mungkin masih ada waktu..

March 13th, 2007 by jejakmungil

Dari loteng ini aku biasa melihat matahari
belingsatan mencari persembunyian. Raja malam akan datang. Menghujam dengan
semaraknya kelam.

Tokek tercekik tali buatan si empunya
kerajaan yang di tumpanginya. Mampus. Tikus celurut mondar-mandir. Lima menit kemudian si tikus tercenung menatap jasadnya yang pipih itu.

Ada
juga si Kecil, pantatnya memar. Batok kepalanya benjol satu, dua. Bibirnya sobek.
Tidak bisa teriak. Berbisikpun tak sanggup. Perih sekali. Monyong, tak bisa
berucap satupun kata. Yang si Kecil bisa lakukan adalah belajar berlindung
dengan kedua tangan mungilnya. Berlindung dari sapu lidi si Ayah. Tolong aku,
luka kemarin belum juga kering, sekarang Ayah menambahnya lagi. Lantaran si
kecil tak kunjung berhenti merengek, selepas magrhib.

Lalat-lalat, sekali waktu lepas dari
cengkremannya. Jatuh dan terbang mencari ketiak-ketiak dedaunan lain yang tak
berair. Bergelantung setelah menebar mencret dimana-mana. Seiring matanya yang
terkatup lelah, dia menghitung kematian untuk esok hari, selepas magrib.

Nah, perempuan itu tidak perawan lagi.
Meringkuk memuji terpaksa si pacar yang puas bangga kelaminnya berfungsi dengan
baik. Lewat bibir mungil itu, satu kata keluar dari hati. Satu kata penjaga tai
kucingnya cinta. Dipeluknya si Pacar mesra. Hampir 4 jam mereka mengurung diri
di kamar. Beribu bahasa muncrat tiada tara. .
               

  Saling membalas tai kucing cinta dan meleburkan tubuh, keringat. Muncrat!.
Lelah. Kali ini yang kedua untuk hari ini. Selesai. Hidup memang tak serumit
bercinta. Hari ini untuk hari ini. Besok masih ada negosiasi. Setidaknya itu
yang dipegang oleh si Pacar. Dibelainya rambut si perempuan. Diusapnya keringat
yang meleleh di jidat, leher. Sekali kecup seraya mengucap. Aku akan nikahi
kamu.. Hati si perempuan diam seribu bahasa. Bertubi-tubi muncul
lukisan-lukisan muram, murung atau sesekali terberangus oleh api. Pameran
lukisan tentang runyamnya esok yang terpajang dalam lamunan si perempuan. Kemudian
muncul jalan yang berkelok-kelok. Entah dimana ujung untuk di tuju. Semakin
melangkah jauh, semakin gelap oleh rimba-rimba kebiadaban masa depan. Sedangkan
si Perempuan masih terdiam di persimpangan. Kakinya tak urung bergerak, ada
lumpur gembur yang menghisapnya lembut ke dalam pengapnya lubang tanpa tujuan. Dibalasnya
kecupan si Pacar sembari berucap.. Aku percaya kamu akan lakukan itu..

Asap rokok meringsek ke dalam paru-paru
lebih banyak. Menenangkan kekalutan yang baru saja mampir bersenjatakan bogem
mentah. Melulantahkan imaji, mimpi dan negosiasi untuk esok hari. Si Pacar
terbunuh gayanya. Hanya Otak yang bersarang dimulut si pacar diputar mencari
akal-akal. Mencari sela selamat. Menuai nikmat tanpa jerat, mengikat. Dan
mereka saling meringkuk, merumitkan kembali masa depan mereka. Untuk ketiga
kalinya, selepas magrib.

Burung gereja masuk ke lobang-lobang sarang.
Kembali dari rantau mencari sisa-sisa nasi, jagung (kalau ada), atau apapun.
Tapi semua tidak ada. Tidak ada sisa nasi yang tercecer untuk dibawa pulang.
Atau jagung dari kandang ayam. Ayam-ayam itu menemui ajalnya minggu kemarin.
Kata orang mereka dijual ke pasar, dalam keadaan sakit. Sempat si burung gereja
protes, protes bagaimana kelanjutan nasibnya, anak-anaknya dalam lobang-lobang
sarang. Tanpa ayam dalam kadang, tidak ada jagung yang tercecer. Tidak ada
jagung, manusia semakin tamak, tidak ada hari esok untuk si anak Burung gereja.
Burung gereja pulang ke lobang-lobang sarang. Ujung daun kering ada di
mulutnya. Disambut oleh mereka_anak-anak burung gereja itu_ si Ibunda pulang.
Serempak mereka melebarkan mulut-mulut laparnya. Si anak lapar semenjak
kemarin. Di suapi satu persatu si anak-anak itu. Ujung daun kering, selepas
magrib.

Akhirnya si kecil dihajar habis-habisan.
Umurnya baru dua tahun setengah. Si kecil tidak salah. Tadi ada sebakul ice
krim. Bermacam-macam rasa. Dan harganyapun, harga kampungan. Si kecil ngiler.
Pingin menjilat nikmat ice krim sebatang berasa coklat. Dilihatnya si Ayah
duduk murung, telanjang dada, pamer tato yang merajam di tubuhnya. Segumpal
asap rokok lepas dari mulutnya yang tersekap kumis dekil. Mengepul ke udara.
Buyar, bubar tersapu angin. Si kecil berlari mengejar mimpi. Ayahnya adalah
Tuhan baginya. Seribu, dua ribu perak bisa tercipta sekejap saja tanpa harus
meraung. Dulu..

       Bermodal seribu untai mutiara senyum yang di
rajut rapi di mulutnya yang mungil.  Si
kecil berharap hari ini, digenggaman tangannya, sebatang Ice krim berasa coklat
siap untuk di jilat. Dalam kenangan si Kecil, si Ayah tetap Tuhan sampai
kapanpun. Kapan pun itu..

        Tapi tidak. Sebakul ice krim itu di amuk
oleh Si Ayah. Melihat itu si kecil menangis, merengek, meratap, takut dan tidak
tahu apa yang harus diperbuat selain menangis, merengek, meratap. Sekejap itu si
Ayah meraih sebatang kayu. Mendekat geram ke arah si kecil yang diam terpaku
pasrah. Celana si Kecil basah, pesing di pukulan pertama. Si Ayah benar-benar  Tuhan bagi si kecil. Kapan pun bisa mengambil.
Dan kapan pun itu juga bisa memberi. Luka dan miris perih Ibu yang meronta
mohon ampun untuk si kecil. Percuma! Ibu juga tidak bisa apa-apa. Meronta,
menangis, diam tidak bergeming menatap si kecil tersungkur di lantai. Si kecil
belum bisa untuk paham kenapa Ayah bisa seberingas itu. Kenapa si Ayah tidak
sebaik dulu. Memanjakan Ibu dan si Kecil dengan gelimang kasih sayang.
Berkarung-karung cinta. Dan menyuapi Ibu dan si Kecil dengan mesra. Semua
berubah. Ayah adalah Tuhan bagi si kecil. Dan uang adalah Tuhan bagi si Ayah.
Tuhan si Ayah sudah terlarung satu tahun yang lalu. Ayah terlalu percaya uang
bisa di gandakan dengan peruntungan tipu-tipu. Matilah harga diri saat semuanya
begitu tandus. Lahan-lahan subur itu mengering. Dan hangus terbakar tipu-tipu
jaman.

    Nah, perempuan itu urat sarafnya menegang.
Mukanya merah. Terpoles amarah. Kata keparat, bangsat, manusia tak beradab
muncul dari mulut tanpa di rencana. Keluar begitu saja. Setelah tercengang
mendengar si pacar mengigau perempuan selingkuhannya. Si pacar panic. Memutar
kembali isi otak yang bersarang di mulutnya. Kata-kata yang biasa mujarab untuk
ricuh yang seperti ini. Mencari jawaban, alasan dan beribu ampun kibul-kibul.
Menungging, merangkul kaki perempuan itu. Minta maaf ala kadarnya sekedar
kibul-kibul belaka. Menyalahkan yang jelas-jelas telah di akui.

Janji itu terlanjur terlontar dari mulut si
Pacar. Sehidup, semati. Bersama berjalan dengan tai kucingnya kata-kata cinta. Mulut
hanyalah rangkaian saraf, terbungkus daging-daging lunak. Tidak ada otak
disana. Bahkan hati pun tak cukup untuk disumpalkan ke mulut. Jadi mulut tidak
berpikir atau berperasaan. Mereka bicara karena ada yang menginginkannya. Ya
kalau hati sedang tidak sibuk dan ada waktu biasanya hati yang sering bicara.
Tapi kadang otak sirik. Merasa lebih berhak daripada hati. Dan benar, hati
selalu kalah oleh otak. Dan mulut bicara keinginan otak. Entah bagaimana otak
itu bisa bersarang di mulut si Pacar. Bisa menebar harap, sumpah dan
kibul-kibul yang begitu mempesona. Menjerat, lalu menyekap hati si perempuan.
Membuat mulut berhati_perempuan itu_terkatup. Diam saat hiburan dunia tanpa
batas merampok batas-batas itu. Memporak-porandakannya, berkeping-keping dan
kelak menjadi usang dan terbuang. Enam bulan yang lalu hingga saat ini selepas
magrib. Tidak ada yang bakalan usang dan terbuang. Andaikan si pacar
mencampakkan kibul-kibulnya. Dan belajar dari tai kucingnya sebuah kesetiaan. Wajar
saja jika si pacar meronta, luka di kepalanya cukup untuk membuat otak
dimulutnya berhenti bermutar. Tidak ada kibul-kibul lagi. Pot bunga dari kaca
berserakan di lantai. Kembangnya terkulai melayu merona warna darah. Dan
kelamin-kelamin usang itu..

Terbuang.

Sudah pagi rupanya. Dari lobang-lobang
sarang tidak ada deru kicau burung gereja. Sekali waktu cicak merangkak pergi.
Tubuhnya di gumuli semut hitam. Lobang-lobang itu telah berganti penghuninya.
Kemana si burung gereja? Kemana cuit-cuit lapar anak-anaknya? Lalat-lalat tidak
ada di kantong-kantong sampah. Cuma ada beberapa ekor . Sudah dua hari lalat
itu tidak bergelantung di ketiak-ketiak dedaunan basah. Tidak menyebarkan
mencret. Dan juga tidak mengais sari-sari sampah yang teronggok di tepian jalan
kampong. Biasanya mereka ramai menerjang garang sampah-sampah itu. Sekarang
sepi. Kemana yang lain? Mereka punya pekerjaan baru membuka jalan untuk
belatung-belatung lapar untuk berpesta pora. Di rongga mulut jasad seorang
lelaki yang terkapar dengan luka di kepalanya.  Kaki-kaki kerumun masa berjubel menghantar
buntelan kecil kain kafan. Ke tempat tidur terakhir. Tak disengaja kaki-kaki
itu menyampar jasad si tikus celurut. Jauh terbuang, lalu jatuh ke dalam got. Tak
jauh dari tempat dimana dia biasa menatap jasadnya yang pipih. Tikus celurut
sekarang hanya bisa pasrah. Jasadnya entah kemana. Jika Semalam seorang lelaki
bertato, telanjang dada tidak menginjaknya. Mungkin sekarang si tikus celurut
masih bisa berlari menghindar dari kaki-kaki kerumunan itu. Nasib si tikus celurut, bukannya minta maaf
karena mengakhiri hidup si tikus celurut. Malahan lelaki itu mengumpat
selayaknya mulut-mulut bejat. Dan meninggalkan jasad si tikus celurut terkapar
ditengah jalan kampong itu. Berlari mengejar bocah kecil yang berlari meronta-ronta
ketakutan.

Nah, perempuan itu sekarang duduk di sudut
kamarnya yang mungil. Pernak-pernik lucu menghiasi sudut-sudut kamarnya.
Secarik kertas bernoktah hitam. Mungkin rajutan kata-kata. Di bakar dan
membiarkan abunya berhamburan dihempas hembusan kipas angin. Lelah yang lama
tidak dimanjakannya sekarang terbayar sudah. Lelah oleh hiburan dunia yang
tidak jelas batasannya. Tidak ada sesal untuk sebuah penyesalan.

Di gelapnya loteng kamar seekor tokek
mengendap-endap. Menyusup kesela-sela aman. Matanya juling, mengeram, perutnya
kembang kempis. Sebutir telur keluar dari pantatnya. Selepas magrib.

Jogja, sepagi ini..

Andai…

February 23rd, 2007 by jejakmungil

Cinra
Aku bersyukur bisa mendengar dengan kedua telingaku. Mendengar
ucapan-ucapan keparat seribu bangsat dari orang-orang terdekatku, waktu mampu
untuk berkhianat. Menajamkan logika, menjerumuskan sobat saat mendengar dia
melakukan kesalahan kecil. Dan menelaah runtun sebuah rencana pembunuhan
karakter saat teman mengkritik kreativitas yang ada. Aku bangga, mampu
menikmati lidahku yang melenggok bebas, menguntai makna kata-kata atau sekedar
mengumpat beribu kata bajingan, kamu cantik, dia goblok, brengsek, matilah kamu
bersama kelebihanmu. Atau mungkin mengawinkan keduanya sekedar membalas dendam
luka lama. Indah betul. Aku merasa lebih mudah menjerumuskan, mengkhianati atau
membunuh lawan tanding, kawan tandang, atau sekerabat dekat untuk kepuasan fungsi
organ-organ tubuhku itu. Jarang bisa aku nikmat pujian untuk yang terbaik.
Menyanjung untuk yang menang. Atau menjunjung tinggi untuk yang terdepan.
Dengan lidah, mulut dan apa yang sudah aku dengar lewat kupingku, dari mereka.
Susah, sulit, dan buang-buang waktu. Buat apa mengindahkan hasil yang bukan aku
hasilkan. Menuai nikmat yang bukan dari aku. Sirik, memang. Kenapa tidak aku
lepas. Kenapa harus ditahan. Saat harus sirik, biarkan itu. Saat harus mencaci
biarkan itu. Dan saat harus nggak suka, membenci atau berkhianat, biarkan itu.
Aku ingin telingaku menampung kebencian, rasa nggak suka, sirik dan
sobat-sobatnya. Lalu mengolahnya di dalam otak dengan bumbu imajinasi
pembantaian hakekat sebuah persahabatan. Lalu mengumpatkan melalui mulutku
dengan baik dan atas nama kenyamanan. Mengadu domba dengan teman yang sedarah
kebencian. Menyebarkan rasa saling menjauhi dengan musuh yang senyawa. Indah
bukan? Apa yang aku lakukan, berpura-pura senang? Kalau memang dia, temanku
yang menang. Apa harus aku memuji? Kalau dia, temanku melejit ke langit mimpi.
Apa ya aku musti mengakui? Dia, temanku yang merantai puisi-puisi keberhasilan
hari ini. Menurutku omong kosong. Aku bebaskan kebencian ini. Aku biarkan dia
berlari mencari sasaran untuk di sekap dalam sekam-sekam dengki. Yah, aku
terbebas. Aku bisa membenci sesuka hati. Aku bisa mengumpat selama waktu yang
aku punya. Aku bisa merontokkan keyakinan yang teryakini oleh diri sendiri. Aku
bisa berteriak semauku, bajingan kamu! Kadal bunting! Banci arab hamil! Dengan lantang!
Keras! Bahkan mungkin bergema akan lebih dahsyat. Masuk ke kuping-kuping itu.
Ke otak mereka. Lalu terbakar dalam ruang-ruang hati yang sumpek itu. Marah dan
melibaskan pukulan, tanda kekesalan. Ke kepalaku. Keningku. Atau merobek-robek
perutku dengan belati karatan. Tetanus. Lalu mati. Tapi..

Aku hanya bergumam. Dengung yang ku dengar dari mulut-mulut temanku,
semakin jauh meninggalkanku. Walau mereka dekat. Walau mereka rekatkan tangan,
berdamai dengan keadaanku. Bisu. Tuli.

 

Jogja, februari 4 tahun lagi

VIVA FRIENDSHIP, persahabatan adalah memberi dan diminta untuk segera memberi

January 27th, 2007 by jejakmungil

“Aku lagi dirumah
, ada acara keluarga, Next time ya Bos!”, gila kata-kata Bos ini emang bikin
sumpek kuping. Gak tahu ngeres aja. Apalagi keluar dari mulut seorang yang
sudah aku anggap teman paling mengerti sedunia.

