnya sedang mencinta. Berusaha untuk dicinta. Dan mencinta kembali. Sebesar
mungkin, sehebat yang aku mampu. Cinta memang selalu indah, mukadimahnya.
Penutupnya? Jangan Tanya. Bisa saja diakhiri dengan kehilangan nyawa. Mati
secara bodoh. Mampus! Celaka 7 turunan! Minimal gila!
Tapi untuk cintaku yang satu ini. Aku ingin penutup dengan
kata sumpah, ke nerakapun selalu ada cinta.
Maaf apa yang dinamakan cinta ku penggal dan kepalanya aku
buang di selokan. Alias cinta yang pernah aku jalani. Adalah cinta yang belajar
menyakiti sebaik mungkin. Sehebat mungkin. Dan sesempurna mungkin. Sarinya
adalah cinta mengkudeta aku. Yang terjadi saat itu. Cinta dan separuh
pasukkannya terang-terangan ingin bertindak makar. Ingin pergi dari rumah hati
yang ku bangun dengan mimpi dan imajinasi dan ya sedikit nafsu ke kiri-kirian.
Satu demi satu cinta itu pergi. Aku bukan Tuhan. Atau peranakan cupid. Yang
bisa seenaknya menahan hak-hak cinta memilih hati mana untuk disinggahi
selamanya. Cinta punya otak, dia berpikir sendiri dan bertindak sesuka hati.
Gobloknya aku yang mau di beri sisa-sisa kotoran yang ditinggalkan cinta. Kotoran
yang baunya begitu menyengat otak. Bergerombol. Nggak mau beranjak pergi dan
hilang walo sebotol kasturi aku semprotkan. Kenangan. Benar kenangan adalah
kotoran cinta. Akan bertumpuk menggunung. Melekat erat. Baunya susah hilang
jika cinta dipelihara terlalu lama. seandainya aku memang Tuhan, aku pingin
cinta yang ku pelihara, selalu bercokol di rumah hatiku. Ku pikir lelaki itu
sudah mati dari kemarin dulu. Perempuanku pergi. Bilang jika memang berjodoh
tidak akan kemana. Melodrama pesimistis!
Untuk cintaku yang satu ini. Aku ingin penutup dengan kata
sumpah, ke nerakapun selalu ada cinta untukmu betinaku.
Kapan aku jatuh cinta? Sekarang buatku tidak ada melodrama,
romantisme, atau jatuh cinta pada padangan pertama setelah menilai. Nggak ada!
Butuh waktu lama ngebersihin kotorannya. Repot, buang-buang waktu. Dan nggak
penting. Saat bertemu dia. Yang ku lihat dia adalah seekor betina. Berkelamin
dan berkemampuan untuk dititipkan benih memperpanjang keturunan. Nggak ada hati
disana. Nggak ada kisah cinta disana. Yang ada hanyalah dua ekor binatang, yang
satu berkelamin jantan dan yang satu betina. Jantan sendiri, butuh betina
disisi. Ku tanyakan.
Pernah jatuh cinta?
Dia jawab cinta hanya bisa memperkosa hargadiriku. Sisa
harta untuk lelaki pengakhir sumpah, di ambil begitu saja.
Karena cinta pula mulutku bungkam.
Tangan ku rantai, kaki ku biarkan terjuntai, terkulai
membiarkan atas nama cinta mengobrak-abrik sisa hartaku.
Dan meronta nikmat? Tidak!
Aku hanya bisa cengeng. Merengek.
Atas nama cinta ku takut ditinggalkannya.
Kenapa? Tanyaku.
Karena janji. Jawabnya.
Janji?
Dia berjanji, meyakinkan aku bahwa dialah lelaki pengakhir
sumpah itu.
Klise! Sinetron banget! Sela-ku.
Itu yang terjadi! Jawabnya.
Lalu?
Dia kawin dengan betina lain!
Klise! Sinetron sekali! Sela-ku.
Itu yang terjadi! Tukasnya.
Kamu? Tanyanya.
Aku?
Iya kamu? Apakah pernah kamu jatuh cinta? Tanyanya.
Pernah! Jawabku
Lalu? Tanyanya dingin.
Kawin dengan pejantan lain! Jawabku lirih.
Klise! Sinetron! Sela-nya.
Itu yang terjadi! Jawabku.
Lalu? Tanyanya dingin.
Dendam.. lirih ku jawab.
Hmmm.. Gumamnya.
Saat obrolan aku dengan dia. Saat itu aku mengenal
dia, lebih lama. Kotoran cinta masih melekat di otaknya. Jujur berujar luka
didepanku, membuatku yakin betina ini pilihanku. Tidak ada yang sempurna di
dirinya. Keagungan keperawanan lenyap dilahap atas nama cinta. Pesolek kraton
juga tidak. Hidup diranjang hedon kawula masa-masa itu, juga tidak. Lalu apa
yang membuatku ingin memilikinya?
Selang beberapa bulan, ku miliki betina itu. Aku pejantan,
species pesakitan yang bersanding dengan betina sekarat. Sungguh sempurna. Luka
kalikan luka sama dengan rajutan-rajutan yang membentuk anyaman kesempurnaan.
Cinta? Ku lobangi kepalanya dengan linggis. Bocor, mati terkapar jauh di selokan
sana.
Kita jalani apa adanya. Tidak
ada beban harus mengumbar kata-kata rindu atau semacamnya hanya untuk meyakin
kamu betinaku. Dan aku pejantanmu. Cukup percaya. Cukup menjadi binatang.
Karena peran menjadi Tuhan atau peranakan cupid terlalu berat buat kita.
Mengekang hak-hak cinta untuk berak di rumah hati yang dia suka. Tidak! Aku
pikir. Aku dan dia punya keyakinan sendiri. Jika harus berakhir bersama. Akhiri
dengan sebaik mungkin. Dan cinta dan hak-hak amandemennya, biarkan Tuhan dan
peranakan cupid yang mengatur.
Gelombang radio sekarang aku pikir susah dicari mana yang
pas. Ketika ada senandung lagu yang aku suka. Radio aku banting!
Seno,
jadilah binatang jika memang lupa cara mencinta..