Titip Salam Kepada Angin

Seandainya

 Kapan aku merasa paling lelaki, saat kamu bersimpuh mengerat
nasib.
Kapan aku merasa paling lelaki, saat kamu berdarah, karena
keringatmu mengering mengejar nasib
Kapan aku merasa bisa paling lelaki, saat kamu merintih,
perih ini, sakit itu, umpat dari sini, amarah dari sana. Hanya karena ingin berdiri tegap saat
mencincang nasib

 Apakah bisa aku mengaku sangat lelaki, saat kamu usap air
mata semalam, hanya karena pinggangmu remuk diremas nasib.

Dan inikah lelakimu, saat kamu muntahkan semua lelah,
sendiri, disana dikota ladang-ladang nasib dan segala baik dan bejatnya masih
dipertanyakan.

 Tunggu aku sayangku, lelaki ini belajar memetik setangkai
mimpi, harap, cita, ingin, dan cinta. Belajar menjadi lelaki, untuk memegang
janji, membuatmu lama tersenyum bahagia.

 Tidurlah sayangku…

 

Yang ingin aku punyai

 Mati sebelum usai mencintaimu
Hidup sebelum kehilangan cintamu

Usai

Seusai hidup carut semrawut ini
Seusai mati disela maut dan keranda ini
Seusai menitih letih, lalu perih kemudian sepi ini
Seusai meronta, berontak, lalu lantang bersorak
Seusai runtuhnya beribu-ribu gelak
Seusai muara terus beriak

Aku ingin selalu menepi ditepian jingga di pantai kemarian
dulu
Aku ingin merajam alur cerita burukmu tak kembali lagi
dijamu
Aku ingin seusai bumi ini tak hadir lagi usai untuk satu
lagi cerita tentang aku dan kamu

 

Leave a Reply