Sedari sabtu
minggu lalu, Dia sukses menaruh kepalanya. Ada keresahan-kerasahan yang datang
lewat jendela, masuk ke ruang-ruang galau kemudian bunuh diri disana, sehingga
bangkainya sulit di endus anjing kurap. Sebotol air putih, mengguyur
kerongkongannya yang mengering. Peluh mengucur seenak perutnya. Berlarian,
berebut sela-sela kain pembatas pinggang dan kemaluannya. Merembes dan
mengering. Duduk. Berkompromi dengan pikirannya yang berpautan, membentuk
simpul mati. Belum juga datang apa itu
solusi, mungkin di jadwalkan setahun kemudian atau dalam batas-batas waktu yang
tak menentu. Tetap saja membaringkan calon-calon bangkai itu, tidak juga
melepas nyawanya untuk sekedar mencicipi janji-janji para kyai, akan adanya
taman tanpa dosa. Yang terjadi matanya terpejam setelah jauh menitih perkiraan-perkiraan
dan menghitung waktu mundur, akan apa yang ingin dia lakukan, sekarang.

Lima belas menit
akhirnya mati membakar diri. Tidak berreinkarnasi lagi hanya angka enam yang
siap-siap berdiri di ujung guiltin, siap terpenggal menjadi angka tujuh di hari
selepas petang ini. Dan Dia masih belajar menggeliat dalam kepompong sendu air
hujan dan dekapan mesra para malaikat-malaikat pemalas. Pulas, dikatupkannya
lubang kuping. Deru suara HP dari para penikmat wajahnya, tidak digubris. Hari
ini Dia ingin mati sebentar. Bisik angin pada penghaus cinta itu. Deru kian
menggebu. Bukan salah Dia yang lupa akan hidup setelah mimpi , dan janji untuk
di jalani. Penikmat itu masih gagah membawa pesan, kata dan segala umpatan yang
tersumpal dalam mulut-mulut berajah kibul-kibul.

Di lain waktu
setelah saat itu. Seorang lagi adalah si Pingsan yang dihamili keluguannya.
Berpikir, hidup saling memberi dan menerima. Tapi sial si Pingsan sadar setelah
digencet pipih oleh apa yang dinamakan sesuatu yang benar. Si Pingsan hanyalah
seorang pemberi dan diminta. Hari ini si Pingsan jatuh kedalam lubang kesepian
yang teramat dalam. Hanya sisa-sisa jasad-jasad kenangan indah bersama mantan
kekasih, teronggok di ujung hatinya. Segumpal dan beribu-ribu umpatan juragan
muncrat dan mengguyur mukanya, becek, melekat dan sulit untuk dihilangkan.
Tidak sekali si Pingsan memelas untuk bertemu si penerima untuk sekedar bicara
dan saling tertawa untuk sekedar lepas semua. Si Pingsan yakin si penerima adalah teman sepanjang hidup dan
di akhir cerita si penerima lah yang akan menaburkan bunga di pusara si Pingsan.
Namun tidak. Tidak seperti mmpi-mimpi si Pingsan.

Ditatapnya layar
hp dengan bercak huruf bertuliskan si Pingsan. Jarinya menari sebentar. Butuh
waktu tak begitu banyak untuk menjawab. Dia menjawab dengan bahasa
alasan-alasan yang sudah di siapkan untuk sesuatu yang dianggapnya tidak ada untung.

“aku katakan
matilah kamu dengan segala nikmat yang sudah kamu serap dariku, simpel! aku
hanya ingin bicara, aku sumpek, aku sendiri dan aku belum ada teman untuk
mengadu mesranya gelak tawa, dulu aku pikir kamu ikhlas tanpa paksa mengawini
mulut, tubuh, hati dan gobloknya otak ini sebagai sahabat, sebagai teman,
sebagai sebuah bagian, tapi kamu selalu pinta aku ada, saat kepentinganmu harus
selesai, saat kesenanganmu harus di kenyangkan, saat luka mu harus dicampakkan,
saat kebutuhanmu harus disumpal mulutnya, saat hatimu membusuk karena di
khianati, kamu korbankan persahabatan kita untuk membalas dendam sakit hatimu, selama
hampir 7 tahun ini, tidak! Malas sekali aku mengeluh, itu semua kuanggap-inilah
syarat yang harus aku penuhi untuk senyum seorang teman. Sekarang Cuma! Ingin aku dan kamu duduk bersama lagi,
ditaman itu, taman yang biasa kamu sumpahi karena memberikan banyak kenangan
untuk persahabatan kita. Sekali lagi jawaban itu yang kamu beri. Dan kamu ulang
lagi. Tak ingin tahukah dirimu akan aku?” 

“Tubuhku
diganyang luka, aku sekarat tanpa nyawa penuh dalam tubuh, apakah bisa kamu
menitihku, sekali ini saja?”

“sorry ya aku
lagi dirumah, ada acara keluarga, next time ya bos!”.

Dia. Pulas
setelah merelakan si Pingsan mati di keesokkan harinya.

Omong kosong ini tidak
berlaku untuk semua. Ini hanyalah fiktif pengembangan makna akan persahabatanku
dengan seseorang. Ku harap kalian yang baca bisa menghitung lagi apa yang sudah
kalian beri dan kalian terima dari sahabatmu sebelum kamu bicara ikhlas dan
menjunjung tinggi norma-norma persahabatan. Tai kucing!

 

Jogja,Mendekati akhir Januari 2007

Lima Menit

January 19th, 2007 by jejakmungil

Kamu
bilang tunggu aku di Stasiun Tugu pukul dua siang. Katamu juga aku harus tepat
waktu, karena transit saja. Aku sudah datang, pukul dua lebih. Iya aku panik
saat itu. Apa kah lepas pertemuan kita?

Senang bukan kepalang, keretamu mogok
sebelum Balapan. Keringat keburu mengucur deras. Aku lupa bawa sapu tangan. Ku
seka dengan lengan baju. Aku tidak ingin kamu melihatku berantakan seperti ini.
Walaupun memang aku sudah pecah belah menjadi bagian-bagian yang sulit di
kremasi. Tapi katamu ada harapan. Aku nurut saja. Aku tidak ada pilihan. Buat
apa memilih selagi diberi harapan, pikirku. Saat itu. Ya apa boleh buat, untuk
harapan itu aku legawa menunggu keretamu lepas Balapan. Saju jam lagi, kalau
perkiraanku benar, kereta mu bakalan muncul dari arah timur. Tapi, sekali lagi
kamu mengabari keretamu mogok lagi di Klaten.

Pukul
dua semakin habis dimakan perjalanan waktu, mendekati reinkarnasi pukul tiga,
sore menjelang petang. Tetap aku tunggu kamu. Katamu terimakasih buat semua.
Dan katamu lagi kalau aku terlalu lama menunggu aku boleh pulang. Ku pikir ,
seenaknya kamu ngomong kayak gitu. Berlagak kasihan, atau Cuma ngetes aku? Jika
aku menunggu kamu, kamu merasa menang? Menang bahwa benar aku terpaut senyum
dan hatimu? Tai segala kucing itu ku-be-nar-kan! Jujur aku rindu kamu. Walau
transit lima menit pun aku jabani demi sebuah harapan yang kamu obral mahal.

Keretamu
datang. Aku mendekati jalur 3. Jalur yang akan membawamu lenyap ke barat. Ada
degup gugup ada juga degup takut dan mampir tanpa permisi degup rindu. Mana
yang aku pilih untuk menghadapi senyummu. Brengsek seharusnya sudah aku pilih
semenjak kemarin dulu.

Gerbong 2, berhenti jauh ke Barat, aku susul dengan
langkah kecil. Ku hitung tidak lebih satu menit. Masih empat menit lebih untuk
menikmati degupan-degupan itu. Wajahmu pun muncul dari balik tepian pintu
gerbong. Maaf aku biarkan kamu celingukan. Sembari melihat jam tanganmu. Matamu
panik berkejaran dengan waktu.

Waktu
berjalan juga, apakah kita berpikir sama. Rindu yang tak habis dalam tiga
menit. Dan sekali lagi resah juga bisa kamu miliki. Aku suka. Andaikan kamu
saat itu ada dibalik waktu sebuah film roman kondang, mungkin akan aku
perlambat kecepatannya. Biar bisa berlama-lama aku menikahi pertemuan ini. Dan
menjawab. Kenapa kamu begitu cantik? Kenapa wajahmu saat bingung mencariku,
begitu aku rindu? Kenapa tawamu saat menemukan aku berdiri menghadap ke barat,
begitu sangat ku miliki? Tercenung menatapmu.

Kamu
melangkah menghampiri. Kamu jabat erat tanganku. Alasan waktu yang begitu lama
membuka percakapan kecil. Kamu tanyakan kabarku. Kamu tanyakan hidupku,
aktivitasku, dan segala pertanyaan lazimnya kawan bersua kawan lama. Tidak aku
tidak butuh itu. Ku biarkan mulutku menjawab. Ku tunggu saat kamu diam. Dan
mempersilahkan hatiku yang bertanya. Ingin ku ingatkan basa-basi ini
membuang-buang waktu.

Kenapa
tidak kamu kecup saja pipiku? Kenapa tidak kamu beberkan kerinduanmu, aku dan
nasib hati ini? Kenapa ucapan salam dari dia yang mengakhir basa-basimu?

".. kita masih temenan kan? Maaf telah menyakitimu"

Entah
datang dari mana lokomotif keparat itu. Menerjangku sampai aku terpental ke
bagian-bagian yang tidak nyaman. Remuk redam.

“maaf
aku mengenalmu melalui senyum yang kamu tawarkan, dan cinta adalah jabatan
tangan yang ku tawarkan, jadi bagaimana aku bisa menganggapmu teman, jika masih
ada senyum-senyum itu, jangan memberiku dongeng jika memang kamu memilih
tidur”.

Waktu
habis. Ku jabat tanganmu lagi. Sekarang ku kantongi dulu tawaranmu. Ku janjikan suatu saat ada waktu lima menit lagi  dan saat itu aku benar-benar temanmu.

 

Jogja, Februari pertengahan waktu tertipu
2005

Es Krim

January 18th, 2007 by jejakmungil

Ku ingat umurku saat itu baru menginjak 10
tahun. Tepatnya kelas 4 SD. Di sebuah sekolahan yayasan kristen di kotaku. Aku
tidak terlalu menggubris alasan mengapa Ibu bersikeras untuk menyekolahkanku di
sekolahan itu. Baru ku tahu sekarang, alasan kualitas pendidikan dan jarak
antara rumah dan sekolah yang tidak terlalu jauh, menggiringku ke sekolah yang
memang sebagian besar muridnya memperoleh uang saku 1500 perhari dari orangtua
mereka. Hanya untuk jajan, pulang di jemput. Seribu limaratus nilai yang sangat
lumayan untuk sekedar foya-foya di tahun 1996. Anak SD lagi dengan uang segitu
bisa untuk beli apapun. Apapun sampai makanan yang saat itu ku anggap sebagai
makanan paling memawah setelah arem-arem, es krim. Ya es krim. Bagiku makanan
itu merupakan makanan yang layak dihidangkan atau dibeli pada saat-saat
tertentu. Ulang tahun, kenaikan kelas, atau sodara jauh datang dan menawarkan
foya-foya bukan ala kadarnya. Bukan ketika istirahat sekolah berlari ke toko
seberang jalan, membuka almari tidur yang terasa dingin saat di buka tutupnya.
Lalu mengambil makanan yang dikemas gelas plastik kecil dengan sendok kayu
mirip dayung menempel di salah satu sisinya. Yaitu ice krim. Entah rasa apa
yang disukai pasti tersedia dalam lemari tidur itu.

Banyak kawan-kawanku memilih warna merah
jambu, kata mereka rasanya lebih lezat ketimbang yang berwarna coklat, pahit
kalo udah kandas, itu pendapat mereka. Sempat satu lamunan jalan-jalan di
otakku, apa benar makan es krim itu kayak makan emping, pahit kalo berhenti.
Wah berarti harus terus disambung makan es krimnya, biar nggak pahit. Nah kalo
begitu harus buka lemari tidur itu lagi, mengambil satu lagi, kemudian menjilat
tutup tipisnya, lalu ngemut sendok kayu yang mirip dayung sampan itu. Dan
seterusnya sampai di jewer kupingnya sama mama, dengan alasan bikin batuk. Tapi
untungnya itu bukan aku. Tapi aku sudah menikmati kepahitan itu. Uang saku,
buat membayar sendoknya saja nggak cukup apalagi membuka tutupnya yang tipis
dengan sisa-sisa rasa yang menempel di bagian lainnya. Jadi belum makan emping
atau menjilat lembutnya es krim rasa coklat, lidah ku sudah pahit menelan ludah
melihat kawan-kawan yang ngemut sendok kayu itu. Pemandangan itu begitu luar biasa!
Terakhir, mungkin karena kasihan kawanku berbaik hati menceritakan rasanya
kepadaku. Dia bilang,

“enak lho… kata mama ku ini rasa
setupberi!”

Dan begitulah, selain mengingat teguran
guru yang protes atas kelakuanku, tidur saat jam pelajaran matematika. Rasa “setupberi
yang” diceritakan oleh kawanku, tidak ku anak tirikan dalam ingatan. Walaupun
aku sendiri bingung bagaimana harus mengingat sebuah rasa. Bukankah rasa itu
bisa diingat setelah kita merasakan?

Sampai dirumah pukul 10 pagi lebih banyak
dari biasanya. Hampir mendekati jam duabelas siang. Ibu belum pulang kantor,
kakakku sibuk menonton TV. Dan nenek entah lagi sibuk apa yang pasti seragam
sekolahku hari kemarin sudah tidak ada lagi di ember. Ku lempar tas ku. Buk!
Jatuh ke muka kakakku. Dia marah. Aku lari keluar rumah, niatku mencari
keberadaan nenek. Mudah ditebak, nenek ada di komplek jemuran milik kampungku.
Dan seragamku terjemur disana. Basah. Jangan salah walau umurnya mendekati 63
tahun, nenek masih perkasa memilintir seragam sekolahku sebelum mampir di
jemuran.

Panik. Nenek tenggelam dalam kesibukkannya
memilitiri jemuran. Masih panik. Ku tarik seragamku dari jemuran. Ku rogohi
saku-sakunya. Celana juga tidak luput dari amukan tanganku. Tidak ada. Benda
itu tidak ada. Seragam sekolah ku kembalikan ke jemuran. Nenek mencak-mencak.
Seragam itu sekarang blepotan. Kupingku menjadi sasaran perkasanya tangan nenek
yang renta. Terpaksa ku jelaskan maksud dan tujuanku menggeledah seragamku
sendiri. Kalau tidak begitu kuping ini mungkin sudah ikut dijemur oleh nenek
setelah dipelintir sedemikian rupa sehingga menjadi begitu panasnya.

“sudah aku buang di tong sampah!”

Ku tinggalkan nenek dengan kesewotannya.
Tong sampah, sekarang menjadi tujuanku. Dapat. Tong sampah itu berdiri
menghadap kiblat. Kenapa bisa karena stiker gambar presiden yang dulu ku tempel
di salah entah sisinya masih menempel dengan beberapa bocel di tepi-tepinya.
Dan wajah itu menghadap ke arah kiblat. Tapi tak begitu lama wajah itu sudah
jatuh bergelimpangan setelah aku keluarkan isi perutnya. Ku kais dengan kaki.
Ke kanan lalu kekiri. Sampah berserakan. Kakak keluar rumah setelah berteriak.

“kucing sialan!”

Tapi setelah dugaannya salah, sapu lidi
diangkatnya tinggi-tinggi. Aku yakin jika aku tidak segera bergegas pergi,
pantat ini bakalan jadi pelataran kotor yang harus dibersihkan. Lari ke pinggir
kali. Tidak ada, benda itu tidak ada. Bagaimana aku bilang ke Ibu? Terus terang
waktu itu aku susah mengingat nama barang. Jika aku inginkan sesuatu aku harus
membawa samplenya. Entah itu cuilan, patahan, serpihan, reruntuhan, ataupun potongan
dari benda, makanan, barang atau mahkluk hidup yang aku ingin. Jadi Ibu bisa
melakukan analisa dasar mengenai apa yang aku ingin, seperti apa nama benda
itu, bagaimana membeli makanan itu, harganya bisakah diutang dulu atau dikontan
dua minggu kemudian, bikin aku batuk atau tidak, berguna untuk ke depannya,
alias tidak memiliki nilai penyusutan, lupa belajar_males, dan seabrek-abrek
lainnya. Intinya merugikan buat aku khususnya atau tidak dan perekonomian
keluarga pada umumnya. Maklum bapak waktu itu Cuma bisa menjilid buku, itu saja
jika ada pesenan. Kalau nggak ada pesanan, bapak sibuk dengan burung
merpatinya. Jadi Ibu sepenuhnya sebagai penanggungjawab perekonomian keluarga.
Golongan 2a.

Duduk ditepian sungai dibawah pohon dadab.
Airnya riuh keruh menghantar lajur jalur kapal selam milik manusia. Kaleng
susu, plastik mirota kampus, kulit telur, dan kain kantung terigu, ikut renang
gaya mengambang, setelah bangkai kucing lalu..

Byurr! Kawan kampung nyebur. Lalu ikut hanyut sampai ke bawah jembatan. Tergoda
percikan air, ku celupkan kaki ku sambil berayun sampan. Dingin juga.

Benda itu belum juga aku temukan.
Jelas-jelas aku ingat terakhir kali aku masukkan ke dalam saku baju seragam
sekolah. Tapi kenapa hilang. Tong sampah berstiker wajah presiden yang terbang
ke arahku tadi pun tidak juga membantuku menemukan benda itu. Lalu kemana? Ku
angkat kakiku dari dalam air, kapal selam segede pare mau lewat. Bagaimana aku
minta ke Ibu? Ku celupkan lagi kaki dan berayun sampan seperti sediakala.
Sedangkan hari itu akan datang, tinggal dua hari lagi. Bicara sendiri, di
tepian sungai, dan kaki yang naik turun memberi jalan, kapal-kapal selam baru.

“rasa setupberi!”.

Aku melangkah pergi. Kawanku kubiarkan
sibuk ngemut sendok kayu itu. Terlalu lama di depannya, bisa bikin aku sadar
bahwa es krim takkan pernah menjadi makanan favoritku. Sedangkan aku tidak
yakin itu. Es krim kelak menjadi makanan favoritku. Arem-arem itu harganya dua
ratus perak. Uangku habis. Tapi perut ku kenyang. Bel berbunyi. Capek juga
setelah main gobaksodor dengan kawan-kawan. Walau harus berakhir sepatuku di
basah di buang kawan yang kalah. Tapi seru juga. Melihatnya ngambek, kalah oleh
si perut gendut, aku. Kelas. Guru datang. Sebentar nerocos masalah norma dan
kebaikkan. Matematika pun datang. Ku persiapkan tempat untuk ku jelang kantuk.
Tidak lupa seperti biasa pulang sekolah, kantor kepala sekolah harus aku jenguk
sebentar. Untuk sekedar duduk barang satu jam, mengerjakan soal-soal
matematika. Tapi lumayan ada secangkir teh dan kue-kue. Kue dan teh habis.
Matematika semakin banyak. Jadi bukan satu jam, tapi satu jam lebih banyak, aku
bersahabat dengan matematika. Selesai mendengarkan ceramah guru matematika,
akhirnya aku diperbolehkan pulang. Tentu saja bekal PR dan seabrek ancaman ikut
bersama muka murung dan lesunya tubuhku.

Sekolahan sepi. Ku lihat pintu kelasku
masih terbuka. Tergoda. Ternyata tidak sepi. Ada kawan yang terduduk lesu di
pojokkan ruangan. Matanya bengap seperti habis menangis. Ku dekati. tapi kurang
lebih jarak lima langkah dari tempat kawanku duduk. Aku mencium bau yang ku
kenali. Ku kenali saat aku dikamar mandi. Tentu saja saat-saat melepas
kapal-kapal selamku. Hidung ku gencet. Dan melangkah mendekatinya. Mejanya
berserakan. Belum diberesi buku-bukunya. Kawanku pasrah. Mungkin dikiranya aku
akan mengeluarkan empatratuslimapuluhenam kata-kata umpatan terbaik. Karena
kawan ku sadar posisinya saat ini adalah sebagai seseorang yang layak
mendapatkan penghinaan yang berupa-rupa sadisnya. Bisa aku bayangkan bagaimana
jika kawanku itu bocor saat jam pelajaran. Bakalan bengkak kelasku karena
menahan bau dan tawa serta dosa mulut-mulut kawanku yang lain. Untunglah kelas
masih memberikan kesempatan pasrah hanya padaku. Tidak di depan kawan-kawan
satu kelas. Tidak kebayang. Aku duduk berseberangan dengan tempat duduknya.

Kawanku tersenyum. Setidaknya dia bisa
pulang. Pakai celanaku. Dan aku pakai celana yang dititipkan Ibu ke Mbok
pemilik kantin. Begini. Sebelumnya tidak ada celana yang dititipkan oleh Ibu ke
Mbok pemilik kantin sekolah. Namun setelah kejadian memalukan itu, Ibu berpikir
akan lebih baik jika aku tidak pulang sekolah sebelum waktunya karena celana
yang sobek dari ujung bawah resliting sampai ke belakang jauh. Karena celana
yang kekecilan dan kesukaanku main gobaksodor. Dan itu terjadi lebih dari dua
kali. Pernah ku paksakan untuk tetap bertahan di sekolah, tapi sama saja. Aku
memilih berdiam diri di dalam kelas, dan menolak keras mengerjakan soal di
depan kelas. Tapi pernah satu kali guru matematika berniat baik memberiku
pelajaran yang berharga. Mulut salah satu kawan ada yang bocor, berteriak di
dalam kelas diiringi tawa yang lepas.

“pak celana aji sobek lagi!
HAHAHAHAHAHA!”.

Kontan seisi kelas ikut-ikutan.

“HAHAHAHAHAHAHA!”

Dan guru matematika. Dengan niatnya yang
tulus, membantu kawan-kawan untuk lebih.

“HAHAHAHAHAHA!!!”

Dengan menyuruhku maju mengerjakan soal
terakhir. Celana sobek. Bagian belakang terpaksa aku pegang. Dan bagian depan
aku biarkan. Celana dalam masih bisa menyelematkanku. Tapi tidak untuk malu ini.

Setelah kejadian itu. Ibu putuskan tidak protes ke pihak sekolahan atas
penurunan harga diri anak dibawah umur yang dilakukan secara seolah-olah tidak
tahu keadaan anak saat itu oleh guru matematika. Hanya saja pernah sekali ibu
bilang kepada guru matematika.

“bapak memang nggak punya anak kecil, tapi
suatu saat bapak akan menjadi kakek, apa bisa bapak tahan melihat anak bapak
setelah tahu cucu bapak dipermalukan di depan kawan-kawannya sendiri”

Ibu pergi dengan anggun. Ya itu sejarah
singkat keberadaan celana cadangan. Dan sekarang celana itu dibawa pulang
kawan. Untung tidak ada acara celana sobek.

Berdiri didepan toko. Ada kawan, tidak aku
kenal berlari mendekati Ibunya yang sedang menebalkan wajah dengan bedak. Di
tangannya segelas plastik kecil warna merah jambu. Sendok sudah dilepas dan
digenggam ditangan yang lain. Masuk ke dalam mobil lalu pergi. Tidak lama ada
seorang Ibu-ibu dari kawan yang tidak aku kenal baik Ibu itu atau kawan kecil
yang sedang sibuk mengais lemari tidur itu. Gelas plastik kecil warna merah
jambu lagi. Mereka pergi. Lalu ada seorang kawan kecil, merengek nangis bengis.
Tidak ada gelas plastik kecil berwarna merah jambu ditangannya. Sempat si kawan
meronta, tapi si Ibu membentak. Merengek lagi, kemudian dibentak lagi. Nangis,
lalu mereka pergi. Kemudian datang seorang pengemis, meminta seberapa, lalu
pergi. Dan aku melangkah pergi. Duduk bersebelahan tukang becak yang pulas
tertidur. Mukanya disembunyikan di balik caping reotnya. Hanya dengkur lapar
yang keluar dari sela lobang.

 Tukang becak ini bapak salah satu kawan
kampung. Biasa mangkal dekat toko berlemari tidur itu. Tidak biasanya si bapak
tidur. Seharusnya si bapak mengayuh becaknya menghantar pulang kawan-kawan
sekolah. Tapi kayaknya kawan-kawan sudah dijemput bapak-bapak tukang becak yang
tidak bercaping. Yang tidak harus mengayuh. Tangan dan kakinya tidak
berotot-otot tebal. Cukup membukakan pintu belakang, supaya kawan sekolahku
bisa masuk ke dalamnya dan pergi tanpa rambutnya yang memerah terbakar sinar
matahari. Si Bapak tukang becak kadang juga mengayuh becak, kalau kawan ku
tidak dijemput. Tapi tidak sesering dulu saat aku kelas 1. tapi yang bikin aku
heran. Kawan ku anak bapak tukang becak ini, jarang lebih bodoh dari aku. Dia
selalu unggul, jarang rangkingnya di bawah rangkingku. Buku selalu dibekali
dari sekolah, tidak harus beli.

Memang beda sekolah. Dan sekolah kawan ku
ini jarang juga kawan-kawannya membeli gelas plastik warna jambu merah. Di toko
yang benar-benar lebih dekat jaraknya dibanding dengan sekolahku. Mungkin nasib
keuangan mereka sama seperti aku.

“Weh! Le!
Sudah lama duduk disini?”

Sampun
pak!”

“Kok murung le? Ada apa gerangan?”

“tidak ada apa-apa pak..”

“Iya kamu di tungguin thole, katanya kalian janjian mau pergi mancing?”

“Iya pak, bentar lagi saya pulang..”

“?”

“…”

“ya sudah sana buruan, keburu hujan!”

“Iya pak..”

Aku melangkah pergi.

Le
percaya saja, jika kamu ingin sesuatu yang baik, pasti kamu dapatkan, sabar
saja ya..”

Aku menoleh. Menganggukkan kepala.

Rumah. Ternyata ibu sudah pulang. Tumben
biasanya jam 2 siang ibu baru ada dirumah. Ada apa gerangan? Pulangku disambut
Ibu didepan pintu. Wajah Ibu tidak sesegar biasanya. Kusem. Cemberut. Dan
mungkin sebentar lagi marah. Ku hampiri. Kepala ku tundukkan, siap-siap
menerima omelan. Memang waktu disekolah sempat aku bikin olah dengan guru
matematika. Aku dimarahi karena buku ku baru, lupa membawa buku yang lama
padahal didalamnya ada PR yang harus aku kerjakan. Itu alasan mengapa aku lebih
lama di Kantor kepala sekolah. Selain tidur seperti biasa, di jam pelajaran
matematika. dan mungkin juga guru matematika bosan menegurku, lalu lapor ke
Ibu. Saat itu aku hanya bisa diam, melihat raut wajah Ibu yang nampak begitu
sangar. Ku siapkan kupingku untuk menerima jeweran, plintiran dan omelan. Kepala
tetap tertunduk. Pandangan jatuh ke lantai bersama perasaanku yang mulai
menciut. Ku ingat pesan-pesan Ibu untuk tidak macam-macam dengan pendidikan.
Sekolah adalah yang paling utama. Tidak ada pilihan lain untuk anak seumurku.
Prestasi kelas atau sekolah buat Ibuku bukan yang utama. Yang paling utama
adalah bagaimana aku menelaah sendiri apa itu pendidikan, apa itu prestasi.
Prestasi tidak harus rangking satu melulu. Di anak emaskan Guru. Rapot jarang
ada nilai merahnya. Jarang bermasalah di sekolah. Atau seonggok yang lain. Ibu
berpikir anak harus belajar dari kesalahan, kesalahan juga guru pendidik untuk
tidak diperbudak kemanjaan. Tanpa melakukan kesalahan, maka sampai kapanpun dia
akan takut untuk mengakui kesalahan, dan melepas tanggungjawab. Sekolahan
hanyalah formalitas sebagai salah satu jaminan masa depan. Prestasi yang
sebenarnya adalah bagaimana pendidikan itu bisa memberikan arti buat aku atau
orang-orang disekitarku. Membuatku bahagia, dan siap untuk bekal menantang
dunia. Setidaknya itu yang aku telaah sampai sekarang. Namun saat itu, saat Ibu
dan raut wajahnya itu, dan kesalahan ku di sekolah, itu yang bisa aku telaah.
Sebentar lagi kuping ini akan memerah. Pedas oleh plintiran dan omelan. Tapi
tidak.

Ibu membelai rambutku. Beliau berlutut di
depanku. Hingga sejajar dengan tinggi tubuhku. Di belainya kembali rambutku.
Aku masih tertunduk, takut. Heran. Dan apa gerangan ini. Belum selesai ku
kumpulkan keherananku. Tubuhku sudah berada dalam dekapan Ibu.

“selamat ulang tahun le..”

Ku balas pelukan Ibu. Di kecupnya
keningku. Hangat. Lalu Ibu berdiri mengambil sebuah bungkusan.

“ini buat kamu le..”

Tidak bisa aku utarakan perasaan saat itu.
Yang ada hanya heran, bahagia, dan masih sedikit ketakutan, tapi entah
ketakutan apa itu. Semua bercampur, menjadi gado-gado. Bergegas ku buka
bungkusan itu. Benda itu? Kenapa ada pada Ibu? Dalam bungkusan ini? Kado ku
ini? Ulang tahunku dihadiahi benda itu, tutup es krim yang tipis, rasa
setupberi.

“Ibu temukan itu di saku bajumu, ibu tahu
kamu pingin Es krim itu le..”.

Kemudian Ibu memberikan plastik hitam.

“Ini buat kamu, le..”

Ku melongok ke plastik hitam itu. Aku
tersenyum senang.

“Ini buat aku Bu?!”

Ibu menganggukkan kepala.

Ku keluarkan isi kantong plastik hitam
itu. Dua gelas plastik warna merah jambu, mirip gelas plastk yang biasa
dipamerkan kawan-kawanku di sekolah. Sekarang hari itu saat itu. Di hari ulang
tahun ku, aku punya.

“Es krim rasa setupberi!”

“strawberry le..”

Sekali lagi ku cium Ibu.

Yah aku ingat saat itu. Pertama kali aku
makan es krim rasa strawberry. Ibu selalu mengerti aku. Aku bukan anak
kesayangannya tapi kasih sayang selalu ada untuk aku. Aku sadar itu hanya
sebagian kecil perhatian serta kasih sayang yang Ibu berikan ke aku. Tapi dari
yang kecil itulah, memberi ku pelajaran emas. Dan es krim rasa strawberry bukan
makanan favoritku, sampai sekarang.

Jogja, Januari
menjelang malam 1 Suro 2007

Janji Bulan Mei

January 10th, 2007 by jejakmungil

                             Janji
        Bocah kecil duduk termenung di perempatan jalan. Nglemprak di trotoar berpayungkan dedaunan pohon asem londo.
Sesekali matanya liar menyapu motor dan mobil yang terhenti lampu merah. Atau
mengusap debu yang melekat di keningnya bercampur keringat. Kulitnya begitu
hitam terbakar matahari. Kotor, dekil melapisi seluruh kulitnya. Mungkin sudah
beberapa hari tubuh itu tidak merasakan segarnya air bersih. Atau minggu atau
bulan. Entah yang pasti bocah itu hampir seminggu ini masih hidup, masih bertahan
hidup dan mungkin sedang memperjuangkan hidupnya. Entah.

Parasnya cantik. Bedak,
eyeshadow, lipstick, dan segala perabot topeng yang melekat diwajahnya,
tentulah tidak harga eceran atau grosiran di toko kelontong murahan. Pastilah harga
promosi dari brand cosmetic terkenal. Tidak mudah luntur oleh keringat. Tahan
lama, nambah percaya diri dan tentu saja meyulap paras pas-pasan menjadi
lumayan. Mungkin. Yang jelas gadis berparas cantik itu berdiri dengan membawa
sekotak penuh rokok merk tertentu. Harga rokok tidak terlalu mahal, mahal
mungkin bagi yang merasa mahal, tidak mahal bagi yang merasa demikian. Yang
pasti rokok itu, kata orang sesuai dengan citarasa orang Indonesia. Tapi dengan
brand luar negeri, tentunya.

“maaf bapak, boleh tahu
rokok bapak apa?”. gadis itu meruntun kata menjual dengan pesona senyum yang
manis. Manis bagi yang merasa manis dan menggoda bagi yang merasa tergoda.

Seorang lelaki
berhenti. Berpikir sejenak. Muka dipasang menimbang-nimbang. Jemari kekar
mengelus jenggot rapi di dagunya. Cincin emas bermata batu melingkar di jari
manisnya. Berlagak sodagar dari negeri jiran, ingin memborong seluruh dagangan.

Lalu lelaki itu pun
menutur kata balasan, “rokok saya ini mbak, memang kenapa dengan rokok saya ini
mbak?”.

“gini kita mau
menawarkan kepada bapak, rasa istimewa dari rokok kita, rasa baru dengan saos
nikmat, low tar dan nikotin, aromanya istimewa karena dari cengkeh dan tembako
pilihan, tentu saja rasa sesuai dengan citarasa lokal, tertarik pak, nah begini
pak, sisa rokok yang bapak punya akan kita tukar dengan satu bungkus rokok
kita, juga jika bapak membeli satu bungkus lagi maka saya akan memberi
bonus..”. kata itu terhenti, oleh senyum lelaki itu.

“saya beli dua, rokok
ini tidak saya tukar dengan rokokmu, sedangkan bonusnya..”. kata itu terhenti
oleh gadis lain yang datang mendekat, lalu berbisik.

“bonus kita bagi ya..”.
satu senyum melayang ke arah lelaki itu.

“saya ambil dua bungkus
juga dari kamu, berarti bonus untuk saya berlipat..”. lelaki itu kembali
tersenyum. Kedua gadis membalas dengan senyum pula, manis.

“terimakasih pak, telah
mau membeli rokok merk ini, kami jamin bapak bakalan suka dengan aroma dan
rasanya, karena bapak membeli empat bungkus maka bapak berhak mendapatkan bonus
dari kami, bonus itu..”

“bonus itu untuk
kalian..”.

Lelaki itu melangkah
pergi dengan empat bungkus rokok, lalu mengeluarkan sebatang rokok dari bungkus
yang tidak dia tukarkan. Puss!

Telapak kecil
berjingkat-jingkat oleh panasnya permukaan jalan. Aspal. Berpindah-pindah di
sela-sela roda depan motor yang terhenti lampu merah. Kain hitam dekil di
sapukannya ke slebor motor seorang gadis. Helm besar membungkus kepalanya, kain
hitam menutup mulut serta hidungnya. Kaca mata hitam untuk menyeka sinar
matahari yang menyilaukan. Diam diatas motor menunggu datangnya lampu hijau.
Slebor itu tidak juga bersih, bahkan semakin kotor oleh kain dekil si bocah. Si
gadis diam menunggu datangnya lampu hijau, diatas motornya. Dengan sedikit
tenaga si bocah mencoba mengelap kotoran yang dibuat oleh kain dekilnya. Tidak
juga bersih.

Kain itu basah oleh air
kecingnya sendiri, tadi sewaktu ngompol di trotoar. Sekarang slebor itu pesing,
bekas air kencing yang terserap oleh kain dekilnya. Si gadis tetap diam
menunggu lampu hijau, diatas motornya. Sekarang kaki kanan diangkat, jari-jari
mungilnya terkait di betis kaki sebelah kirinya. Permukaan jalan panas. Aspal.
Gantian kaki kirinya yang diangkat. Sama. Permukaan jalan semakin panas. Aspal.
Keringat sebesar kepik menetes dari jidat. Berlari berguling-guling jatuh di
kerah baju. Merembes. Kemudian datang lagi kepik-kepik yang lain yang juga
berlari berguling-guling, jatuh ke tempat yang mereka sukai. Celana. Baju
bagian belakang. Dan kain yang terjepit oleh selangkangan. Namun ada juga yang
ikut terhembus angin dan debu, setelah rela jatuh di permukaan jalan yang
panas. Aspal.

 Menyerah, bocah itu menyerah. Kotoran tidak
juga hilang, bahkan semakin melebar kemana-mana. Debu hamburan dari truk sampah
yang melaju cepat, ikut memperindah kotoran itu. Bocah itu menyerah. Mungkin
ini yang terbaik baginya, melangkah pergi dengan menundukkan kepala, rasa
penyesalan. Atau menengadah memasang muka melas untuk mendapatkan cepek atau
dua cepek. Kain dekil tetap bergerak kekanan, ke atas, ke kiri, menyamping dan
kadang berputar,lebih banyak berputar, mengikuti ritme tangan mungil si bocah.
Masih belum di putuskan, melangkah pergi atau memasang muka melas. Gerakkan
kain mulai mengendur. Yang cepat adalah gerakan otak yang berputar mencari
jawaban atas pilihan yang dibuat sendiri. Belum diputuskan. Lampu hijau
menyala. Motor lain bergerak pelan dengan deru klakson yang tidak ketulungan.
Panas, bising, tergesa-gesa, panas, bising, terburu-buru, panas, bising dan
tidak peduli. Jawaban belum di temukan, tapi kenapa semua sudah berhamburan,
bagaimana dengan aku. Seseorang menungguku disudut yang tidak jelas. Nunggu
setoranku. Dan dia janji memberi jatah makanku. Sekarang semua pergi.

Lampu hijau. Dan semua
pergi. Kotoran itu. Jawaban itu. Cepek dua cepek itu. Semua pergi. Dan dari
arah yang sama datang segerombolan bising lagi. Dengan deru yang berkoar dari
moncong knalpot. Membawa bungkusan-bungkusan berisi kepala, dengan penutup mata
dan kain yang membekap mulut dan hidungnya. Serta kaca-kaca yang ajaib dari
seonggok besi berpoles mengkilat, bisa turun sendiri, lima senti cukup untuk
jemari-jemari ladang cepek dua cepek. Dan permukaan jalan tetap panas. Aspal.

Bocah itu berlari ke
tempatnya semula. Dibawah pohon asem londo, trotar, dan bekas kencing. Kain
dekil. Kotoran yang melekat.. bocah itu terduduk lemas. Hanya bisa bergumam,
protes dalam hati. Mikir bagaimana nanti. Hari ini, makan untuk perut ini.
Melihat takut ke arah seseorang yang juga memegang janji bocah itu untuk
setoran lima ribu rupiah, siang ini. Tapi lima ribu menguap. Tidak ada lima
ribu yang ada mata melotot, seakan ingin dilepas begitu saja bola mata itu, seperti
duit yang pergi juga begitu saja.

Sore. Delapan jam lebih
sedikit lepas dari jam sembilan pagi. Kedua gadis. Cantik. Make up sisa tadi
pagi. Secangkir kopi sebagai teman kegelisahan. Mereka berdua gelisah. Mungkin kegelisahan
itu yang memberi keputusan kepada mereka untuk menikmati secangkir kopi
disebuah kafe tak jauh dari tempat mereka menjajakan rokok dengan bonus-bonus
itu. Tidak ada obrolan atau sekedar celoteh canda seperti biasanya. Kali ini
hanya mulut bergincu, terkatup rapat, sesekali menganga kecil untuk sehirup
kopi expresso. Diam.

Tidak jauh beda dengan
senyapnya sebuah ruang kelas, sekarang ada ujian. Gadis-gadis berjajar rapi
duduk dalam kegelisahan. Lelaki-lelaki merusak suasana dengan bertingkah
membabibuta, merasa mata pengawas tidak si cekatan mata elang brontok. Mengusik
teman untuk satu atau dua jawaban. Satu dua tepuk bahkan empat harus rela kartu
ujian disita. Sambil mencoba melepas bola matanya. Pengawas serta merta
memberikan kewenangan sepenuhnya kepada mahasiswa itu untuk berbesar hati
mengulang di tahun yang akan datang. Merengek, berbalas pantun sebagai seorang
perjaka patah arang, yang menghamba kepada seekor macan untuk memuntahkan
kembali calon istrinya dari perut si macan. Tontonan yang biasa untuk mata
kuliah ini. Dengar-dengar pengawas di bayar mahal untuk pekerjaan pembunuhan
karakter itu. Khusus untuk gadis-gadisnya apalagi. Kebanyakan mereka memang
mahasiswa yang mengulang mata kuliah itu. Dosennya baik hati. Jarang ke kampus.
Tugas tak melimpah. Kuis sedang diusahakan. Dan mata kuliah yang cukup
menggairahkan. Menggairahkan bagi yang merasa bergairah. Tapi bisa juga
bergairah untuk meninggalkan mata kuliah itu. Statistika. Seorang pengawas
sedang menelan hidup-hidup seorang gadis yang kepergok membawa lembar-lembarn
kecil di balik roknya, ketika pintu kelas di ketuk pelan oleh seseorang.
Penjaga mendekat lalu membukakan pintu. Tidak ada senyum untuk Gadis yang
terlambat. Walau jelas bibir sudah ditarik keatas dengan deretan gigi berjajar
rapi. Lesung pipi yang dalam, mata yang berbinar resah, dan..

“pagi pak maaf
terlambat, tadi di jalan terkena macet..”. Tetap saja tidak mengobrak-abrik
wajah pengawas itu. Muka asam rangkap dengan sadis, tidak mengindahkan
ketidakdisiplinan. Pengawas masih didepan pintu, menoleh ke arah pengawas yang
selesai memasukkan kaki seorang gadis dalam mulutnya. Anggukan kepala. Pengawas
yang didepan pintu mengerti, akhirnya memberi ijin untuk gadis itu mengikuti
ujian, dengan catatan..

“kamu boleh ikut ujian,
tapi tidak ada ekstra waku untuk mengganti keterlambatanmu!”. Aturan yang
muncrat dari mulutnya. Balasan senyum mengiyakan dari si gadis. Tidak butuh
waktu lama suasana kembali senyap. Sepi, diam.

“kenapa kamu diam
saja!”. Seorang wanita tidak terlalu tua, berteriak sembari berusaha menahan
bola matanya yang hampir copot karena terlalu lama melotot. Mungkin.

“maaf mak, tadi aku
bingung..”.

“bingung?! Memang mikir
apa kamu?! Kamu gak usah mikir! Kerjaanmu cukup ngelap motor, ngelap motor,
lalu dapat duit! Dah gak usah pake mikir segala! Aku gak ngajari kamu mikir!
Sejak kapan kamu bisa mikir?! Heh! Aku tanya sejak kapan kamu bisa mikir!”.
Kuping kecil itu diplintir. Merah. Perih. Sakit. Lalu mewek nangis.

“Eee! Malah nangis!
Diam! Aku nyewa kamu bukan buat nangis! Tapi buat nyari duit! Goblok! Rugi aku
nyewa cah rewel! Rugi! Rugi! Diam!
Ambil kainmu! Kerjaaa!”.

Kaki mungil telanjang
tanpa sandal jepit, kembali merabai pelukkan permukaan jalanan yang meredub
panasnya. Aspal. Tangan mungil, jemari kecil-kecil satu meremas kain dekil,
satunya lagi sesekali mengusir kepik-kepik kecil yang berbaris teratur, keluar
dari sarangnya, kelopak mata. Ada yang selamat jatuh ke pipi merah bocah itu.
Ada juga yang tersapu jemari kecil dan kain dekil. Selembar leaflet terbang dan
menempel di muka bocah itu. Tidak terlalu mengerti dengan torehan tulisan
didalamnya. Yang dia tahu ada gambar mahkota dan terompet, seperti benda yang
dijual Mamad tahun lalu.

Bayangan dedaunan pohon
asem londo, miring melawan jatuhnya keperkasaan matahari. Panas tidak sekejam
tadi siang. Sekarang yang ada hanya hangat secangkir kopi kedua gadis itu. Ini
cangkir kedua untuk mereka berdua. Asbak juga mulai muak dengan bangkai rokok,
muntah kemana-mana. Berserakan kemana-mana. Abu rokok, puntung rokok dan
pikiran kedua gadis itu.

“jujur gua tidak ingin
seperti ini As..”. kata-kata itu melayang begitu saja. Satu-satu persatu masuk
ke lubang kuping Astrid. Rambut panjang tergerai, disibak ke belakang membuka
jalan untuk kata-kata itu.

“mungkin ini terakhir
kalinya gua bekerja seperti ini. Capek!”. Segumpal nafas panjang tersembur
keluar bersama asap rokok. Menyibak keruman abu yang porak-poranda olehnya.

“apa yang sebenarnya
gua butuhin? Uang? Pekerjaan? Cowok? Status? Nggak jelas. Atau mungkin gua
tidak butuh apa-apa? atau mungkin karena gua cantik, tubuh seperti ini,
senyumku yang manis, dan harum parfumku yang mahal, gua butuh tempat untuk
mengekspresikan itu semua?”. Segumpal asap pelan menelusup ke lubang hidung.
Kemudian berdesakan di paru-paru, lalu keluar mencari sendiri saraf-saraf yang
tegang. Untuk bisa kendor sejenak. Sebagian asap itu kebingungan kemudian
memilih keluar melalui mulut dan terbang menghempas wajah Astrid.

“gua sendiri heran
kenapa baru sekarang datang pikiran-pikiran seperti itu, pikiran-pikiran yang
seharusnya tidak gua pikirkan. Pikiran-pikiran yang semakin membuat ku berpikir
apakah otakku terlalu kosong untuk berpikir hal yang seharusnya lebih baik
untuk dipikirkan?”. Tidak ada asap, melainkan cairan kental dengan bijih ampas
hitam merajah indera manis, pahit, lalu manis kemudian hilang dibalik
kerongkongan. Mulut dengan lipstick yang memudar itu terus bergerak dengan
lambat dan terseka-seka. Sedangkan mulut yang lain tetap terkatup, lipstick
sudah ditebalkan lima menit yang lalu. Make sudah dibenahi.

“Baik! Waktu habis!
Kumpulkan pekerjaan kalian! Sekarang dan dengan waktu yang secepat-cepatnya!
Ini sudah sore!”. Selesai untuk si pengawas ujian. Tidak untuk Gadis. Panik,
toleh kanan semua sudah bergegas pulang, kekiri tidak ada lagi kawan. Kedepan
pengawas yang tidak setia kawan. Di akhir cerita seharusnya ada terselip
sedikit kisah bahagia, tapi tidak, tidak untuk cerita Gadis. Yang ada hanya
akhir dari penanya. Tinta tidak keluar lagi. Pengawas berjalan mendekat. Masih tiga soal yang tidak terjawab. Pengawas lain
yang mengemas semua jawaban yang terkumpul untuk segera diboyong keluar kelas.
Dan soal-soal ini seakan menjelma menjadi benang kusut, merajut semrawut.
Memaksa otak Gadis untuk terjun bebas, melebur dalam kalut. Satu soal belum
terjawab. Jawaban warisan teman ke buru di sita pengawas. Soal kedua Gadis
tinggalkan. Soal ketiga, ingin sekali Gadis cincang dengan parang. Mutilasi
soal ujian dan mungkin selepas ini bertambah satu. Persoalan lulus tidaknya
dengan jawaban yang seadanya dan tidak tuntas sampai akhir cerita, turunnya
layar panggung.

“selesai tidak selesai
jawaban kudu di kumpulkan!”. Pengawas menarik lembar jawaban.

“jangan dulu pak, ini
kurang tiga soal lagi”. Gadis bertahan dengan lembar jawaban masih dalam
cengkramannya.

“tidak bisa! Saya harus
pulang! Istri saya menunggu dirumah!”.

“tapi pak! Saya mohon
pak! Saya harus lulus tahun ini!”.

Lorong kampus. Tiang-tiang
penyangga kayu berjajar rapi, berakhir di ujung lorong yang gelap. Tempat
sampah. Sebuah papan pengumuman dan beberapa lembaran pengumuman tertempel
sesak. Derit ensel pintu sebuah kelas karena tersenggol angin. Tempat duduk dan
seorang Gadis dipangkuannya. Sengaja dibiarkan punggung dan kakinya mencari
kenyamannya sendiri. Dan kepala merebah di sandaran bangku itu. Mata mencari
sela-sela langit-langit lorong, berusaha menembus jauh sampai ke
batas-batasnya. Melas. Secarik kertas lusuh dalam genggaman. Bertuliskan ujian
statistika dasar. Satu persatu jari-jari lentik itu berubah menjadi jari-jari
kasar yang melumat kertas. Tak berbentuk. Tempat sampah, kertas tak berbentuk
jatuh di sampingnya.

Waktu tidak perlu
disuruh untuk menghabisi hari. Gadis masih memanjakan semua organ tubuhnya.
Pikirannya masih dibiarkan bebas berkeliaran keluar masuk melalu matanya. Dan
kertas tak berbentuk masih setia bersanding dengan tempat sampah. HP berdering
lagu pop. Telpon masuk, dering khusus. Dan waktu terus menghabisi, meninggalkan
batas terang dan gelap yang merambat menyapu wajah Gadis. Silau, cahaya lampu
datang tiba-tiba dari atas. Menyadarkan semua mahkluk siang untuk kembali ke
sarang dan bicara rencana kudeta terhadap malam dan kekuasan gelapnya. Lengan
putih, jam tangan yang tersembul dari balik lengan jaket. Enam lebih empat
belas menit. Berketepuk langkah kaki terburu-buru menelusuri lorong. Disambut
remang cahaya lampu. Menuju parkiran motor didepan sana, diluar gerbang lorong
kampus dengan kelas-kelasnya berlari berlawanan arah. Ada kebencian kepada
waktu yang bengis membantai hari datang dari  sorot mata Gadis. Ada sesuatu yang belum bisa
dia terima dari derap langkahnya yang tergesa-gesa. Adalah persoalan ke empat
jika dia tidak datang menepati janji.

“mungkin gak ya kita
dapat bonus lagi”. Belum cangkir ketiga. Belum juga memesan makanan. Kedua
gadis itu sudah menikmati obrolan mereka, tidak jauh dengan target bonus
penjualan, masa depan_besok, besoknya lagi_kontrak yang diperpanjang, juga
besoknya lagi_bagaimana membelanjakan uang itu, serta tidak ketinggalan
besoknya lagi_produk apa yang akan mengontrak senyum manis mereka. Sampai
sekarang tidak ada pembicaraan untuk kemarin. Tapi setidaknya kedua gadis itu
ingat obrolan tentang janji seorang teman. Yang mengkhiri sore mereka menghabisi
hari bersama waktu, duduk di kafe itu dan kopi expresso.

“yang jelas mungkin
terjadi. Hari ini aku tidak lulus ujian statistika. Terpaksa ngulang semester
depan. Dan yang jelas lagi, bapak yang tadi mulai nakal, lihat sms-nya..”.

Bapak tahu kamu tidak ikut ujian mata
kuliah bapak, dan kemungkinan besar kamu tidak lulus. Harus ngulang tahun
depan. Apa gak bosen.. he3. tapi tenang itu bisa diatur. Cuman ada saratnya..
kapan bisa dinner sama bapak?

“lagian salahmu sendiri kenapa lo kasih no HP lo ke dia, bisa
kan lo kasih no yang lain!”.

“gak bisa lah! lo tahu sendiri tadi dia miskol ke HP
gua!”.

“iya.. ya!”. Astrid diam sejenak.

“Tapi neh! Ada yang janggal menurut gua, kenapa dia tahu
lo mangkal disitu?”

“emang gua kasih tahu!”

“nah loh! Lagian ngapai ngasih tahu dia!”

“koceknya tebel bu! Katanya kalo ketemu kita pas lagi
jualan, dia mo ngeborong! So apa salahnya kita juga memanggil si konsumen buat
datang ke kita!”.

“gak ngerti! Lagian apa cuman dia yang mampu ngeborong tu
dagangan?! Gak juga kan!”

“bener juga sih! Tapi selagi tu pembeli matanya masih
suka nyelonong ke belahan dada gue! Ngapain juga gak di manfaatin! Suka aja
ngerjain lelaki kelamin penganguran! Tinggal di buka sedikit krannya. Ngucru
deh uangnya!”. Kedua gadis itu tertawa.

“gak tahu Mei.. tanpa lo mungkin gua gak bakalan survive
ma yang gituan! Hiii! Horor!”.

“gak lah! Lo pasti bisa! Cuma satu yang harus lo pegang!
Harga diri!”

“setuju Mei!”

“heran! Kenapa gak ada yang melihat pekerjaan kita, lo,
gue dan teman-teman yang selain secara profesional, kenapa selalu kita tuh
dianggap komoditi yang siap di eksport ke area pemuasan nafsu kelamin-kelamin
kesepian?”

“kenapa tanya ke gue?!”

“kenapa juga agen-agen itu menuntut kita harus pake rok
mini lah! pamer dada lah! harum lah! menor lah! Apa gak bisa kita tuh diberi
pengetahuan bagaimana meningkatkan pejualan tanpa jualan senyum genit, tubuh
dan segala yang menganggap kita tuh gak bisa mikir, gak peduli dengan sekitar,
cuek, punya pede lebih yang gak peduli sama lelaki-lelaki berkelamin pengangguran.
Terus seenaknya ngeremehin kita. Apa benar kita tuh sebodoh itu? Apa harus
seperti ini, tubuh ini harus dijual dengan melepas otak kita untuk bisa
berpikir!”.

“mungkin..”. Jawaban astrid singkat. Amarah itu berakhir
dengan sebatang rokok lagi.

Mungkin malam dan kerabatnya_gelap belum puas menyiksa
hari. Kehadiran rembulan di tengah-tengah mereka seakan mengganggu jalannya
misi pembantian hari. Tanpa pikir panjang didatangkan sepasukan awan yang
berarakan dari arah barat. Bulan ditelan selagi binarnya terang benderang.
Hilang. Langitpun menangis selepas matinya bulan. Pohon asem londo. Seekor cleret gombel, melesat pindah ke pohon
asem jawa. Berlari mengejar pasangannya yang lebih dulu mencari teduh dari
guyuran hujan. Tikus got nampak berpesta-pora di rerimbunan pohon krokot.
Katak, mati terlindas motor. Dan bocah duduk bersimpuh. Menantang hujan.
Menggigil. Gigi beradu seperti saling ingin menghancurkan. Kain dekil masih di
dekapnya dalam pelukan. Dan wanita itu. Wanita itu tidak ada lagi. Matanya yang
melotot sudah lelah. Dia tertidur di emperan toko. Tak jauh dari pohon asem
londo.

Hujan kian menunjukkan keangkuhannya. Sombong akan
kekuatannya yang membuat kocar-kacir penghuni bumi. Deru mesin mengeram kuat,
tanda di geber ke batas kecepatan tertentu. Gadis membiarkan tubuhnya dihujam
buliran hujan yang menerjang. Tidak ada ampun bagi penghuni bumi yang tidak mau
mengalah oleh sombongnya hujan, maka diterimanya basah dan linu di sekujur
tubuh. Beberapa kali adrenalin mendidih, sekali waktu sempoyongan hampir
menyerempet motor lain. Sekali lagi hampir menyerempet motor lagi. Hujan tidak
memaklumi itu.

Tidak ada niat dari bocah itu untuk berlari menyusul
empunya. Tidak sedikitpun terlintas di benaknya, Bermalas-malasan sebentar.
Memanjakan tubuh untuk di urut oleh lelah lalu lelap dalam perantauan mencari
mimpi. Tidak ada semua itu. Yang ada bocah itu tetap harus ditempat. Tidak
kemana-mana, karena ada janji dengan seseorang. Dan dia akan datang di sini
dibawah pohon asem londo ini.

“Idiih kemana sich dia?!”. Memei panik. Alunan music
alternatif menghancurkan keheningan. Arogansi budaya pop merusak obrolan kedua
gadis itu, mengingatkan mereka akan sesuatu.

“coba lo telpon dia!?”. Tetap belum sadar akan perusakan
itu. Musik itu semakin menggeber harmonisasi miring, sekali lagi
melululantahkan suasana menjadi kepingan-kepingan jenuh.

“gak diangkat!”

“Mungkin lagi dijalan kali!”. Astrid menerka.

“mungkin..”.

“terus gimana?”. Astrid bertanya.

“ya udah kita berangkat!”

“sekarang?”. Astrid bertanya.

“gak sewindu lagi! Ya sekarang lah! Gimana sih lo!”

“nafsu amir lo! Kayak ini baru pertama kalinya lo lakuin
itu!”. Astrid berujar serius.

“denger ya! Ini emang pertama kalinya buat gue! Dan gue
gak bisa maafin diri gue jika gak gue tepati janji gue ke dia!”

“emang dia sapa lo! Getol amat bela-belainnya! Pake kudu
ke salon lagi! Resevasi tempat! Yang ini yang itu! Lagian ngapain juga
ngelibatin kecengan gue segala sih!”. Astrid sedikit protes.

“Dah! Gini gue udah terlambat lima belas menit gara-gara
nemenin lo nugguin laki lo! Sekarang lo mau ikut pa gak terserah lo! Gue ke
buru-buru! Kasihan dia pasti dah nungguin terlalu lama!”. Memei melangkah
menembus lebatnya hujan. Menuju ke arah modil yang diparkir di seberang jalan.

 “Mei tunggui Mei!
Gitu aja ngambek! Lagian jarang-jarang gua ikut acara gituan”. Astrid pun
menyusul tanpa pertanyaan lagi.

Hujan. Sebuah kafe. Gaya seperti biasanya kafe, menjual
kenyamanan dengan beribu tagihan. Sofa melingkar. Segelas kopi, asbak yang
belum muak. Dan lelaki dengan jari yang sibuk menari di tombol-tombol huruf.
Sesekali tertawa terbahak merasa puas dengan teman kecilnya itu. Lalu
marah-marah ketika yang keluar suara seorang wanita yang mengikatnya sebagai
seorang kepala rumah tangga. Kadang juga merayu ketika yang keluar dari teman
kecilnya itu suara seorang gadis. Atau kadang dia juga marah walaupun yang
keluar dari teman kecilnya itu suara seorang gadis yang ingin ditinggalkannya.
Dan berakhir pada minuman. Juga sesekali memegang kelaminnya yang menegang
ketika seorang pelayan cantik merunduk menyedu minum untuk mulutnya yang
beliur. Atau sesekali di pegang ujung puting dadanya sendiri ketika melihat
seorang gadis datang dengan tubuh yang basah kuyup.

“maaf pak saya terlambat..”. gadis itu tidak
memperdulikan celoteh yang keluar dari mata pengunjung lain. Lelaki itu
menelanjangi tubuh gadis dengan tatapan lepas kendali. Gadis menggigil. Separuh
tubuhnya terguyur hujan.

“tidak masalah, dari dulu memang kamu indisipliner, tapi
ya sudah, sini duduk sini dekat bapak, kamu pasti lapar, lihat tubuhmu basah
kuyup, sini biar bapak hangatkan.. gimana ujian tadi?”

Lampu kerlap-kerlip. Kecil-kecil. Bergantian membaurkan
suasana semakin meriah. Balon-balon dipajang dimana-mana. Pita-pita kertas
terbentuk lucu sedemikan rupa. Menambah semaraknya pesta. Ruangan itu dipenuhi
dengan cinta dan kebahagiaan. Musik bertalun ceria menyambut datangnya
anak-anak kecil yang beradu senyum dan tawa. Riuh.

***

Wulan nama bocah itu datang bersama Astrid dan Memei.
Mahkota kecil disematkan untuk ketiganya sebagai penyambutan. Dan terompet
mungil.

“Wulan maafkan kakak. Terlambat menjemputmu. Nah janji
kakak terpenuhi, sekarang kita ada ditempat yang indah, dimana Wulan bisa
bermain, makan , minum, bercanda tertawa, apapun yang belum pernah Wulan
rasakan, sekarang bisa Wulan rasakan, nah sekarang kakak nagih janji Wulan,
ingatkan? Janji Wulan ke kakak. Wulan janji akan memberi sesuatu yang indah
kepada kakak”.

Mata Wulan menatap tajam Memei. Dipandanginya sahabatnya
itu. Sahabat yang terjalin karena keduanya adalah milik yang empunya. Wulan
dengan wanita yang seakan-akan matanya mau copot. Dan memei yang terpaksa
berjualan dengan senyum genitnya. Aturan agen. Dan juga pohon Asem Londo yang
menjadi saksi kecerian mereka berdua ketika empunya mereka sibuk dengan untung
dan rugi. Dan saksi akan ikrar janji saling memberi yang terindah di ulang
tahun Wulan ini.

Memei membalas tatapan Wulan. Kemudian pelan Wulan
mencium kening Memei. Lama seiring riuh tepuk tangan teman-teman permukaan
jalan, trotoar, perempatan dan ridang serta teduh pohon-pohon taman kota. Wulan
memeluk erat tubuh Memei. Memei membalas tak kalah hangat.

“Maaf kak, itu
yang paling indah yang Wulan bisa berikan..sekarang”

“terimakasih, tapi kenapa baru sekarang Wulan berikan,
kenapa tidak dulu-dulu, kakak rela dipeluk seperti ini oleh Wulan, kakak ingin
di kecup hangat oleh Wulan, Wulan sobat kakak yang paling baik..”

“Wulan takut kak..”

“takut kenapa?”

“takut baju Kakak kotor, wajah Kakak kotor, dan parfum Kakak
kotor..”

Memei melepas pelukkannya. Dan menatap sendu.

“kenapa Wulan berkata seperti itu..”

Wulan tertunduk.

“Wulan takut, Kakak gak bisa kerja kalo baju, wajah dan
parfum Kakak kotor oleh Wulan. Kakak kan juga butuh uang”.

Wulan kembali jatuh dalam pelukkan hangat Memei, hujan
dan keceriaan malam ulang tahun ke tujuh Wulan dan Sembilanbelas tahun Memei
hidup serta dua bulan kebersamaan mereka.

“makasih sobat..”

 ***

 Dalam pelukkan seorang bapak. Gadis kembali
membebaskan tubuhnya dalam gumulan kelamin pengangguran. Menatap kosong ke
langit-langit kamar sebuah hotel. Mencoba menembus meraih letupan-letupan
gairah yang berhamburan di udara. Dalam gemuruh deru nafsu. Gadis meraih HP dan
sejenak dia sudah tersambung dengan seseorang.

“Mei met Ultah ya, sori banget aku gak bisa datang, ada
saweran..”. seperti biasa bapak gagal membuktikan keperkasaannya.

“udah pak?”

 

Jogja,
selepas Desember 2006

 

 

 

aku lagi pingin marah..

January 7th, 2007 by jejakmungil

Marah
Putih?

Satu
lembar kertas putih, aku pegang di kedua ujungnya dan ku tarik. Robek.

Satu
lembar lagi kertas, masih berwarna putih, ku pegang salah satu ujungnya, dan
ujung yang lain biarkan api yang mengurus. Hangus.

Satu
lembar lagi ku ambil, mungkin ini warna putih yang terakhir. Tidak ku robek
atau ku bakar. Cukup aku baringkan di papan. Ku balik, putar, sedemikian rupa.
Aku ingin melihat apakah kertas ini benar-benar putih?

Ternyata
aku terlalu berbikir positif. Ku kira putih ya putih. Tidak putih dengan noktah
kotor di ujung-ujungnya. Karena begitu kecewa, mungkin kecewa dan benar-benar
kecewa. Ku hempaskan ke lantai, terkulai, lalai bahwa putihnya palsu.

Kemudian..

Kertas
itu begitu pasrah, ketika tinta hitam sengaja aku hamburkan diatasnya. Hitam.


batu

Pernah
aku berjanji kepada batu. Begini: “batu aku berjanji tidak akan membuatmu
menjadi alat pembunuh lagi, suerr!”.

Batu
diam.

Lalu
aku meneruskan, begini: “terakhir lelaki itu bocor kepalanya, apa mungkin aku
terlalu keras menghempaskan dirimu ke kepalanya? Atau memang ada benci yang
kamu simpan untuk lelaki itu? Atau memang kita sama-sama ingin membunuhnya?”.

Batu
tetap diam.

Tak
lama kemudian datang serombongan debu.

Mereka
berhenti, berbaris, bak laskar negeri menyambut mati, dihadapanku, salah satu
kerikil besar berteriak, begini: “wahai daging dan darah! Ku kata kan kepadamu
berhentilah merayu kematianmu sendiri!”.

Sekarang
aku yang memilih diam.

Serombongan
kerikil itu meringsek menjadi besar, sebesar batu itu lalu terbang melesat
cepat menghempas ke arah kepalaku.

Jam
7 pagi.

Tak
terasa matahari masih ingat pekerjaannya. Dan awan belum juga dewasa, suka
membutakan mata matahari dengan beriring sendu di depannya. Angin, persetan
dengannya.

Ku
duduk lelah. Di pematang waktu. Tanganku kadang bercanda dengan rumput teki.
Dan mataku kadang liar menyatroni buih-buih airmata. Di sebelahku tergeletak
bangkai, bongkah kecil, keras, culas.

Si
batu kawanku.

December 26th, 2006 by jejakmungil

Img_4654rkcl







"Katakan apa yang kau lihat!".

Mata Ashari masih terbelalak.
menerawang jauh kebatas alam yang tidak jelas. wajahnya pucat. tubuhnya
menggigil. berkali-kali mulutnya digigit, seperti ada sesuatu yang harus segera
dimusnahkan dalam pikirannya. atau memang pikirannya sedang dikuasai oleh
sesuatu. yang pasti ada ketakutan yang merusak keceriaannya. entah apa itu..

***

2 6 O k to b e r 2 0 0 4

Hari ini memang bukan liburan
panjang tapi entah mengapa aku pingin sekali naik gunung. berbagai alasan
klise, refreshing, liburan dadakkan, kangen dengan suasana alam aku buat untuk
meneguhkan keinginanku, naik gunung, Lawu cukup buatku. tapi, jujur saja jika
aku berangkat sendirian, bakalan tidak seru. Aku berniat mengajak teman,
setidaknya ada teman ngobrol selama perjalanan.

Ashari, temanku yang satu ini
memang doyan acara-acara yang berhubungan dengan alam. dia lebih mengenal
gunung, lembah, tebing dan hutan ketimbang ukuran BH atau warna kesukaan
pacarnya. dan semua bisa menjadi nomor kesekian ketika nafsu untuk menyatu
dengan alam memanggil untuk dicumbu. dan dugaanku tidak meleset. Segera ashari mengiyakan
rencana ku untuk menapaki cemoro sewu menuju puncak.

Tidak butuh lama bagi ashari
mengumpulkan keperluan naik gunung. memang dia lebih mengerti apa yang dibutuhkan
untuk naik gunung, aku hanya mengikuti kemauannya. Aku tidak terlalu ambil
pusing tentang hal-hal itu. Yang aku butuhkan adalah menapaki terjalnya lereng
lawu. Menghirup murninya udara pagi. Dipeluk mesra hangatnya mentari pagi yang
berdesakan melalui celah-celah dedaunan pohon pinus atau sendunya akasia. Atau
merayu moleknya bunga edelweis sebagai kekasih alam yang mempesona. Sungguh
imajiner alam yang indah, dan semakin bermekaran dalam benak dan keinginanku. Malam
ini aku berangkat.


***

Bus jurusan tawangmangu melaju
pelan, berangkat dari

surakarta

, sore hari. bis penuh sesak,
sebagian dipenuhi oleh pedagang, entah itu dari sarangan atau dari solo mau
berdagang di lereng lawu. memang ini bukan ekspedisi pemenuhan nafsu. Tapi ini
yang aku harapkan, menikmati perjalanan. tidak ada target yang aku buat. Menari
pagi dipuncak dan menatap sunrise, itupun bukan target utama. Yang paling
penting aku sampai puncak entah malam atau pagi, sama saja. Ya, perjalanan ini
akan aku nikmati. Ku tebarkan tatapanku keluar, terhampar pemandangan malam
yang mempesona, ketika bis akan memasuki kawasan tawangmangu. Lampu

kota

begitu jauh dan kecil, seperti
kunang-kunang yang lelah mencari pasangan. atau sekedar iseng pamer kemolekkan
cahaya dari ekornya.

Bayangan malam merambat cepat,
tak terasa tawang mangu kurang 15 menit perjalanan lagi. Sebentar aku melihat
ke arah ashari. selepas karanganyar temanku yang satu ini tidak banyak ngobrol.
diam dengan tatapan kosong. Heran dari jogja ke terminal solo, dia rame sekali,
cerita apa saja. mulai dari keiirian teman-teman, karena tidak bisa ikut.
sampai ke persoalan pacarnya yang melarang ashari pergi, karena, bulan ini bukan
bulan untuk liburan. Tetap saja terbesit perasaan tidak enak dariku. Ahh entah
lah perduli amat, aku tidak ingin urusan sekecil itu mengganggu perjalananku. Sikap
ashari yang aneh membuatku penasaran. Apa yang ada dalam pikirannya? Ahh..
mungkin dia capek! Yah, itu saja keputusanku, ashari capek setelah hampir dua
jam duduk, dan lelah mengoceh dari jogja sampai solo.

 

T a w a n g m a n g u

 

Bus berhenti di sebuah terminal
kecil. aktivitas belum sepenuhnya mati. Hari ini bukan malam minggu tapi masih
ada beberapa warung makanan yang buka. Lalu lalang pedagang asongan menawarkan
makanan dan sofenir. Aku putuskan untuk melepas lelah. Pilihan kami jatuh ke
angkringan di ujung jalan, bersebelahan dengan pengecer minyak tanah. Warung
makanan itu langganan ashari katanya. Sembari menunggu colt yang akan membawa
kita ke cemoro sewu.

Ku pesan kopi panas yang terseduh
dalam cangkir. pisang goreng aku pesan untuk di bakar supaya lebih hangat
menemani minum kopi. Udara dingin mulai merambat turun. Menyapu segala bentuk
kehangatan untuk segera menepi mencari tempat sendiri. Aku rapatkan jaket, aku
tidak ingin dingin ini membiusku untuk terlelap. Masih 7 jam lagi harus aku
tempuh menuju puncak. Cemoro sewu bukan

medan

biasa, butuh energi lebih. Jadi
aku nikmati kopi, pisang bakar, dan ashari yang terdiam. Ashari yang terdiam..

Colt jurusan cemoro sewu belum juga muncul, beberapa
kernet dari colt yang berbeda sempat menawari kami. Belum ku putuskan, mungkin
nanti, tidak untuk saat ini. Kopi ini belum kandas kenikmatannya. Ashari yang
masih terdiam.. 5 menit berlalu, tetap saja belum ada obrolan yang renyah
antara kami berdua. Ku lempar cerita-cerita lalu tentang kelucuan-kelucuan
pengalaman naik Gunung Lawu bersama teman-teman, tapi gagal karena hutan
kebakar, dan saat itu kita memutuskan dari Cemorosewu turun ke Tawangmangu
dengan berjalan kaki. Ashari membalas dengan senyum dan tawa kecut. Bahkan
gosip kisah cintaku dengan tantri yang terpaksa aku benarkan, tetap saja tidak
menarik perhatian ashari yang terjatuh entah ke jurang angan yang mana. Komentar
singkat, menghirup kopi, menarik dalam asap rokok ke dalam paru-paru. lalu diam
dengan tebaran pandangan yang tak terfokus padaku atau wanita penghibur di
ujung jalan. Akupun mulai terdiam, ku tekadkan niatku, aku ingin bercinta
dengan alam bukan mengumbar nafsu cerita-cerita curahan hati seseorang. Kupikir
mengajak ashari adalah pilihan yang tepat. mampu menemaniku dalam pemenuhan
birahi ku menggauli alam. Ternyata niat itu menipis, lepas satu persatu seiring
ashari yang mulai merebahkan tubuhnya dipelataran toko, bersandar 80 liter
backpacknya.

Ku ambil kopiku. ku duduk bersebalahn
dengan ashari. sama-sama kami menatap kearah depan. entah ashari tapi yang
jelas tatapan ku tergoda oleh tingkah seorang gadis, pendaki juga. berkerumun
dengan rombongannya. mungkin diklat, ku pikir. Ku tepis, sikap ashari yang
lebih penting sekarang. Lebih baik aku selesaikan sekarang ketimbang berlarut
ketika di pendakian nanti. Bakalan tidak seru jika selama pendakian tidak ada
canda dan obrolan ngawur. Percuma pikirku jauh-jauh sampai ketempat ini.


"kamu kenapa Ash?".

Ku buka obralan yang sebenarnya
tidak aku minati untuk saat ini. ashari terdiam. asap rokok mengepul lepas
bebas ke udara dari mulutnya. terbang ke dinginnya udara.

"sorry ash, kalo memang ini bukan niatmu ikut acaraku ini..".

Ku tekankan rasa penyesalanku.
ashari menoleh, heran kali ini sedikit kelabaan mendengar kata-kataku.

"bukan men, gak kok aku niat ikut, tapi..". Ashari tidak meneruskan
perkataannya.

"tapi kenapa ash? "  Ku kejar. Ashari menatapku tajam.

"ada sesuatu yang gak bisa aku cerita ke kamu". Matanya sayu saat
mengucapkan kata-kata itu.

"sesuatu apa ash, jangan bikin aku bingung, aku sudah kebingungan melihat
sikapmu selepas karanganyar tadi, jadi jangan tambahi aku dengan kebingungan
yang lain!". Emosiku mulai berteman dalam hati.

"maaf men, yang satu ini biar aku yang punya"

"iya tapi apa! beri aku sedikit!".

 Belum puas aku mengutarakan
niatku yang terkikis untuk mendaki Lawa dikarenakan polah sikapnya, Ashari
keburu berdiri dan menarikku mengejar colt kuning diseberang jalan. Aku bayar
makananku. Ku benahi backpacku dan aku menyusul ashari yang masuk ke colt
kuning itu.


"tunggu ash!".

 
C e m o r a s e w u

 Jalur ini yang aku pilih selain
cemoro kandang. menuju puncak cuma memakan waktu 7 jam melalui jalur ini.
Medannya lebih terjal daripada cemoro kandang, namun pemandangan alamnya tidak
kalah binal. Tidak butuh waktu lama untuk turun sampai ke gerbang PERHUTANI.

Ada

4 pondok yang harus kita lalui
sebelum memasuki pesanggrahan argo dumilah di ketinggian 3100 dpl. Puncak aku
datang. tentu saja bersama temanku. Kami pun melangkah.

2100 dpl. udara dingin belum
terlampau menampar tulang persendianku. Berhasil memasung pernafasanku. Berat
sekali bernafas. Tubuh yang terbakar, dan keringat yang bercucuran, menambah dingin
yang teramat sangat. Ini bukan akhir cerita.

Pondok pertama, dan aku harus
menyerah karena permasalahan pernafasan yang terengah-engah? tidak! aku
bisa.dulu aku bisa. sekarang saat reuni kekuatan. paru-paru ini tidak berkawan dengan
semangatku. Walhasil 5 meter pendakian ku sempatkan untuk 2 menit menghirup
nafas dan mentralkan persendianku yang mulai lumpuh karena pola kehidupanku
yang tidak mengenal senam pagi. Ashari mengalah, dia setia menemaniku. setia
mengurusi keluhanku, menjaga semangatku untuk ke puncak. dan itu yang aku mau,
dugaanku jatuh ke bumi hancur lebur, ternyata Ashari bisa sesemangat ini.
Sempat terbesit, aku siramkan minyak tanah ke hatinya supaya terbakar api
semangatnya, hindari kekonyolan, jauh-jauh ke lawu, menyelesaikan pendakian
dengan diam tanpa ada mulut-mulut konyol berkoar ngawur, canda dan cerita
pujian kehebatan alam. Dan malam ini di pondok  pertama aku buang itu. Ternyata
Ashari penyemangat yang hebat. Benar-benar hebat. dia tahu, aku mudah sekali
mutung. Mudah menyerah. apalagi tubuh gembulku dan kerapuhan energi ku gampang
menyerang saat-saat seperti ini.


"OK men kita lanjut? Jangan menyerah dulu! Ingat kita pernah melakukan
ini!".

Terpancar  api semangat dari mata
ashari. Ku teguk air mineral, ku ambil gula merah sebagai penambah energi.

              "Ingat merapi kamu hanya
sampai pasar bubrah! merbabu kamu terlelap di pos kedua! sekarang gunung
ketiga, apa kamu juga akan berak untuk selamanya di pos pertama?!".

Aku tertawa. Ashari tertawa.  

Semangatku yang mulai mengecil
baranya aku tiup, supaya baranya memanas, lebih panas. Takkan ku biarkan keinginanku
kendor sebelum sampai kepuncak. Hei! Tunggu dulu! Aku punya target! Yah, dan
aku selesaikan sampai puncak sebelum mentari curi-curi pandang. Sepasukan
kegembiraan datang menyerang, entah berapa batalyon, berhasil memukul mundur
dan meruntuhkan kejayaan putus asa yang bercokol dalam hatiku. Menang dan
tenang. Yah! Aku siap beraksi. Ku lihat ashari berdiri 5 meter di depanku di
bawah pohon pinus dan melambaikan tangan untuk menyuruhku bergegas.

                "cepet men! kita harus nyampe argo dumilah sebelum matahari terbit!".
                "iya tunggu bentar!". 

Langit cerah. bulan lengkap
dengan tepiannya yang berpendar bundar. Hutan pinus menyambut kami dengan
berisik, berbisik kepada angin yang berhembus mengusik malam. Satu persatu terjal
dan nakalnya bebatuan yang longsor menambah cerita-cerita ngawur dari mulutku
dan ashari. Semak rumput kecil menjadi saksi betapa bahagianya aku malam itu,
bersama ashari dan kencing-kencing kami yang tertoreh di semak belukar dan
sebagian batang kokoh pohon pinus. Alam ingin bersahabat, rentetan mendung dari
timur segera tersisih ke selatan. Memberi ruang kepada kami untuk tidak
mengumpat akan datangnya hujan yang tidak diharapkan. dan bulan, bulan-bulan
lagi, begitu dekatnya kau dengan kami, sehingga senter sialan ini tidak lagi
aku butuhkan untuk memberiku cahaya selama pendakian. Lalu indahnya

kota

solo terhampar pasrah dari
dataran Cokrosuryo. Ku sempatkan menghirup udara kemenangan. Tidak terasa aku
bisa sampai setinggi ini. Mungkin kah 2 meter di atas kepalaku surga tergelar
indah seperti keindahan taman kayangan. dimana prabu brawijaya menikmati
keindahan alam. Ahh.. ini bukan mimpi, ini bukan alam imajiner. Aku masih
tersadar, hidup, dan dingin yang kurasakan ini begitu nikmat.

Alam memang punya bahasa lain
untuk menyapa pecintanya. bahasa-bahasa sejuk yang tidak mungkin aku dapatkan
dari mulut kekasihku. dari teman-teman sepergumulan. Canda yang mereka
ikhlaskan sungguh berbeda. Canda yang merenggut kata-kata syukur, kata-kata
pujian untuk sang Empunya. Saat ku lihat awan putih merambat pelan dari sisi
cemora kandang, Aku bisa rasakan betapa cerianya malaikat-malaikat kecil
bermain disana. Berlarian dengan kepulan awan yang hangat, menari bertelanjang
kaki bercanda dengan serpihan bintang yang jatuh. atau sekedar berguling-guling
bermanja dengan empuknya awan bak kasur dengan bulu angsa. Ku bayangkan aku
memiliki sayap, mengepak terbang sebentar dan mendarat jatuh di gumpalan awan
putih itu. Bulan? Tak ada umpatan kasar untukmu malam ini. Kamu berikan berjuta
cahaya

asmara

dari pendaranmu. Mesra memeluk
awan dengan embun yang melayang, berkelip-kelip seakan mengedipkan mata
menggodaku untuk memujamu dengan kata-kata dari pecinta

asmara

.

                "hei men! bisa kita lanjutkan, puncak sudah dekat!".  

Ajakan ashari menyadarkan ku dari
lelap ku yang sejenak. ku tersenyum. ku lihat ashari juga tersenyum.

"thanks Ash!".


J o l o t u n d o


"kita istirahat dulu!".

 Nafas Ashari tersengal-sengal. Keputusannya
tepat. Karena memang aku juga butuh membenahi nafasku yang kacau selapas
Cokrosuryo. Ashari membongkar peralatan masak. Lapar.

Tak butuh waktu lama, kami pun
rakus melahap mie instan yang mulai dingin. rokokpun libas oleh dinginnya
udara. Mulutku mulai menggigil parah. Ditambah lagi tiupan angin memaksa ku
memukul genderang perang. Backpack ku bongkar. Selimut ku lepaskan dari
sarangnya. Kaos kaki, sweater, handuk, dan kaos-kaos sisa pendakian. Ku
balutkan tubuhku. Semua sudah melekat, tapi tetap saja dingin seakan mempunyai
naluri membunuh sebuah keyakinan untuk bertahan lebih besar, mendorongku
menjauh mendekati jurang kekalahan. Pertarungan ini belum usai, ku cari sela
bebatuan untuk sekedar menepis tiupan angin yang menyerang dari arah puncak. Beribu-ribu
pasukkan dingin menabrak tubuhku mengobrak-abrik pertahananku melalui
celah-celah kain yang membungkus tubuh ini. Kehangatan dalam tubuhku kocar
kacir, berlarian tungganglanggang, berdesakkan memaksa keluar dari pori-pori
kulitku yang tercabik-cabik oleh angin malam. Yang tersisa hanyalah daging dan
lemak yang terkapar tak berdaya. Memucat wajahku, jari-jari tanganku mengkerut.
dan mataku mulai tidak fokus. Gigi saling beradu, begitu cepat, seperti ingin
saling menghancurkan satu dengan yang lain. Ku pejamkan mata. mencoba
mengalihkan perhatian tubuhku yang mulai melemah oleh dingin. Mencoba menarik
kembali panas tubuh untuk tetap setia. Usahaku meringkuk disela bebatuan tidak
membuahkan hasil. Dingin itu tidur disampingku, mendekapku selayaknya seorang
kekasih yang tak bersua ribuan hari. Tiba-tiba tubuhku mengejang. Sakit, nyeri
menjalar kesuluruh tubuh. Begitu cepat, merambat naik ke kepala, seperti
kerumunan semut ngangkrang yang menemukan hidangan lezat. Merayap, sembari
melumpuhkan semua fungsi pertahanan didalam tubuh ini.

Kamarku, tempat tidurku, bantal gemukku,
gulingku. Malam ini dingin sekali, sambut aku dengan kehangatan kalian. Tubuhku
menjadi ringan melayang ke udara. Lalu jatuh berdegum diplataran kasur yang
empuk. Hangat. Tiba-tiba dari langit melayang selimut bludru buatan nenek, jatuh ke bawah dimana tubuh
terbaring manja. Mendekap erat. Sayup ku dengar dongeng ibu tentang hebatnya
kura-kura yang mencoba mengalahkan kecepatan berlari seekor rusa. Ku palingkan
tidurku, ku tatap wajah ibu. Sejuk, nyaman, melindungi. Belaian tangannya
bagaikan menghempaskanku ke hamparan lembutnya bulu-bulu angsa. Setelah
mengecup keningku. Ibu pun pergi menjauh. Sempat ku dengar suaranya berpesan:
“tidurlah saying, kamu terlalu capek..”. Belum sempat ku sampaikan kerinduanku.
Ibu hilang dibalik kegelapan. Tiba-tiba satu persatu bagian kamarku terbang
seiring datangnya angin yang bertiup kencang dengan debu dan kerikil yang
berterbangan. Selimut nenek terkoyak, sobek lalu terbang ke arah kegelapan itu.
Disusul bantal gemuku, gulingku, kasurku, lalu kamarku. Semua hilang ke dalam
gelap. Tinggal aku sendiri yang sekarang terbaring. Mencoba menggapai
cinta-cinta itu.

Sayup-sayup ku lihat bayangan
seseorang berdiri tak jauh dari tempatku meringkuk, menatap tajam ke arahku. ku
picingkan mata untuk memperjelas penglihatanku. ternyata tidak hanya satu tapi
lebih..

lima

orang.. pandanganku mulai kabur.
tapi tidak salah lagi

lima

orang berdiri menatap ke arahku.
sepintas salah satu dari mereka duduk tersimpuh. menjulurkan tangannya
kepadaku. seperti ingin memberikan sesuatu. ku coba sambut uluran tangannya.
Namun seakan-akan tangan itu begitu jauh. Ku paksakan tubuh ini untuk lebih
mendekat. Tetap saja, sulit ku gapai. Sisa tenaga, ku manfaatkan untuk menenangkanku.
Untuk tahu apa yang ingin orang itu berikan. Rasa penasaran memaksa tubuhku
untuk merangkak mendekat. Sembari tanganku mencoba meraih-raih. Ku usap mata,
walau tangan mulai membeku. Sedikit demi sedikit dapat aku lihat, sesuatu itu.  Seikat bunga edelweiss. Ya benar seikat bunga
edelweiss. Tapi apa maksudnya? Tiba-tiba angin bertiup kencang dari pelbagai
arah. Mataku perih. Kembali pandanganku kabur. Debu-debu kering itu bertebaran.
Memporakporandakan penglihatanku. Bayangan orang-orang itu lenyap dan semuanya
berubah menjadi hitam. gelap.

Segumpal awan hitam menyapu
pendar cahaya bulan. Tiupan angin tak kunjung mereda, mengoyak dedaunan, semak
belukar melambai gontai. dan debu kering berterbangan kacau balau. Pijar api
unggunpun meredup. Dan yang kurasakan sekujur tubuhku menggigil. Jari jemari
seakan mati. Tak ada lagi suara riuh gemuruh angin.  Hampa. Mendengung. Sepi.

Aku terbangun. Berat ku coba
membuka kedua mataku. Samar-samar aku lihat Ashari terduduk, berhadapan dengan
matahari menatap ke arah barat, kepalanya tertunduk. Telingaku menangkap sesenggukan orang menangis. Dan suara itu
berasal dari arah Ashari. Ku usap mataku, ku tajamkan pendengaranku. Memang benar
suara itu suara tangisan Ashari.  Tapi
mengapa? Apa yang membuatnya menangis? sesenggukan seperti itu?

Tubuhku beku belum sepenuhnya
pulih dari peperangan semalam. Badai telah berlalu. Yang tertinggal hanyalah
sisa-sisa amukkannya. Termasuk aku yang kacau, penuh dengan debu dan sisa beku
yang masih melekat di persendianku. Namun hangat sinar matahari sedikit demi
sedikit melumerkan kebekuan ini. Dan pagi kembali tersenyum. walau masih sulit
untukku bergerak bebas, tapi energiku cukup untuk menyadarkanku dengan apa yang
ku dapati di sekelilingku. Tumpukkan bunga edelweiss. Tidak terlalu banyak.
Semua terikat rapi. Tergeletak mengelilingi batu tempatku berlindung dari
amukkan badai semalam. Ahh… Perduli amat, pikirku. Aku mendekat ke tempat
dimana ashari duduk.

 “pagi ash..!”. Ku tatap sinar
matahari, membasuh muka pucatku.

 Ku lihat Ashari juga melakukan
hal yang sama. Air mata masih menggenang di kelopak matanya. Wajahnya pucat.
Tapi tak sepucat wajahku. Ku tenggak air mineral, kerongkonganku mengering.
Lalu sebatang rokokku nyalakan, berharap udara dingin ini bisa diajak berdamai.
Ku hisap dan asapnya ku hirup pelan lalu ku hembuskan keluar. Benar-benar
nikmat.

Awan putih berbaris beriring
tersapu angin. Membelai kuncup pepohonan di lembah

sana

. Langit biru, tidak ada kotoran
mendung sendikitpun. Cerah. Dari kaki gunung kabut mulai merangkak naik. Seekor
burung blekok bertengger di batang pohon itu. Kemudian terbang menjauh
berpindah ke batang yang mana. Kabut terus merangkak naik, aku yakin
semak-semak itu merasakan kesegaran pagi. Mandi bermandikan cairan sisa dingin
semalam. Dan ashari tidak menikmati itu semua tatapannya kosong.

Apa yang terjadi? Sebelum ke Jolotunda,
dia begitu ceria, seperti kompor dengan nyala sederhana, memanaskan semangatku
ketika mulai membasi. Cambuk seorang kusir ketika kudanya lambat bertaut lelah.
Tapi sekarang bagaikan lilin yang terkikis habis. Tinggal sisa-sisa tubuhnya. Api
itu telah padam. Matanya sayu, tak sebinar semalam. Hanya sebatang rokok yang
menyibukkan mulutnya. Dinikmati resah.

Belum sempat aku tanyakan
persoalan pagi ini. Ashari beranjak dari tempat duduknya, melangkah ke arah
batu besar di balik semak belukar, aku menyusulnya. Di tempat berbeda dimana
ashari berdiri diatas batu itu. Wajahnya tetap sama tidak ada perubahan hanya
saja sekarang matanya nampak serius menatap puncak Argo Dumilah. Ku dekati dan
berdiri disampingnya.

 “maaf ash, gara-gara aku, kita
tidak bisa menikmati sunrise..”. Kata sesal keluar begitu saja dari mulutku.

 Entah mengapa aku sendiri kecewa,
tidak bisa mencium keindahan sunrise dan berdiri di ketinggian 3100 dpl.

 “bukan salahmu men, seharusnya
ini menjadi tanggungjawabku untuk mengantarkan dirimu sampai kepuncak..”.

 Ku rasakan kata-kata penyesalan
keluar dari mulut Ashari. Tapi, kenapa harus menjadi tanggungjawab, pikirku.

 “oh, ah gak apa-apa ash,
lagian aku mengajak kamu juga tidak
pasang target harus sampai argo dumilah sebelum pagi, iya

kan

”.

 Ku coba menghibur diri dan
menepis rasa bersalah yang mungkin dirasakan oleh ashari.

 “lagian ash kita

kan

bisa sekarang meneruskan
perjalanan, lalu kita bermalam disana sampai pagi tiba, bagaimana?”.

 Entah darimana datang semangat
itu. Yang jelas aku suka. Tidak mengapa sehari lagi di gunung tidak masalah, asalkan
bisa sampai puncak. Dan ku harapkan ini bisa menghilangkan rasa bersalah Ashari
ke aku. Atau setidaknya membuang kata-kata tanggungjawabnya. Seakan-akan aku
ini kayak orang penting, harus dipenuhi segala keinginanku. Padahal pendakian
ini aku tidak menuntut apapun. Sampai puncak, OK! Nge-kamp di jolotundo juga
tidak menjadi soal. Yang paling penting kerinduanku akan alam telah terpenuhi. Aku
puas.

 Ashari masih terdiam, beku. Tak
ada kata-kata keluar dari mulutnya lagi. Kepalanya tertunduk, airmata itu
menetes lagi. Bagai embun yang berlari menjemput datangnya hangat dari bumi.
Jatuh di pipi.

 “ash.. udah jangan terlalu
dipikirin, nyantai aja, hei!”. Ku paksa tubuh dan wajahnya berhenti menatap
puncak argo dumilah, untuk segera berpaling menatapku. Ashari menolak berusaha
menjauhkan wajahnya.

 “ash! Udah aku bilang nyantai!”.
Semakin ku paksa, ashari semakin menjauh dan kuat menahan usahaku.

                   “Ok!”. Ku hentikan usahaku yang sia-sia.

            “Ok! Sekarang kita turun!”. Paksaku. Ashari
tetap berdiri ditempat semula. Tidak segera mengiyakan ajakkanku. Kemudian..

 “bukan kita men yang turun dari
gunung ini..”. lirih ashari berkata hamper tidak terdengar olehku.

                 “maksudmu?”. Penasaran bergeliat dalam
otakku.

            “hanya aku yang bisa turun dari gunung ini..”.
Kembali diusapnya airmata yang mulai membanjir di pipinya.

 “maafkan aku sobat..”. Ashari
terdiam. Kepalanya tertunduk. Tubuhnya bergetar, menggigil. Bukan karena
dingin, tapi ada emosi besar yang tidak mampu terluapkan. Mengendap dalam dada.
Dan berebut keluar. Aku melangkah mendekat, sekarang aku sudah berdiri
dihadapannya.

 “apa maksudmu ash! Udah aku
bilang aku gak papa! Kenapa sampai begini? Kayak abis putus sama pacar aja..”. Aku
tertawa kecil. Mencoba mencari sisi kelucuan yang bisa menghapuskan ke
anehannya.

 “udah ayo kita lets go, kita
turun sebelum siang, lagian kabut mulai naik!”.

 Ku melangkah menjauh meninggalkan
ashari. Ku benahi barang-barangku. Ku masukkan ke dalam backpack. Dalam hati
terbesit pertanyaan, kenapa begitu banyak edelweiss. Ahh.. paling pendaki iseng
yang ketahuan membawa edelweiss sama petugas perhutani dan dihukum untuk
mengembalikan ke tempat dimana mereka mengambil edelweiss itu. Orang bodoh. Aku
pun tertawa kecil. Ku ambil sarung yang tergeletak di batu kecil. Ku lihat batu
itu bertuliskan sesuatu. Sengaja ditulis dengan pahatan yang rapi. Tapi lumut
menutupi sebagian tulisannya. Ku bersihkan.. pelan ku buang lumut-lumut kering
itu. Satu persatu huruf itu bisa aku baca..

 ***

“Tenangkan dirimu ash!”. Tantri
mencoba menenangkan ashari yang tidak bisa lagi membendung emosinya.

   “tenang ash! Relakan dia!
”.
                 “tidak bisa tri! Aku salah! Aku bukan
sahabat yang baik! Aku jahat tri!”.

 Tubuh ashari bersimpuh ke bumi.
Dipukulkan tangannya ke batu-batu itu. Tantri memeluk tubuh ashari yang
menggigil.

 “Sudah lama dia menderita,
lambungnya bobrok akut, dan dia mudah sekali terserang hypothermia. Ingat waktu
kita mendaki merapi. Dia memaksa untuk ikut. Tapi akhirnya dia harus mengalah
oleh penyakitnya di pasar bubrah!”.

 “aku jahat! Aku tinggalkan dia
saat badai itu datang! Seharusnya aku menyelamatkan dia!”. Air mata itu telah
mongering, namun penyesalan ashari tak kunjung mongering.

 “Aku tinggalkan dia saat dia
mengerang sakit, saat hypothermia mengobrak-abrik tubuhnya! Dia mengerang tri,
mengerang memohon pertolonganku! Tapi aku pergi! Aku berlari menyelamatkan
diriku sendiri! Aku jahat tri! Aku jahat! Aku.. jahat..! maafkan aku kawan..”.

                 Tantri memeluk tubuh ashari.
Mencoba menenangkannya. Ashari tersimpuh.
Sesenggukan.

 “setidaknya kau telah
menemaninya..”

“kau buktikan
kesetiakawananmu..”.

“walau terlambat..”.

 

***

 Seorang pendaki. Duduk diatas
bebatuan. Matanya menerawang jauh ke puncak Argo Dumilah. Tatapan matanya kosong.

 Kemudian selang beberapa menit
lewat 3 orang pendaki.

 “mari mas..”. pendaki itu
menyapa. Melewati pendaki yang duduk diatas bebatuan.

“mas tunggu sebentar”. Pendaki
itu memanggil ketiganya. Mereka berhenti.

“bisa bareng mas?”.

“bisa!”. Salah satu pendaki
menjawab.

“kita mau ke puncak, kita mau
mengejar sunrise?”. Yang lain meneruskan.

“ke puncak, mas?! Saya ikut! Saya
belum pernah ke Argo Dumilah!”.

 Mereka pun melangkah.

Bertiga.

Selepas jolotundo.

Jogja, sekitar Desember 2006

oOo

kisah semi-sedih

December 23rd, 2006 by jejakmungil

    alkisah disebuah kerajaan, hidup seorang putri raja(raja kacamata). seluruh rakyat mertuavi_nama kerajaan tersebut_sangat mengagungkan paras cantik nan rupawan putri raja tersebut. kebaikkannya sudah melampoti batas kenormalan alias baik banggettttttt. sehingga rakyat mertuavi enggan nongol kejalan dengan mengaduh pertolongan, mereka takut dengan kebaikkan putri raja tersebut. bagaimana tidak ada satu kisah yang mengapa rakyat enggan mengaduh pertolongan kepada si putri. demikian kisahnya.

    ada seorang mendring(tukang kredit panci) marah-marah seperti kesurupan kepada salah satu pelanggannya. "POKOKNA INI HARI, PANCI MEREK YONGNGOS HARUS LUNAS!". teriak si mendring, kepada si pelanggan. "SAYA TIDAK AKAN MENARUH TAHU< BAGAIMANA KAMU BRKEHENDAK UNTUK MELUNASINYA!". si pelanggan geser 5 meter dari tempat duduknya. bukan menjauh ketakutan, di karenakan yang dipakainya adalah baju terakhir. dan hujan buatan itu terlampau brutal menghujani tubuh si pelanggan. genanganpun dimana-mana. dan begitulah teriakan demi teriakan berlompatan dari mulut si mendring. kata-kata kasar terlempar semabarangan dari mulut si mendring. dan hari itu adalah hari keenam dimana dia tidak sengaja telah mencatat rekor dunia sebagai orang dengan kekuatan teriakan terlama dalam sejarah permendringan. petugas KUA pun mencatat rekor tersebut. si pelanggan pasrah. "tidak berada guna kita melawan mulutnya,istriku..". si pelanggan menumpahkan hatinya kepada si istri tersayang. "ho-oh!". si istri kompak menyambut tumpahan hati si suami. "aku tak menahu lagi harus bertingkah seperti apa". si suami melihat sekeliling rumahnya. "harta benda kita telah aku sekolahkan, untuk memberikan biaya kepada anak semata kebo kita". si suami tertunduk, tatapan matanya jatuh ke lantai kayu rumahnya. "ho-oh". si istri menimpali dengan ikut-ikutan jatuh ke lantai. "maksud?". dalam temaram lampu teplok 3 1/4 watt si suami dan si istri merenungi nasib mereka yang tak begitu menguntungkan alias apes.

    matahari bersinar semau hati. redup, terang, redup terang. embun sesekali kali terlihat kepleset dari daun-daun pandan. kemudian jatuh ke tanah dan terinjak kebo sempoyongan. dan jangkrik nampak terkapar di pinggir trotoar, dengan botol minyak goreng tercengkram erat di kaki-kakinya. kepakan sayap burung terdengar di balik semak rerumputan. pertanda saatnya jemur pakaian. dan kucing duduk muram dengan secangkir kopi jahe campur oli tap-tapan. dan begitulah pagi di kerajaan mertuavi. semua aneh seperti biasa. orang-orang sibuk merangkak dan berjalan jinjit, karena memang itu aturan kerajaan, dilarang membunyikan klason sembarangan(tolong! tu penulis dilempar monitor dung!, gawat mulai gak nyambung!). tentram, nyaman, sejuk, segar, menenangkan. namun kemudian suasana itu hancur berantakan, karena ada yang memecahkan gelas biar rame. berlari kehutan lalu nyemplung kejurang(Wah! kayaknya monitor gak cukup dueh! ada yang punya jembatan? buat nglempar tu penulis!)ya.. suasana menjadi riuh. orang-orang berhamburan keluar. mencari sumber kegaduhan itu. tak jauh dari perempatan. ada stasiun balapan. belok kiri ada penjual CD bajakan, nah disitu mas tempat kegaduhan itu. ternyata si mendring beraksi lagi, cuma sekarang membawa pasukan yang lumayan tak terhitung banyaknya, 2 orang. si mendring tahu sekarang adalah hari yang dijanjikan si pelanggan itu untuk melunasi panci-panci yang dihutangnya. dengan berkacak pinggang, pinggang goreng dan ikang pinggang. si mendring mulai menampakkan kekuatannya. sengaja di lengan kirinya di tato ikan combro kesayangannya. ketika ditanya, maksud dari tato itu, si mendring menjawab singkat: "nutupin panu!". walhasil orang-orang takut, tak ada yang berani melawan ataupun mengutang panci kepada si mendring. bukan karena takut tato dan panunya tapi dikarenakan takut tertular narsisnya. mereka tahu, narsis goreng sosis mahal harganya.

    "APA YANG LALU KAU JANJI KAN UNTUK AKU SEORANG!". si mendring berlagak sangar di depan si pelanggan. kepala diangkat keatas, sebatas pandangan monyet. bibirnya di bentuk sedemikian rupa sehingga sulit dibedakan mana bibir mana jempol kaki. dan "EMM! EMM! EMM!". mata si mendring berisyarat kepada komandan pasukkan untuk segera mendekat. "SIAP PADUKA JURAGAN PANCI BAJAKAN YANG MULIA?!". "???"."Ups!". "maaf RUALAT! PADUKA YANG BAJAKAN SIAP PANCI JURAGAN MULIA!". si mendring: "?!?!?!". si komandan: "???" 2x lipat. si pelanggan: "maksud?". kerumunan orang: pingsan sempurna. si komandan: "???". si mendring: "???" 4 x lipat. dan begitulah seterusnya sampai senja merambat malas dari ufuk yang gak jelas. "SIAPA PANCI SIAPA JURAGAN, PANDUKA SIAPA?". laporan si komandan berakhir dengan mata dan bibir lebam-lebam. si mendring terpaksa pulang dengan tangan hampa. juga dengan bibir yang tidak bisa kembali kebentuk semula karena kram. akhirnya si pelanggan itu terselamatkan dari malapetaka yang rencananya datang mengobrak abrik keuangannya. suami, istri itupun berpelukkan dan kerumunan terpaksa bertepuk tangan. walau dimuka dan wajah mereka nampak kebingungan, apa yang mereka tepuk tangani. mereka membubarkan diri setelah hitungan ketiga. bubar jalan.

    rumah kecil. pintu tak terkunci rapat. segelintir cahaya keluar dari sela-selanya. terdengar sepasang suami istri sedang bercakap-cakap.
si suami: "istriku, betapa hari ini kita penuh dengan keberuntungan yang berlimpah ganda.."
si istri sibuk membetulkan baju:"ho-oh! suamiku".
si suami menerawang, menatap langit: "betapa untung, kram mulut telah menyelamatkan kita..".
si istri sibuk mencangkul di sawah: "ho-oh! suamiku"
si suami rebahan di amben: "ahh.. andaikan tadi terlaksana tuntutan si mendring, sedangkan kita tak berpunya sepeser, apa jadinya nasib yang ada pada kita.."
si istri, semangat wall climbing: "ho-oh! suamiku".
si suami membetulkan letak bantal yang terbuat dari jemari:" tapi esok masih berlaku, adakah si mendring sudi bertandang dengan garang kepada kita lagi? kalo itu terlaksana.. apa yang harusnya kita perbuat?"
si istri, sedang berkuda: "Ho-oh suamiku".
heran dengan jawaban si istri, si suami bangun dari rebahannya, dan mendapati si istri tertidur pulas di atas gentong air, pantatnya naik turun layaknya seorang joki kelas teri sedang memacu kuda lumping di arena kuda. si suami pun terkapar pingsan dengan dukungan sanak sodara, kerabat, dan handai tolan.

tapi..

    baru berjalan 5 menit acara pingsan si suami. pintu depan di gedor keras dan anarkis. oleh seseorang tentunya, bukan jangkrik atau banci arab tiarap. suara ribut itu berhasil meyungsepkan kepala si istri ke dalam gentong. dan membuat si suami lupa karena akan rencana kepingsanannya.
"BANGUN DARI KETERLELAPKAN KALIAN!" ternyata si mendring lagi. datang dengan pasukkannya yang tak terhitung banyaknya, 2 orang. tanpa disadari oleh si suami. salah satu pasukkan si mendring bergegas, berlari ke arah si suami. dengan bengis ssalah satu pasukkan itu menjerat erat, kuat dan sangat kuat. tenaganya begitu besar, keringat bercucuran kemana-mana membasahi lantai. sambil berteriak "DIAM! AKU BILANG DIAM! GAK USAH BANYAK MULUT PUNDAK LUTUT KAKI?!". tangan tangan kekar itu berusaha memperkecil kemungkinan mangsanya untuk melepaskan diri. di bekap dan di kempit di bawah ketiak, cengkraman yang kuat. lalu dihempit ketembok, kuat sangat kuat. dibanting ke lantai, lalu dengan gaya smackdown ditindih dengan paha ukuran balok kayu. kemudian di lempar ke tembok dan dihimpit dengan lengannya " DIAM! SEDARI TADI AKU DIAM KENAPA KAMU HARUS DIAM!". si mendring: "???". si suami: "???". si istri masih sibuk mengeluarkan kepalanya dari gentong, tapi sempat mendengar dan: "maksud?" akhirnya panci itu pun tak berkutik dibuatnya. pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa. menerima nasib sebagai salah satu mahkluk yang teraniaya. kejamnya mendring

    "beres juragan, masalah sudah ditangani, dengan baik, tangkas, dan cermat". salah stau pasukkan itu tersenyum puas. "pekerjaan yang rapi". gumamnya. dan PLAKK!! satu tamparan telak di hidung salah satu pasukkan itu, beberapa helai bulu hidung terlihat melayang di udara, berputar-putar dan melesat cepat kesedot ke arah mulut si mendring yang sedang.. GLEKK!! pucat wajah si mendring, berusaha mengeluarkan 2 bulu hidung itu dari kerongkongannya. namun usahanya gagal. dan luamyan. "selamat makan". "SAPA YANG BERKENAN MEMBERI PERINTAH MEMBEKUK PANCI?!". si mendring ngamuk tiada kepalang. pasukkannya yang lumayan banyak, 2 orang tertunduk ketakutan. lalu si mendring menyisingkan lengan bajunya. muncul dari tirai lengan baju tato ikan combro. pasukkannya yang lumayan banyak, 2 orang semakin melipat kepalanya. ketakutan menyelimuti mereka. ketakutan untuk berlari kehutan kemudian nyungsep diselokkan membayangi mereka malam itu.
si suami: "horor".
si istri, basah kuyup: "ho-oh! brutal!".
si suami:"mengerikan!".
si istri: "ho-oh!".
si mendring: "???".
si suami:"kejam!".
si mendring: "???".
si istri: "ho-oh! gak kebayang deh!".
si mendring:"???".
si suami: "seram!". si mendring, pingsan!.
si istri:"maksud?"

    sekali lagi mereka pun terselamatkan dari si mendring. bersamaan dengan itu si putri datang bersama pasukkannya. wajahnya nampak resah. rumor tentang kekejaman si mendring telah menjadi perbincangan di lingkungan kerajaan. begitu hebatnya, membuat si putri penasaran dan merasa kasihan dengan si suami dan si istri. dan sebagai seorang putri kerajaan yang terkenal kebaikkannya, kearifannya, dan segala bentuk perhatiaannya kepada rakyatnya, malam itu juga si putri datang untuk memcoba menyelesaikan masalah-masalah itu. melihat kedatangan si putri, si suami dan si istri bersimpuh bertopang lutut, memberikan penghormatan kepada
si putri. "berdirilah kalian..".
dengan nada lembut si putri berkata: "atas nama kebaikkan dan kerajaan mertuavi, aku ingin bertutur kepada kalian berdua…".
anggun mempesona dan membuat hati yang resah tentram tiada tara. si suami dan si istri saling menatap, tersenyum gembira. "aku telah mendengar persoalan yang terjatuh kepada kalian..".
si suami tersenyum gembira, dalam hati si suami berkata: "akhirnya panciku dilunasi..".
si istri dalam hatinya, ikut-ikutan berkata:"ho-oh!". mereka tertawa kecil.
"aku telah berpikir tentang persoalan ini, dan dengan restu ayah handa aku akan…". si suami meraih tang si istri menggenggam erat. si isrti tak kalah senangnya, di genggam erat jempol kaki si suami.
si suami:"???".

    lalu keduanya saling berpelukkan menunggu keindahan kata-kata dari si putri. malaikat penolong mereka. bayangan-bayangan kebebasan dari cengkraman si mendring melintas bergantian dari si suami ke istrinya lalu ke tokek yang sedang berak di pojokkan tembok dapur. si tokek:"???". betapa bahagianya hari ini, ujar si suami lirih kepada si istri. "kita akan selamat dari angkara murka si mendring". si suami bersemangat mengucap lirih pada si istri. si istri: " ho-oh". si tokek:"ho-oh!". si suami dan si istri: "???". dan seterusnya sembari menunggu kata-kata keajaiban dari si putri. mereka berdua begitu bertingkah aneh(menurut tokek). menggambarkan keindahan yang akan mereka dapatkan. berlarian di pelataran penuh bunga, bernyanyi nyanyian lagu-lagu si DOEL anak SUMBANGan. berayun-ayun di ayunan. main prosotan dan lempar-lemparan kudapan. tawa, kebahagiaan yang tak terlukiskan. begitu indah. lalu dengan senyum penuh kemenangan, mereka pun menunggu perkataan.
si putri: "aku akan…"
si suami dan si istri, manatap tajam si putri dengan tatapan penuh harap.
si putri: "aku akan… bentar aku lupa isi teksnya.."
si suami dan si istri, bibir mereka tetap tersenyum hanya saja mata mereka menyimpan berjuta-juta ke gondokkan.
si putri: "lihat dong surat perintah ayahanda…". si putri menoleh dan meminta si perdana mentri mengeluarkan surat poerintah tersebut,
si putiri:"aku akan…"
si suami dan si istri: "iya putri… aku akan apa puiri?".

    sembari mengeratkan genggaman tangan mereka. saling menatap kemudia senyum satu sama lain. ini saatnya hidupku akan berubah, tidak untuk saat ini tapi untuk masa-masa itu. mereka masih menunggu perkataan putri.
si putri: "aku akan… aku akan.. akan…akan… menobatkan kalian sebagai keluarga teladan! dengan kategori tahan ujian, cobaan dan mempu mengalahakan kemurkaan dengan lapang dada dan jantan, selamat ya.. bo!".

    si suami dan istri pingsan dengan sekor tertinggi.

    semenjak saat itu. rakyat jadi males.

sekedar celoteh

December 19th, 2006 by jejakmungil

Hape ku malang, Hapeku yang hilang

Img_4571Kata orang angka 13 itu angka sial. gak ada untungnya. dan selalu dijauhi. dan yang jelas mengingatkan kita pada film seri "friday the 13th", dimana film itu bercerita tentang benda-benda atau barang-barang terkutuk. jadi pada saat itu aku menyimpulkan bahwa angka 13 memang angka terkutuk. atau jumat ke 13 adalah sial, gak baik, hari dimana kita akan menemukan nasib terburuk kita. dan memang mitos angka 13 tidak terlahir bukan dari kultur kita, orang indonesia. melainkan muncul ketika ada cerita perjamuan terakhir kristus dengan muridnya. kristus + 12 muridnya= 13 dan yesus di salib pada hari jumat. jadi secara gak langsung dengan melupakan harinya angka 13 diambil sebagai hari sial. nah berdasarkan itu aku sempat sedikit panik juga ketika dulu waktu duduk dibangku sekolah menengah pertama tersemat namaku di absen no 13, dan otomatis teman-teman sekelas menyangkutpautkan dengan mitos angka 13. walhasil aku pun tersugesti. aku merasa hari-hariku sesial mitos angka tersebut. tapi apa yang ingin aku celotehkan berbeda jauh dengan mitos angka 13…

Ataukah mitos itu sudah pindah di angka yang lain?

jakarta, 15 desember 2006
    Ku buka tirai jendela kamar hotel. matahari berebut masuk melalui jendela kaca ukuran 3 kali 4 meter itu. aku perkirakan ini melangkah lepas dari pukul 9 pagi. aku belum terlambat untuk beberes. hari ini aku pulang ke jogja. penerabangan pukul 11:25. jadi cukuplah perjalan tebet-soekarno-hatta. selang beberapa waktu, semua barang sudah rapih terbungkus. dan akupun cukup wangi, sampai nanti siang. saatnya sarapan. tapi… krrriinggg! telpon berdering. suara itu renyah, aku kenal dengan baik. "mas sarapan dibawah yuu!". sigap aku mengiyakan. perutku sedari tadi ribut bergederang. mengajak pasukkan-pasukkkan lapar untuk segera menyantap hidangan yang telah disajikan.

    Selepas berpamitan dengan teman-teman baik terutama dia si suara renyah. aku bergegas memesan taksi. 5 menit taksi juga belum datang. berdiri dalam kesabaran aku menunggu wajah itu, suara renyah itu dan seyumnya. taksi datang, dia pun tak kunjung menjelang. terakhir dari balik kaca mobil sempat aku tebarkan pandangan ke dalam hotel berharap senyumnya melepas keberanjakkan ku dari tempat ini. semalam dia begitu baik memberiku naungan untuk menampung segala kegalauanku. memahamiku dengan indah. dengan kata-katanya yang menenangkan. indah dan begitu renyah. "pak kemana pak?". lamunan bubrah oleh pertanyaan bapak supir taksi. "bandara pak". ku jawab sembari melepas tebaran pandanganku yang tak kunjung menangkap kehadirannya. terimakasih teman.

    Taksi melaju menuju cengkareng. kata bapak supir perkiraan 30 menit sampai ke bandara. "untung ini hari sabtu pak, jadi tol lumayan tidak macet". ujar pak supir mencoba menenangkan ku dari kepanikkan ketinggalan pesawat. benar 10:34 aku sampai di bandara segala tektek bengek urusan kebandaraan aku selesaikan segera.

gate A4.
    Sebelum ruang pemeriksaan. ada sebuah ruangan begitu luas. ber ac dan banyak stan toko baju bermerk dan kafe. teman sempat bilang, "ruangan ini bebas asap rokok jadi kalau kamu pingin merokok pergilah ke tempat disudut ruangan itu, disana kamu bisa merokok". melangkah aku ke sudut ruangan itu. memang aku juga butuh merokok. lagian sekali lagi aku ingin mendengar suara itu, suara yang selalu akan aku rindukan.

    Smoking area. sebuah logo kecil bertuliskan area merokok. tempat itu ku pikir mirip seperti halte bis, tapi kecil dengan atap melengkung ke depan berbahan plastik(mungkin). disediakan pula asbak dan tempat duduk yang dibungkus kulit sintetik hitam. cukup nyaman, viewnya pun lumayan memikat. lalu lalang kesibukkan di bandara. ku nyalakan rokok. ku  taruh minumanku. dan ku keluarkan hp. entah mengapa ada sesuatu yang belum aku selesaikan sebelum kakiku menjamah jogja. menelpon dia si suara renyah. mungkin ini waktu yang tepat untuk mengucapkan terimakasih untuk kebaikkan yang dia pnjamkan kepadaku pengobat galau. belum juga ku nyalakan hape, dompetku jatuh, isinya bertebaran kemana-mana. hape ku taruh. rokok ku semayamkan di asbak. entah oleh angin atau jin rokok jatuh menggelinding ke arah bawah kursi tempatku duduk. panik antara rokok, isi dompet yang berceceran, dan hasil keributan yang ku buat. satu persatu ku beresi kekacauanku. ku ambil semua isi dompet yang berceceran di lantai. beres. rokok ku lupakan. ku raih tas ku, tapi tak sengaja tangan kananku menyenggol botol minuman yang aku taruh di tepian tempat duduk smoking area tersebut. botol jatuh, untung isinya juga tidak ikut meramaikan suasana dengan tumpah kemana-mana. aman pikirku. baru selesai dengan urusan botol. teman ku memanggil untuk segera ke gate A4. aku pun menyusul..

Hapeku malang, ceritaku hilang di angka 15

Gate A4.
"Lho kok bisa, emang hape mas taruh mana?!".
"Gak tahu, tapi yang jelas terakhir aku mengeluarkan hape di smoking area".
Semua diam. aku pun terdiam. berpikir disela kalut. mencoba tenang. dan berpikir tanpa gegabah.
"Mas coba cari di ruang smoking area, mungkin masih disana.."
Aku bergegas, mempercepat langkahku, menuju smoking area.

"hilang.."
"Apa?"
"Iya.."
"mungkin ini hari naasku"

    Ku pikir hanya di angka 13 aku bisa menuai kesialanku. tapi nampaknya si sial bosan juga, karena banyak mitos kesialan angka 13 disalah gunakan oleh beberapa orang ternama seperti Ballack atau maradaona saat di napoli. atau juga karena budaya kraton jogja yang mempercaya angka 13, angka yang dipercaya membawa kebaikkan, keagungan. nah mungkin juga si sial bingung angka mana yang bagus, membawa hoki buat dia. karena angka 4 tidak mungkin lagi karena tempat itu spesial buat si mati. angka 2? gak bisa itu terlalu susah buat si sial karena banyak orang yang mendapatkan keberuntungan dengan mengikuti acara superdeal 2 milyar. angka 1 tidak mungkin, 3 apalagi. jadi mungkin angka 15 adalah try out buat si sial. mungkin. Tahu ahh! KOPROL!!